Sebenernya aku ini sedang galau loh. Mikirin yah kangen aja sama Indonesia, rumah, bapak dan ibu, adik, kakak, temen-temen dan saudara. Rasanya pengen “give up everything” dan balik ke Indonesia. Menjual rumahku di sini, membagi hasilnya dengan Antonio, fifty-fifty dan masing-masing kita mencari jalan sendiri-sendiri. Dengan uang hasil penjualan rumah, aku bisa jalan-jalan keliling SETENGAH dunia. Sahara, Turki- Istambul, India, Nepal, Tibet, Africa, Ambon, Sulawesi, Irian Jaya. Kemudian mencari tempat yang paling enak, kota kecil atau desa, membeli rumah dan tanah, nanem sayur dan buah-buahan dan mencari pekerjaan samping lainnya.
Ih kok bisa begitu ya pikiranku?
Mungkin aku orang yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab, buktinya sampai sekarang aku belum mempunyai anak dari enam tahun pernikahan, karena terlalu banyak mikir, pertimbangan, dan sebagainya.
Terkadang aku hanya ingin menyendiri, jika aku menemukan suatu pulau yang indah dan aku bisa hidup di sana, kan kurelakan semua yang kumiliki demi hidup melajang, tanpa beban dan dekat dengan alam.
Terutama aku ingin melihat dunia, melihat orang-orang dan kehidupannya, melihat banyak kebudayaan dan keunikannya. Terus berjalan dengan ranselku, dari satu tempat ke tempat lain, walau menjadi seorang fakir sekalipun.
Ih itulah aku orang yang tidak bertanggung jawab, mau enaknya aja. Rasanya sih ga bisa, aku masih harus bantu adikku menyelesaikan kuliahnya, juga membantu orangtuaku yang sudah pensiun dan juga beberapa keponakan atau sepupu yang mungkin membutuhkan bantuan uang dari negri nun jauh dimana aku berada.
Aku juga sedang kosong, kosong sekali. Hampa aja, tidak ada semangat, motivasi dan sejenisnya. Lagi bingung, pengen rasanya nerusin sekolah lagi, tapi ada banyak kebutuhan lain yang harus aku tuntaskan daripada buang-buang duit tak karuan. Jadi aku pikir tahun ini aku akan berdiam saja, alias bekerja lima hari seminggu, menabung untuk setelah itu membayar hutang-hutang siwalan dan berharap ada rezeki tidak terduga atau jangankan rezeki, apa aja deh, sepercik kebahagian. Mungkin jika aku sehat sepanjang tahun ini saja aku mustinya bersyukur. Bersyukur masih mempunyai pekerjaan yang amat sangat bagus. Rumah yang memuaskan, dan sebagainya namun….kenapa aku selalu terjerumus dalam kegalauan yang selalu menghantuiku tiap tahun. Apakah orang-orang mengalami hal yang sama? orang-orang seumurku? wanita-wanita yang mempunyai situasi seperti aku? atau wanita-wanita seumurku?
Yah, memang jalan hidup manusia berbeda-beda, hanya saja terkadang aku ragu apakah aku sudah berada di “track” yang benar?
Aku mengucapkan syukur telah melewati tahun yang amat sangat buruk, tahun dua ribu empat, aku benci tahun itu. Ada banyak penipuan, kesedihan, jerih payah tanpa arti, kerugian, dan segala macam di sekeliling kami. Lihat saja buktinya, bencana besar itu (tsunami) datang di akhir tahun dua ribu empat, mungkin dia tidak sampai hati mengotori tahun dua ribu lima dengan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Rasanya aku memasuki tahun dua ribu lima ini dengan langkah yang pasti, ada kejadian-kejadian yang menggembirakan di awal tahun. Pernikahan kakakku, kunjunganku ke Indonesia menengok keluarga, perjalananku dengan Riama. Aku harap tahun ini, bukan saja tahun yang harus aku manfaatkan untuk merubah diriku menjadi manusia yang lebih baik namun juga menjadi manusia yang….dekat dengan Tuhannya, manusia yang bersyukur, yang selalu ingat Allah, yang meminta ampun, meminta petunjuk dan ridhoNya.
Rasanya ngga susah…
Aku juga harus menjadi istri yang LEBIH mandiri lagi, lebih tegar, lebih sabar, untuk membantunya, mendukung setiap usahanya.
Loh kok jadi begini isi pembicaraan ini? hm..mungkin ini memang hanya refleksi. Refleksi dari orang yang tidak bertanggung jawab, egois, slebor, cuek, dst.
Mungkin waktu juga akan merubah diriku….