Ternyata kesabaran bukan saja harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari, namun juga dalam strategi menanam modal.
Setelah lahirnya krisis hipotek yang dimulai sekitar 3 bulan yang lalu yang berasal dari AS, namun berefek sampai Eropa dan dunia, naiknya harga minyak, sampai 100 US dollar per barrel, bursa saham di berbagai pelosok masih anjlok dan berubah-ubah.
Kepercayaan para penanam modal saat ini masih tipis. Contohnya, walaupun indikasi makro ekonomi di Amerika dan Eropa tidak seburuk yang diperkirakan, secara umum, bank-bank Eropa dan Amerika kebanyakan tidak melaporkan keuntungan seperti yang diperkirakan, malah mereka melahirkan hutang yang besar.
Hanya kali ini BNP Paribas, bank Perancis, mungkin satu-satunya bisa melaporkan keuntungan 22% dan 300 million Euros dana yang terkena imbas krisis hipotek AS. Namun apa yang terjadi? Nilai saham BNP tetap jauh dari nilai terendah tahun ini.
Sama dengan Deutche Bank, nilai sahamnya kini berada di angka 82 Euros, sedangkan nilai terendah tahunan adalah sekitar 81 Euros. Kesempatan untuk membeli? Namun berapa potensi keuntungan yang akan diraih dalam tahun-tahun mendatang melihat lambatnya perkembangan ekonomi dunia?
Sebenernya memang efek krisis hipotek AS sangat rumit, rumit strukturnya, makanya rumit juga dalam menilai kehilangan yang disebabkannya. Karena itulah berita-berita tentang krisis ini dari berbagai rumah-rumah investasi, bank-bank agak lambat keluarnya di media dan tidak akan berhenti sampai tahun mendatang.
Untungnya saya tidak menanam modal di Fonds (fund), bagi saya fond itu cukup rumit, makanya kita penanam modal kecil mempercayakan saja uang kita ke Fund Manager. Ada ribuan macam Fund, alasan saya itu malas membaca informasi dari ribuan macam Fund tersebut. Kamu harus mempelajari di mana mereka menanam modal tersebut, di industri apa aja, di negara mana aja, berapa persen, berapa komisi administrasi, komisi manager, biaya kanselasi bila mau ditarik sebelum waktunya.
Sedangkan untuk menanam saham, saya bisa langsung memilih salah satu saham, mempelajari balance dan P&L dari perusahaan tersebut dan kalau menurut saya ada potensi keuntungan, saya tinggal beli melalui internet, melalui broker/bank saya.
Nah balik lagi ke soal menanam modal di Fund, misalnya saja, saya mempercayakan uang saya di salah satu fund tanpa saya ketahui dimana mereka menanam modalnya. Ternyata, misalnya aja ternyata mereka menanam modal di sektor hipotek di AS. Uang hilang, kalau ada untung, masih bisa ditarik, kalau ngga, ya hilang.
Bukan berarti modal saya tidak terkena imbas krisis subrprime, tidak terkena secara langsung, namun terkena imbas secara umum, misalnya ya kelakuan bursa yang jelek, ketidakpercayaan penanam modal, berita-berita krisis yang menimpa bank2, naiknya harga minyak, turunnya angka pertumbuhan ekonomi di AS dan Eropa, turunnya harga dollar terhadap Euro, inflasi, etc..etc.
Saya cuma bisa sabar (=nanam modal jangka panjang), kata Pat Dorsey, kalau takut, mendingan jangan jual dalam keadaan bursa turun, tapi kalau kamu rakus, sebaliknya, gunakan kesempatan ini untuk membeli.
Gimana dengan kepercayaan saya sendiri terhadap bursa? Susah untuk menilai…saya Cuma bisa hati-hati dan kata kuncinya sabar. Apakah tahun mendatang datang bear market? Kalau iya, bisa saya manfaatkan untuk terus membeli. Apa yang terjadi dengan modal saya yang saat ini terkena imbas? Cuma bisa menunggu sampai situasi membaik, menjualnya dengan nilai terbaik – tidak tahun ini, mungkin tahun mendatang.
Kata kunci yang lain adalah: jangan terlalu rakus. Contohnya, lihat saja bank2 dan rumah2 investasi yang terkena krisis, walaupun mereka adalah ahli-ahli di dunia penanaman modal, toh kalau tidak hati-hati dan terlalu rakus, akhirnya jatuh juga.

