yang pateticMarch 22, 2005 3:32 pm

Temenku yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat sampai saat ini belum mempunyai surat-surat yang harus dimiliki untuk izin tinggal/kerja (padahal sudah 2 tahunan di tinggal di sana), sehingga dia yang sudah rindu Indonesia, tidak bisa pulang kampung. Karena sekali keluar dari wilayah AS tidak ada jaminan bisa masuk lagi ke wilayah itu walaupun ia bersuami dengan orang sana. Gila ya? padahal ibunya di Indonesia sana sedang sakit.

Soalnya ada juga teman yang akhirnya harus berpisah dengan istrinya yang orang Amerika. Dia pulang ke Indonesia sebelum kejadian 11 september untuk menengok orang tuanya yang sakit. Namun ketika dia hendak kembali masuk ke Amerika Serikat ternyata dia tidak diperbolehkan alias dipersulit. Sehingga sampai saat ini dia terpisah dari sang istri.

Ya sudah, sabar sajalah temanku….kangen itu obatnya cuma pulang. Kalau kamu tidak bisa pulang, berati tidak ada obatnya. Alias, aku tidak bisa menawarkan solusi untukmu. Maaf.

yang pateticMarch 14, 2005 12:10 pm

Sedih kalau sampai percaya bahwa di dalam konsep suatu keluarga, ada konsep anak tumbal.

Kalau di jaman Inca dan Maya, ada orang tua yang menumbalkan anaknya untuk Dewa Matahari, sebetulnya di jaman sekarang konsepnya berubah.

Si anak tumbal adalah anak yang dipilih untuk bekerja keras demi membiayai adik-adiknya dan kebutuhan orang tuanya, merantau jauh. Hanya tau susahnya hidup. Hanya memikirkan kehidupan yang lebih baik untuk adik-adiknya yang mempunyai kesempatan untuk kuliah dan menikmati masa-masa indah di kampus, di kos-kos-an. Hanya tau tiap bulan musti transfer duit ke rekening ortu. Sementara mimpi-mimpi si tumbal belum tercapai, ia harus menghapusnya demi mimpi orang-orang yang lain yang “lebih penting”.

Salam untuk semua orang yang merasa jadi “tumbal”. Berjuang terus bangun mimpimu.

yang pateticMarch 11, 2005 12:04 pm

Aku tidak bisa menghindar menulis pendapatku tentang negaraku tersayang.

Setelah ribut-ribut soal kenaikan BBM, kini muncul lagi polemik tentang wilayah milik Indonesia yang diributkan oleh Malaysia, Ambalat.

Dalam berita-berita, pemerintah Indonesia sendiri akan menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik.

Namun tampaknya rakyat Indonesia terutama pemuda-pemudanya sudah keburu panas. Tidak menghiraukan apa yang dilakukan pemerintah, mereka mulai membentuk “Pos Ganyang Malaysia”, malah yang terakhir saya baca, adanya warga yang mencap jempol darah sebagai tanda siap menjadi sukarelawan perang jika memang perang akan terjadi. Kali ini bahkan dari golongan ibu-ibu.

Warga acapkali berbicara kepada para wartawan bahwa mereka siap, siap membantu angkatan bersenjata negara kita untuk turun ke medan peperangan.

Kalau saya pikir, mereka semua sudah G I L A.

GILA, GILA DAN GILA.

Saya pengecut? saya tidak mengerti? saya tidak patriotik? silahkan saja sebut saya dengan kriteria-kriteria tersebut.

Pendapat saya sendiri, rakyat Indonesia sudah P U T U S A S A. Mereka tidak berpikir lebih jauh lagi konsekuensi yang akan dibawa oleh peperangan.

Kita bukan bicara perang-perangan anak kecil dengan pedang kayu dan sebagainya. Apa mereka tidak pernah melihat perang yang ada di negara lain? korban-korban yang mati? ekonomi negara yang hancur? dst.

Untuk apa ada diplomat-diplomat di Departemen Luar Negri?

Ingat, kita harus menggunakan jalan diplomasi di atas jalan kekerasan dan militer!

Negara kita saat ini sedang terpuruk, hutang ke luar negri yang tidak terhitung lagi, korupsi, bencana alam, kerusakan lingkungan hidup, defisit, tidak berkembangnya ekonomi negara, dll.
Apakah kita masih mau berperang dan menghabiskan uang negara untuk perangkat militer?

Gila kan? kemana pikiran rakyat itu?

Kalau sampai terjadi peperangan, saya berharap Allah membuka mata hati dan otak bangsa kita, karena saya pun tidak mengerti akan pikiran bangsa saya sendiri….

PD: berita terakhir;

Wakil Ketua DPR: Sebaiknya SBY Umumkan Perang dengan Malaysia

bangsa miskin, bangsa korupsi, bangsa sombong, bangsa bodoh, bangsa……………KU

yang patetic, buku/film/celebMarch 10, 2005 3:39 pm

Ketika aku melihat film “The Sea Inside“, dari awal hingga akhir film, aku tidak dapat berhenti menangis, air mata terus mengalir dari mataku, sambil terisak-isak.

Untung saja ketika itu penonton bioskop hanya aku, seorang bapak-bapak dan dua orang wanita. Kebetulan saat itu hari kerja dan sudah malam, aku sedang bertengkar dengan suamiku.

Film itu seperti yang kamu ketahui diambil dari kisah nyata, menceritakan tentang Ramón San Pedro yang cacat total (tertapléjico) yang menginginkan kematian, dengan kata lain dia menuntut kepada masyarakat dan pihak yang bertanggung jawab supaya dia di”bunuh”, dimatikan saja, karena bagi dia hidup di tempat tidur bukanlah kehidupan yang ia inginkan.

Terlepas dari gambaran teknik film ini, sebenarnya seseorang tidak perlu menunggu menjadi cacat total untuk menuntut sebuah kematian, ada banyak orang-orang di luar sana, di dunia ini yang menginginkan kematian menjemput dirinya tanpa harus menderita cacat atau sakit. Mereka orang-orang yang secara fisik sehat, bahkan tidak kekurangan apapun dalam hidup ini, alasannya? tiap jiwa punya alasannya sendiri-sendiri. Seperti tiap nasib menuntun orang-orangnya.

Lihat di Jepang sana, anak-anak muda yang mengorganisasi kematian mereka sendiri.

Mati memang seribu kali lebih gampang dari hidup. Dalam kehidupan kita menemukan diri kita, dalam kehidupan ini ada pencarian yang tiada akhir yang membantu kita menyebrangi jembatan itu. Hingga umur kita sampai pada angka yang tertulis di Kitab Besar itu.

yang patetic 10:49 am

Aku punya seorang rekan kerja yang juga seorang pecinta binatang seperti diriku.

Kalau dia sedang menganggur, dia terkadang masuk ke dalam forum tentang pembelaan binatang di Internet. Aku tahu sering kali ada kasus di mana binatang-binatang itu mati secara mengenaskan karena perbuatan manusia. Aku terus terang tidak pernah ingin mendengar berita-berita yang menyedihkan mengenai nasib binatang itu, sama halnya ketika aku menghindar melihat berita di televisi agar tidak melihat dan mendengar berita-berita menyedihkan tentang kematian dan kesengsaraan manusia di belahan bumi lainnya.

Namun rekan kerjaku itu terkadang dengan “rajin” menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar di forum itu.

Menyebalkan bukan? bukannya aku tidak sayang kepada mahluk hidup yang menderita, hanya saja keseringan mendengar hal itu seringkali membuatku berpikir pesimis dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini.

yang pateticMarch 8, 2005 2:04 pm

Betul…gue lagi ngomongin bra. Gua belum cerita kejadiannya di Sukabumi.

Jadi, pas udah selesai pembelian barang pesenan suami di Cibatu, gue kan pergi ke Sukabumi kotanya, karena adek gua pengen kue moci.

Memang ransel gue berat, karena bawa 2 golok pencak silat sepanjang 50 cm (pas dikilo, ternyata beratnya 1 kilo) plus senjata2 lainnya.

Di Swalayan Yogya gue ngga nemu toko yang menjual kue moci, ya udah gua tanya aja ibu2 di jalan, kalo mo beli kue itu di mana, trus gue ditunjukkin, dia bilang, naik angkot yang warna hijau aja, nanti bilang diturunin di tempat yang jual kue moci, supirnya udah tau.

Udah aja, gue udah beli kue moci, di gg. mesjid kalo ngga salah, di jalan bhayangkara (kalo ga salah gue ada sedokur jauh di gg. dewa, deket2 situ). Nah, ga jauh dari situ gue liat tukang bubur, di pojokan, deket kantor kelurahan kalo ga salah.

Eh begitu gua mo duduk, kan gua turunin ransel, saat itulah…gua ngerasa BH gua lepas, kancingnya lepas. Gua sih santai aja, pernah juga ngalamin kejadian kayak gini, cuma bisa diatasi. Itu gara2 ransel sih, pas ngelepas, punggung kan jadi melebar karena gerakan otot lengan ke arah luar. Atau guanya jadi kurus karena kepanasan di Indonesia, jadi makanya BH bisa lepas karena kendor….

Pas ada ibu2 pegawai negri pesen bubur juga, untung aja sepi. Gua bilang aja langsung sama ibu itu, “ibu tolongin saya dong bu, bh saya lepas”- sebenernya ya malu, tapi gue ngga ngeliat solusi lainnya.

Ngga mungkin dong gua diem aja, perjalanan masih jauh, Sukabumi - Jakarta cing! masa gue mo membiarkan bh itu menggelantung tanpa dikancingkan, kalo melorot bisa berabe.

Untung aja ibu itu mengerti, sesama perempuan, dia nolongin gue memperbaiki kerusakan itu, gue cuek, kebetulan tukang bubur lagi ngobrol sama tukang rujak yang mangkal ga jauh dari situ.

Lega deh gue. Terima kasih ya ibu….

Trus kebetulan aja gua balik ke arah terminal barengan naik angkot sama ibu itu. Si ibu dan si supir angkot nolongin gue juga pas gua bilang gua mo ambil kolt dari Suska sampe Ciawi.

Pas si ibu mau turun, dia ngasih duit besar, si supir ngga punya kembalian, jadi kebetulan gua bisa bales jasa ibu itu….

Begitulah….BH bisa jadi masalah di perjalanan….

asem manis asin, yang patetic 11:54 am

Kalau aku masih menyimpan keinginan untuk mati, bagaimana aku mau melahirkan sebuah kehidupan dari rahimku?

Nel mezzo del cammin di nostra vita
mi ritrovai per una selva oscuraché
la diritta via era smarrita.

MIDWAY upon the journey of our life
I found myself within a forest dark,
For the straight forward pathway had been lost.

(Dante Alighieri- Divina Comedia, Inferno Canto 01) translated by Longfellow

yang patetic 11:48 am

Setelah kembalinya aku dari Jakarta, di Madrid cuaca tidak jauh dari temperatur yang dingin, seringkali di bawah nol, bersalju, mendung, menyebalkan….

Kini aku sedang terpenjara di kamarku, di hadapan komputer, dengan heater di dekat kakiku, dan meneguk teh indonesia, merek cap botol, duh…nikmatnya.
Sambil mengingat-ingat, enaknya waktu di Ciputat, di rumah orang tua, mau siang atau malam aku bisa nongkrong di teras bak abang-abang sambil nyeruput kopi. Bengong-bengong sambil melihat pohon mangga, duren dan anggrek-anggrek ibuku. Pakaian, kaos dan celana pendek, nyeker pula.

Kini aku memakai dua sweater, celana yang dilapisi “foro polar” dan luarnya anti air, plus sepasang kaus kaki. Jendela tertutup rapat, gelap, juga pintu. Hanya ada cahaya lampu.

Tadi ketika salju turun, aku sempat bermain-main dengan Kenya di patio, dia menggaruk-garuk salju seakan tidak percaya….lucunya anjingku itu.

Yah…kemarin sih aku makan siang dengan seorang teman Indonesia yang baru kukenal. Dia juga benci dingin, paling males keluar kalau lagi dingin-dingin.

Paling sebel kalo denger orang di negri kita bilang, “Enak ya tinggal di luar negri?”

Enak moyangmu….gantian sini…

yang patetic 11:42 am

Sebenernya aku ini sedang galau loh. Mikirin yah kangen aja sama Indonesia, rumah, bapak dan ibu, adik, kakak, temen-temen dan saudara. Rasanya pengen “give up everything” dan balik ke Indonesia. Menjual rumahku di sini, membagi hasilnya dengan Antonio, fifty-fifty dan masing-masing kita mencari jalan sendiri-sendiri. Dengan uang hasil penjualan rumah, aku bisa jalan-jalan keliling SETENGAH dunia. Sahara, Turki- Istambul, India, Nepal, Tibet, Africa, Ambon, Sulawesi, Irian Jaya. Kemudian mencari tempat yang paling enak, kota kecil atau desa, membeli rumah dan tanah, nanem sayur dan buah-buahan dan mencari pekerjaan samping lainnya.
Ih kok bisa begitu ya pikiranku?

Mungkin aku orang yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab, buktinya sampai sekarang aku belum mempunyai anak dari enam tahun pernikahan, karena terlalu banyak mikir, pertimbangan, dan sebagainya.
Terkadang aku hanya ingin menyendiri, jika aku menemukan suatu pulau yang indah dan aku bisa hidup di sana, kan kurelakan semua yang kumiliki demi hidup melajang, tanpa beban dan dekat dengan alam.

Terutama aku ingin melihat dunia, melihat orang-orang dan kehidupannya, melihat banyak kebudayaan dan keunikannya. Terus berjalan dengan ranselku, dari satu tempat ke tempat lain, walau menjadi seorang fakir sekalipun.

Ih itulah aku orang yang tidak bertanggung jawab, mau enaknya aja. Rasanya sih ga bisa, aku masih harus bantu adikku menyelesaikan kuliahnya, juga membantu orangtuaku yang sudah pensiun dan juga beberapa keponakan atau sepupu yang mungkin membutuhkan bantuan uang dari negri nun jauh dimana aku berada.

Aku juga sedang kosong, kosong sekali. Hampa aja, tidak ada semangat, motivasi dan sejenisnya. Lagi bingung, pengen rasanya nerusin sekolah lagi, tapi ada banyak kebutuhan lain yang harus aku tuntaskan daripada buang-buang duit tak karuan. Jadi aku pikir tahun ini aku akan berdiam saja, alias bekerja lima hari seminggu, menabung untuk setelah itu membayar hutang-hutang siwalan dan berharap ada rezeki tidak terduga atau jangankan rezeki, apa aja deh, sepercik kebahagian. Mungkin jika aku sehat sepanjang tahun ini saja aku mustinya bersyukur. Bersyukur masih mempunyai pekerjaan yang amat sangat bagus. Rumah yang memuaskan, dan sebagainya namun….kenapa aku selalu terjerumus dalam kegalauan yang selalu menghantuiku tiap tahun. Apakah orang-orang mengalami hal yang sama? orang-orang seumurku? wanita-wanita yang mempunyai situasi seperti aku? atau wanita-wanita seumurku?
Yah, memang jalan hidup manusia berbeda-beda, hanya saja terkadang aku ragu apakah aku sudah berada di “track” yang benar?

Aku mengucapkan syukur telah melewati tahun yang amat sangat buruk, tahun dua ribu empat, aku benci tahun itu. Ada banyak penipuan, kesedihan, jerih payah tanpa arti, kerugian, dan segala macam di sekeliling kami. Lihat saja buktinya, bencana besar itu (tsunami) datang di akhir tahun dua ribu empat, mungkin dia tidak sampai hati mengotori tahun dua ribu lima dengan mayat-mayat yang bergelimpangan.

Rasanya aku memasuki tahun dua ribu lima ini dengan langkah yang pasti, ada kejadian-kejadian yang menggembirakan di awal tahun. Pernikahan kakakku, kunjunganku ke Indonesia menengok keluarga, perjalananku dengan Riama. Aku harap tahun ini, bukan saja tahun yang harus aku manfaatkan untuk merubah diriku menjadi manusia yang lebih baik namun juga menjadi manusia yang….dekat dengan Tuhannya, manusia yang bersyukur, yang selalu ingat Allah, yang meminta ampun, meminta petunjuk dan ridhoNya.

Rasanya ngga susah…

Aku juga harus menjadi istri yang LEBIH mandiri lagi, lebih tegar, lebih sabar, untuk membantunya, mendukung setiap usahanya.

Loh kok jadi begini isi pembicaraan ini? hm..mungkin ini memang hanya refleksi. Refleksi dari orang yang tidak bertanggung jawab, egois, slebor, cuek, dst.

Mungkin waktu juga akan merubah diriku….

yang patetic 11:38 am

Jika ada yang bisa dipetik dari perjalananku ke Indonesia, hanya satu, ternyata aku manusia yang sombong. Kok baru sadar sekarang ya? ya karena itu, karena melihat segala sisi kehidupan di berbagai pelosok negri.

Resumen, selama ini aku bersikukuh untuk bertahan pada planning, rencana, projek, atau apapun namanya tanpa mencoba meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa. Aku pikir, segala sebab dan akibat akulah atau manusialah yang menanggung.

Hasilnya? dengan segala planning itu, hidupku malah tak ada ujung pangkalnya. Amburadul, mungkin kata yang paling tepat.

(menghela nafas…)

Sekarang aku akui aku gagal dalam segala aspek kehidupan. Puas?
Yap, aku akui sejujurnya.

i tried to kill the pain but only brought more
i lay dying and i’m pouring crimson
regret and betrayal
i’m dying, praying, bleeding and screaming
am i too lost to be saved am i too lost?
my God my tourniquet
return to me salvation
my God my tourniquet
return to me salvation
do you remember me
lost for so long will you be on the other side
or will you forget me
i’m dying, praying, bleeding and screaming
am i too lost to be saved
am i too lost?
(”Torniquet” - Evanescence)

Sekarang dan kemarin-kemarin aku sudah minta maaf kepada Allah dan mengatakan, “Ya Allah, tolonglah aku, tunjukkanlah jalan yang engkau ridhoi, bimbinglah aku dalam hidup ini dan aku berserah diri kepadamu”.

Aku tidak akan sekeras dulu. Aku kini pasrah, walau bukan berarti kalah atau mengalah. Hanya saja tidak akan bersikeras dengan teori-teori bodoh manusia.

Would you please help me and hear my wish? oh God?

LINK TEXTNext Page »
online