Ketika itu sinar matahari belum tiba di dedaunanku, aku masih tertidur nyenyak. Namun tampaknya burung-burung di sekitarku sudah berkicau dengan riang dan penuh semangat, seakan-akan mengatakan “hiduplah hari ini seakan-akan besok adalah hari terakhir!”
Omeng, si kera yang biasa tinggal di lengankupun sudah membuka satu kelopak matanya, lalu kemudian tertidur kembali. Cirit, burung kecil berdada oranye mencapit hidung Omeng. “Pak!” Omeng berusaha mengusirnya dengan lengannya yang panjang.
Perlahan-lahan sinar sang surya pun tiba di dedaunanku yang paling ujung.
“Hm…tiba saatnya untuk bangun, bekerja, demi diriku, demi binatang-binatang yang tinggal di sekitar rumahku”.
Aku mencoba membuka mata, menguap sambil kurasakan hangatnya sejentik sinar mentari.
Mulailah kusuruh chlorophyl - chlorophyl di tubuhku untuk merubah sinar matahari menjadi makanan bagiku.
Namun belum sepenuhnya matahari datang menyelimuti rumahku, tiba-tiba datang tiga orang manusia pendek menghampiri pondasi rumahku.
Mereka tampak membawa sesuatu yang tampak jelek dan mengerikan. Omeng bangun secepatnya, kemudian melarikan diri menjauhi diriku. Omeng takut dan tidak suka kepada manusia-manusia itu. Omeng benci bau mereka.
Dapat kurasakan pergerakan para penghuni rumahku menjauh, berlari atau terbang secepatnya, sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi pada diriku.
Tiga manusia kerdil itu mulai menyakiti kakiku dengan mencoba memotong sel-sel kulitku dengan gergaji listrik yang suaranya mengerikan dan membangunkan seluruh mahluk hidup di daerah tempat tinggalku.
“Oh…inikah hari pemenggalanku? inikah giliranku?”.
Betapa jahatnya manusia, betapa jahatnya “binatang” itu? berani-beraninya mereka menghabisi habitatku? membunuh especies kami tanpa mencoba untuk menanamkan kembali. Aku dan moyangku sudah berjuta-juta tahun berada di sini. Aku dan moyangku tempat hidup segala mahluk yang berkemanusiaan. Aku dan saudara-saudarakulah yang memberikan oksigen untuk bernafas di bumi, kamilah yang melindungi tanah di bawah kami dari arus air hujan yang mendera negri tropis ini.
Kamilah yang memberikan obat ketika kamu sakit. Kamilah yang memayungi kalian ketika sedang terik.
Hei manusia. Tunggulah akibat dari perbuatanmu. Mungkin tidak sekarang. Mungkin keturunanmulah yang akan membayar semua ini.
Dua jam kemudian, waktukupun sudah habis, tepat ketika tali yang mengikat tubuhku ditarik. Akar-akarku tercabut. Selamat tinggal bumi. Maafkan aku tanah, aku tidak lagi bisa melindungi dirimu dari arus air. Maafkan aku Omeng, kau harus mencari rumah yang lain. Maafkan aku semuannya, tak lagi bisa memproduksi oksigen untuk dihirup. Selamat tinggal matahariku, terima kasih atas energi yang kau berikan selama hidupku.
Kututup mataku dan berterima kasih kepada sang Pencipta bahwa kematianku berguna untuk mahluk yang lain. Mungkin dari badanku akan tercipta bangku-bangku sekolah, bangku taman, meja, bufet, dan sebagainya.
Specimenku tak kan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang berkembang cepat.
Ketika mereka turun ke bumi mereka berjanji untuk menjaga bumi dan mahluk yang berada di dalamnya. Namun sebagian besar dari mereka tidak berpikir jauh. Otak yang kerdil yang belum lagi ditindas oleh hawa nafsu.
Tak lama datanglah banjir, tak lama para nyamukpun mendominasi kubangan-kubangan, tak lama demam pun membunuh mereka satu persatu, tak lama tanah pun tidak sesubur yang dulu, tak lama anak-anak mereka kekurangan gizi, tak lama tiada yang tersisa, tak lama semua yang hidup menjadi mati…