pasanganMarch 8, 2005 11:45 am

Note: Tulisan ini sudah “seribu” kali aku edit, jadi mudah-mudahan pas and give ur comment ya!

Percaya ga percaya, waktu diceritain sama temen yang dulunya bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, bahwa hubungan di luar nikah antara rekan-rekan kerja sudah merupakan hal yang amat biasa…..aku waktu itu setengah tidak percaya. Mungkin terlalu innocent menanggapi kenyataan itu. Sekali lagi aku tanya dia, “ah…masa sih? yang bener lu?”, lagi-lagi jawaban yang sama sambil manggut-manggut dan tersenyum mentertawakan diriku sambil mungkin berpikir “dasar udik…”.

Mungkin juga karena aku bekerja di sebuah kantor yang kecil yang isinya cuma dua belas orang saja, tidak ada kondisi yang mendukung perselingkuhan….jadi tidak pernah membayangkan ketemu rekan kerja, lalu menggunakan waktu makan siang untuk xxx (huek!!!! amit-amit).

Katanya sih, itu karena orang-orang Jakarta tidak punya waktu lagi, alasannya waktu di mana mereka sedang “aktif-aktifnya” itu di tempat kerja, jadi yah kebayang pas pulang kerja siapa sih yang mau berhubungan dengan pasangannya masing-masing kalau di kantor mereka sudah melakukannya dengan rekan kerja?

(mau ketawa kok ironis ya jadinya? mau apa lagi? kenyataannya memang begitu)

Di kota tempatku tinggal (di benua E) aku tidak pernah mendengar ataupun membaca fenomena ini. Jelas ada tapi bukan suatu hal yang dianggap biasa.

Jadi mungkin Jakarta lebih “modern” daripada kotaku dalam hal ini? atau gimana? ya ngga lah.

Memang sih Jakarta itu metropolitan dan luasnya lima kali daripada kota M, jadi ada banyak orang yang menghabiskan berjam-jam di jalan raya dan dapat aku bayangkan sampai rumah maunya mandi, makan dan tidur (tidur dimana mata terpejam dan tidak sadarkan diri)

Jadi kesimpulannya, mungkin mereka tidak sempat lagi untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan baik dengan orang-orang yang tinggal serumah (maksudnya di sini sesama pasangan). Sehingga muncul kejauhan dan kedinginan antara pasangan (sebuah teori? sok tau…)

Sedangkan kalau di kantor, mereka masih segar bugar (hm..kalo orang yang segar bugar bukannya malah dapat berpikir secara sehat? jadi alasan apa donk yang musti diambil untuk berselingkuh?)

Gimana sih? selingkuh aja musti dicari alasannya!

Hm…mungkin untuk percaya aku harus melihat sendiri, loh jadi maksudnya harus melihat perselingkuhan begitu? ….ha ha…ngga sih, maksudnya mungkin harus mendengar secara langsung orang yang terlibat perselingkuhan.

Bukan saja mengenai perselingkuhan tapi juga laki-laki yang biasa pergi ke burdel-burdel seperti yang diceritakan di buku Jakarta Undercover, sex n the city. Dan juga perempuan-perempuan dengan umur yang relatif muda, sudah mencari uang saku dengan menjajakan tubuhnya, sort of.. (contohnya di jalan Mahakam, kebayoran baru) Kalau saja ada orang yang terlibat langsung mau berbagi cerita dengan aku….silakan hubungi emailku.

Ya jadi prilaku sebagian orang-orang Jakarta atau kota-kota besar lainnya sudah berubah (aku sudah meninggalkan Jakarta kira-kira sepuluh tahun lebih, masuk ke kumpulan orang-orang yang tidak kuat bersaing di hutan rimba Jakarta)
Jadi apakah selingkuh itu sebenernya sudah merupakan suatu kebutuhan belaka bagi mereka? Selingkuh itu kan sudah ada dari jaman baheula, suami yang selingkuh, istri yang selingkuh.

Tapi kalau sudah dianggap biasa, ini baru tidak biasa (aku harap ini anggapan sebagian orang saja)

Pengalamanku sendiri, aku sendiri pernah ditawari selingkuh oleh orang yang lebih muda daripada aku (dia adik kelasku di SMA, katanya aku senior favoritnya….ADUH AMIT-AMIT…apa salahku?), tapi cara memintanya itu secara samar-samar gitu (langsung gue kick dari messenger gue, I know it’s not fair, but my mind is still covered by cloud) Kok bisa-bisanya ya? padahal aku baik sama dia karena temenan aja dan sama -sama orang Indonesia yang jauh dari negaranya (dia kebetulan sekolah di Paris lalu sempat main-main ke M dan menginap di rumahku, waktu itu aku belum tau maksud terselubungnya itu. Teman-teman cewekku sibuk marahin aku karena mereka pikir aku terlalu terbuka. Padahal di sini biasa menawarkan ke sesama orang-orang indonesia rumah kamu untuk tempat bersemayam sementara mereka melihat-lihat M (kota tempatku tinggal). Jadi gimana? aku musti jadi orang yang selalu curiga? aku tidak bisa merubah sifatku yang terbuka)

Dan dia sendiri punya seorang istri yang tinggal di Jakarta (that makes sense, he lives in Paris, she in Jakarta, tapi ternyata dia juga menghamili seorang gadis Indonesia di Paris, wwwwwwwwwwwwaaaak……..jadi gue punya alasan kuat kenapa tu orang musti gua kick secepatnya dari messenger gue kan??? mana ngaku-ngaku dulu aktif di pengajian Al Azhar, dan fanatik dengan Islam, huek!! believe it or not? bukti bahwa manusia bisa berubah dan terbawa arus)

Walah edan….mungkin dia pikir aku itu wanita yang bebas kali ya? mentang-mentang tinggal di luar negri dan punya pemikiran bebas, tapi kan belum tentu dia punya ideologi seks bebas!! seks bablas kali?? Salah persepsi kamu…aku tidak seperti itu (at least sampai hari ini)

Aku sendiri pernah bilang ke suamiku (pas lagi berantem, biasa…), kalau ada di antara kita yang mau selingkuh, mendingan cerai dulu (loh…itu namanya bukan selingkuh ya? ha ha….)

Aku pikir terjadinya perselingkuhan itu tergantung dari gaya hidup kita sehari-hari, pemikiran, ideologi, kondisi dan lingkungan kita, dan segala macam.

Kalau ada orang yang baca ini dan tahu lebih banyak dari gue tentang perselingkuhan, ya tolong dikirim komentarnya….monggo dan terima kasih.

Apa yang membuat mereka selingkuh? rasanya alasan yang aku sebut di atas bahwa “karena keaktifan mereka ada di jam kantor” trus lantas selingkuh, tidak bisa aku terima. Lah di sini juga begitu, kita aktif di jam kantor, akrab dengan teman kantor (namun kan ada norma-normanya), yah tidak berselingkuh.

Dorongannya apa ya untuk selingkuh? morbo belaka? (morbo= penyakit, keingintahuan tentang manusia atau binatang yg menyimpang, ketertarikan akan suatu peristiwa yang tidak menyenangkan - diterjemahkan dari Real Academia Española) kebutuhan? cinta? kejenuhan? kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh/dengan pasangan?
Wauw! pasti ada berbagai macam alasan.

Yang jelas sambil berpikir dimana kita bisa ketemu dengan selingkuhan kita tanpa diketahui pasangan kita masing-masing, sementara itu kita bisa JUGA berpikir - kita ada di jalan Tuhan atau di jalan setan?

Ha ha…boro-boro, mungkin ketika itu setan sudah menampakkan diri sebagai malaikat yang ada di sebelah kanan kita dengan muka manis dan berkata “just do it and be happy”. Ho ho…

My goodness. Hm..jadi inget filmnya Keanu Reeves sama Al Pacino (jadi setan yang menyamar sebagai pengacara.)

Waktu ditanya sama si “gila” itu -yang ngajak aku selingkuh- pendapatku tentang perselingkuhan, apakah itu dosa? kan Allah maha mengampuni- katanya.
Aku bilang, ya gimana, tiap pasangan sih beda, but I wouldn’t do that to my couple. Dan ya memang Allah Maha mengampuni, tapi pasangan yang kamu nikahi tidak akan mengampuni (semanis-manisnya kata-kata ampun yang keluar dari bibirnya, namun di hati cuma ada luka tusukan yang tidak tertutup-tutup)
Emang enak? kalo tau pasangan kamu tidur sama orang lain di belakang kamu?

Menurutku, kalo ga cinta lagi, ga cocok lagi, ya mendingan cerai. Tapi jangan tidur dengan orang lain selagi kamu masih memakai cincin itu dengan namanya dan namamu. Daripada begitu, mendingan bercerai baik-baik dulu, jadi kan enak.

Atau kenapa kamu menikah kalau jalan yang kamu ambil maunya jalan yang bebas, langsung jalan tol? memang menikah itu gampang? mungkin jalan menikah itu seperti ngambil jalan Bungur yang di kebayoran lama itu, sempit dan berliku-liku (tanpa menghina orang-orang yang tinggal di jalan Bungur)

Menikah itu kan kompromi, susah dan senang harus dilalui bersama, jadi kalau tidak mau berkompromi, mau hidup bebas, seks bebas dan sebagainya, ya jangan menikah. (Terus terang aku juga pernah berpikir untuk bercerai untuk hidup sendirian dan pergi melanglang buana, tanpa beban)

Lah itu gue bilang loh…mungkin salah mungkin benar.

Kalau ada cinta yang lain namun kamu tidak bisa memilikinya, berdoa saja mungkin di kehidupan yang lain, kita bisa bersatu.

Atau ada juga orang yang bisa membagi-bagi cintanya. Bisa mencintai dua orang sekaligus, cinta istri dan cinta kekasih (kalau dia wanita, ya cinta suami tapi juga cinta kekasihnya).
Ada banyak laki-laki yang sudah beranak istri, artinya rumah tangga yang bisa dibilang “stabil”, di luar itu dia juga punya selingkuhan. Sepertinya bisa hidup di dalam kondisi yang berbeda-beda. Lumrah? manusia bisa berkedok atau bermuka dua.
Contohnya, ibuku bertemu dengan seorang wanita sebayanya yang ternyata istri dari pak J, sedangkan pak J yang tetanggaku itu- setahu kami, para tetangganya, mempunyai istri yang bukan wanita yang dikenal ibuku tadi (jadi ibu J yang selama ini kita kenal adalah istri ke dua dan ibu J yang terhormat tidak tau kalau dia menempati nomer 2)

Terus ada lagi yang memberikan solusi untuk poligami, ini biasanya ditujukan untuk kaum adam (dalam Islam). Tapi apakah seorang perempuan dipandang baik oleh masyarakat Indonesia jika ia berpoligami?

“Daripada suami pergi ke tempat pelacuran, mendingan kawin lagi”, begitu kata sebagian orang yang mendukung praktik polygami. Polygami = selingkuh terselubung? selingkuh yang dikamuflasi? selingkuh yang dilegalisasi oleh agama? selingkuh yang dimaklumkan oleh masyarakat kita?

Masing-masing bebas berpendapat. Aku pikir alasan berpolygami jaman rasulallah berbeda dengan polygami jaman ke depan.

Bagiku sekarang ini di dunia, aku harap mentalku sehat dan dapat berpikir cerah dan mengambil keputusan-keputusan yang secara moral dianggap benar dan baik TANPA menyakiti mahluk-mahluk hidup di sekitarku.

(cuih….me talking in front of JULIUS CESAR in Rome), kha kha kha…

Ya udah, aku akhiri segini dulu. Dan tanpa komentar loh. Manusia itu kan bukan mahluk sederhana. Aku berusaha tidak menyalahkan siapa-siapa, bahkan setan sekalipun (kasihan, setan dikit-dikit disalahin atas perbuatan buruk manusia.) Aku cuma menulis untuk memuaskan hatiku.

note: tunggu….aku baru nemuin situs-situs mengenai selingkuhan..ada selingkuh.com segala….
ya udah nanti setelah baca2 aku sambung lagi di Selingkuh II

asem manis asin, cinta, pasangan 11:40 am

How can men meet their soulmate if they look for a 90-60-90 girl or at least one with a beautiful face, meanwhile women look for a prince, sort of Brad Pitt style, with money?

Okey, good girl get a good boy, cute girl get a handsome boy, and so on, but I am thinking about a soul mate, they are not always in a perfect body or situation.
I mean, hey, just look to people around you, he or she might be near you!!!!!!!!!!
So open your eyes, your heart and your mind, PLEASE.

A soulmate is a lover, a friend that would live together through your life. You would getting older together, passing good and hard time together, support each other through the years. It’s a like a team, just him/her and you.

Some men get stuck in finding a perfect woman, perfect face and body and so do some women. No body’s is perfect. When you are busy with work and as time passing by, I see some friends around me, they are getting more dificulties to find a couple, a boy or girl friend.

Wasting time?

I guess so. I only can say to my single friends, not that I am saying that they must find somebody, but if they do find him/her….the most important thing is not in the external beauty of your couple, it is in their inner beauty.

Once you find him/her, make love and live happly ever after. I believe you guys can find him/her.

pasangan 11:22 am

Menjawab pertanyaan di atas, saya rasa perlu dan dibolehkan, selama rahasia tersebut tidak merugikan pihak yang lain dan tidak berhubungan dengan selingkuh.

Saya pikir dua orang dewasa yang hidup serumah, walaupun mereka berhasil hidup bersama dengan damai, tiap-tiap individu memerlukan ruang pribadi di mana dia bisa melepaskan ide dan pikirannya tanpa diketahui pasangannya.

Mungkin bukan rahasia, kalaupun blog saya dibaca oleh suami suatu ketika, tidak ada masalah, namun saya merasa di blog ini saya bisa bebas, lepas dari segala keterikatan karena hanya beberapa teman yang mengenal blog saya.

Contohnya dalam menulis memori-memori di masa lampau, problematika tentang kehidupan aktual dan sebagainya.

Toh tidak seluruh problem saya utarakan kepada dia, kadang kala ada suatu masalah atau ide yang saya ingin pegang sendiri, kadang seperti halnya jati diri kita yang tidak kita bagi dengan orang lain.

Toh hubungan suami istri itu melingkup seluruhnya, kadang sebagai suatu individu, kita perlu mencari tempat di mana kita bisa mencurahkan sisi yang tersembunyi dari diri kita.

LINK TEXT
online