Rencana kepergianku ke Bali sudah dirancang sebelum aku datang ke Indonesia desember yang lalu. Sengaja aku beritahu Riama, sahabatku jika dia berminat ikut denganku.
Aku juga sengaja memberitahu ibuku terutama, mengenai rencana tersebut, supaya ia tidak rewel ketika aku ingin pergi sebebas-bebasnya. Dengan alasan, aku belum pernah ke Bali, dan malu sama orang-orang kalau sampai belum melihat keindahan Bali dan keunikannya, dan juga siapa tahu nanti di masa depan, mertuaku ingin juga ke sana dan setidaknya aku sudah pernah ke Bali untuk membantu orientasi mereka.
Sebenarnya tanggal kepergianku ke Bali, bertepatan dengan mulainya tanggal bekerja temanku itu setelah sebulan setengah liburan anak-anak sekolah (dia mengajar sebagai guru sekolah dasar di sebuah sekolah swasta di kawasan Pondok Indah). Namun dengan kebaikan hati kepala sekolahnya, kalau tidak salah, sering dipanggil dengan “Miss Mira”, Riama memperoleh cuti “Un paid leave” selama seminggu.
“Yipie!!!” Terima kasih Miss Mira atas kebaikan anda…
Jadi jadilah kami ke sana tanggal 10 desember, sehari setelah pernikahan kakakku. Aku janjian dengan Riama di Blok M plaza, tepatnya di Dunkin Donuts untuk nantinya mengambil bis Damri yang membawa kami ke bandara Soekarno Hatta.
Terus terang aku hanya membawa satu ransel yang aku beli di Bandung dua tahun yang lampau, aku isi dengan beberapa lapis atasan dan celana pendek, satu celana panjang, sisir, body and face lotion, sikat gigi dan odolnya, kamera, dompet dan dua tiket pp Jakarta Bali.
Sebelumnya kami mengirim SMS ke Bayu, seorang teman teman dari Sisgahana yang mungkin bisa membantu kami berorientasi selama di sana. Ternyata beliau sedang berada di Lombok dan dia tidak yakin bisa menemui kami.
Kami sampai di Bali sekitar jam 21.30 malam dengan pesawat Lion Air. Sampai di Ngurah Rai, kami mengirim pesan ke Bayu tentang apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan penginapan yang murah. Dia mengatakan untuk mengambil taxi dan meminta untuk diantar ke daerah Popies Lane II (di Kute) dan menyebutkan tarif hotel yang kami kehendaki. Biaya taxi sekitar 30.000 rupiah menurut pegawai di Pemesanan Hotel di bandara Ngurah Rai.
Keluar dari bandara di sebelah kiri, kami temui beberapa taxi, ternyata kita juga harus cepat untuk mengambil taxi, karena segera dipenuhi oleh penumpang-penumpang lainnya. Tarif taxi dari bandara ke Poppies Lane ternyata 25.000 rupiah dan hanya sekitar 15 menit dari bandara Ngurah Rai. Kami sebutkan tarif penginapan yang kami inginkan, sekitar 70 sampai 80 ribu rupiah permalam dan yang penjagaannya cukup aman.
Kami diantar ke Tunjung Bali Inn Hotel. Setelah membayar taxi dan menurunkan barang-barang kami, segera kami mendaftar di “Front Office” hotel tersebut. Pegawai-pegawainya tampak biasa-biasa saja, mungkin tidak bisa juga disebut hotel. Cottage atau losmen mungkin lebih tepat. Aku temui pula seekor anjing yang kaget ketika aku menyapanya, (uh kasihan…mungkin ia tidak pernah disapa oleh tamu-tamu ), namanya Lion.
Segera kami diantar ke kamar kami, di lantai bawah, tepat di depan kamar kami terdapat sejenis tempat berdoa atau menaruh sesajen.
Tak lama setelah kami sampai di kamar, turunlah hujan dengan derasnya.
Kami cukup puas dengan kamar yang sederhana namun cukup luas, ada dua buah tempat tidur di sisi kiri dan kanan, satu meja di tengahnya, juga tepat di sisi tembok yang lain satu bufet dengan kaca dan lampu. Juga di langit-langit terdapat kipas angin. Kamar mandi yang kebersihannya agak kurang menurutku, namun cukup luas, dilengakpi dengan “shower” air panas dan dingin, WC dan wastafel berukuran mini.
Malam itu karena derasnya hujan kami tidak keluar untuk mencari makan malam, untunglah Kak Hana (kakaknya Riama) membekali kami dengan muffins (Terima kasih Kak).
Hari pertama di Bali, kami bangun pagi-pagi dan mendapatkan makan pagi yang cukup lumayan enak dan dibawakan sampai ke teras kamar kami. Hari itu, kami memutuskan untuk menemui saudara Riama yang bekerja di Ritz Carlton di daerah Jimbaran. Kak Fina, begitu kami memanggilnya, kalau tidak salah dia menjabat Marketing Manager dari hotel tersebut, bukan hotel berbintang lima, namun ber-diamond dua! (ini terus terang aku baru mendengarnya).
Keluar dari hotel kami membawa seluruh bawaan kami, karena kami pikir kami akan segera meninggalkan Kuta untuk mengunjungi tempat lain. Setelah membayar kamar, kami menemukan seseorang yang biasa menggunakan van-nya untuk mengantar tamu-tamu hotel, jadi kami tidak perlu mencari-cari taxi. Dia menawarkan tiga puluh ribu sampai tujuan. Ok, kami setuju. Ternyata Ritz Carlton lebih jauh dari perkiraannya, setelah melewati hotel Four Season, mobil kami menanjak terus sampai ke daerah paling tinggi dan paling ujung di Jimbaran. Pak Made yang mengantar kami, meminta uang lebih karena tujuan kami lebih jauh dari perkiraannya. Akhirnya kami setuju untuk membayarnya 40.000 ribu rupiah.
Riama dan aku, pergi menuju “Reception” hotel, dengan gayaku yang agak-agak miskin, celana pendek warna kaqui, kemeja lengan pendek warna biru muda, satu gembol ransel dan sandal jepit gunung. Dengan acuhnya aku memasuki hotel. (Aku benar-benar “out of place” di situ).
Setelah memberi tahu maksud kedatangan kami kepada mbak-mbak yang bertugas di “Front office”, kami duduk-duduk menunggu sambil takjub memandang birunya laut dan birunya kolam renang yang ada di daratan landai di bawah pandangan mata kami. Semua tampak sejuk dan harmonis, dan tidak lepas dari irigan suara gamelan bali yang dimainkan oleh seorang bapak di hall menuju “Reception”.
Sepuluh menit kemudian muncullah kak Fina, setelah aku dikenalkan, kami bergerak menuju salah satu restaurant di mana tamu-tamu biasa mendapatkan makan paginya. Restaurant itu dikelilingi kolam yang berisi berbagai macam ikan hias, dan dihiasi oleh tanaman-tanaman hijau dan air mancur.
“Breakfast” di Ritz Carlton terdiri dari makanan Indonesia seperti nasi goreng dan mie goreng dan lauk pauknya. Makanan Jepang, juga continental breakfast untuk bule-bule. Berbagai macam juice dan buah-buahan segar. Entah apa lagi….
Yang jelas aku hanya mengambil dua sendok mie goreng, kopi susu dan jus jeruk. Sambil tercengang-cengang dengan suasana dan agak-agak tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
Kami berbincang-bincang dengan Kak Fina tentang keluarga dan tentang hotel ini. Dia sudah siap dengan brosur dan informasi tentang hotel. Setelah selesai makan pagi (yang kedua kalinya), kami diajak untuk mengunjungi bungalow baru. Diantar oleh “shuttle”, semacam mobil yang biasa dipakai di lapangan-lapangan golf, sampailah kami di depan pintu gerbang bungalow.
Tarif menginap satu malam di sini adalah sekitar lima ratus dollar, bungalow yang mewah ini dilengkapi ruang tamu, kamar tidur dan fasilitasnya, kamar mandi yang lega dan menghadap ke taman (tentu saja tidak ada tetangga di sekelilingnnya sehingga kamu bisa mandi dengan tenang dengan pintu terbuka). Di halamannya terdapat kolam dan bale-bale, taman yang asri.
Setelah foto-foto di situ seperti halnya orang yang ingin menyimpan momen-momen indah ini untuk dipamerkan ke sanak saudara di Jakarta (ha ha ha….), kami diantar menuju bar restaurant yang dilengkapi kolam renang yang bertingkat-tingkat dan ke manapun kami memandang, selalu terlihat birunya lautan….
Setelah itu, kami diantar dengan mobil menuju pantai. Pantai hotel yang diperuntukkan untuk tamu-tamu hotel. Tempatnya agak tinggi, sehingga untuk menuju pantai, tamu-tamu tersebut harus turun dengan tangga yang telah disediakan hotel. Tak jauh dari pantai terdapat sungai yang membatasi area hotel dengan tanah milik Tomy Soeharto.
Tentu tak jauh dari tangga menuju pantai, ada dua orang pegawai hotel yang bertugas untuk memberikan minuman gratis dan handuk panas untuk tamu-tamu yang baru saja berenang di pantai, karena menaiki tangga yang berketinggian sekitar 10 sampai l5 meter itu….Terdapat juga bale-bale dari bambu dan kayu yang menghadap ke laut, agar tamu-tamu bisa menikmati keindahan alam Jimbaran.
Dari situ, kami diantar untuk menengok bungalow lama yang tak kalah mewah dengan bungalow baru. Setelah itu kami menuju gedung hotel dengan kamar-kamar “biasa”, kalau tidak salah, tarif kamar-kamar in sekitar 170 dolar amerika permalam. Kami ditunjukkan salah satu kamar yang menghadap ke pantai. Setelah itu kami sempat juga memasuki ruangan, semacam “family loung” untuk tamu-tamu yang ingin bersantai dengan seluruh keluarganya di situ, terdapat beberapa set kursi dan sofa, perpustakaan dan suasana yang tenang. Kebanyakan dari tamu-tamu yang ada di situ berkebangsaan Jepang.
Entah berapa jam kami mutar-muter area hotel yang luasnya lima kali lapangan bola. Dan sekitar pukul satu kami diundang makan siang di restaurant Itali. Bersiap-siap untuk tawaran mengikuti Spa di salah satu area hotel. Spa ternyata tidak seperti yang aku bayangkan, tapi yah…pengalaman baru, aku pikir ada olah raga yang lebih murah dan menyenangkan seperti hi-king dan naik sepeda….(dasar orang miskin!)
Riama hanya bertahan satu jam di spa dan aku satu setengah jam karena tidak ingin meninggalkannya sendirian. Aku sempat nyasar ketika mencoba mencari-cari kamar mandi dan ruangan tempat aku meninggalkan barang-barangku sebelumnya. Untung saja ada banyak pegawai hotel yang mau membantu orang udik ini (ha ha…).
Dari tempat spa, kami bermaksud kembali ke “Reception” untuk menemui kak Fina. Setelah menduga-duga jalan kembali dan bertanya-tanya ke orang-orang sekitar, kami sampai juga dan duduk-duduk sambil menunggu kak Fina. Ternyata saat itu waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan tepat saat jam kerja kak Fina berakhir. Hingga kami diantar olehnya. Maksudnya mau diturunkan di daerah “Matahari” (lupa namanya, simpang siur?) untuk membeli peta. Namun rencana itu berubah. Akhirnya kami mengunjungi rumah kak Fina dan Bang David (sepupu Riama) dan menengok anak mereka yang masih kecil, Maharani.
Setelah sejam di sana, kami bermaksud makan malam di daerah Seminyak di mana sepanjang jalan itu terdapat banyak kafe-kafe, sebagian diperuntukkan untuk pasangan-pasangan yang ingin makan malam dengan lilin dan di bawah temaram rembulan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Made Warung karena aku ingin makanan indonesia saja, tidak ingin pasta, apalagi hamburger.
Di situ, aku membeli peta Bali. Oya, selama di Ritz, kak Fina berhasil menghubungi kami dengan seorang travel agent yang membantu kami mendapatkan sewa mobil dan penginapan di Ubud.
Selesai makan malam kami diantar ke tempat kami menginap malam pertama, di Poppies Lane. Kalau saja kami tau akan balik lagi, sudah kami tinggalkan gembolan kami yang beratnya ampun-ampunan.
Kami menyewa sebuah jimny berharga seratus ribu sehari. Namun keesokan harinya Jimny itu ternyata rusak, namun mereka akan mengirimkan Feroza dengan harga Jimny. Terus terang malam itu kami tidur dengan pulasnya setelah badan kami meminta ampun ketika diguyur air pompa dengan tekanan sebesar gajah di spa. Namun sebetulnya aku juga agak risau karena akan nekat menyetir pertama kalinya tanpa ditemani hm….guru menyetir mungkin? (kha kha kha…..kasihan Riama, dia telah menyerahkan hidup matinya kepadaku).
Ya ampun….kenapa aku pada waktu itu senekat Bin laden??? mobil itu terlalu besar untuk ukuranku, terlalu….dan akupun tidak berpikir bahwa menyetir di Indonesia untuk pertama kalinya akan sangat me—-nyeramkan?, kenyataan jalan-jalan yang tidak sama dengan gambar di peta? truk-truk yang tidak mau menyingkir ketika mereka mengambil alur jalanmu?
Aku paksa Riama untuk menjadi co-pilotku. Aku mohon untuk membaca peta dan membantuku dalam segala hal. Perfect, kami nyasar ke jalan raya yang lain. Ternyata tidak seperti yang ada di peta, seharusnya kami balik arah. Setelah satu jam muter-muter tidak karuan, pertama karena tidak tau arah, ke dua karena baru saja bisa menyetir mobil, akhirnya kami temui jalan tol Ngurah Rai untuk menuju Ubud. Di tengah jalan kami sempat mengisi bensin. Lalu sampai di desa Ubud (jalan yang sempit, tanjakan dan sebagainya), aku bener-bener puyeng dan stress. Kami sempat melalui jalan kecil yang dipenuhi anak-anak SD yang dengan santainya mengambil jalan raya satu-satunya untuk jalannya. Mereka tidak hirau sama sekali akan keberadaan kendaraan bermotor….oh adik-adikku yang manis, kenapa aku terperangkap di jalanmu??
Entah di jalan apa, ketika di tanjakan, ada sesuatu yang tidak beres dengan persneling mobil hingga akhirnya mobil terhenti ditanjakkan dan rem tangannya pun tidak berfungsi. Tepat pada saat itu ada satu anak muda yang mau menolong kami, dengan cepat dia mengendalikan mobil itu. (Eh, perlu aku ceritain ga ya?)
Kamipun sempat parkir di suatu tempat dan aku bertanya ke laki-laki itu dengan setengah memohon untuk mengantar kami ke hotel karena aku sudah putus asa. Made, nama anak muda itu, bersedia mengantar kami. Setelah berlari ke rumahnya untuk mengenakan baju, dia kembali ke mobil kami dan mengantar kami ke hotel.
Ternyata jalan tempat hotel itu berada tidak seperti yang digambarkan di peta. Untunglah kami ditolong oleh Made. Dia sangat baik dan bisa dipercaya. Dia bersedia mengantar kami ke manapun selama kami di Ubud dan tanpa meminta sepeserpun (aku menanyakan berapa tarifnya perhari untuk menjadi guide kami).
Riama masuk ke hotel untuk mendaftarkan diri, sementara itu aku dan Made kembali menuju rumahnya agar temannya bisa menjemputnya dengan motor di hotel tempat kita berada. Setelah mengucapkan terima kasih, selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi esok hari jam sembilan pagi, dengan agak-agak tengsin aku masuk hotel dan langsung menuju kamar, melalui kolam renang dan taman yang indah. Kamar hotel cukup bagus, namun penerangannya jelek sekali, temaram, mungkin diperuntukkan untuk pasangan yang berbulan madu, dan penerangan tidak diperuntukkan untuk “membaca dan menghitung pengeluaran” seperti yang kami lakukan setiap malam selama berada di Bali.
(hi…aku tersenyum-senyum sendiri kalau mengingat ini, tiap malam kami diskusi tentang pengeluaran setiap hari dan sebagainya).
Sore itu, kami memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan di sepanjang jalan raya sampai menuju pasar Ubud. Di kiri kanan jalan terdapat toko-toko souvenir yang menjual bermacam-macam barang. Tentu saja semua bagus-bagus dan menggiurkan. Kami berhenti di Istana Ubud di mana kami bisa melihat anak laki-laki dan perempuan yang berlatih menari. Kami juga sempat duduk-duduk sambil mendengarkan gamelan bali kemudian melihat-lihat rumah-rumah khas Bali yang merupakan bagian dari istana itu. Bangsawannya sendiri tinggal di istana itu, namun di bagian dalamnya. Kemudian kami pergi ke pasar Ubud yang juga menjual berbagai souvenir.
Setelah lelah, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki juga. Setelah istirahat sebentar di dalam kamar, kami keluar untuk makan di warung yang letaknya tidak jauh dari hotel (Sri Ratih Cottage nama penginapannya) . Lumayan murah meriah, mie gorengnya juga enak sekali. Setelah itu kami kembali menuju hotel dan malamnya kami sempat berbincang-bincang di tepi kolam renang sambil bernyanyi-nyanyi lagu-lagu jaman kami masih muda (cuih!!! pengen mati rasanya.) Tak lama datang satu pasangan bule yang langsung nyebur mengagetkan kami berdua….udah ga tahan kali liburan di Bali, begitu sampai hotel langsung memanfaatkan semua yang ada. Kami pun masuk kamar dan tidur.
Oya, ada satu yang aku benci, alarm HP-nya Riama. Ibu yang satu ini punya kebiasaan memasukkan HP-nya ke dalam tas HP, lalu tas HP dimasukkan ke dalam tas yang agak lebih besar, kemudian tas ini masuk ke dalam tas yang lebih besar lagi. Sehingga ketika hari pertama aku sekamar dengannya, dan alarm berbunyi, aku terbangun dan dengan mengamuk mencari-cari HP itu untuk mematikan bunyi yang sangat menyebalkan itu. Dengan mata setengah tertutup aku membuka satu persatu tas, dan tas dan tas sampai menemukan HP terkutuk itu……(GRH########)
Pagi itu kami menyempatkan berenang dan berfoto-foto ria, kemudian makan pagi. Ketika itu Made ternyata sudah menunggu di luar, aku mencoba untuk mempercepat semuanya. Sialnya sebelum sempat mencicipi kopi bali, mereka sudah membereskan sarapan pagi kita…huh! tanya dulu kek!
Pertama-tama kami pergi menuju penginapan yang direkomendasikan oleh Made, yaitu Dewa House, terletak di jalan raya Ubud dan pemiliknya tentu saja bernama pak Dewa.
Kami disambut dengan sangat baik dan ditunjukkan sebuah rumah, dari depan rumah itu tidak jauh berbeda dari Ubud Palace yang kemarin kami lihat. Di bagian depan, terdapat teras yang cukup luas, enam kali tiga meter persegi. Di tiap sisi terdapat sofa bali dan sisi kiri ditambah 2 kursi betawi. Pintu masuknya sangat bagus, ukiran bali dan dicat keemasan. Di dalamnya terdapat dua tempat tidur, satu besar dan satu kecil, satu rak dari rotan dan satu bufet dengan cerminnya. Lalu kamar mandi yang bersih. Cukup menyenangkan, dilengkapi pula dengan kipas angin di langit-langit. Semua itu berharga enam puluh ribu rupiah permalam dan malah katanya termasuk dengan makan pagi. (Alamak…kami sampai malu jadinya.)
Pagi itu pergi ke Batu Bulan untuk melihat tari barong, namun akhirnya kami datang terlambat karena sebelumnya kami ingin menjemput teman Made dari California, Remmy di penginapannya. Ketika kami tunggu-tunggu, ternyata Remmy sudah pergi, katanya dia sedang mengembalikan sepeda sewaan. Kami mencoba berangkat namun kami memutuskan sekali lagi untuk menengok Remmy, informasi terakhir dia pergi menuju Lovina…Akhirnya kamipun berangkat ke Batu Bulan tanpa dia, ternyata Batu Bulan cukup jauh dari Ubud, sekitar hampir 1 jam. Dan ketika kami sampai di tempat tarian, ternyata tinggal 10 atau 15 menit lagi selesai. Padahal kami sudah membayar lima puluh ribu satu orang, semestinya mereka memberitahu kami bahwa sebaiknya kami tidak masuk karena pertunjukan hampir selesai. Hanya itulah penyesalanku ketika di Bali dan menurut kakakku, lebih baik melihat tari kecak di malam hari, kelihatan lebih magis dan bagus.
Dari Batu Bulan atas keinginan Riama kami berbalik menuju Celuk, desa pengrajin perak. Made mengantar kami langsung ke desanya, di mana terdapat rumah-rumah penduduk yang dijadikan bengkel yang menghasilkan perhiasan-perhiasan dari perak. Terus terang karena aku tidak suka dengan perhiasan dan tek-tek bengeknya, aku lebih suka menunggu di luar. Dan ketika itu aku melihat seorang wanita yang menjual jamu. Langsung saja aku minta segelas, jelas saja aku minta jamu yang manis-manis…sama seperti yang menjualnya. Ternyata si penjual berasal dari Bandung, mojang parahyangan. Ketika Made dan Riama keluar, aku tawarkan juga kepada mereka jika mereka ingin meminum jamu.
Setelah itu kita berjalan masuk ke dalam desa dan menemukan sebuah rumah dengan bengkelnya. Di situ aku membeli satu pasang anting dari batu onix dan perak, karena terus terang aku tidak punya anting lain selain yang aku pakai, sedangkan Riama juga banyak membeli perhiasan yang ia sukai. Cukup murah. Setelah puas kami berangkat balik menuju Ubud, menuju Monkey Forest. Dalam perjalanan, kami melintasi desa-desa dan persawahan. Tiap desa di Bali menghasilkan masing-masing kerajinannya, dari mulai perak, pahatan, lukisan, cat dan lain sebagainya.
Kami tidak berlama-lama di Monkey Forest, setelah itu kami memutuskan untuk makan siang dulu baru setelah itu kami mencari bingkai titipan bapaknya Riama di suatu desa. Di situ aku malah membeli satu cermin dengan bingkai ukiran berwarna putih, untuk rumahku di Madrid dan satu bingkai oleh-oleh untuk nenek suamiku. Dari situ kami memutuskan untuk pulang ke Dewa House. Kami pikir, mungkin Made bingung melihat kita yang jam lima sore sudah kembali ke gua. Malamnya sekitar pukul delapan, Made kembali datang ke tempat kami untuk mengajak kami makan. Tadinya kami mau mencicipi ayam goreng kadewatan tapi entah kenapa, tidak jadi, di Ubud, tidak banyak tempat yang buka pada malam hari, hingga akhirnya kami tandas di warung sate kambing. Kami semua memesan gulai, nasi dan sate kambing. Habis itu kembali ke tempat persemayaman kita di Dewa House dan tidak keluar-keluar lagi…
Sedangkan Made tipe orang yang berpesta sampai pagi. Kami berdua mengakui bukan orang yang suka akan hiruk pikuk disco. Mungkin aku dalam event-event tertentu bisa menerima itu, tapi aku dan Riama lebih suka untuk kembali ke “gua”, berleha-leha di teras, membaca buku, mengobrol ngalor ngidul dan tidur. Sampai-sampai, anak-anaknya pak Dewa, teman-teman Made berpikir, “Made, tamunya kok ndak diajak keluar sana? nyicipi nasi jinggo??”…..ha ha ha…..(nasi jinggo dimulai pada malam hari sekitar jam sembilan atau sepuluh).
Esok harinya pagi-pagi Made telah menjemput kami dan kemarinnya kami telah memutuskan untuk pergi ke Bedugul. Sebelumnya kami menyempatkan diri ke toko di mana Riama memesan bingkai untuk ayahnya untuk mengambil bingkai pesanan tersebut. Perjalanan ke Bedugul memakan waktu sekitar satu jam dan pemandangan selama perjalanan sungguh indah. Pikir-pikir, beruntunglah kita bertemu dengan Made yang tahu jalan, tahu tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi tanpa harus bersusah payah melihat peta.
Ternyata di Bedugul terdapat sebuah danau dan pemandangan yang indah. Bedugul sendiri terletak di daerah pegunungan yang sejuk. Di situ kebetulan ada masyarakat yang sedang mengadakan seremoni religus. Kesempatan untuk mengambil gambar-gambar indah, unik, warna warni dengan kameraku. Setelah menikmati keindahan alam di sana, kami menyempatkan diri berhenti di pasar untuk membeli buah-buahan yang akan kami peruntukan pada keluarga Dewa. Sebelumnya kami berhenti dulu untuk makan di warung. Made menyarankan kami untuk pergi ke tanah Lot, sepanjang perjalanan kami banyak berbincang-bincang tentang berbagai tema, dari mulai adat istiadat bali, rumor-rumor artis indonesia sampai ke Dewa Bujana. Dan lagu yang paling beken saat itu dan yang paling Made sukai, yap, “Ada apa denganmu” dari Peter Pan…..Berkesan sekali kok perjalanan kita, lagu-lagu yang keluar dari radio bagus-bagus dan romantis, hingga saat aku menatap persawahan, mungkin lebih dari sekedar hijaunya padi dan terpaan angin yang masuk ke jendela mobil.
Sampai di Tanah Lot (terkenal dengan candi yang berada di tepi pantai dan sunsetnya) matahari cukup menyengat. Aku hanya mengenal Tanah Lot dari foto-foto atau gambar-gambar, ternyata setelah melihat sendiri, memang indah. Kami bertiga sempat duduk-duduk di bale-bale di jurang pantai, memandang lautan dengan mata kosong dan ikhlas diterpa angin laut. Seperti yang Riama katakan, “we are in the right place but with the wrong person”….uhhh…mana tahan….
Malamnya kami memutuskan untuk makan nasi jinggo dan menonton live rege music dimana Made biasa kongkow dengan teman-temannya. Nasi jinggo sendiri, sebenernya tidak ada yang istimewa bagiku. Terdiri dari sekepal nasi putih, dengan bubuk kelapa dan mie goreng. Lalu kamu boleh mengambil lauk pauk, yang terdiri dari tempe, sate babi, ikan, dan sebagainya. Untuk itu kami pergi sampai ke Payahan, suatu desa antah berantah. Tempatnya sendiri seperti pasar, jorok, dan ada banyak anjing –anjing liar. Ngga perlu aku ceritain ya kayaknya? aku langsung berdoa semoga besok tidak sakit perut dan memang itulah yang terjadi. Makan bertiga cuma dua belas ribu lima ratus rupiah, sudah termasuk satu kopi dan dua aqua dan satu teh.
Kami menikmati live music sampai sekitar jam dua pagi, aku sendiri lupa jam berapa kami keluar. Made meminta dipinjamkan mobil esok hari untuk menjemput teman di bandara. Aku dan Riama ok-ok saja walaupun ada rasa was-was karena itu mobil sewaan bukan mobil kami sendiri.
Esokan harinya, setelah mencoba jalan-jalan dengan diiringi perut yang bergejolak, kami memutuskan untuk berada di rumah saja sambil menunggu Made. Sebelumnya kami menyempatkan diri ke pasar Ubud untuk membeli koran bekas, tali rafiah dan selotip untuk membungkus oleh2 kami, terutama bingkai dan cermin yang kami beli. Di situlah perjalanan kami berakhir. Sebenernya kurang banget tuh…seminggu di Bali, tidak terasa dan belum semua dilihat.
Sekitar jam sebelas siang muncul Made dengan Remy yang ingin menumpang dengan kami ke Kuta, karena dia harus pergi ke bandara. Di perjalanan, mobil sempat terhenti karena kehabisan bensin! untung saja kita berada sepuluh meter dari sebuah pompa bensin.
Pertama-tama kami mengantarkan Remi ke bandara untuk mengganti tiketnya, dia ingin tinggal seminggu lagi di Bali. Lalu kami menuju penginapan kami untuk memarkir mobil kemudian kami makan di sebuah restoran dekat hotel. Di situlah perpisahan kami dengan Made dan Remy. Kami berterima kasih sekali kepada Made yang telah berbaik hati mengantarkan kami ke mana-mana. Kami menyelipkan sedikit uang jajan untuk Made yang tidak seberapa dibandingkan kebaikan hatinya yang telah menolong kami.