perempuanApril 27, 2005 10:43 am

Tanggapan dari Ri di London pada tulisan Mix Couple:

Hm, besok hari Kartini. Mungkin karna ide emansipasi kebablasan itu yang bikin wanita muda Indonesia (nggak semua dong) makin aktif (kata lain: agresif) menwarkan dirinya seperti yang anda tulis itu?

Emansipasi sudah mendarah daging hingga terlupa kalau mungkin memang harus dirayakan.

Apa sih arti emansipasi? emansipasi itu ada karena adanya ketidakadilan yang diberlakukan kepada kaum wanita, adanya ketidaksamaan hak yang dimilik perempuan dengan laki-laki dengan alasan gender. Maka emansipasi adalah suatu pemikiran yang bertujuan menyamakan hak-hak perempuan dengan hak laki-laki, membela dan melindungi hak-hak tersebut.

Dulu, fungsi kaum wanita hanya melayani suami, hamil, mengurusi anak, masak dan urusan rumah tangga lainnya. Tidak boleh belajar di sekolah. Bahkan ada yang tidak boleh memilih calon suaminya sendiri.

Ketika wanita sudah boleh belajar, bekerja di luar rumah, ternyata ketidakadilan masih saja meliputi kaum ini.

Pertama masalah tipe pekerjaan itu, terbatas pada pekerjaan sekretaris, asisten, pelayan restaurant, pembantu rumah tangga, dst. Sekarang, kaum wanita bekerja di berbagai macam sektor yang sebelumnya didominasi kaum lelaki, di area teknik, investigasi, militer, ekonomi, hukum, dst.

Yang masih terjadi ketidakadilan mungkin di masalah gaji. Ada negara-negara di mana gaji pekerja perempuan selalu lebih rendah daripada kaum lelaki walaupun tugas dan tipe pekerjaan yang mereka lakukan tidak berbeda.

Kembali pada tanggapan posting rekan Ri di London bahwa kaum muda wanita indonesia lebih agresif menawarkan diri sejalan dengan emansipasi…

hmm….

Salah satu hal yang diinginkan para pejuang emansipasi adalah berubahnya pandangan dunia terhadap wanita, bahwa wanita bukan objek seksual, bukan objek kaum lelaki. Bahwa wanita sebagai manusia mempunyai hak, ambisi dan cita-cita dan hak-hak itu seringkali tertindas karena alasan gender/jenis kelamin.

Maka jika wanita menawarkan dirinya kepada kaum lelaki (dalam hal yang kita bicarakan sebelumnya terutama kepada para pria asing) dikaitkan dengan kemajuan hak dan peran wanita….mungkin tidak sejalan dengan ide emansipasi.

Wanita boleh menyatakan cintanya lebih dulu di hadapan seorang lelaki.
Wanita boleh mempunyai inisiatif.
Wanita boleh mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada kaum lelaki.
Wanita mempunyai potensi yang sama dengan kaum lelaki sebagai seorang manusia yang memiliki kemampuan berpikir, memimpin, memutuskan, beraktivitas, dst.

Jika wanita menawarkan dirinya kepada kaum lelaki, untuk apa?

kebanyakan dari mereka menawarkan diri bukan karena cinta, namun karena melihat si lelaki yang berduit dan bermasa depan gemilang. Inilah yang sebenernya tidak sejalan dengan ide emansipasi.

Idenya adalah wanita tanpa lelaki bisa mandiri, bisa bekerja dan memenuhi kehidupannya.

Jika ada wanita yang mempunyai ide mendapatkan lelaki yang bisa menanggung hidupnya, berarti wanita itu sendiri yang tidak ingin beremansipasi dan membenarkan ide anti-emansipasi. Mengenaskan.

perempuan, pasanganApril 26, 2005 2:19 pm

Sedih memang jika seorang perempuan memutuskan untuk mempunyai bayi sebelum umur menebas lehernya. Seperti diriku. Tidak munafik untuk menyadari hal ini.

Betul. Mulai tahun ini aku memutuskan mencoba untuk hamil.

Namun ternyata, keinginan akan datangnya seorang anak telah merubah diriku sejak detik pertama aku putuskan untuk mempunyai seorang anak. Ilusi menggendong mahluk kecil yang akan berasal dari diri dan pasanganmu. Emosi, dan berubahnya perbincangan antara suami dan istri ketika berbicara tentang proyek yang comun, umum dan melibatkan kedua belah pihak.

Seakan perempuan dan laki-laki saat itu berbicara dalam bahasa yang sama dan saling mengerti.

Keinginan akan datangnya seorang manusia kecil bisa mengisi hari-hari kami dengan perbincangan yang menyenangkan, timbulnya rencana dan ide-ide gemilang, warna-warna yang tidak pernah sebelumnya dibicarakan, ilusi untuk terus hidup dan berjuang.

Suatu enerji yang mengisi tubuh ini untuk terus melalui kehidupan dengan suatu arti yang alternatif.
Namun bisa mengimbangi motivasi untuk berjuang menghadapi kehidupan, menyalurkan ide dan pengetahuan kita kepada mahluk yang akan kita jaga, kembangkan, didik dan tentu yang paling kita sayangi.

Mungkin sudah saatnya, mungkin keputusan ini berasal dari mekanisme dalam tubuh kita. Mungkin juga kesiapan dan kedewasaan diri kita, juga dia dan aku sebagai satu tim, pasangan yang boleh dibilang stabil.

Hanya aku harapkan karuniaNya dan pertolonganNya.

Selebihnya, biar alam yang berbicara.

Untuk anakku dimanapun kau berada, kami siap akan kedatanganmu.
:)

perempuan, masalah sosialApril 15, 2005 1:21 pm

Ibuku dan ibu ibu wanita karir lainnya berhasil membesarkan anak-anaknya terima kasih atas bantuan dari para Pembantu Rumah Tangga.

Siapakah sebenarnya atau bagaimana profil para Pembantu Rumah Tangga? (mari kita singkat menjadi: PRT). Sebagian besar dari mereka adalah: Wanita, dari berbagai usia, berasal dari desa-desa kecil di Jawa, dari kalangan sosial menengah ke bawah, kebanyakan berpendidikan hanya sampai sekolah dasar.

Kondisi bekerja sebagai PRT di negara kita sangat buruk: tanpa kontrak, tanpa jam kerja yang jelas, tanpa adanya limitasi pekerjaan, gaji yang rata-rata kecil, hari libur yang tidak jelas, dst.
(more…)

perempuanMarch 8, 2005 2:03 pm

Ternyata masih banyak pria di planet ini yang berpikir bahwa fungsinya di dunia ini adalah untuk memberi penghidupan yang layak bagi kaum wanita, selain dari melindungi dan dilayani oleh wanita.

Sudah sejak lama banyak wanita yang bisa menghidupi dirinya sendiri, baik di desa-desa maupun di kota. Hanya saja terkadang jasa mereka tertutup karena penilaian yang miring terhadap pendapatannya, yang dikatakan hanya sebagai “penambah” pemasukan utama (yaitu dari suami). Sebetulnya hal ini tidak benar, terutama di jaman sekarang ini, pendapatan istri sama pentingnya dengan pendapatan suami. Tanpa pemasukan dari keduanya, suatu rumah tangga akan menemui banyak kesulitan dalam menutup bon-bon yang masuk tiap bulannya.

Malah aku yang heran kalau menemukan pria yang masih berkata bahwa dia harus menghidupi istrinya, calon istrinya, dst. tanpa berpikir lebih jauh bahwa si istri bisa juga mencari nafkah.

Berangkat dari pemikiran kesamaan hak dan kewajiban antara kaum pria dan wanita, hendaknya dari kaum wanita juga harus menunjukkan aktuasi emansipasi feminitasnya dalam segala aspek kehidupan.

Jika kita ingin kaum pria mengakui kesamaan derajat kita, maka tunjukkanlah hal itu, tidak dengan meminta-minta dibawakan belanjaan jika kita memang bisa dan mampu mengangkutnya.

Atau usahakan membayar apapun ketika kita berkencan, setidaknya sebagian, jangan sampai membiarkan pria membayar semuanya.

Jangan melemah-lemahkan diri kita dengan alasan karena diri kita “perempuan”.

perempuan 12:21 pm

Sambungan dari bagian I:

Haruskah perempuan memilih antara kepentingannya pribadi dan kepentingan keluarga? Kenapa perempuan mempunyai banyak peran dan tanggung jawab dibandingkan laki-laki?Bisakah kita berkompromi dengan pasangan kita untuk membagi tugas-tugas rumah tangga?
____________________

Jawaban dari pertanyaan pertama, harus saya katakan: YA. Perempuan pada akhirnya harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga.

Keinginan untuk mempunyai anak selalu lebih besar daripada keinginan untuk mengangkat karirnya.

Well, memang kita tidak bisa menyamakan situasi semua wanita. Bahkan banyak wanita-wanita yang mendapatkan segalanya, anak yang banyak dan karir yang gemilang. Tentu semua itu harus didukung oleh suami dan kondisi ekonomi keluarga tersebut dan juga politik perusahaan di mana si wanita itu bekerja.

Lahir tidaknya anak tergantung pada perempuan, dan inilah yang merubah segalanya.

Jika seorang laki-laki dapat hamil dan melahirkan seorang bayi, maka wanita akan mulai memilih, apakah dia harus hamil ataukah suaminya yang hamil?

Suatu pemikiran yang gila. Ya benar.

Adakah rasa sesal di balik kebanggannya sebagai seorang wanita executive yang telah melewatkan kesempatannya untuk mendapatkan anak?

Hidup memang harus memilih.

Seseorang yang kontra feminis akan mengatakan, wanita tidak bisa mendapatkan semuanya, wanita seperti layaknya laki-laki harus berada dalam kondisi yang sama untuk berada di jenjang karir yang sama. Artinya, absensi menjadi seorang ibu, absensi dari cuti hamil 4 bulan, tidak adanya pegawai yang suatu saat harus berada di rumah ketika anaknya sakit, dsb.

Untunglah dalam beberapa bentuk pekerjaan, ada teknologi yang membantu, sehingga seseorang bisa mengerjakan tugasnya dari rumah.

Namun kenyataannya di luar sana, perusahaan bukanlah satu keluarga yang prihatin akan rendahnya natalitas suatu negara. Masih banyak perusahaan-perusahaan (yang sebagian besar direksinya diduduki oleh kaum lelaki) yang berkomentar dengan nada sinis atas hamilnya seorang pegawai wanita di lingkungan kerja.

Mungkin orang-orang yang tinggal di Indonesia tidak akan mengerti masalah kelanggengan dari seorang wanita karir dan hubungannya dengan mempunyai anak, karena masalah itu dapat segera diselesaikan dengan pembantu. Tidak sama halnya dengan wanita-wanita yang tinggal di negara maju khususnya.

Maka seperti yang saya katakan di tulisan saya yang berjudul “Dilema”, wanita dihadapi oleh dilema, di mana di ambang umur tertentu dia harus memutuskan untuk hamil atau tidak.

Walaupun kemajuan teknologi sangat pesat, hamil di umur 40 sama sekali tidak direkomendasikan.

Tinggi rendahnya natalitas di suatu negara sangat tergantung dari fasilitas dan dorongan yang diberikan oleh suatu negara kepada unit-unit keluarga. Tidak cukup dengan memberi kemudahan pajak, namun harus didukung oleh infrastruktur (jumlah penitipan anak dan sekolah yang mencukupi dengan jam buka yang luas, beasiswa, dsb.) yang memudahkan para orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Dan juga jika keadilan negara sudah berfungsi, maka tidak ada perusahaan yang berani memecat pegawai wanitanya karena dia hamil.

Jika kondisi ini sudah tercapai, maka sebagian besar wanita tidak akan pernah didera oleh dilema. Tentunya sebagian besar akan memutuskan mempunyai anak dalam usia semuda mungkin.

perempuan 12:12 pm

Di Indonesia sudah umum ketika satu pasangan menikah, mereka akan langsung mencoba mempunyai anak. Entah tahun pertama, kedua atau ketiga dan seterusnya. Namun di negara-negara maju, pasangan suami istri ataupun teman hidup (karena tidak melegalisasi hubungannya), tidak memasukkan ke dalam program wajibnya - punya anak.

Punya bayi adalah opsi, bukan sesuatu yang wajib atau yang “seharusnya”.

Wanita mempunyai kebebasan untuk memutuskan apakah dia akan hamil atau apakah dia mau atau tidak punya anak.

Banyak perempuan yang mengundur-undur kehamilannya karena alasan pekerjaan. Tidak benar juga kalau dikatakan mereka terlalu berpikiran maju hingga hanya mementingkan karirnya, kebanyakan dari mereka dilanda dilema. Dilema antara pekerjaan dan menjadi ibu, dilema menjadi ibu atau tidak menjadi ibu, dan sebagainya.

Ketika umur sudah mendekati kepala tiga, mereka pikir, apakah sudah waktunya aku mulai mencoba untuk hamil? apakah aku wajib hamil sekarang sebelum umur mencapai kepala tiga? apakah aku benar-benar menginginkan bayi itu? apakah aku harus hamil karena dengan umur yang lebih tua aku akan lebih susah untuk menjadi hamil? apakah aku sudah siap? mental dan materi? dan seterusnya…

Dilema ini datang ketika waktu dimana mereka dalam keadaan sehat, kuat dan produktif akan segera habis…sehingga mau tidak mau mereka harus mengambil satu keputusan.
Adakalanya secara mental mereka belum siap ataupun mereka belum punya keinginan untuk mempunyai bayi, namun umur mengejar-ngejar mereka.

Kedatangan seorang bayi adalah kedatangan seorang manusia di muka bumi ini. Orang tua tidak bisa hanya mengantisipasi masa pertumbuhan manusia kecil itu. Tapi orang tua juga harus bertanggung jawab akan pendidikan dan pembentukan dari manusia kecil hingga menjadi manusia remaja.

Bukan hanya diperlukan materi yang mendukung pertumbuhan mereka, namun waktu luang, kasih sayang, kesiapan mendidik, atensi yang berkelanjutan, dsb.

Sementara berpikir, waktu berlalu….dan waktu tidak pernah memaafkan.

perempuan 11:55 am

Pernah ga ngebayangin gimana nenek moyang kita Eva (Hawa) ketika “turun” ke bumi. Mungkin telanjang dan merasa malu, berlari ke sana kemari mencari selembar daun
untuk menutupi kemaluannya, begitu juga Adam.

Bagaimanakah tubuh Eva waktu itu, apakah sesempurna Claudia Schiffer? apakah secantik
Kate Moss? Eva turun tanpa pakaian, tanpa kosmetik di wajahnya, tanpa lebih dulu mencuci rambutnya dengan Pantene Pro-V….Eva turun dalam kondisi “mengenaskan” kalau kita
bandingkan dengan gambaran wanita hari ini.

Sebetulnya tidak terbayang olehku apa yang dia lakukan ketika sedang menstruasi? mungkin kita berpikir kasihan Eva, jaman itu belum ada pembalut wanita…Tapi seperti layaknya binatang yang lain, aku yakin Eva akan mencari sebuah sungai dan membersihkan tubuhnya
di situ. Binatang saja bisa membersihkan diri dengan menjilat, masa manusia tidak bisa melakukan lebih dari itu?

Tuhan juga tidak pernah menceritakan secara detail, bagaimana Eva bisa bertahan hidup setelah melahirkan anak-anaknya? tanpa bantuan seorang bidan, hanya mungkin dengan
bantuan si Adam (mudah2an si Adam pas lagi ga nyari makanan di hutan…)

Samakah kesempurnaan Eva dengan kesempurnaan yang ditampilkan wanita-wanita
jaman sekarang? Yang jelas Eva ga bisa ikutan operasi liposuction untuk mengangkat
lemak yang ada di perutnya setelah melahirkan berkali-kali…Apalagi mempertahankan
raut mukanya dengan lifting…

Aku pikir kecantikan wanita jaman dahulu berbeda dengan prototipo kecantikan wanita
jaman sekarang ini. Kalau dulu keindahan tubuh wanita dalam lukisan-lukisan seperti
Boticelli dan Goya, adalah wanita-wanita yang berpinggul besar dan bertubuh montok.

Kini, cantik adalah kurus (berat badan kurang dari berat badan ideal) dan muka yang
putih (bagi wanita-wanita di negri matahari-alias tropis). Di Indonesia tak satupun krim
wajah yang tidak memakai pemutih…hingga kau dipaksa untuk menjadi putih.
Putih berarti cantik dan berasal dari kelas sosial yang tinggi.

Terus terang, aku lebih suka liat mbok mbok dan mbak mbak yang item, yang
berkebaya seksi, yang montok. Wanita-wanita yang tidak menomorsatukan kecantikan
di atas kesehatannya atau di atas segalanya. Yang tidak memperbudak diri di meja operasi.

Kalau kita merasa nyaman dengan tubuh kita, menerima warna kulit kita, menerima
bahwa kita mengalami proses penuaan, kalau kita bisa menerima semua itu dengan hati
lapang, orang lain pasti bisa.

Montok (tidak sama dengan gendut) bukan suatu kejelekan. Kulit hitampun bukan
berarti kita hina, justru kulit hitam adalah kulit yang lebih kuat dalam menahan radiasi
UV, jadi kenapa musti putih?

Eva-Eva yang maju bukan mereka yang terpuruk di meja operasi demi estetika tubuh-
nya. Eva yang maju adalah Eva yang tahu di mana tempatnya, Eva yang berpikiran maju
dan terbuka, yang tak lupa bahwa banyak dari mereka yang memperjuangkan hak sesama-
nya.

Hingga sedih jika melihat Eva yang lain merelakan dirinya menjadi objek seksual kaum lelaki atau melihat Eva-Eva yang lain yang belum sadar, bahwa kita berpotensi yang sama dengan kaum laki-laki, bukan sekedar korban dan objek mereka.

perempuan 11:14 am

Banyak perempuan yang menunda pernikahan demi merintis studi dan karirnya, begitu pula dengan perempuan-perempuan yang menunda untuk mempunyai anak.
Seperti manusia-manusia lainnya, kaum wanita tidak kalah sibuk setiap harinya, hingga ketika waktu berlalu, mereka pun tidak sadar.
Beruntunglah wanita-wanita yang memutuskan perannya secara tegas, tanpa ragu-ragu.

“Saya mau menjadi ibu rumah tangga saja, mengurus anak dan suami dan urusan rumah”

“Saya mau menjadi wanita karir saja, tanpa suami dan anak, hidupku akan aku dedikasikan ke karir atau studiku”

Namun kebanyakan wanita tidak dapat memilih, dan akhirnya peran-peran dan tugas itu disabet semuanya. Mereka selalu berkata berulang-ulang “aku bisa, aku bisa, aku bisa…”

Tentu saja dia bisa…ada banyak contohnya. Dengan berbagai bantuan dan cara, wanita modern sanggup membagi waktu pekerjaan, pekerjaan rumah, mengurus anak, mengurus suami, dan terakhir mengurus dirinya sendiri.

Namun di balik semua itu banyak wanita yang menderita walaupun dia tidak dapat mengungkapkannya, semua demi anak dan suami…semua demi hari tua, masa depan.

Saya sendiri termasuk wanita yang belum bisa memastikan peran yang ingin saya ambil. Kemungkinan besar saya akan jatuh ke golongan ketiga, multi-peran, seperti mayoritas yang ada, walaupun saya benci untuk memutuskan hal itu. Saya belum melihat keuntungan yang ada.
Di Spanyol, menurut data tahun ini, 2004, tujuh dari setiap sepuluh wanita masih tergantung dari suami mereka. Tujuh wanita inilah yang bisa disebut sebagai ibu rumah tangga, sedangkan sisanya dari golongan multi peran atau wanita karir.

Tunjangan-tunjangan dari pemerintah belum cukup membantu kita. Fakta-fakta membeberkan adanya kekurangan sekolah-sekolah baik pemerintah maupun swasta. Belum lagi tidak adanya bantuan dari perusahan-perusahan di mana kita bekerja. Pengurangan jam kerja masih dianggap tabu dan suatu kesalahan.

Terkadang kita tidak bisa pula menunggu-nunggu, berpikir panjang, dan banyak di antara kita yang akhirnya nekat memutuskan untuk menambah anggota keluarga. Apa boleh buat, jika hidup harus lebih hemat, lalu tanggung jawab makin besar, begitu juga biaya hidup.

Begitu pula perempuan-perempuan yang memutuskan untuk berhenti bekerja setahun dua tahun demi anak. Namun ketika ia ingin kembali ke dunia karir, ternyata tidak mudah. Saingan dari wanita-wanita muda yang baru saja lulus, belum berkeluarga, antusiame yang tinggi, dan seterusnya, menambah nilai bagi mereka di dalam wawancara-wawancara kerja.

Jaman telah merubah gaya hidup kita dan dampaknya cukup banyak bagi kaum perempuan.
Perempuan di masa kini dituntut untuk tegar, bekerja keras dan sanggup merangkup multi-peran aktual.

Perempuan-perempuan yang bekerja di luar dan di dalam rumah (ibu rumah tangga) mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki. Mereka adalah manusia yang mempunyai cita-cita, ambisi dan mimpi-mimpi.

Namun ketika peran utama mereka melahirkan seorang anak ke dunia ini, terkadang tak satupun yang peduli untuk meringankan bebannya.

bersambung…

perempuan 11:00 am

Kamu pernah berpikir keuntungan dalam hidup ini menjadi seorang perempuan? Tentu saja selain dia menjadi dirinya sendiri, seorang istri, seorang ibu, seorang ibu rumah tangga, seorang pegawai, seorang nenek dari cucunya, seorang anak yang mengurusi ibunya….Semuanya itu bisa terjadi sekaligus pada seorang perempuan.

Lain halnya dengan laki-laki. Ada ngga sih istilah hm…bapak rumah tangga? mungkin di masa depan akan ada, dan tentunya di negara-negara maju sudah ada laki-laki yang bekerja sebagai bapak rumah tangga sementara istrinya bekerja di luar.

Sebagian besar laki-laki merasakan fasilitas kehidupan, pertama-tama sebagai seorang anak. Di rumah orang tuanya, sebagian besar ibu-ibu memberikan tugas rumah tangga hanya kepada anak perempuan, sedangkan anak laki-laki sangat jarang dituntut untuk bekerja membantu ibunya. Selain dari itu, tentu saja kebutuhannya selalu terpenuhi, sandang pangan dan pendidikannya. Di negara-negara dunia ketiga, masih banyak diskriminasi terhadap anak-anak perempuan, kebutuhan makan dan pendidikan mereka dibawah prioritas anak-anak laki.

Ketika sudah dewasa, laki-laki hanya menjabat sebagai kepala keluarga yang tugasnya mencari nafkah dan yah sekali-kali ikut berpartisipasi dalam membesarkan anak dan hanya sedikit yang membantu pekerjaan di rumah, seperti halnya mencuci piring atau menyapu lantai.

Namun apa yang dapat dipetik keuntungannya bagi kaum perempuan ketika kebanyakan dari kita bekerja di luar rumah untuk juga mencari nafkah bagi keluarga? ketika sampai di rumah, ternyata dia pun harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah atau memasak. Tentu saja sebagian besar harus mengontrak seorang asisten untuk membantunya. Bagaimana dengan keluarga-keluarga yang pendapatannya terbatas dan tidak mampu membayar seorang asisten atau pembantu rumah tangga?

Ups tentu saja mereka harus bekerja dua kali lipat. Kenapa? karena mereka perempuan. Perempuan secara genetis merasa bertanggung jawab atas kondisi yang berada di sekelilingnya. Misalnya seorang perempuan tidak bisa melihat dapur yang kotor, dengan segera dia bekerja untuk membersihkannya. Sedangkan laki-laki tidak peduli, kalau misalnya lantai di sekelilingnya dipenuhi kotoran, sisa-sisa makanan. Dia akan tetap meneruskan apa yang dia lakukan pada waktu itu, misalnya membaca koran, menonton tivi dan sebagainya.

Tugas perempuan tidak ada habisnya. Dalam perjalanan sepulang dari kantor dia akan menyempatkan diri ke supermarket, apa nih yang kurang di rumah? susu, kopi, gula, telur.
Sampai di rumah, tidak sempat istirahat, dia langsung menceburkan diri di dapur.

Mau tau apa yang dikerjakan laki-laki ketika sampai di rumah? kalau tidak mencari makan di lemari, di kulkas, duduk-duduk di kursi membaca koran atau menonton tivi atau langsung ke ruang studi menyalakan komputernya.

Haruskah perempuan memilih antara kepentingannya pribadi dan kepentingan keluarga? Kenapa perempuan mempunyai banyak peran dan tanggung jawab dibandingkan laki-laki?
Bisakah kita berkompromi dengan pasangan kita untuk membagi tugas-tugas rumah tangga?

continue…(udah pusing nih)

LINK TEXT
online