en español, puisi & fiksiMay 20, 2005 2:31 pm

palabras…

palabras vacías
incumplidas
injustas

que me hunden
me hieren
me empujan
hasta el pozo más profundo

palabras
que cortan, atacan
que mienten, dañan
y matan

el corazón de uno
y la vida de otro

palabras
que me encierran
en un simple contrato absurdo e injusto
causan dolor, rencor,
maldición y venganza

palabras tuyas, las de él, de ella, de ellos, de ellas, de vosotros

dedicado a una persona con poder cuyo ejercicio causa injusticias

puisi & fiksiMay 19, 2005 1:37 pm

Kini kau lupa namaku
pura-pura pikun
kau tanya lagi nama lengkapku

ga masalah mas
aku ga sewot kok
kalau lupa kenapa kau panggil aku dengan “dek”
apa ada kakak yang lupa nama adeknya?

ini cuma permainanmu lagi kan?

sudah kukatakan
bahwa cinta yang kuberi untukmu dulu
bila kau tak ambil
kaulah yang kehilangan cinta itu
karena cinta itu tetap milikku*

perasaan nan alami
dari sebuah tubuh yang berumur dua belas tahun
yang tak pernah disesali oleh pemiliknya

kaulah yang menyesal
yang diam sekeras batu
yang cool sedingin es mambo

senyummu, matamu, lenggang jalanmu, suaramu,
telah menjadi spectrum
yang bila kubutuhkan
muncul dengan sendirinya
musa puisi cintaku

tak ada yang harus kugali dari pribadimu
pintu itu sudah tertutup
kau dewa yang sudah menjadi manusia
atau karena itu, kau lupa namaku?

;)

*Monsieur Ibrahim et les fleurs du coran

puisi & fiksiMay 16, 2005 3:29 pm

Jam sebelas siang perutku mulai terasa lapar, karena tadi pagi tak sempat sarapan. Namun sayangnya ada banyak kerjaan yang harus kukejar, Pak Nas tak berhenti bertanya semenjak aku masuk pintu kantor, artikel yang harus kuselesaikan mengenai pariwisata di Indonesia Timur.

Walaupun jam 9 tadi, aku sempatkan ngopi di warung si Udin, kopi dengan susu kental, agar mata terbelalak barang setengah jam. Lalu buru-buru aku naik ke kantor tanpa sempat nyemil apapun. Perutku terasa aneh, mungkin karena tadi malam makan 2 piring nasi goreng yang lewat di depan rumah.

Kepalaku terantuk-antuk, tepat ketika dering telpon di sampingku berbunyi.
“Nes, bisa makan siang sama aku ga? aku lagi ada di daerah kantormu nih, abis meeting sama client”, sahut si Devy di ujung sana.
“Ayo, jam duabelas deh, di warung Bu Setyo, aku sudah lapar nih!”
“Ok, boleh. Yang deket pangkalan ojek kan?”
“He euh. Kalo jam dua belas aku blom nyampe, tunggu aja ya? pasti aku dateng deh!”
“Iya. Jangan lama-lama ya? Soalnya dari situ aku mau jemput mas Budi”.
“Iya, sip”.
(more…)

puisi & fiksiMay 6, 2005 2:28 pm

Kau marah
tersinggung
padahal puisi itu bukan untukmu

Kau mencoba untuk angkuh
namun hanya terlihat
kerendahan daya pikirmu

sensitif?
itu urusanmu sendiri

tersinggung?
yang jelas itu bukan tujuanku

berburuk sangka?
karena ketakutan dan ketidakpercayaan dirimu

aku?
hanyalah bayangan di sebelah blogmu

puisi & fiksiApril 27, 2005 4:29 pm

Lagi lagi dirimu

kau pikir menjadi misterius
membuat para gadis penasaran?
kau senang menjadi seorang yang tak diketahui pemikiranmu, maumu, kisah cintamu

jangan ketuk pintuku
kalau hanya ingin mengobrol lima menit
ngalor ngidul tanpa kejelasan
aku bukan bualan

aku tidak tertarik.
kemisteriusanmu
hanyalah angka nol

puisi & fiksiApril 26, 2005 1:45 pm

hidup bukan cuma makan minum
bukan cuma nafsu
bukan pakaian apa yang dipakai
bukan apa saja yang kita miliki
bukan pula pahala yang dengan lelah bisa dikumpulkan

hidup bisa berarti
menjadi seorang teman yang terbaik
pemimpin yang arif
pelindung mahluk yang lemah

jika hidup hampa
hanya ada tubuh atau mesin

jika hidup tanpa arti
hanya ada jiwa yang sakit

puisi & fiksi 11:49 am

Kau pikir aku masih mencintaimu
kau pikir aku sedih ketika berita itu datang
kau pikir aku menderita karena tak dapat memilikimu

oh sayangku
andai kau lihat wajahku saat kita berbicara
ada senyum dan tawa
karena kenarcisan dirimu…
melampaui segalanya
bahkan dirimu sendiri

namun
kunikmati momen ini
ketika kau berpikir semua itu
dan upayamu agar aku bahagia

sesungguhnya narcismu dahagaku
tayangan humor hari-hariku

puisi & fiksiApril 12, 2005 1:01 pm

Ketika itu sinar matahari belum tiba di dedaunanku, aku masih tertidur nyenyak. Namun tampaknya burung-burung di sekitarku sudah berkicau dengan riang dan penuh semangat, seakan-akan mengatakan “hiduplah hari ini seakan-akan besok adalah hari terakhir!”

Omeng, si kera yang biasa tinggal di lengankupun sudah membuka satu kelopak matanya, lalu kemudian tertidur kembali. Cirit, burung kecil berdada oranye mencapit hidung Omeng. “Pak!” Omeng berusaha mengusirnya dengan lengannya yang panjang.

Perlahan-lahan sinar sang surya pun tiba di dedaunanku yang paling ujung.
“Hm…tiba saatnya untuk bangun, bekerja, demi diriku, demi binatang-binatang yang tinggal di sekitar rumahku”.
Aku mencoba membuka mata, menguap sambil kurasakan hangatnya sejentik sinar mentari.

Mulailah kusuruh chlorophyl - chlorophyl di tubuhku untuk merubah sinar matahari menjadi makanan bagiku.
Namun belum sepenuhnya matahari datang menyelimuti rumahku, tiba-tiba datang tiga orang manusia pendek menghampiri pondasi rumahku.

Mereka tampak membawa sesuatu yang tampak jelek dan mengerikan. Omeng bangun secepatnya, kemudian melarikan diri menjauhi diriku. Omeng takut dan tidak suka kepada manusia-manusia itu. Omeng benci bau mereka.

Dapat kurasakan pergerakan para penghuni rumahku menjauh, berlari atau terbang secepatnya, sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi pada diriku.

Tiga manusia kerdil itu mulai menyakiti kakiku dengan mencoba memotong sel-sel kulitku dengan gergaji listrik yang suaranya mengerikan dan membangunkan seluruh mahluk hidup di daerah tempat tinggalku.

“Oh…inikah hari pemenggalanku? inikah giliranku?”.

Betapa jahatnya manusia, betapa jahatnya “binatang” itu? berani-beraninya mereka menghabisi habitatku? membunuh especies kami tanpa mencoba untuk menanamkan kembali. Aku dan moyangku sudah berjuta-juta tahun berada di sini. Aku dan moyangku tempat hidup segala mahluk yang berkemanusiaan. Aku dan saudara-saudarakulah yang memberikan oksigen untuk bernafas di bumi, kamilah yang melindungi tanah di bawah kami dari arus air hujan yang mendera negri tropis ini.
Kamilah yang memberikan obat ketika kamu sakit. Kamilah yang memayungi kalian ketika sedang terik.

Hei manusia. Tunggulah akibat dari perbuatanmu. Mungkin tidak sekarang. Mungkin keturunanmulah yang akan membayar semua ini.

Dua jam kemudian, waktukupun sudah habis, tepat ketika tali yang mengikat tubuhku ditarik. Akar-akarku tercabut. Selamat tinggal bumi. Maafkan aku tanah, aku tidak lagi bisa melindungi dirimu dari arus air. Maafkan aku Omeng, kau harus mencari rumah yang lain. Maafkan aku semuannya, tak lagi bisa memproduksi oksigen untuk dihirup. Selamat tinggal matahariku, terima kasih atas energi yang kau berikan selama hidupku.

Kututup mataku dan berterima kasih kepada sang Pencipta bahwa kematianku berguna untuk mahluk yang lain. Mungkin dari badanku akan tercipta bangku-bangku sekolah, bangku taman, meja, bufet, dan sebagainya.

Specimenku tak kan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang berkembang cepat.

Ketika mereka turun ke bumi mereka berjanji untuk menjaga bumi dan mahluk yang berada di dalamnya. Namun sebagian besar dari mereka tidak berpikir jauh. Otak yang kerdil yang belum lagi ditindas oleh hawa nafsu.

Tak lama datanglah banjir, tak lama para nyamukpun mendominasi kubangan-kubangan, tak lama demam pun membunuh mereka satu persatu, tak lama tanah pun tidak sesubur yang dulu, tak lama anak-anak mereka kekurangan gizi, tak lama tiada yang tersisa, tak lama semua yang hidup menjadi mati…

puisi & fiksiMarch 10, 2005 11:27 am

Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki.

Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu.

Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.

Hanya bisa mengubur diri dalam tumpukan pekerjaan, menghindar lagu-lagu cinta yang berdengung di radio mobil, mencari-cari seseorang yang lain, yang bisa membantu mengubur cinta yang tidak bisa dimiliki.
Menghapus namanya dari messenger, nomernya di hp, mencantumkan alamat emailnya sebagai “spam” atau “junk email”, merobek-robek fotonya dan setelah itu membakarnya, kemudian menjebloskan abunya ke dalam WC.

Namun ketika malam menyambut, ketika tidak ada sisa lagi pekerjaan kantor untuk diurus, ketika tubuh sudah bersih keluar dari kamar mandi, ketika perut sudah kenyang akan makanan yang dibuat mama, ketika ingin memejamkan mata dan ingin langsung terlelap…

Di langit-langit kamar terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan bantal….hanya terdengar lagu ketika ia bersama dirinya, suaranya di telpon, senyumannya ketika menyongsongnya dari kejauhan, langkah-langkahnya…

“Sialan” ujarnya dalam hati.

Kemudian ia bangun dan menyalakan rokoknya sambil membuka jendela kamar. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”

Ketika itu angin masuk dari luar melalui jendela kamarnya dan membawa harum tubuh orang yang dicintainya.
Ia pun bangkit menutup jendela itu, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau kamar ini dipenuhi bau rokok yang dihisapnya.

Apalagi benda-benda miliknya yang belum aku bakar? sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

Ketika ia sampai pada batang rokok yang ke sepuluh, ia pun memutuskan untuk membuka sedikit jendela kamarnya dan tidur. Namun matanya tidak terpejam, memikirkan “ia” yang tidak berada dalam pelukannya.
Air mata menitik dan jatuh ke pipinya, kemudian ke seprei tempat tidurnya.

Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintanya kepada seseorang.

“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.

puisi & fiksiMarch 8, 2005 2:04 pm

kamu tradisional
aku liberal

kamu religus
aku pendosa

kamu di sana
aku di sini

kamu yang tak mengerti diriku
aku yang tak mengerti dirimu

kita berbicara dengan logat yang sama
namun dengan bahasa yang berbeda

kau menyadarkan aku
bahwa mimpi terkadang hanya manipulasi
make-up dari khayalan kita

hanya ku simpan kenangan yang indah
dan lenggang jalanmu yang aduhai…
kamu tetap sayangku dalam mimpi

LINK TEXTNext Page »
online