perempuan, pasangan, masalah sosialJanuary 23, 2006 10:23 am

Sex for the sake of having a baby…

Memang di dunia ini tidak ada satu mahluk pun yang sempurna dari segala sisi kehidupannya.

Di negara-negara miskin dan yang sedang membangun, pasangan yang baru saja menikah, biasanya langsung terjun dalam proyek mempunyai anak, karena memang itulah tujuan pernikahan bagi mereka, membentuk sebuah keluarga.

Di sisi lain, banyak anak-anak perempuan umur belasan tahun yang hamil akibat dari kelengahan mereka yang tidak menggunakan proteksi ketika berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Di mana pada kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak siap dengan kedatangan bayi tersebut.

Mereka akhirnya berakhir di klinik-klinik aborsi yang banyak direkomendasikan dari mulut ke mulut.
Dan yang lebih parah lagi, ada juga yang tega meninggalkan bayi-bayi itu di tempat sampah, di jalanan.

Sebagian bayi-bayi buangan beruntung ditemukan orang dan segera diselamatkan. Sebagian lain meninggal karena dehidrasi, kedinginan dan timbulnya komplikasi-komplikasi lainnya yang tak dapat dihindari ketika bayi itu ditinggal sendirian di jalanan.

Di sisi yang lain, di negara-negara maju, banyak pasangan yang setelah hidup bersama atau menikah, lebih memilih untuk menunggu dulu sampai akhirnya mereka merasa siap menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Walaupun sebagian besar tidak mempunyai anak karena alasan ekonomi dan atau prinsip-prinsip yang mereka pegang.

Namun ketika momen untuk mempunyai anak itu datang, ternyata penyakit moderen telah menghinggapi diri mereka. Entah karena steril dari salah satu pihak, tidak ada waktu, salah satu dari mereka harus dinas ke luar, etc. etc.

Ini seperti halnya melihat kenyataan bahwa di negara-negara maju kelebihan berat badan menjadi salah satu penyakit terbesar yang harus dilawan, sementara di negara-negara miskin, banyak orang-orang dan terutama anak-anak kelaparan dan kurang gizi.

Kembali lagi pada judul yang saya berikan di atas, ini bukan postingan porno, saya hanya membeberkan sebuah masalah yang muncul di masyarakat moderen.

Pasangan yang mengharapkan anak biasanya mempunyai waktu satu tahun untuk mencoba menjadi hamil. Lebih dari waktu itu, mereka harus kembali berkonsultasi pada dokter kandungan masing-masing.

Berhubungan intim yang seharusnya menjadi aktuasi alami, berubah menjadi, “Let’s get do it and finish the job” (Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini).

Kenapa? karena perempuan-perempuan ini tidak mempunyai jalan lain yang lebih cepat selain menghitung-hitung hari di mana dia subur atau berovulasi, baik dengan menghitung siklus mereka (beruntung yang bersiklus regular), maupun dengan bantuan termometer basal, indikator ovulasi, etc.

Sehingga pada hari-hari tersebut, menjadi hari di mana mereka dan pasangannya mempunyai “pekerjaan” extra (walaupun saat mereka menjalani umroh- seperti yang terjadi pada seorang teman).

Sebagian dari pasangan tersebut berhasil, sebagian lain menyerah dan tak lagi menghitung-hitung hari fertil, sebagian lain memilih jalan lain seperti, inseminasi artifisial, treatment kesuburuan, and God knows what…

Harapan adalah hal yang paling akhir yang terlepas - artinya jangan pernah melepas harapan.

Posting ini saya dedikasikan kepada: E, D, dan perempuan-perempuan lainnya yang mendambakan seorang (atau dua orang) anak….
Please jangan sungkan untuk berbicara, saya pikir itu akan lebih menolong, daripada berdiam diri dalam keputusasaan.

Tiap-tiap orang mempuyai masalah yang berbeda-beda, namun kita tetap harus tegar dan menjalani hidup ini seperti seorang perwira di medan perang!

Yiha!!!

pasanganSeptember 7, 2005 9:32 am

Istri, saat pulang kerja menelpon suaminya:

“Mau makan apa nih nanti malam? perlu beli-beli ga? aku mau bikin soto aja, udah ada bahan-bahannya”.

“Ya cukup, cuma bertiga kok, kamu, aku dan tamu”. (more…)

pasanganSeptember 6, 2005 11:54 am

(more…)

pasanganJuly 5, 2005 8:58 am

10/08/2005 - mohon ganti kata pernikahan menjadi persatuan…

Gelagatku mengatakan di Indonesia sedang ramai perbincangan tentang kaum homoseksual yang sedang menuntut hak-haknya untuk menikah dan mengadopsi anak (begitu yang saya baca di suatu milis, mereka heboh karena kaum ini muncul di trans TV dalam rangka tuntutan mereka itu).

Mungkin kalian juga baca beritanya bahwa Kanada dan Spanyol telah menetapkan hukum yang memperbolehkan mereka untuk menikah dan mengadopsi anak. Belanda dan Belgi sudah mengeluarkan ketetapan itu terlebih dulu.

Saya sendiri yang bukan negarawan menghadapi dilema dalam masalah ini.

Secara pribadi saya setuju dengan legalisasi pernikahan kaum homoseksual dan belum punya keputusan yang tepat apakah setuju tidaknya dengan tema pengadopsian anak di antara mereka. (more…)

pasanganJune 15, 2005 2:26 pm

Tema Selingkuh II mendapat masukan dari saudara Marcus Lambertus (trims).

Perselingkuhan dapat diadukan oleh salah seorang dari pasangan yang dirugikan, dengan hukuman penjara maksimal 9 bulan.

Perbuatan yang mempunyai makna sama dengan perselingkuhan, dalam KUHP digolongkan kajahatan terhadap kesusilaan diatur dalam pasal 284 - 303 bis KUHP. Salah satu kejahatan terhadap kesusilaan tersebut dikenal dengan perzinahan, mukah (overspel), yang diatur dalam pasal 284 KUHP. Secara sederhana isi pasal 284 KUHP dapat dirumuskan sebagai berikut. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, seorang pria yang telah kawin melakukan mukah (overspel). Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan mukah. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar. Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai.

Diambil dari: Bali post

Bagaimana halnya pihak keamanan yang menggerebek tempat-tempat perzinahan/perselingkuhan tanpa adanya aduan dari pihak yang dirugikan (suami atau istri yang pasangannya berselingkuh)?
Apakah ini secara hukum patut dibenarkan?

pasanganMay 26, 2005 10:40 am

Di Spanyol baru saja dikeluarkan hukum untuk melegalisasi pernikahan kaum homoseksual dengan alasan menyamaratakan hak individu warga negara dan melawan diskriminasi atas pilihan seks seseorang.

Menurut kamu gimana? apakah seorang pasangan homoseksual secara hukum mempunyai hak yang sama dengan seorang pasangan heteroseksual? apakah mereka berhak mengadopsi anak?

Aku sendiri masih melihatnya dengan pandangan yang rabun, masih ragu-ragu.

Dalam satu sisi, sepasang homoseksual berhak untuk mendapatkan hukum yang sama yang berlaku bagi pasangan heteroseksual. Misalnya ketika seorang dari mereka meninggal dunia, pasangannya berhak menerima uang pensiun pasangan yang meninggal, berhak menerima warisan dari pasangan yang meninggal, begitu juga dalam perpajakan, dan norma-norma lainnya.

Namun di sisi lain ketika mereka juga berhak untuk mengadopsi anak, aku menjadi sedikit ragu dan menentang akan hal ini.

Memang sepasang heteroseksual belum tentu bisa mendidik anak sebaik-baiknya dan mungkin sepasang gay atau lesbian, bisa saja mendidik anak itu dengan sukses.

Bagaimana rasanya mempunyai papa dan mama yang keduanya laki-laki atau keduanya perempuan? mungkin kalau anak itu berada pada keluarga itu sejak bayi, keanehan itu tidak akan terasa. Namun bagaimana pikiran anak itu jika melihat teman-temannya mempunyai mama dan papa, seorang perempuan dan laki-laki? bagaimana anak-anak lainnya akan memperlakukan anak tersebut di lingkungan sekolah?

Sekarang begini saja, jelas tidak mungkin sepasang orang yang berjenis kelamin sama bisa berfekundasi secara normal. Maka, kenapa kita harus memberikan hak kepada mereka untuk mempunyai anak?
Karena pilihan seks mereka, mereka tidak berhak untuk mempunyai anak, titik.

Di sisi lain, mereka berhak untuk hidup bersama, diperlakukan sama secara hukum, dan lain sebagainya, tapi untuk memiliki anak? secara biologis, null, maka hak juga nol.
bersambung

kata pernikahan aku ganti menjadi “persatuan” sejak 10/08/2005

perempuan, pasanganApril 26, 2005 2:19 pm

Sedih memang jika seorang perempuan memutuskan untuk mempunyai bayi sebelum umur menebas lehernya. Seperti diriku. Tidak munafik untuk menyadari hal ini.

Betul. Mulai tahun ini aku memutuskan mencoba untuk hamil.

Namun ternyata, keinginan akan datangnya seorang anak telah merubah diriku sejak detik pertama aku putuskan untuk mempunyai seorang anak. Ilusi menggendong mahluk kecil yang akan berasal dari diri dan pasanganmu. Emosi, dan berubahnya perbincangan antara suami dan istri ketika berbicara tentang proyek yang comun, umum dan melibatkan kedua belah pihak.

Seakan perempuan dan laki-laki saat itu berbicara dalam bahasa yang sama dan saling mengerti.

Keinginan akan datangnya seorang manusia kecil bisa mengisi hari-hari kami dengan perbincangan yang menyenangkan, timbulnya rencana dan ide-ide gemilang, warna-warna yang tidak pernah sebelumnya dibicarakan, ilusi untuk terus hidup dan berjuang.

Suatu enerji yang mengisi tubuh ini untuk terus melalui kehidupan dengan suatu arti yang alternatif.
Namun bisa mengimbangi motivasi untuk berjuang menghadapi kehidupan, menyalurkan ide dan pengetahuan kita kepada mahluk yang akan kita jaga, kembangkan, didik dan tentu yang paling kita sayangi.

Mungkin sudah saatnya, mungkin keputusan ini berasal dari mekanisme dalam tubuh kita. Mungkin juga kesiapan dan kedewasaan diri kita, juga dia dan aku sebagai satu tim, pasangan yang boleh dibilang stabil.

Hanya aku harapkan karuniaNya dan pertolonganNya.

Selebihnya, biar alam yang berbicara.

Untuk anakku dimanapun kau berada, kami siap akan kedatanganmu.
:)

pasangan, masalah sosialMarch 8, 2005 1:59 pm

Belum lama ini aku ngobrol-ngobrol sama temenku yang di Amrik, dia nikah sama orang sono. Nah gara-garanya kita lagi ngobrolin kelakuannya orang-orang jakarta (sorry ya…..), yah begitu deh.

Katanya tendesi yang ada sekarang tuh, cewek-cewek muda maunya nyari pasangan bule, bule udeh tue juga ga pa-pe…berabe ken? eh kan?
Pas kemaren-kemaren ini gue di Jkt yang gue liat juga begitu, artis-artis kawin cerai (udah biasa) dan pada kawin sama bule.

Alasan mereka (wanita-wanita muda jakarta dan sekitarnya) kawin sama bule yang pasti duitnya dong….yah…antara kecakepan si bule (kalo emang cakep) dan duitnya deh. Kalau di bawa ke luar negri, lebih bagus lagi,…kan gitu?

Ini kebetulan gue juga hari ini nemuin artikel yang berhubungan di kompas, baca aja kalau mau:
http://www.kompas.com/otomotif/news/0502/19/014844.htm

Tapi, bule-bule juga pada pinter, ada yang ga mau ngawinin si cewek, maunya “make”nya aja (sadis ya bahasaku? sorry…..). Tapi si cewek ya gimana…..soalnya udah dibeliin berlian segala, masa nolak?

Yang jelas kalo mereka yang ngedapetin bule tua, yang seumur bapak atau kakeknya, biasanya sih mereka ga peduli, mo kawin apa ngga, udah terlanjur…

Gue pikir, itu sama ngga sih sama perek? alias wanita penjaja seks?
Tidak ada perbedaan yang jauh, wanita penjaja S itu kan sebenernya melawan kerelaan dirinya yang dipakai. Nah wanita-wanita muda yang pergi sama bule tua juga sebenernya kan karena duit bukan karena emang suka daun tua! hah!

Terkadang, kami-kami yang sudah menikah dengan “bule”, jadi turut prihatin, dan ada aja juga orang-orang yang memandang kami sejenis dengan wanita-wanita muda di atas.

Padahal sebagian besar dari kami, ketemunya aja kebetulan dan ngga sengaja nyari2 bule.

Well terlepas dari semua itu, uang dan materi memang sudah di atas segalanya. Yang penting mereka mau kehidupan yang layak dan tidak susah.

Awas, ada juga yang memang cinta dengan orang yang jauh lebih tua dan menikah bukan karena embel2 bule.

Gue sendiri pernah naksir sama laki-laki tue, penulis favorit gue, Valerio Massimo Manfredi.

Waktu itu ngga sengaja ketemu di pameran buku, orangnya cakep, rambutnya putih, dan mukanya seperti Sean Connery. Langsung gue samperin (sebelumnya mikir2 sambil ga percaya bahwa dia ada di depan mata gue), trus gue beli buku terakhirnya dan minta tanda tangan.

Gua bilang dengan noraknya “Saya fan kamu, saya sedang membaca buku terakhir Alexander” (sanking grogi, salah lagi nyebut judulnya…hu hu).

Ternyata….umurnya sama dengan umur nyokap bokap gue…60 tahunan.
Ya udah….gitu doang, terpesona aja sama lawan jenis yang umurnya lebih tua dari gue (sambil terus mengulang-ulang frase ini: “gua suka dia karena karyanya, gue suka dia karena karyanya”). Doi arkeolog dan jadi dosen di salah satu universitas di Milan, keren ga sih?

Balik lagi ke tema yang lagi kita ngomongin. Kalo moto gue sih, don’t have sex for money, it’s just the same as being a slave!!!
Gua sering bilang, aduh sesusah-susahnya cari kerjaan…mendingan jadi tukang sapu jalanan deh…daripada menjual tubuh….amit-amit!!!!

pasangan 11:56 am

Kalau lagi kesel sama laki-laki yang aku nikahi, karena sering mengelit alias mengeles dari tugas-tugasnya di rumah, seperti hal-hal yang paling gampang, membuang sampah. Tugas yang aku bagi untuknya yang “oficial” adalah membuang sampah. Namun doski sering kali “lupa” atau mengalami amnesia yang amat dalam dengan tugas yang satu ini. Aku sering berkata dalam hati judul yang kutulis di atas “untuk wanita-wanita yang masih single….bercintalah dengan lelaki, tapi nikahlah dengan seorang perempuan”…..

Terkadang aku juga suka suruh dia bantu-bantu cuci piring, itu pun dia lakukan saat-saat terakhir, kalau sudah mepet.

Perang ini sudah ada semenjak kita tinggal di rumah sendiri, alias sekitar hampir…hmm…5 tahun. Antara teriakan dan kelembutan cara menyuruh, sampai ironi dan sinisme…semuanya sudah diaplikasi dalam perang sipil ini…Namun ibarat mulut sudah berbusa dan bibir sudah jontor, begitulah laki-laki…..walaupun dia special, namun dia tetap berjenis kelamin laki-laki.

Pembelian mesin dishwasher terpaksa ditunda karena harus “merusak” struktrur patio dan kami pikir lebih baik menunggu tawaran dari konstruktor, mungkin saja tahun ini kami harus hengkang dari rumah itu. Ada banyak penundaan reformasi rumah dikarenakan pikiran ini.

Anyway back to the subject. Ngga pernah bosan-bosannya kita berkata, kenapa sih laki-laki itu hanya bisa melakukan satu macam tugas dalam satu waktu? sedangkan seorang perempuan bisa melaksanakan bermacam-macam tugas atau pekerjaan dalam satu waktu?

Jadi untuk lebih jelasnya, wanita lebih banyak bekerja daripada laki-laki? at least di rumah….

Betul ga? betul aja deh.

Lucunya lagi…..si suamiku ini, kalau aku marah-marah karena suatu hal (salahku juga kalo lagi ngambek ngga mau bilang sebabnya apa), dia pikir aku marah karena dia tidak mengerjakan tugasnya, jadi lantas dia dengan segera membersihkan rumah. Aku jadi malah tambah marah lagi, karena sebenernya aku marah bukan karena itu. Bingung kan?

Persis seperti yang aku baca di buku “Men come from Mars and Women come from Venus” (I might be wrong in the tittle, but sounds like that). Pria selalu menawarkan solusi untuk segala problem, padahal terkadang wanita hanya perlu untuk diajak sekedar berbicara, dia tidak mau solusi dari si pria.

Terkadang karena sudah capek berdiskusi, akhirnya aku mengambil alih tugas-tugas yang ia lupakan, seperti membuang sampah, membersihkan halaman. Tugas-tugas lainnya sudah aku relakan menjadi “tugasku”. Kalau lagi malas, tidak aku kerjakan, aku biarkan saja, sebodo amat deh…rumah mau acak adul, siapa sih yang semangat pulang kerja, lantas bersih-bersih rumah. Paling-paling masak buat makan….itu yang paling penting, soalnya kalo aku ga masak ya ga ada makanan. No way deh kita bertahan dengan makanan junk food.

Kalau kekesalan sudah mencapai puncaknya, aku pikir, apa untungnya kaum wanita serumah dengan kaum lelaki. Wong 80% pekerjaan rumah dilakukan wanita, laki-laki serasa tinggal sama ibunya, makan disediain, baju dicuci dan disetrikain, gimana ga nyaman? jadi apa untungnya? apalagi aku bekerja dan sanggup membiayai hidupku sendiri. Paling butuh laki-laki buat bercinta…ha ha…that’s the truth, sounds cruel or too liberal.

I think many women found in the same situation. Gimana kalo kita pisah, masing-masing tinggal di rumah sendiri, enak ga ya? seperti orang pacaran….nikah tapi ga serumah…has anybody ever thought about this possibilty?

Dan judul di atas bukannya memacu kaum cewek untuk jadi lesbian, bukan…maksudnya kalau tinggal sesama perempuan, kan enak, betul, ngga semua perempuan mau mengerjakan tugas rumah. Namun kebanyakan perempuan lebih “care” dengan urusan rumah. At least kalau kita tinggal sama mereka rumah lebih bersih dan tertib, masing-masing lebih memperhatikan pekerjaan yang harus dilakukan, sadar gitu loh….ngga ada yang amnesia.

Yah kalau di Indonesia sih gampang, tinggal cari pembantu. Nah kalau di sini, di luar negri tidak ada budaya pembantu. Aku sendiri juga ngga setuju, ngga butuh-butuh amat bantuan pembantu, wong tinggal cuma berdua, rumah kecil, bisa dihandle sendiri (bisa dihandle sendiri kalau ada koordinasi antara dua penghuni tersebut, kenyataannya yang bekerja hanya salah satu dari mereka).

Lagi pula pembantu di Indonesia adalah bentuk dari perbudakan dan terus terang aku sama sekali tidak setuju.

Ya udah….life goes on my friends, biarpun tanganku sudah panuan nulis nulis sambil protes, mulut sudah kaku karena keseringan ngomel, laki-laki tidak pernah berubah. Camkan hal itu. Kalau kau beruntung, bisalah kau temukan laki-laki idaman itu….yang care dengan pekerjaan rumah, yang berpikiran bahwa tugas rumah adalah tugas bersama yang harus dibagi sama rata.
Ada ga sih laki-laki seperti itu? kalau ngga, ya….jangan menikah, jangan serumah sama laki-laki. Just make love with him but don’t invite him to live together… (sumpe…), kalau perlu loe test dulu deh sebulan, pake agreement dan tertulis. Kalo udah lulus sebulan, kontraknya loe perpanjang jadi enam bulan, begitu seterusnya. Kontrak memanjang jadi jangka setahun, kemudian dua tahun, kemudian lima, dst.

Iya deh….mo disebut terlalu liberal atau apalah, kalau yang baca ini laki-laki, don’t comment deh, gue ga perlu komentar loe. Kalau yang baca perempuan, pasti setuju sama gue…..kha kha kha…
_____________________________________
Post data:
Gue sendiri udah mati kutu, ngga tau gimana caranya ngebilangin dia. Gue ga bisa kan tiap hari nyuruh, sampah dibuang gih! loe kok ngga pernah bersihin halaman?

Atau hal yang paling menyebalkan, peralatan macam bor, mur, obeng, kertas-kertas berisi catatan telpon, orat oret miliknya tersebar di seluruh penjuru rumah dan gue udah ga bisa ngontrol lagi, udah capek!

pasangan 11:46 am

Eemm ternyata masih aja ngomongin selingkuhan, gara-gara kemaren sore selagi mencari-cari sumber tentang perselingkuhan, aku baca di dua surat kabar tentang penggerebekan di beberapa hotel di Indramayu dan di Bandung oleh polisi terhadap orang-orang yang dicurigai sedang berselingkuh.

Salah satu judul berita itu: “Enam pasangan selingkuh di razia” (Pikiran Rakyat, 2 agustus 2004) Isinya antara lain:
Jajaran Kepolisian Resort Bandung sedikitnya mengamankan enam pasangan selingkuh di sejumlah penginapan di kawasan Jalan Raya Ciwidey Kabupaten Bandung, saat dilakukan operasi penyakit masyarakat (pekat) pada Sabtu (31/7) malam hingga Minggu (1/8) dini hari WIB.

(Aku tersenyum-senyum saja membaca tentang ini)

Sepertinya beberapa orang atau wartawan juga salah kaprah antara selingkuh dan berzinah. Mari kita jelaskan dulu arti dari masing-masing kata.

Berselingkuh itu kan orang yang sudah menikah atau pasangan yang stabil, di mana salah satu dari mereka mempunyai hubungan intim secara konstan dengan orang lain di luar pernikahan/diluar pasangan tetap, tanpa diketahui oleh pasangan tetapnya.

Sedangkan berzinah itu artinya melakukan hubungan intim di luar pernikahan.

Lebih lanjut hanya dijelaskan di dalam berita itu bahwa polisi melihat alamat KTP tiap pasangan berbeda sehingga kesimpulannya mereka tidak menikah dan artinya mereka melakukan perzinahan (BUKAN PERSELINGKUHAN - jika itu perselingkuhan, pasangan yang diselingkuhi tidak diikutsertakan dalam berita).

Di luar konteks berita yang aku masukkan ke sini, sebenarnya hal yang membuat aku tersenyum adalah keterlibatan aparat kepolisian dalam rangka penegakkan moral masyarakat dan seperti nama operasi itu sendiri menjelaskan semuanya “Operasi Pekat (penyakit masyarakat)”

Aku juga jadi ingat pernah membaca sebuah berita bahwa di Malaysia-pun terdapat operasi dari pihak kepolisian yang berhubungan dengan perzinahan ini. Hingga pacaran ataupun berhubungan dengan seseorang yang bukan muhrimnya sama sekali dilarang.

Aku sudah mencium tema yang panjang dari pembicaraan ini…entah harus memulai dari mana.

Jelasnya pendapatku, aku sama sekali tidak setuju atas tindakan aparat kepolisian tersebut.

Pertama Indonesia bukan negara Islam sehingga tidak ada praktek hukum Islam di negara kita.
Ke dua, perzinahan dan perselingkuhan merupakan hak individual. Masalah dosa dan hukumannya adalah masalah dengan sang Pencipta di akhirat nanti.

Ke tiga, polisi sendiri adalah aparat hukum yang menegakkan hukum di negara kita yang bukan hukum Islam atau hukum agama, mereka bukan polisi-polisi agama, santri, ustad, ulama yang pekerjaan utamanya menanamkan moral di masyarakat.

Ke empat, tindakan penggerebekan ini akan merugikan usaha perhotelan di negara kita (aku pernah bekerja di sebuah hotel, pendapatan perhotelan selain dari restauran dan barnya dan penyewaan ruangan untuk pernikahan atau meeting, yang paling penting adalah penjualan kamar. Dan sebagian kecil dari pengungjung tentunya mereka yang berzinah dan berselingkuh - kenyataan, but who cares? we don’t care if they use the room for fucking up even for being in room while using drugs, they have a right and they paid for it and we get the benefit, that’s how the world works). We work at the hotel and we are not responsible for what the clients do.

Ke lima, sebagai negara yang mengaku-aku, berkeTuhanan Yang Maha Esa, dengan kata lain seluruh penduduk diwajibkan memiliki agama (tertulis di KTP masing-masing). Maksudku sebagai negara yang penduduknya beragama tentunya moral dari orang-orang yang beragama dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan kalau kenyataannya mereka bermoral bejad (selain perzinahan, negara kita juga dilanda korupsi yang maha hebat), maka perlu dipertanyakan kehidupan dan praktik beragama penduduk negara kita. Ya ga sih?

Lalu ada juga artikel tentang perselingkuhan di mana si penulis menjatuhkan vonis ke seorang istri, menurutnya jika seorang suami berselingkuh, maka itu merupakan salah si istri yang tidak bisa memuaskan suaminya.

Hm…sebenernya udah capek juga sih menentang penulisan-penulisan macam ini. Gampang ya? menyalahkan seorang wanita. Tapi aku akan bersikap adil, aku copy and paste artikel itu biar kalian bisa baca di sini (sumber: http://bagimuwanita.tripod.com/sex__penyebab_pria_selingkuh.html)

Setelah beberapa tahun usia pernikahan, seorang istri kadang-kadang lupa akan kebutuhan yang satu ini. Mereka kadang-kadang menganggap enteng hal tersebut dan merasa tidak perlu lagi membina hubungan seks karena sudah tua atau alasan lainnya. Kehangatan pernikahan haruslah dijaga dan ini menjadi tanggungjawab istri pula. Perselingkuhan terjadi karena seorang suami telah kehilangan rasa kepercayaan, penerimaan dan penghargaan dari istrinya.

Demikian pula dalam hal seks, perlulah adanya variasi agar menjadi suatu kegiatan yang tidak membosankan dan begitu-begitu saja. Selalu mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya dan pola yang sama akan menimbulkan kebosanan. Misal jika setiap Sabtu setelah berita pukul 10 malam, Anda telah tahu bahwa itu waktunya untuk bermain cinta, dan Anda bermain cinta di sisi tempat tidur yang sama dengan cara yang sama pula, tentu saja kegairahan akan pudar. Buatlah suatu perubahan yang fleksibel dan rencanakanlah permainan cinta yang baru untuk beberapa minggu ke depan. Belilah pakaian tidur baru yang seksi, parfum baru, bacalah buku tentang hubungan seksual dan bicarakanlah dengan suami Anda. Buatlah permainan cinta di pagi hari atau bangunkan dia di malam hari untuk mengajaknya bercinta. Seorang suami yang berselingkuh dikarenakan ia menemukan wanita yang lebih percaya padanya, yang memiliki kekaguman padanya seperti wanita yang dinikahinya beberapa tahun lalu. Seorang wanita yang pandai bermain cinta dan selalu siap kapan saja ia memintanya. Anda tentu saja tidak ingin hal ini terjadi pada perkawinan Anda, bukan ?
(Sumber: Be a Women by Oleda Baker)

CUIH, HUEK, PYUH…! EXCUSE ME!!! YOU xxxxx MOTHER FUCCKER….

(sorry, i get too emotional)

Oke deh, bisa memang ada kesalahan dari pihak wanita, wanita yang misalnya masih berpikiran tradisional dan hey, tidak tertutup kemungkinan wanita-wanita yang tidak cukup mendapatkan informasi tentang hubungan intim dan variasinya.
(Adow…gue serasa ahli sexologi gitu….bwah!, I am just trying to defend women above all)

Bisa terjadi, tergantung edukasi yang diterima si wanita itu dari keluarga dan lingkungannya kan? juga keluasan pengetahuan atau budaya.

Kalau memang wanita yang kurang pengetahuan, kenapa si suami sebelum mencoba-coba berselingkuh, tidak mencoba untuk mengatakan ke si istri apa yang dia mau? sebelum merusak rumah tangganya sendiri?

Kenapa ga nyoba jalan komunikasi dan keterbukaan di antara sesama pasangan, apalagi antara suami dan istri.

Satu hal lagi yang aku tidak setuju dengan artikel di atas dimana disebutkan seorang istri “diminta” untuk harus selalu siap jika si suami memintanya untuk bercinta. Wow….kalau istri itu seorang android atau robot yang selalu siap pakai, yah ok-ok saja.
Tapi kenyataannya seorang istri adalah manusia biasa, bahkan kebanyakan dari istri-istri itu juga bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Plus, dia musti bekerja lagi di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga (beruntung yang mempunyai pembantu). Jadi seorang istri tidak bisa dituntut untuk selalu siap, bahkan kenyataannya banyak wanita-wanita usia muda yang kehilangan gairah seksual disebabkan oleh stress atau lelah akibat multifungsinya di dunia ini.

Ya udah, kalo ngomongin ini ga ada abisnya, aku ambil aja kesimpulanku sendiri:
Selingkuh tuh yah opsi masing-masing. It’s all about sex, fantasy and I wouldn’t say it for love.

Kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, kamu tidak berselingkuh dengan orang yang kamu cintai. Kamu hanya berselingkuh dengan seseorang yang memberikan kamu kepuasan biologis, orang yang mendengar cerita-cerita kamu dan bisa mengerti kamu, karena dia juga butuh hal yang sama dari kamu.

Kalau kamu ternyata mencintai pasangan selingkuh kamu, berarti kamu menikahi orang yang salah.

Good God. For Heaven Sake, I will finish this once and for all….what a relieve!

Next Page »
online