travel/placesNovember 16, 2007 8:55 am

Kemarin saya ditelpon suami, dia bilang dia diberi hadiah atau voucher dari salah satu maskapai penerbangan lokal, 2 tiket, jurusannya bebas, bisa pilih (jurusan di mana maskapai itu biasa terbang), namun voucher itu harus dipakai pekan ini.

Saya pun gembira mendengar berita tersebut dan mulai menelpon teman-teman agar bisa menjadi dog-sitter kalau kami jadi pergi pekan ini.

Salah satu dari teman sudah bilang ok dan saya pun mulai mencari-cari hotel murah di tujuan yang saya minati. Untungnya sebelum saya booking hotel, dengan kode voucher, saya masuk ke site maskapai tersebut dan memilih tujuan. Kemudian, saya terkejut, hadiah/voucher itu ternyata berharga, misalnya ke Barcelona 79 euros, Lisboa, 214 Euros..

Setelah dipikir-pikir, saya tidak jadi pergi.

Saya sadar bahwa itu adalah strategi marketing, untuk mengisi penuh tempat duduk pekan ini, mereka harus menjual sebisa mungkin. Saya yakin, jika saya pergi misalnya bulan januari/februari namun membeli ticket sekarang ini, pasti harganya jauh lebih murah daripada voucher tersebut.

Saya memang ingin pergi ke Lisboa/Oporto, tapi tentu tidak minggu ini dan tidak terburu-buru, juga karena saya tidak punya budget sekarang ini. Hitung saja, 79 euros, plus taxi, plus hotel, plus makan, etc. Bisa-bisa sampai 300 euros keluar dari kantong gara-gara diiming-iming voucher/hadiah boongan…

travel/placesDecember 15, 2005 12:29 pm

La ruta de Arrudos situada en el parque natural Redes, es la ruta más hermosa que hemos conocido jamás. Desafortunadamente, lo conocimos tarde, el último día de nuestra estancia en Asturias después de una semana.

Eran ya las cuatro de la tarde, cuando por fin, cesó la lluvia y decidimos aprovechar el último día para ver los pueblos alrededor y una ruta corta que estába cerca del pueblo donde alquilamos la casa, en fin de poder sacar a los perros por la tarde como suele ser.
(more…)

travel/placesDecember 14, 2005 1:48 pm

Hari pertama kami berada di Provinsi Asturias, kebetulan cuaca cukup bagus, langit cerah, walaupun cuaca tetap dingin. Untungnya hari itu kami memutuskan untuk mencoba satu rute yang kami dapatkan informasinya dari pemilik rumah yang kami sewa, karena hari-hari berikutnya cuaca buruk dikarenakan hujan dan kabut.

Rute Vega de Brañagallones dimulai dari desa Bezanes. Rute ini berjarak 11 km sampai di suatu puncak, dan untuk kembali, pejalan kaki mengambil rute yang sama ketika naik. (more…)

travel/placesNovember 24, 2005 3:39 pm

Gue pilih foto-foto yang paling gue suka dari Tenerife


Pto. de la Cruz, tempat kapal berlabuh, berenang dan mancing ikan


Melihat laut dan horizon berlama-lama memuaskan batin

Masih ada foto-foto lain, tapi malas up-load…

I love Tenerife, I’ll be back one day.

travel/placesNovember 21, 2005 3:05 pm

Hari Minggu kemarin saya pergi menonton pacuan kuda.

Karena kebetulan saya suka dengan kuda, kesempatan bagi saya melihat mereka dan mengerti bagaimana sih sebenarnya pacuan kuda itu? saya hanya pernah melihatnya di layar lebar.


(more…)

travel/placesJuly 20, 2005 10:38 am

null

Aquaducto ini sudah menjadi “simbol” dari kota Segovia, dibangun pada akhir abad 1 Masehi oleh orang-orang Romawi. Panjang aslinya 14.965 meter, tinggi maksimumnya 28.10 meter.

Asal muasal kota Segovia sendiri tidak jelas, namun diketahui sudah ada sejak sebelum era romawi. Segovia mulai dihuni lagi sejak tahun 1088 dan sejak itu kerap mengumpulkan sejarah yang gemilang.

Industri textil dan wol membuat kota ini menjadi kaya, siap dengan 2 proyek yang berbeda, secara fisik dan sosial: kota yang dikelilingi benteng, dihuni oleh kaum bangsawan, agamawan, kampung-kampung di luar benteng yang dilalui sungai Eresma dan Clamores di mana terkumpulnya aktivitas produksi.

Selama abad XII hingga XVII, kekayaan kota ini membuat dibangunnya banyak gereja, kuil, rumah-rumah kuat dan besar, istana dan monumen-monumen yang bisa kita saksikan sampai sekarang ini.

null

Foto: Catedral de Nuestra Señora de la Asunción

null

Foto: Anak panah menunjukkan kuburan orang-orang yahudi yang cukup jauh letaknya dari kampung mereka yang berada di dalam kota.

travel/placesJuly 18, 2005 2:23 pm

Ternyata kota kecil ini cukup menarik, di sekelilingnya kamu bisa menyusuri sebuah “taman” besar, mungkin lebih cocok disebut hutan kecil, yang dikelilingi oleh sungai Eresma. Sungguh indah dan sejuk. Penuh dengan berbagai macam pepohonan, seperti: Arce, sauce, castaños, acacia, alamo, chopo, majuelo, dan berbagai jenis tumbuhan lainnya.

null

Sedangkan untuk jalan-jalan di dalam kotanya, terdapat puluhan monumen, di antaranya Acuaducto yang dibangun oleh bangsa Romawi pada akhir abad ke 1 masehi (fotonya besok), yang mendistribusi air ke seluruh penduduk kota dan juga ke benteng “Alcázar”.

null

(Benteng Alcazar dilihat dari depan).
Ada sebuah katedral besar yang dibangun dengan gaya gotik dekat dengan plaza mayor.

null

Foto menara Catedral diambil dari jalan San Millan, disekitarnya dikelilingi rumah-rumah tradisional.

Jalan menuju benteng dari tempat kita menginap, bisa melalui 2 cara, dengan menyusuri taman atau mengambil jalan di atas di mana kita akan menemui pintu masuk kampung Yahudi.

Benteng Alcázar yang dulunya istana raja-raja Castilla (raja-raja katolik) dapat kita kunjungi untuk melihat ruangan-ruangannya, senjata-senjata jaman baheula yang meriamnya sepanjang empat meter, sangat menarik.
null

Dari atas benteng, kita bisa menikmati indahnya taman yang mengelilingi kota ini, dan tentu dibangun di tempat yang tinggi, untuk mengobservasi keadaan kota jikalau datang musuh-musuh dari luar. Dari tempat yang sama, sebagai prajurit, kamu bisa melihat seseorang “kurir” datang cepat-cepat dengan kudanya, sambil memberitahukan kedatangannya pada ajudan raja, “Mang mang, Si Udin tah udah sampai! sok pintu gerbangnya dibuka!”
null

Alcázar dulunya sempat menjadi sebuah sekolah militer dan disebelahnya terdapat laboratorium khusus untuk penyelidikan di bidang persenjataan, amunisi, meriam. Ahli kimia Proust termasuk yang bekerja di sini.
Alcázar sempat terbakar karena kecelakaan pada percobaan amunisi.

Banyak bagian dari Alcázar yang tak bisa dikunjungi oleh umum, di antaranya penjaranya, di mana dulu musuh-musuh raja disiksa.

Dari Madrid bisa dicapai dengan mobil dengan waktu kira-kira 1 jam, dan dengan kereta, 2 jam, tiket kereta, 5.20 euro per orang satu kali balik.

Jalan-jalan di Segovia malam hari juga menyenangkan, ada banyak café dan restaurant dengan terasnya, romantis dan makanannya pun berbeda, tergantung kocek masing-masing pengunjung, ada pula yang menyajikan “live music”. Menu mulai dari 13 sampai 25 euro perorang, termasuk pencuci mulut dan minuman.

Makanan khas dari kota ini adalah anak babi panggang, yang sanking halusnya jika sudah matang, bisa dipotong dengan sebuah piring. Kebetulan saya tidak makan babi, jadi tidak mencicipi, pasti enak ya? alternatif lainnya makanan khas di sini adalah, “judiones”, yaitu kacang-kacangan, sebesar jempol, porsinya juga besar dan enak bila dimakan pada musim dingin, berkalori tinggi dan menghangatkan tubuh.

Tak jauh dari katredal (Nuestra Señora de la Asunción), terdapat pemukiman yahudi (jaman dahulunya), dekat dengan Paseo del Salón.

Seperti layaknya kota-kota kuno, ada banyak jalan-jalan kecil atau gang, rumah-rumah yang temboknya berasal dari abad ke belakang, unik .
null

Foto di atas, salah satu tembok rumah di pusat kota.

Ketika aku berada di benteng Alcázar, sambil membayangkan dulunya transportasi hanyalah kuda atau keledai.
null

Juga baju-baju perang yang terbuat dari besi, sungguh tidak nyaman dan bayangkan jika sedang musim panas harus berperang dengan menggunakan baju besi itu….bisa mati kepanasan…
null

Ada juga musium yang bertemakan sihir, sungguh menarik! Bukan berarti bertemakan “magic”, disitu ditampilkan berbagai jenis tumbuhan yang bersifat racun. Leyanda-leyenda tentang mahluk-mahluk aneh seperti “vampire”, kurcaci-kurcaci dan berbagai alat sadis untuk menyiksa orang-orang yang dianggap menjalankan sihir. Musium ini koleksi dari seorang lelaki itali yang mengumpulkan benda-benda sejarah koleksinya dari berbagai penjuru Eropa.

Kebetulan ketika kita ke sana hari Rabu, tiket masuknya lebih murah- setengah harga. Juga beruntung kemarinnya ketika kita megunjungi Alcázar, tidak bayar tiket kalau kita punya KTP Eropa. Alhamdullilah, ngirit dikit.

Hotel tempat kami tinggal juga bagus dan Alhamdullilah gratis juga, karena hadiah dari kantor.
null

Untuk foto-foto lengkapnya, Insya Allah mulai besok sudah ada di link Photo.

travel/placesMay 24, 2005 3:48 pm

Ocejón, Guadalajara, 2 de Mayo 2005.
Ketinggian: 2048m

Sengaja aku re-touch dengan fotodraw.






travel/placesMay 10, 2005 12:40 pm

Ini cerita waktu aku berada di SMP jaman baheula. Liburan di mulai, dan seperti layaknya orang-orang miskin, liburan tidak ke mana-mana, di rumah saja, karena kedua orangtua ku pun bekerja. Namun, aku itu orangnya ga bisa diem dan nekat, akhirnya setelah memaksa ibuku untuk memberi izin pergi ke Yogya sendirian, oom dan ibuku pun mengantar diriku ke stasiun Gambir.

Dadakan, sore itu kami berangkat ke stasiun dari rumah nenekku di Grogol. Ternyata sampai di stasiun yang penuh, tidak tersisa kelas bertempat duduk, adanya kelas berdiri- katanya. Aku yang waktu itu berumur sekitar 13 tahun, masih hijau, memaksakan diri untuk pergi walaupun harus berdiri!!!!
Nekat….
(more…)

travel/placesMarch 16, 2005 12:05 pm

Sebelum naik gunung Ciremai, aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita bahwa gunung itu adalah salah satu gunung yang angker di seluruh Jawa.

Pada waktu itu bulan oktober, tahunnya aku lupa, mungkin tahun 92. Aku, Ika, Alam, Bejo, almarhum Kokong, Capit dan Ferdy sudah merencanakan naik gunung Ciremai. Aku juga sudah minta izin kepada ibuku dan sudah diperbolehkan.

Namun beberapa hari sebelum pendakian, ada kira-kira sepuluh pendaki yang tewas di gunung Slamet karena cuaca yang buruk. Maka akupun akhirnya dilarang oleh ibuku, “Jangan naik gunung dulu deh nak, cuaca lagi buruk, hujan terus, masa’ kamu mau naik gunung?”.

Karena belum pernah dilarang, maka akupun menurut saja. Akhirnya Ika pun tidak diizinkan oleh orangtuanya, padahal bayangkan saja, kami sudah repot-repot belanja perbekalan untuk pendakian, yang akhirnya kami berikan kepada teman-teman kami yang jadi mendaki. Mau nangis ga sih? makanan yang dibeli enak-enak lagi….

Pada hari H-nya, Ika dan aku memutuskan untuk mengantar teman-teman pria yang akan mendaki, kebetulan mereka seusai sekolah (atau kita bolos waktu itu? lupa…), mereka bersiap-siap di rumah Wendy, tidak jauh dari 70.

Ada Alam, Bejo, Capit, almarhum Kokong Jaya dan Ferdy. Namun…ketika kami berdua melihat mereka asyik mengepak, Ika dan aku saling melihat dan kami pun mengangguk seakan-akan bisa membaca pikiran masing-masing.

Betul….! kami berniat kabur ke Ciremai.

tempat yang salah untuk kabur
tempat yang salah untuk pergi setelah berdusta kepada orang tua….

Buru-burulah kami pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil baju seadanya dan ransel, kemudian kembali lagi ke rumah Wendy di bilangan blok M. Aku tinggalkan catatan untuk ibuku di white board yang biasa kugunakan untuk belajar mengaji. Aku bilang, “mih, aku akhirnya jadi berangkat ke Ciremai sama Ika. Pulang hari minggu, ngga usah khawatir”…

Setelah anggota pendakian lengkap, berangkatlah kami menuju terminal Pulo Gadung (kalo ga salah, lupa) diantar oleh ibunya Alam dengan mobilnya. Di bis, ketika hampir sampai di Cirebon, aku dan Ika memandang gunung itu melalui jendela. Saat itu langit memang sedikit mendung, namun gunung itu tidak bergeming, seperti menantang kedatangan kami. Terus terang hati kami agak bergetar, apalagi pakai berbohong dan kabur dari rumah segala….

Di terminal Cirebon, kami bertemu dengan seorang pendaki yang membawa grupnya, katanya dia sudah biasa mendaki gunung Ciremai, maka bergabunglah kami dengan grup mereka. Kami naik truk bak terbuka menuju Kuningan.

Ketika sampai di Kuningan, kami melapor kepada petugas penjaga hutan dan kelurahan, semua itu terima kasih atas kebaikan pendaki yang kami kenal tadi, sebut saja Asep namanya.

Akhirnya selesai Magrib kami mulai mendaki, tentunya Aseplah yang memimpin kami semua.

Gunung Ciremai ternyata tanjakannya seperti gunung Salak namun dalam skala yang besar. Tanjakannya terjal-terjal dan sulit, kalau tidak salah ada pos yang bernama “Kuburan Kuda”.

Kami sampai di puncak paginya, aku sendiri tidak ingat apakah kami bersistirahat malam harinya (maklum perjalanan ini sudah lewat lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika si penulis masih mudah euy…ha ha). Seingatku kami sempat beristirahat sebentar saja di “kuburan kuda”.

Sampai di puncak, aku sempat tertidur kecapean, karena itulah mukaku (sekitar hidung dan pipi) terbakar. Aku tertidur di samping ambang kawah yang indah. Seperti pendaki-pendaki lainnya, kami menyempatkan diri berfoto-foto.

Sekitar pukul satu siang kami melihat ke langit yang tampak mendung dan akan hujan, maka kamipun memutuskan untuk kembali ke bawah dengan tergesa-gesa, alias berlari-lari.

Di tengah perjalanan, hujan deras pun turun, seperti yang ditakutkan oleh ibuku. Namun kami tidak berhenti berjalan dan berlari menuruni gunung. Grup-grup pendaki lainnya pun menyusul grup kami yang akhirnya tertinggal. Sampai akhirnya kami disongsong oleh kegelapan malam di tengah hutan Ciremai.

Kami sudah lelah dan capai berjalan, namun sepertinya tidak pernah sampai di tujuan. Pepohonan tampak sama saja seperti pepohonan di atas, sepertinya kami terkurung di gunung itu.

Di suatu tempat kami pun berisitirahat, aku sendiri tertidur. Sementara Ika dan lainnya melihat “pendaki-pendaki” yang turun dari atas, padahal rombongan kamilah yang terakhir.

Dalam suatu kesempatan, aku sempat terpisah dari rombongan, aku ingat Capit berada di depanku, di belakangku Ika dan Alam. Ketika itu hujan sudah berhenti dan malam diterangi oleh bulan purnama. Ketika itu aku melewati jalan yang digenangi air hujan, di air itu aku lihat bayangan “tangan” yang melambai-lambai dengan jari-jari yang panjang. Karena sudah capai, aku pikir bayangan yang aku lihat itu adalah dahan pepohonan, namun anehnya gerakannya bukan gerakan dahan yang diterpa angin (dan pada saat itu pun tidak ada angin), melainkan gerakan jari-jari tangan yang bergerak perlahan-lahan- yang membedakan itu dari gerakan terpaan angin.

Aku tertegun melihat bayangan yang masih bergerak-gerak itu dengan senter di tanganku, walaupun sinar bulan pun sudah cukup menerangi jalan. Akhirnya aku mengacuhkan bayangan itu sambil terus berjalan, pikiran waktu itu “telmi” (telat mikir) karena sudah capai.

Setelah sejam-dua jam kemudian, barulah tampaknya kami berhasil melewati hutan yang lebat.

Aku sempat menangis, mata kakiku sakit dan lelah. Aku memelas kepada Bejo untuk ditinggal saja di hutan karena tidak kuat lagi berjalan….patetik ya???

Suatu kejadian aneh terjadi, aku terjatuh, namun ketika hendak bangun, aku tersadar bahwa aku duduk di sebuah batu yang besar, berdiameter 1 meter…bagaimana aku bisa berada di atas batu itu, akupun tidak mengerti.

Namun karena pikiran dan badan sudah lelah…..hal-hal itu tidak merisaukan pikiranku.

Menjelang subuh rombongan kami sampai di desa, kotor, lelah dan agak shock dengan kejadian yang di alami tiap-tiap anggota. Seperti Ika dan almarhum Kokong yang sempat melihat satu rumah di tengah persawahan. Dan Capit pun ternyata melihat bayangan yang sama seperti yang aku lihat.

Ketika aku sampai di rumah membayangkan kembali bayangan yang aku lihat, bulu tanganku bergidik….

Seperti yang aku perkirakan, sesampainya di rumah aku disambut oleh keheningan suara ibuku yang tampak kesal dengan “escapada” ku. Malamnya aku pun minta maaf kepada beliau dan tentu saja beliau memaafkan diriku yang bodoh ini….

Next Page »
online