Distrik tanpa nomer dan tanpa kode pos hanyalah sebuah distrik yang berada di pinggir barat kota Bragan. Tanpa nomer dikarenakan Kecamatan yang meliputi kota itu tidak mau bertanggung jawab atas kegiatan yang berlangsung di distrik tersebut.
Distrik itu muncul begitu saja, isinya hanya orang-orang yang tersingkir dari warga-warga terhormat pembayar pajak.
Distrik di mana para perampok dan kriminal bersembunyi dan merasakan ketenangan meminum seteguk bir tanpa harus menjaga punggungnya dari intaian autoritas.
Walaupun distrik ini tidak bernomer, listrik, air minum dan saluran telpon sampai walaupun dengan cara ilegal.
Korespondensi tradisional hanya sampai di kantor pos pintu masuk distrik, warga bisa mengambil surat-suratnya di sana dan mengirim korespondensinya, tidak ada tukang pos yang berani masuk ke distrik tersebut.
Bila pagi menjelang, justru distrik ini diliputi keheningan dan ketenangan. Hanya terkadang lewat truk-truk yang mendistribusi pangan berhenti di depan satu-satunya supermarket di daerah itu.
Beberapa anak kecil berbaju compang-camping bermain bola di pinggir jalan bergabung dengan penjual narkotik yang selalu muncul kesiangan.
Bangunan-bangunan di daerah itu agak sedikit kumuh dan kuno, walaupun beberapa gedung dicat berwarna warni dan beberapa bar tampak tampil moderen pada dekorasinya, karena mungkin bisnis ini hanya salah satu dari beberapa bisnis yang paling menguntungkan.
Untuk beberapa warga luar dan warga setempat, distrik ini sering disebut “distrik gelap”, walaupun pada malam hari penenerangan publik tidak kurang di jalan-jalan dan gedungnya.
Satu-satunya taman di kota itu hanyalah sebuah taman kecil di mana para gembel dan anjing-anjing liar meninggalkan kotorannya. Bau kencing dan tai mendominasi taman yang tak pernah berbunga dan tak pernah disiram air kecuali air seni.
Bisnis yang buka di pagi hari hanyalah sebuah supermarket, kantor pos, toko gadai dan sebuah bar yang tidak pernah tutup.
Kira-kira pukul lima sore hari, barulah distrik ini dipenuhi orang-orang, baik warga setempat maupun pendatang (yang dimaksud pendatang adalah warga dari luar distrik).
Biasanya kegiatan akan dimulai dari bar dengan meminum seteguk bir maupun gintonic. Para wanita penjaja seks biasa berkumpul di bar ini sebelum memulai kegiatannya di burdel yang berada di ujung jalan.
Madame yang mengatur mereka akan membuka bisnisnya sekitar pukul enam sore dan di belakangnya akan masuk Sebas, pemusik yang tiap malam bermain piano di burdel-bar itu.
Di sebelah burdel terdapat sebuah bar yang menyajikan pertunjukan humor, sulap dan badut, pemiliknya menamakan tempat itu dengan “humoris causa”. Terkadang mereka juga menyajikan pertunjukan adu kuat, tinju dan segala macam pertandingan kotor lainnya, karena sanking banyaknya orang yang berpartisipasi. Yang bergulat biasanya penjahat-penjahat yang sedang menganggur- tanpa proyek, dan yang bertaruh adalah para politisi, autoritas, mafia dan orang-orang yang tidak takut- yang kadang mampir di distrik gelap untuk bersenang-senang.
Terkadang orang baru bisa rancu oleh penampilan badut dan WTS karena mereka sama-sama menyamar dengan kostum dan topeng yang aneh-aneh. Hanya saja bau badut-badut itu tidak menyenangkan sedangkan bau para wanita itu menyenangkan sekaligus menyengat oleh parfum-parfum murahan.
Musik di burdel dan di humoris causa diisi oleh musik opera dan klasik, musik lainnya tidak diterima.
Para pengunjung, orang-orang penting biasanya menyamar ketika masuk distrik ini, mereka suka memakai pakaian bangsawan kuno, dengan rambut palsu seperti senator-senator di parlemen Inggris, topeng ataupun kumis dan janggut palsu. Mereka cukup mudah untuk diidentifikasi karena baju yang mereka pakai bersih, mahal dan mereka tidak takut untuk memakai jam tangan berlian.
Di distrik ini ada perjanjian damai antara para kriminal dan pengunjung. Di distrik ini harus ada kedamaian, keamanan luar biasa dan ketenangan. Ada uang, ada barang. Jadi jangan lupa membayar ketika selesai dengan suatu servis tertentu. Jika anda lupa membayar, mungkin anda tidak akan bisa keluar untuk pulang dari distrik ini.
Di musim panas, para penghibur distrik ini akan turun ke jalan untuk menari dan berakrobat. Orang-orang dari manapun akan berpartisipasi, karena pada karnaval ini mereka menyamar. Di balik kedok putih orang yang sedang berjumpalitan itu bisa jadi kau menjumpai. X -seorang perampok bank yang sedang cuti. Penari ular yang berada di atas jerigen anggur, bisa jadi seorang transeksual. Dan badut yang memakai jas berwarna warni itu bisa jadi Horatio- seorang bos mafia yang sedang membebaskan diri dari urusan dagangan ilegal dan kepolisian ataupun seorang pendeta yang ingin merasakan dosa dengan cara bergerumul di antara warga distrik gelap ini.
Keuntungan yang didapat di distrik ini bisa melebihi keuntungan kotor kota Bragan. Tentu karena di distrik gelap ini tidak berlaku pajak dan inspeksi-inspeksi lainnya.
Kegiatan tukar menukar tanpa uang pun bisa terjadi di distrik ini, menunjukkan bahwa warga di sini bukan semata-mata materialistis. Eva - profesi WTS, bisa membeli perhiasan dengan cara memberikan servis gratis kepada pedagang perhiasan yang mampir ke kota itu. Semua bisa dibeli dengan tukar menukar barang/jasa, menunjukkan warga biasa bernegosiasi dan bermusyawarah.
Tidak ada kata penjahat dan kriminal maupun pendosa di distrik ini.
Bagi orang-orang yang munafik, ketika mereka datang di distrik ini, mereka akan lega karena tidak harus berpura-pura menjadi apa yang mereka selama ini lakoni pada kehidupan sehari-hari.
Datanglah ke distrik ini, namun sebelumnya jangan lupa mampir di toko Samara, sebuah toko yang menjual beribu jenis kostum dan berbagai ukuran. Setelah kamu menyamar, rasakan kebebasan, kegembiraan dan keamanan di distrik ini. Kalau ada uang, bagus, kalau tidak punya, tidak apa-apa, kamu bisa tukar dengan servis lainnya, atau dengan…jiwamu….
Ha ha ha ha ha ha….