perempuan, pasangan, masalah sosialJanuary 23, 2006 10:23 am

Sex for the sake of having a baby…

Memang di dunia ini tidak ada satu mahluk pun yang sempurna dari segala sisi kehidupannya.

Di negara-negara miskin dan yang sedang membangun, pasangan yang baru saja menikah, biasanya langsung terjun dalam proyek mempunyai anak, karena memang itulah tujuan pernikahan bagi mereka, membentuk sebuah keluarga.

Di sisi lain, banyak anak-anak perempuan umur belasan tahun yang hamil akibat dari kelengahan mereka yang tidak menggunakan proteksi ketika berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Di mana pada kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak siap dengan kedatangan bayi tersebut.

Mereka akhirnya berakhir di klinik-klinik aborsi yang banyak direkomendasikan dari mulut ke mulut.
Dan yang lebih parah lagi, ada juga yang tega meninggalkan bayi-bayi itu di tempat sampah, di jalanan.

Sebagian bayi-bayi buangan beruntung ditemukan orang dan segera diselamatkan. Sebagian lain meninggal karena dehidrasi, kedinginan dan timbulnya komplikasi-komplikasi lainnya yang tak dapat dihindari ketika bayi itu ditinggal sendirian di jalanan.

Di sisi yang lain, di negara-negara maju, banyak pasangan yang setelah hidup bersama atau menikah, lebih memilih untuk menunggu dulu sampai akhirnya mereka merasa siap menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Walaupun sebagian besar tidak mempunyai anak karena alasan ekonomi dan atau prinsip-prinsip yang mereka pegang.

Namun ketika momen untuk mempunyai anak itu datang, ternyata penyakit moderen telah menghinggapi diri mereka. Entah karena steril dari salah satu pihak, tidak ada waktu, salah satu dari mereka harus dinas ke luar, etc. etc.

Ini seperti halnya melihat kenyataan bahwa di negara-negara maju kelebihan berat badan menjadi salah satu penyakit terbesar yang harus dilawan, sementara di negara-negara miskin, banyak orang-orang dan terutama anak-anak kelaparan dan kurang gizi.

Kembali lagi pada judul yang saya berikan di atas, ini bukan postingan porno, saya hanya membeberkan sebuah masalah yang muncul di masyarakat moderen.

Pasangan yang mengharapkan anak biasanya mempunyai waktu satu tahun untuk mencoba menjadi hamil. Lebih dari waktu itu, mereka harus kembali berkonsultasi pada dokter kandungan masing-masing.

Berhubungan intim yang seharusnya menjadi aktuasi alami, berubah menjadi, “Let’s get do it and finish the job” (Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini).

Kenapa? karena perempuan-perempuan ini tidak mempunyai jalan lain yang lebih cepat selain menghitung-hitung hari di mana dia subur atau berovulasi, baik dengan menghitung siklus mereka (beruntung yang bersiklus regular), maupun dengan bantuan termometer basal, indikator ovulasi, etc.

Sehingga pada hari-hari tersebut, menjadi hari di mana mereka dan pasangannya mempunyai “pekerjaan” extra (walaupun saat mereka menjalani umroh- seperti yang terjadi pada seorang teman).

Sebagian dari pasangan tersebut berhasil, sebagian lain menyerah dan tak lagi menghitung-hitung hari fertil, sebagian lain memilih jalan lain seperti, inseminasi artifisial, treatment kesuburuan, and God knows what…

Harapan adalah hal yang paling akhir yang terlepas - artinya jangan pernah melepas harapan.

Posting ini saya dedikasikan kepada: E, D, dan perempuan-perempuan lainnya yang mendambakan seorang (atau dua orang) anak….
Please jangan sungkan untuk berbicara, saya pikir itu akan lebih menolong, daripada berdiam diri dalam keputusasaan.

Tiap-tiap orang mempuyai masalah yang berbeda-beda, namun kita tetap harus tegar dan menjalani hidup ini seperti seorang perwira di medan perang!

Yiha!!!

perempuanNovember 30, 2005 10:50 am

Berapa jenis krim yang diperlukan wanita? (dan pria metroseksual).

Saya mencoba untuk membuat daftarnya di sini. (more…)

perempuanNovember 17, 2005 1:17 pm

Posting terakhir gue sengaja gue kasih kata kunci karena diperuntukkan hanya untuk pembaca perempuan. Bagi kaum hawa yang mau membacanya, kirim email ke: nagasundani@yahoo.es nanti gue kasih kata kuncinya.
Trims.

perempuan 1:09 pm

This post is password protected. To view it please enter your password below:

perempuanNovember 12, 2005 11:14 am

Kadang jadi perempuan dengan sifat-sifatnya malah jadi terperangkap dalam tuntutan dari sifat-sifat itu sendiri.

Kebanyakan perempuan tidak bisa melihat rumahnya kotor dan berantakan, biar badan rasanya udah bonyok dan capek, rumah harus bersih.

Hari Jumat kemarin padahal keluar dari kantor jam 2 siang, di dalam pikiran, rencana saya adalah, makan siang, lalu membaca novel di tempat tidur, syukur-syukur ketiduran.

Sampai saat keluar dari kantor dan makan siang di McDonald, semua berjalan lancar. Tetapi ketika sampai rumah, saya lihat halaman dipenuhi oleh daun-daun merah yang berguguran.

Setelah menaruh tas dan jaket, saya pun mulai menyapu halaman. Terus terang ini pekerjaan rumah yang paling saya suka, karena membuat pikiran saya relax, sambil melihat daun-daun di musim semi. Setelah saya bersihkan, dimasukkan ke dalam kantong plastik, siap untuk dibuang.

Di halaman saya liat juga karpet-karpet di mana hewan peliharaan saya tidur sudah menjerit untuk dicuci. Akhirnya sebelum saya masukkan ke mesin cuci, saya lewatkan dulu dengan vacumcleaner, kemudian saya rendam di dalam air panas dan deterjen.

Karena tanggung sudah mengeluarkan vacumcleaner, akhirnya saya pun membersihkan ruangan-ruangan di rumah, sambil tak lupa memasukkan baju-baju kotor berwarna ke mesin cuci. Setelah beres, mau memasukkan vacum itu ke lemari, ternyata lemari deposit makanan dipenuhi oleh kaleng-kaleng, botol, dan sebagainya yang berserakkan dan tidak teratur.

Akhirnya setelah menyimpan vacum, saya bereskan lemari itu dan membuang barang-barang yang sebenarnya tidak saya perlukan (entah kenapa manusia rajin mengumpulkan barang-barang tak berguna dan sayang untuk membuangnya).

Badan sudah terasa loyo, saya mencoba membersihkan make-up di muka kemudian menggosok gigi. Kemudian saya merasa haus, ingin minum, ketika saya mengambil air di dapur, saya lihat ada beberapa piring dan penggorengan kotor menanti….

Akhirnya saya pun mencuci piring. Karena sudah tanggung di dapur, saya lihat plastik sampah di dapur pun sudah penuh, maka saya tutup dan siap saya buang. Lalu saya buka satu laci tempat menyimpan kantong-kantong plastik. Saya pun melihat laci-laci putih itu ditutupi debu-debu hitam. Kemudian saya ingat, ketika pergi ke rumah seorang teman dan melihat dapurnya yang bersih mengkilau tanpa setitik noda, saya jadi malu.

Walhasil, saya pun yang memang berencana untuk membersihkan bagian laci-laci itu, membongkar isi laci satu persatu. Saya cuci dan keringkan, lumayan kini terlihat putih.

Sampai di situ, saya menarik nafas, untung saja saya tidak sempat membuka kulkas, karena saya yakin, si kulkas pun menyimpan sepuluh dua puluh pekerjaan, seperti membuang sayuran atau buah2an yang sudah membusuk, membersihkan noda-noda tumpahan susu atau kaldu, mengatur makanan-makanan supaya terlihat rapih, bla bla bla bla bla….

Tak terasa sudah pukul lima sore dan saya lihat langit mendung, saya pikir, ini waktu yang tepat untuk mengajak teman-teman saya ke taman (hewan peliharaan saya).

Tak lupa saya bawa kamera digital saya untuk menangkap pemandangan taman yang kini menguning karena musim semi, semua tampak hijau, asri dan sejuk. Namun ketika sampai di taman, kamera saya nyalakan, ternyata batrenya minta diganti. Ketika saya ganti dengan batre yang seharusnya baru, ternyata batre yang bisa dicharge ulang itupun kosong. Pengen nangis rasanya….

Pukul enam sore lebih sepuluh menit saya dan anjing-anjing saya pun pulang ke rumah. Ketika mengganti sepatu di kamar mandi, saya lihat di bath-up karpet-karpet yang saya cuci masih terendam dan harus diselesaikan.

Setelah menyimpan sepatu di lemari, saya pun bergegas membersihkan karpet-karpet itu. Ah! kebetulan baju-baju yang saya cuci di mesin sudah selesai. Saya buka dan saya masukkan baju-baju itu ke ember. Eh ternyata di tempat jemuran baju, masih ada baju-baju bersih yang menggantung. Walhasil, sebelum menjemur, saya harus melipat baju-baju bersih itu. Kemudian saya jemur baju-baju yang baru saya cuci. Setelah itu, karpet-karpet yang sudah saya rendam, gosok-gosok dan saya peras, saya masukkan mesin cuci untuk dikeringkan.

Saya beristirahat sejenak menonton tivi, namun perut ini terasa lapar. Akhirnya saya kembali lagi ke dapur untuk membuat supermi. Setelah makan malam, tubuh ini rasaya sudah seperti orang yang baru saja ditinju sana sini…

Kebetulan suami sedang berada di luar kota dan pulang malam itu. Sudah dapat dipastikan ketika dia pulang, dia pun membawa baju kotor, koper yang harus dibenahkan dan kalau saya tidak beri ultimatum, dia tidak akan mengurus urusan dia sendiri. Namun mulut ini sudah rombeng rasanya, besok saja ultimatumnya.

Jam 9 malam saya minta kepada yang di Atas jam istirahat. Selamat malam dan besok pekerjaan apa lagi?

PD:
(Ternyata hari Minggu saya dan tetangga2 saya janjian mau bikin jurnal gastronomi- alias makan-makan, masing2 membawa makanan khasnya, jadi bisa ditebak hari sabtu harus belanja dan masak-masak).

perempuan, My FavoriteOctober 27, 2005 2:57 pm

Ketika umur saya memasuki zona 27, 28 dan 29 - terus terang saya merindukan umur-umur di bawah angka-angka tersebut.

Entah kenapa, mungkin ada rasa takut berulang tahun yang ke tiga puluh, tiga puluh satu, tiga puluh dua dan seterusnya.

Tapi belakangan ini saya menyadari bahwa saya tepat berada pada momen-momen kehidupan yang fantastik, stabil, dewasa, kontrol dan penuh ekspektasi dalam hidup ini.

Saya tidak lagi terkadang “iri” terhadap gadis-gadis berumur 20 tahunan.

Kenapa? karena saya berada tepat dalam momen kehidupan di mana sebagai pribadi, sudah menemukan kematangan dalam berpikir dan bertindak, kehidupan emosional yang stabil dan kontrol diri dan kehidupan yang cukup kokoh.

Ibaratnya, saya sedang berada, hm…duduk di atas awan.

Mungkin kamu heran dan bingung dan tidak mengerti apa yang saya maksud.
Bisa jadi.

Hari-hari terakhir ini saya tampil beda. Orang-orang sekitar saya pun terhipnotis oleh perubahan pada diri saya terutama secara fisik.

Saya sedang gila dengan hal-hal yang berhubungan dengan kefemininan, kewanitaan.

Mungkin ada untungnya pada waktu muda, saya tidak suka bermake-up, sehingga pada umur yang menjelang kepala tiga ini, wajah saya masih berada pada zona dua puluh tahunan.

Minggu minggu terakhir inipun sering kami lewatkan dengan pergi menonton teater, hal yang tidak kami lakukan sejak lama.

Ada satu konsep yang berubah, sebagai pasangan, kami sudah seperti dua potongan yang bisa menyatu, berpisah, berubah tempat, fleksibel namun stabil.

Dan sebagai pribadipun saya punya rasa percaya diri yang lebih mantap dan optimis dari biasanya.

Walah…posting apa sih ini? sedang dimabuk narsisme atau apa?

Saya sedang mengalami satu perubahan diri yang tidak dapat saya hindari, secara tiba-tiba dan espektakuler.

Saya sedang menggali potensi yang ada dalam diri saya.

Mungkin perubahan yang terjadi dalam kehidupan laboral yang mana biasanya malah membawa kejatuhan pada sebagian orang, untuk saya malah membawa suatu berkah.

Saya siap berubah, saya siap berganti dan saya suka - karena kesiapan saya.

Mungkin sulit untuk dimengerti, saya pun tidak bisa membuka kode yang tersirat, tapi saya jalani saja.

Selama hampir tiga puluh tahun, saya sudah memantapkan garis saya, gaya saya, ide saya, pemikiran saya. Dan saya siap berubah untuk mengkikis kejelekan yang masih menempel, terus terang ada cukup banyak dan cukup sulit dikikis.

Menjelang tiga puluh, adalah seperti bunga mawar yang baru saja terbuka kelopaknya, harum, menantang untuk dicium, warna yang jelas dan indah, memunculkan keoptimisan, keindahan kehidupan dan….
Dan untungnya saya bukan pecandu alkohol, obat-obatan maupun rokok.

Life, I’ll show you how to live!!

perempuanOctober 26, 2005 2:20 pm

Berbagai hadiah kecil yang bisa diraih

Belum lama ini aku berpikir bahwa membeli majalah wanita sama saja dengan membuang-buang duit, karena isinya itu-itu lagi. Temanya pasti, perawatan kecantikan, karir, sex, pasangan, mode, gaya, dan embel-embel lainnya. (more…)

perempuanAugust 30, 2005 12:22 pm

Ya boleh cengar cengir dulu sebelum membaca lebih lanjut. (more…)

perempuanJune 29, 2005 9:54 am

Duh…masang judul kok jrudul gitu sih…

Iya, ternyata mencoba menjadi “perempuan” yang sifat naturalnya bersolek itu - walaupun tidak semua perempuan suka bersolek, membuat dirinya kehilangan waktu.

Contohnya, setelah mengoleskan krim/”lotion” di tangan dan kaki supaya kulit ngga kering, coba deh melepas anting yang anda pakai dan memasang anting yang baru, atau mencoba memasang kalung yang pemasangannya harus memilir-milir roda kalung itu. Sumpah….susahnya setengah mati, tangan licin gara-gara pake krim, jadi ga bisa membuka, melepas, memasang, etc.
(more…)

asem manis asin, perempuanMay 20, 2005 3:42 pm

Baru aja baca-baca di liputan 6, FPI protes atas pengiriman kontestan Indonesia untuk Miss Universe 2005.

Apa sih pendapat kamu sendiri?
-setuju Indonesia diwakili di Miss Universe
-tidak setuju
-tidak peduli
-tidak tahu
-komentar lainnya

Dari jaman dulu, jaman Titi Dwijayanti yang mewakili Indonesia, ada keributan juga.

Pendapatku sendiri:
Kayaknya FPI sudah memvonis Indonesia sebagai negara Islam di mana berlaku hukum-hukum agama Islam.

Gimana ya? apa masalahnya? karena harus pake baju renang? karena itu salah karena ngga nutup aurat? Gimana kalo kandidat itu misalnya tidak beragama Islam, hingga secara moral dia merasa tidak bersalah?
Apakah martabat bangsa diukur dari keterbukaan pakaian wanitanya?

Di kontes itu kan ga buka-bukaan selamanya, ada juga di mana dia harus pakai baju pesta, baju tradisional, dst. Begitu juga mereka di tes kepintarannya, kelihaiannya dalam berbagai hal, komunikasinya, reaksi2nya. Ngga gampang loh untuk sampai ke sana!

Ke dua, ngga usah ngeributin masalah moral seseorang deh! Indonesia udah banyak masalah, lagi-lagi masalah kecil dibesar-besarkan (spt. logo album Dewa).

Ketiga, yah…paling tidak ada yang mau berkorban mewakili Indonesia ke dunia internasional, seorang wanita pula. Coba kalau dia menang lalu kemudian diangkat menjadi duta PBB untuk Unicef, nah kan yang kesebut-sebut nama Indonesia juga! Selama ini kita kan terkenal korupsinya doang! coba deh!!!

Padahal apa ga inget, kalau di Indonesia di bagian timur, baju tidak diperlukan? baju cukup minim aja? apa di antara mereka merasa “horny”?, apa harus menutup mata masing2 ke tubuh yang dianggap oleh mereka alami, natural? itu memang budaya mereka.
Dulu di Bali juga wanita telanjang dada.

Sebenernya aku juga ga peduli tentang kontes-kontes kayak gini, ya itu kan cuma bagian dari bisnis, marketing dan tek tek bengek lainnya. Dan aku pikir, orang-orang dari negara lain tidak akan berpikir bahwa martabat bangsa kita bakal jatuh karena mengirim kontestan ke Miss Universe, kalo orang-orang se dunia berpikir begitu, ya tentu kontes ini tidak exist, tidak ada yang mau mengirim wakilnya.

Next Page »
online