puisi & fiksi, My FavoriteFebruary 11, 2006 8:42 pm

El invierno te ha devorado
No llegaste al verano
Como dice la profecía

(Musim dingin telah menghabisi dirimu
Kau tidak sampai pada musim panas
Seperti yang dikatakan ramalan)

Nos despedimos en una sala fría
En tan poco tiempo
como tu muerte sin agonía

(Kita berpisah di ruangan yang dingin
dalam waktu yang sebegitu singkat
seperti kematianmu yang tanpa penderitaan)

Una dosis letal
te llevó a un dulce y largo sueño

Sebuah dosis yang mematikan
yang membawamu ke dalam mimpi yang indah dan panjang

Añoranza nunca tiene respuesta
Sólo me imagino
estás en el horizonte
al anochecer
en el fondo del cielo
rojizo fuego como tu pelo

Kerinduan tidak pernah mempunyai jawaban
Hanya kubayangkan dirimu berada di horizon
saat malam menjelang
di langit yang paling dalam
Merah berapi seperti rambutmu

Porque no pienso pensar que hayas empezado otra vida
en otro cuerpo

Karena saya tak kan pernah mau berpikir kau telah memulai kehidupan yang lain
di raga yang lain

¡No!
Los muertos descansan en paz
tal vez esperando a sus seres queridos
todavía viven malamente en la tierra

Tidak!
Mereka yang mati beristirahat dengan tenang
Mungkin menunggu yang mereka cintai
Yang masih hidup menderita di dunia

Lloro
y te pido perdón

Saya menangis
dan saya meminta maaf padamu

Eres como un sol para mí
cálido como tu cuerpo
caliente como tu corazón

Kau seperti matahari bagiku
hangat seperti tubuhmu
panas seperti hatimu

Salúdame por las mañanas
Báñame con tu rayo
Sintiendo tú

Sapalah diriku tiap pagi
Mandikan aku dengan sinarmu
merasakan dirimu

Y cuando desciendas
sigues tan hermoso como un rey en el cielo

Dan ketika kau terbenam
kau tetap sebegitu tampan seperti seorang raja di langit

Para un amigo, que siempre nos acompañaba, disfrutaba del cálido luz del sol, dormía para despertar una vez más con nosotros.

naga.

perempuan, My FavoriteOctober 27, 2005 2:57 pm

Ketika umur saya memasuki zona 27, 28 dan 29 - terus terang saya merindukan umur-umur di bawah angka-angka tersebut.

Entah kenapa, mungkin ada rasa takut berulang tahun yang ke tiga puluh, tiga puluh satu, tiga puluh dua dan seterusnya.

Tapi belakangan ini saya menyadari bahwa saya tepat berada pada momen-momen kehidupan yang fantastik, stabil, dewasa, kontrol dan penuh ekspektasi dalam hidup ini.

Saya tidak lagi terkadang “iri” terhadap gadis-gadis berumur 20 tahunan.

Kenapa? karena saya berada tepat dalam momen kehidupan di mana sebagai pribadi, sudah menemukan kematangan dalam berpikir dan bertindak, kehidupan emosional yang stabil dan kontrol diri dan kehidupan yang cukup kokoh.

Ibaratnya, saya sedang berada, hm…duduk di atas awan.

Mungkin kamu heran dan bingung dan tidak mengerti apa yang saya maksud.
Bisa jadi.

Hari-hari terakhir ini saya tampil beda. Orang-orang sekitar saya pun terhipnotis oleh perubahan pada diri saya terutama secara fisik.

Saya sedang gila dengan hal-hal yang berhubungan dengan kefemininan, kewanitaan.

Mungkin ada untungnya pada waktu muda, saya tidak suka bermake-up, sehingga pada umur yang menjelang kepala tiga ini, wajah saya masih berada pada zona dua puluh tahunan.

Minggu minggu terakhir inipun sering kami lewatkan dengan pergi menonton teater, hal yang tidak kami lakukan sejak lama.

Ada satu konsep yang berubah, sebagai pasangan, kami sudah seperti dua potongan yang bisa menyatu, berpisah, berubah tempat, fleksibel namun stabil.

Dan sebagai pribadipun saya punya rasa percaya diri yang lebih mantap dan optimis dari biasanya.

Walah…posting apa sih ini? sedang dimabuk narsisme atau apa?

Saya sedang mengalami satu perubahan diri yang tidak dapat saya hindari, secara tiba-tiba dan espektakuler.

Saya sedang menggali potensi yang ada dalam diri saya.

Mungkin perubahan yang terjadi dalam kehidupan laboral yang mana biasanya malah membawa kejatuhan pada sebagian orang, untuk saya malah membawa suatu berkah.

Saya siap berubah, saya siap berganti dan saya suka - karena kesiapan saya.

Mungkin sulit untuk dimengerti, saya pun tidak bisa membuka kode yang tersirat, tapi saya jalani saja.

Selama hampir tiga puluh tahun, saya sudah memantapkan garis saya, gaya saya, ide saya, pemikiran saya. Dan saya siap berubah untuk mengkikis kejelekan yang masih menempel, terus terang ada cukup banyak dan cukup sulit dikikis.

Menjelang tiga puluh, adalah seperti bunga mawar yang baru saja terbuka kelopaknya, harum, menantang untuk dicium, warna yang jelas dan indah, memunculkan keoptimisan, keindahan kehidupan dan….
Dan untungnya saya bukan pecandu alkohol, obat-obatan maupun rokok.

Life, I’ll show you how to live!!

asem manis asin, My FavoriteApril 7, 2005 4:11 pm

Hari ini aku baru aja ganti template blogku, sengaja pilih template ini, kelihatannya keren, universal, lebih dari sekedar mendunia, menggalaksi.

Juga dalam rangka penemuan planet-planet di luar sistem solar kita oleh para ahli belum lama ini.

Dulu jaman SMA, tahun 90-an, bayangin kita tentang tahun 2000 itu berbeda sekali, bayangin dan pertanyaan saya, apakah kehidupan kita nanti sudah seperti di film Star Trek? Sudah ada hubungan planet-planet antar galaksi? kesatuan civilisasi di bawah suatu federasi? hubungan antara manusia dan mahluk-mahluk aneh seperti Klingon- mungkin? atau penghuni Mars yang berwarna hijau dan bertubuh pendek? Pesawat-pesawat yang indah seperti Enterprise-nya kapten Jean-Luc Picard? ha ha ha…

Ternyata tahun 2000 manusia belum mempunyai teknologi sejauh itu. Kita masih saja bertanya-tanya, “adakah kehidupan di luar bumi kita?”

Saya optimis akan perkembangan teknologi dan penjelajahan manusia ke luar bumi, walaupun tentu memakan waktu dan biaya yang besar. Sampai saat ini kita masih berhipotesis tentang adanya kehidupan di Mars di masa lampau.

Kalau pengetahuan yang kita punya, sampai saat ini mengatakan bahwa sumber kehidupan adalah air, apakah jauh di luar sana, kehidupan bisa dimulai dari sesuatu yang “mirip” dengan air, ataupun mungkin bukan air? mungkin teori di bumi tidak dapat disamakan dengan teori di alam yang lain, mungkin?

Bagaimana awal dari segalanya? mungkin sulit bagi para ahli mengatakan, adanya Tuhan dari tidak ada menjadi ada.

Tahun berapakah Adam turun ke permukaan bumi? apakah ada Adam-adam yang lain selain Nabi Adam AS nenek moyang kita?

Ada apakah di luar galaksi Bima Sakti? materi apa gerangan yang bergejolak di luar sana? apakah hanya gas-gas belaka? Apakah rencana Tuhan untuk manusia di muka bumi? apakah suatu hari nanti terjadi kenyataan hubungan antar galaksi? pembangunan terminal-terminal di angkasa untuk kehidupan manusia? apakah aku akan masih hidup pada masa itu?

Tuhan, jika kau memang sedang tepat mendengarkan omonganku, jangan tertawa saja….

Dunia yang kecil ini dengan manusia-manusia yang kebanyakan juga berotak kecil :)

Lupakan saja kesusahan dalam hidup ini
teman yang berkhianat
utang di bank
dan sejuta masalah lainnya

semua itu membutakan kita

ada celah di luar sana yang menanti untuk dikunjungi
ada berita yang belum sampai
ada kehidupan yang ingin disentuh
ada atmosfer yang belum kita tembus
ada panas yang bukan dari matahari
tidak ada bintang melainkan gas-gas berpotensi tinggi
tidak ada lubang galian melainkan lubang hitam (black hole)
hujan yang bukan dari air melainkan elektromagnetik
radio yang bukan FM melainkan radio dari sebuah bola besar di ujung galaksi

halo halo manusia di bumi
kenapa kau masih termenung di sana?

puisi & fiksi, My FavoriteMarch 8, 2005 12:19 pm

Aku…..
berdiri sendiri di muka pantai.

Di belakangku terdengar suara burung-burung gaviota. Di depanku pasir putih dan ombak yang menerjang pantai. Aku berjalan mendekati laut dan dapat mencium baunya yang semerbak.
Aku membasahi kakiku hingga air sampai di betisku, sesaat kutatap langit yang biru, bersih tanpa awan, kemudian aku kembali menjauhi laut.

Setelah beberapa langkah, aku menjatuhkan diri di pasir yang putih, terlentang, sekali lagi menatap langit yang biru. Kurasakan angin pantai melewati tubuhku, namun dalam waktu yang sama, kurasakan panasnya matahari yang terserap oleh tubuhku, kupejamkan mataku sesaat.
Kurasakan panas mentari yang merasuk sampai ke tulang-tulang tubuhku, ah….seperti makanan yang menenangkan perut yang lapar.

Aku dapat merasakan berat tubuhku dan dapat kurasakan pula pantai yang menolak berat badanku. Aku dapat mendengar nafasku yang perlahan dan bunyi yang menyerupai detak jantungku atau mungkin denging keheningan?

Masih terdengar suara burung-burung pantai yang bersahut-sahutan.
Sesekali suara ombak dan bau laut yang menghampiri wajahku karena dorongan angin. Pasir pantai melekat erat di lengan, kaki dan rambutku, seakan mereka kulit tubuhku.

Tiba-tiba aku tersadar dan berkata dalam hati, “rasanya aku pernah mengalami saat-saat seperti ini, sepertinya ini yang kedua kalinya”.

Kemudian aku membalikkan tubuhku, punggungku kini menghadap langit, tepat ketika itu kulihat rumah putih dibelakangku. Ia terbuat dari kayu, di depannya terdapat teras, dan dari sisi kiri sampai sisi kanan rumah itu ditutupi oleh jendela perancis yang kusennya di cat berwarana putih, tanpa kain, hingga cahaya masuk ke dalamnya dan menerangi seluruh isi rumah. Rumah idamanku.

Di samping kiri dan kanannya terdapat beberapa buah pohon kelapa. Di terasnya terdapat sebuah ayunan, sebuah kursi goyang dan satu meja di tengahnya. Semua di cat berwarna putih.
Aku tersenyum, lama, sambil memandangi rumah mungil itu. “Tentu sayangku, aku akan kembali kepadamu”

Aku mencoba bangkit dari pantai, namun badanku terasa amat berat. Aku mencoba menggerakkan ke dua tanganku, namun keduanya tampak tidak berhubungan dengan badanku. Aku mencoba menggapai rumah itu dengan tangan kananku, “tunggu aku, kumohon, aku akan sampai segera”…

Kepalaku mulai terasa pening dan pandangan mataku menguning dan…..oh, keningku terasa nyeri.
______________________________________

“Lapor kepada pos pusat, kami temukan sebuah perahu nelayan Krakatau jam 5 dari titik pusat, ganti”
“Ada tanda-tanda awak kapal selamat, kapten? Ganti”
“Tampaknya tidak ada satu orangpun. Kapal tampak tidak berpenghuni dan tiang utama layarnya hancur”
“Kapten, saya mohon hentikan pencarian. Badai akan menuju selat dalam waktu satu jam”
“Konfirmasi. Kami akan kembali ke pusat”

_____________________________________________-

Keesokan paginya di pulai Beturu, Majid bersiap berlayar dengan perahunya, ia berjanji menunggu kedatagan Barsofi di sekitar perahu.

Ketika ia sedang mempersiapkan jalanya, ia melihat sesuatu yang tak bergerak di terjang ombak. Dia berharap itu bukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh seorang nelayanpun.

Ia berlari tergesa-gesa menghampiri sesuatu itu sambil terus berdoa.

Ia berjongkok di samping tubuh yang tengkurap itu, rambutnya hitam dan panjang. Kemudian ia balikkan tubuh mayat itu, seorang wanita, kira-kira seumur dengannya 30 tahunan. Keadaan mayat masih tampak bagus. Hanya ada luka di jidatnya, tak ada darah, karena air lautpun telah membersihkannya.

Ia memakai kaos putih dan celana pendek berwarna kaqui. Di lehernya tergantung sebuah kalung, dengan lempengan bergambar naga, dibaliknya terdapat tulisan, “nagasundani, 1946″
Betul, kalau hari ini tepat tanggal 17 januari 1976, wanita ini berumur kurang lebih 30 tahun.
Majid menatap wanita itu. Menunggu kedatangan Barsofi, agar dia memberitahu kepolisian setempat.

Sampai sore hari, kepolisian setempat tidak mendapat kabar adanya perahu nelayan yang hilang maupun keluarga yang mencari-cari sanaknya yang hilang. Maka warga setempat memutuskan untuk menguburnya dengan pemakaman yang sederhana namun dihadiri oleh para keluarga nelayan.

“Paling tidak, ketahuan namanya – kalaupun betul itu namanya, bisa ditulis nanti dibatu nisannya, kalau-kalau ada keluarga yang menuntut”, bisik seorang warga.

“Tampaknya ia tidak mati tenggelam, ia mati karena kepalanya terbentur sesuatu, mungkin tiang perahu atau sebatang pohon? lalu ia tak sadarkan diri lagi, hingga gelombang pasang membawanya ke pulau ini” Majid menjelaskan kepada tetangga-tetangganya.

“Herannya, sedang apa wanita itu berlayar sendirian?”, sahut Barsofi.

Sementara itu 50 kilometer ke utara dari pulau Beturu, perahu yang bernama Krakatau itu berhasil diselamatkan dan dibawa ke daratan oleh pihak yang berwajib.
Di dalam kapal yang tergenang air laut, hanya terdapat jala, botol air minum dan sebuah tas kain.

“Inlander….” bisik seseorang dengan perawakan tinggi dan paras wajah yang asing. “Mansur, kowe orang tau milik siapa perahu ini?” tanya komendan Van Huissen yang masih menjadi juragan perkebunan di daerah itu.

“Milik Inlander tuan” jawab Mansur acuh tak acuh.

Van Huissen hanya menghela nafas panjang, “Kalau itu saya sudah tahu, dasar jongos”
“Sudah, pergi kau sana. Selesaikan saja urusan surat Tuan untuk bupati Karang Asem itu heh dan jangan kamu kembali sampai mendapat jawaban”.

Van Huissen menghisap pipanya, kemudian duduk di dalam perahu itu sambil memeriksa isi tas hitam itu. Diantara isinya terdapat sebuah buku tulis yang tintanya sebagian besar meluntur oleh air laut.

“Inlander ini menulis bisa hah?”….

Di awal lembar buku itu tertulis, “di tulis oleh nagasundani, di mulai tahun 1975….”

Belum banyak yang ditulis oleh orang ini sebelum badai menghempaskannya ke tengah lautan.

Van Huissen sampai pada halaman terakhir, ia tampak memfokuskan matanya pada judul catatan terakhir si inlander, “Kematianku” bisiknya sambil memincingkan matanya.

_______________________________

Entah berapa lama aku dalam keadaan tidak sadar, aku ingat terakhir kali menatap rumahku. Ingat merasakan berada di dalamnya, menatap ombak dari jendela-jendela perancis yang aku buat sendiri dengan bantuan temanku Ismail.

Ide memasang jendela-jendela perancis itu terima kasih atas deskripsi seorang teman yang pernah berkunjung ke Eropa untuk belajar dan melihat keindahan bangunan-bangunan di sana. Namun karena kaca sangat mahal, maka daripada menggunakan kaca, akhirnya jendela-jendela itu berubah menjadi pintu-pintu kecil yang senantiasa aku buka semenjak sang Surya menyongsong bumi.

Lalu, rumah yang kutatap sesaat yang lalu, rumah idamanku dengan jendela perancis yang menggunakan kaca! Kristal! Mungkin itu hanya mimpi…aku tak sanggup membeli kaca-kaca itu….

Tiba-tiba, ketika aku berhasil membuka mataku dan merasakan peningnya keningku, di depanku berdiri seseorang, tampak seperti laki-laki yang menggunakan jubah putih.

Matikah aku? Di mana aku?

Ia tersenyum melihatku.

“Ya Tuhan” ucapku untuk pertama kalinya.
“Kaukah…? kaukah yang disebut-sebut malaikat pencabut nyawa?”
(Terus terang saat itu aku tidak tahu namanya dan masih tidak peduli)

Ia tidak menjawab.

“Tuhan….jadi benar ada Tuhan? Ada surga dan ada neraka??? ada malaikat-malaikat dan syeitan?”

Oh mampuslah aku yang selama ini tidak percaya pada semua itu.

Laki laki berjanggut putih itu tetap tidak bersuara, entah mengapa. Mulutku juga tidak terbuka namun dia dapat membaca pikiranku. Tubuhku pun seperti yang hilang, ringan, dan kepeningan itu tidak lagi kurasakan.

Kemudian ia menunjukkan sebuah gambar yang nyata, seperti kehidupan di dunia yang lain, seorang keluarga yang melahirkan bayi keduanya, bayi perempuan, yang menangis meronta-ronta di gendongan ibunya.

“Apa maksudmu? Kau akan memberiku bayi itu?” pikirku, namun dia tetap tidak menjawab.

Pada saat itu, laki-laki yang aku panggil sebagai malaikat pencabut nyawa itu berbicara kepadaku tanpa membuka mulutnya.

“Karena kau tidak percaya akan kekuasaan Tuhan, kaupun tidak percaya akan adanya surga dan neraka, maka kami akan mengirimmu kembali ke bumi. Kau akan berinkarnasi di dalam tubuh bayi itu, usahakan untuk berbuat kebaikan dan senantiasalah berdoa kepada yang Maha Kuasa anakku supaya kau diberi petunjuk olehNya”….

Kala itu aku ingin menjerit dan menikam laki-laki itu….namun sekali lagi tangan-tanganku tidak berdaya dan tubuhku kosong. Aku hanya…spectrum? bayangan?

“Tuhan….ini sungguh tidak adil. Biarkanlah aku mati. Biarkanlah aku tidak ada. Tidak ada di manapun, di bumi maupun di langit! Aku mohon….”

Namun pada saat aku ingin berontak dan menangis menjerit, yang aku dengar hanyalah suara seorang perempuan yang menggendong tubuhku dan berupaya menenangkan diriku.

………………………………………………………………….

Pemberontak yang mereka katakan itu turun dengan dua sayapnya
Terhempas di muka bumi
Seorang diri
Sambil bertanya-tanya apa yang telah diperbuatnya
Hingga Tuhan dan seluruh armadanya murka kepada dirinya

Kata mereka dia sesat
Kata mereka dia tidak lain hanya seorang pembantu yang memberontak
Kata mereka dia telah menghasut malaikat-malaikat lainnya

Dia tidak merasa sesat, dia bukan pengkhianat
Namun yang lainnya tidak mengerti

Dia hanya mencari kebenaran

Dia merasa tanpa jiwa
Dia tidak ingin dikendalikan
Diperintah, disuruh-suruh maupun dimiliki
Dia ingin bebas dan lepas

Namun beratlah jalan yang dia ambil
Tak seorangpun yang ingin menolongnya

Kebebasan diri dan jiwa harus diraih dengan kesepian, tangis dan darah
Tanpa teman, tanpa belas kasihan
Kadang dengan hujatan dari berbagai penjuru

Maka kumulai jalan ini dengan langkah
Walaupun di akhir aku harus kembali padaMu

asem manis asin, My Favorite 12:11 pm

Pernah ga kamu ngirim email ke seseorang, kemudian nyesel….trus sanking nyeselnya, kamu tanya ke temen sebelah kamu yang ahli komputer, “Ko, kalo email udah kekirim, ga bisa di delete di perjalanan ya?”

Ha ha ha ha……mau nangis deee kite….

Temenku cuma tersenyum aja sambil mikir “rasain lu…”.

Kebayang deh tuh email yang sudah berubah menjadi dot dot 1000111000 sedang melalui kabel-kabel dan server-server, melintasi perjalanan dari satu benua ke benua yang lainnya. Trus kamu mencoba menginjak-injak kabel itu biar emailnya mogok di suatu tempat! Dasar….atau membayangkan seekor kurcaci yang bekerja di dalam mesin server bisa membantu kamu mencari email bangsat yang telah terkirim itu….

Atau misalnya, kamu melakukan suatu kesalahan fatal, seperti minjemin duit ke seseorang padahal kamu butuh duit itu. Nah setelah kamu sadar bahwa apa yang kamu perbuat itu salah, rasanya pengen kejadian itu bisa diinformatisasi, tinggal mengklik “UNDO”, semuanya kembali seperti semula….

JELAS GA BISA….!!!!

Tapi pengen kan? atau pernah mengalami kejadian itu?

Kalau saja dalam kenyataan kita bisa mengkansel, meng-undo, semua kesalahan kita…dunia ini menjadi lebih mudah ya? Tapi sayangnya tidak begitu.

Tapi, ya sudah. Terkadang dalam hidup ini diperlukan keberanian, mengambil resiko apa yang telah kamu lakukan.

Yang jelas pesenku, hati-hati ya, kalau menulis email, jangan ada kata-kata yang jelek, karena terkadang, mau mengklik “save” eh mousenya keterusan dan mencet…”SEND”….
Bahaya kan?

asem manis asin, travel/places, My Favorite 11:48 am

He he…sebenernya kagak ade nyang aneh kok ke Sukabumi dari Jakarte, pasnye dari terminal Kampung Rambutan. Cume aje bisnya buttttuuuttt…….banget. Pertame kali aye nemplok di temrinal itu, pagitu masuk nyang bagian anter kota-nye, waduh, aye di colak colek, ditawarin ke Bandung sama preman-preman di sono….serem juga sih…Sampe akhirnya nemuin bis nyang ke Sukabumi, warna item, udah tue. Ngga kayak bis-bis nyang ke Merak dan Bandung, masih pade baru dan gres.

Nah, udahan naek kite dapet tempat duduk, bis ga langsung jalan, biasanye ngetem barang setengah jam, pas lagi gitu, yeah biasa de…tukang-tukang jualan santer nawarin dari mule nyang jual majalah Nova, aye kagum ame die. Tu abang, rupanye sebelum jualan dia baca dulu tuh isi majalah, apal juga die. Mule dari resep-resep masakan ampe kehidupan rume tangge Paramita Rusadi.

Ada lagi nyang jualan Dunkin Donut paslu, donatnya mirip donatnya Dunkin, tapi namanya jadi Donat Rahman….(berkah kan?), sepuluh biji cume dua belas ribu perak. Asli buatan betawi, dijamin kenyang meneer.

Disusul nyang jualan-jualan lainnye, permen, buah-buahan, nintendo, buku cerita abu nawas, topi, etc. etc. Kalu nyang jualan buah, kalu ada buah nyang ga manis, boleh dibalikin, semuanye! jaminan mutu seratus persen, asal berani aja manggil balik abangnye.

Nah…cuma giliran balik dari Sukabumi menuju Jakarte, jangan lu ambil bis ini deh, ngetemnya bisa satu jam! di terminal Cibadak. Duh amit-amit….pantat aye ude nge-pas di kosri, sanking lamenya di situ. Mane nyang ngamen, abis naik satu, naik lagi pengamen nyang laen. Kalo kite ga ngasih, yeh…pasang muka cembetut, sambil nyodor2in plastik biar diisi receh. Dasar aje pade males cari gawean! nyawah gih lu….mending suare bagus.

Kalo mo cepet baliknye, naik colt, walaupun idup kite di ujung tanduk, soalnye pade ngebut….dari Sukabumi ampe tol cipanas cume empat ribu. Dari situ lu ambil deh bis-bis nyang ke Jakarta, biasanye kan ke kampung rambutan.

Nah ade satu pemandangan nyang amat menyakitkan ati aye, ade orang minta-minta sumbangan buat pembangunan mesjid. Pertama-tama die bagi-bagiin amplop ke setiap penumpang. Sambil ngejelasin die lagi minte sumbangan. Eh…abis itu die mulai ngaji Al Quran….pake suara dibagus-bagusin segale.
Wah…ngaco kan tuh! malu-maluin…itu namanye jual ayat suci.

Pokoknye kalu jalan-jalan di Jakarte tuh, receh bisa abis di pengamen ame sumbangan2, kalu naik mobil pribadi, abis di polisi cepek ame parkiran. Ngga ngasih kasian…
Beginilah negara aye, kagak ada tunjangan sosial. Tapi warganye juge padat, ngga pernah kali ye? mikirin KB. Anak brojol dua tiga, entar sekole cume ampe madrasah, abis itu kawin, jadi tukang ojek, ato jualan di jalan….

Aduh….tapi hayu aja….begitu, kagak belajar, kagak liat orang tuenya punye banyak anak susye, dienya sama, malah begitu juge….heran aye!

Coba, pendapatan jual tahu sumedang di jalanan dapet berapa sih sehari? gimane juge kalu anak sakit? ape ade biaya pengobatan? buat makan sehari-hari aje susye…Kalu ude begitu, mo nunggu bantuan dari nyang di atas?
Aye mah ngga kepikiran idup kayak begitu….

asem manis asin, My Favorite 11:47 am

Tiga atau empat hari sebelum aku kembali ke Madrid, aku menyempatkan diri untuk membeli pesanan Antonio, suamiku, sepasang sepatu tenis dan sepasang lagi untuk lari.

Maka pergilah aku ke pasar Blok M, persisnya di bawah terminal di mana terdapat toko-toko di sepanjang jalan. Setelah mendapatkan satu pasang, aku memasuki toko yang lain-lain hingga mendapatkan sepasang sepatu tenis yang cocok.

Dimulailah pembicaraanku dengan dua pegawai toko yang ramah, seorang laki-laki muda dan seorang perempuan dengan umur sebayanya. Setelah melihat satu pasang sepatu yang cocok, berwarna putih seperti yang disukai Antonio dan kebetulan pula merek itu sedang didiscount.

Aku: “Yang ini mas, yang nomer 43.”

Si mas naik ke atas loteng untuk mencari sepatu dengan merek yang aku maksud. Namun setelah mencari-cari selama sepuluh menit, dia tidak menemukan sepatu yang aku mau.

Mas penjual: “Adanya cuma nomer 42 mbak. Nomer 42 aja ya?”
Pikirku, walah…kok maksa, yang namanya ukuran kaki kan mana bisa dirubah-rubah?

Aku: “Ngga mas, orang mintanya nomer 43 kok….”

Maka pergilah si mbak keluar dari toko tersebut untuk mencarinya di tempat lain (tidak jelas apakah mereka mempunyai satu gudang di luar toko, atau ia mencarinya di toko tetangga)

Setelah lima sepuluh menit ia kembali dengan tangan hampa. Maka akhirnya aku memutuskan untuk mengambil merek yang lain yang agak sedikit lebih mahal. Sembari si mas naik lagi ke loteng toko itu untuk mencari sepatu yang aku maui, si mbak mulai mengajak aku ngobrol.

Mbak: “Sepatu untuk siapa mbak?”
Aku: “Untuk suami”
Mbak: “Hah….udah bersuami? Saya pikir belum…ngga ada tampang”
Aku (tersenyum-senyum, bukan GR! Tapi mulai memasang mental “keramahtamahan Indonesia” yang masih tersisa…cie…)

Mbak: “Saya baru aja nikah juga, baru 7 bulan”
Aku: “Oh…” (sebetulnya aku juga mau bilang bahwa ia tampak pula terlalu muda untuk menikah, namun aku rasa komentar itu akan menyamai komentarnya dan terdengar bodoh)

Mbak: “Kok suaminya ngga dibawa mbak?”
Aku: “Sibuk, kerja.”
Mbak: “Udah punya anak mbak?” (PERTANYAAN STANDAR)
Aku: “belum”
Mbak: “Emang udah berapa tahun menikah?”
Aku: “Enam tahun”
Mbak: “oh…

Sementara itu aku berharap si mas turun dengan sepatu yang aku mau untuk cepat-cepat hengkang dari ruang interogasi .

Mbak: “kok belum punya mbak?”
Aku: “Yah belum mau aja, belum siap” (terkadang kesabaranku bisa hilang sesaat, namun aku harus menenangkan diri, demi mendapatkan sepatu yang aku mau)

Tepat ketika itu si mas turun dari loteng dengan sepatu yang aku mau, aku berteriak gembira dalam hati, karena kalau tidak, pertanyaan yang akan dilempar selanjutnya bisa:
Mbak: “KB- nya pake apa ya mbak?”

Bisa, bisa terjadi di Indonesia, seseorang yang hendak membeli sepatu “dipaksa” untuk membeberkan alat kontrasepsi apa yang ia gunakan, umur, status, pekerjaan dan tempat tinggal- kalau perlu- jika saja pencarian sepatu di gudang terus berlanjut.

Pernah juga ketika aku hendak mencuci foto, aku mencegat ojek di jalan Legoso.

Aku:”Bang, coba tolong anterin saya ke tempat cuci foto”
Bang Ojek:”Di mana ya neng? Saya kurang tau”
Aku: “Kalo ngga salah di depan UIN ada satu bang”
Abang: “O iya..”

Setelah menyingkat jalan melalui gang-gang maka diturunkanlah aku tidak jauh dari toko yang aku maksud (sebenernya kita sendiri melawan arah jalan raya, jadi si abang ngga mau nerusin tepat sampai tujuan, biasa, ini kan jalan gaya indonesia)

Aku: “Berapa bang?”
Abang Ojek:” Yah terserah deh berapa”
Aku jadi heran, kok si abang ngga bisa nentuin harga.

“Dua ribu?” tawarku.
“Tiga deh” saut si abang.

Setelah transaksi selesai, aku berjalan kaki ke toko itu. Keluar toko setelah tidak mendapatkan yang aku mau, aku berjalan kaki menuju pangkalan ojek terdekat. Aku mengambil satu ojek sambil menyebutkan alamat rumahku.

Di perjalanan: “Udah neng nyuci fotonya?” tanyanya.
“Ngga jadi soalnya ga ada yang cuci kilat”…

Namun setelah itu aku merasa heran dengan pertanyaannya, darimana ia tau kalo aku baru saja dari toko foto, padahal kan ia mangkal cukup jauh dari toko itu hingga aku tak mungkin terlihat keluar dari situ? Dan ia juga bukan tukang ojek yang sama yang mengantarku pergi ke situ.

Nah…..
_____________________________

Cerita sampai di situ selesai. Namun pangkalan ojek itu ternyata kamuflasi dari jaringan intel kepolisian resort Ciputat.

manusia/renungan, My Favorite 11:12 am

Susah juga nih mau mulai bicara masalah kepercayaan kepada Tuhan. Yang jelas dari dulu manusia selalu mencari Tuhannya, baik hasilnya Tuhan dalam bentuk manusia, binatang, fenomena alam, atau Tuhan yang tidak dapat dilihat namun diyakinkan keberadaannya oleh banyak orang.

Lucunya gini, kebanyakan manusia berbicara kepada Tuhannya ketika dia dalam keadaan membutuhkan, dia pikir kalo dia berbicara dan memohon kepada Tuhannya, pasti dia akan tertolong. Sedangkan kalau dia sudah terselamatkan, dia langsung lupa akan Tuhannya. Ini terjadi pada saya, anda dan banyak orang. Ngaku aja deh…

Saya tidak menindas kemungkinan akan adanya manusia-manusia yang selalu mencari keberadaan tuhannya atau selalu mengabdi kepada tuhannya. Orang-orang yang solat 5 waktu sehari, orang-orang yang pergi ke misa tiap hari minggu, dan seterusnya.

Sama ngga sih orang yang solat lima waktu dengan yang ngga? orang yang pergi ke misa dan orang yang ngga? woah..jelas beda, menurut orang-orang yang mengabdi, mereka bilang, orang yang ingat akan Tuhannya pasti akan lebih disayang, dilindungi dan seterusnya.

Bagi saya yang mengaku muslim, sulit mempertahankan kemauan saya untuk berkomunikasi dengan Dia lima waktu sekali. Padahal tiap kali cuma lima menit. Dalam keadaan di mana saya sedang merasa stabil, baik dan tidak membutuhkan pertolongannya, maka secara perlahan-lahan, solat saya tinggalkan. Namun tidak betul kalau saya lupa Tuhan begitu saja. Saya sadar kalau Tuhan ada di hati kita, di nafas kita, di langit dan di mana-mana.
Dengan ini pula, saya ingin mengakui kejelekan saya demi mengerti bagaimana mencapai diriNya.

Dalam halnya berbagai agama menuliskan keberadaan Setan dan Malaikat. Tugas Setan menggoda diri kita supaya menjauhi jalanNya. Sedang Malaikat mencatat perbuatan kita, saya sendiri tidak tahu jika malaikat mengajak kita berbuat baik atau tidak, saya harap demikian…

Bagi saya, kejelekan saya adalah dari diri saya sendiri, bukan karena godaan setan, karena bagi saya setan tidak tampak dan sulit dimengerti jika dia ada di samping saya setiap waktu untuk menjeremuskan saya.

Setiap solat selalu saya meminta kepadaNya supaya Dia membimbing saya dan memelihara keadaan “baik” di mana saya menjalankan perintahNya. Namun pada akhirnya selalu gagal, selalu saja saya meninggalkan perintahNya. Inilah yang menjadi pertanyaan saya. Kenapa saya selalu gagal? apakah saya ditakdirkan menjadi seorang pemberontak? sampai kapan?

Ketika saya pikir saya adalah salah satu dari orang-orang yang telah memilih jalan yang benar, ternyata kemauan saya malah tertelan di tengah jalan. Kadang tanpa saya sadari. Saya tidak mengerti, salah di mana? kenapa tidak berfungsi doa-doa saya? ada di mana saya? kenapa saya berbeda dengan golongan orang yang mengabdi tersebut? kenapa saya selalu terlempar keluar darinya?

Saya salut melihat orang-orang yang bisa mengabdi dan menjalankan perintahnya secara kontinyu dalam kehidupannya sehari-sehari.

Namun sebenernya, apakah orang-orang yang melaksanakan solat sejak lama akan mampu mencapaiNya, menggapaiNya? apakah tindakan-tindakan mereka akan menyerupai perbuatanNya? apakah orang-orang itu akan mempunyai sikap sempurna yang patut dicontoh oleh orang-orang di sekelilingnya? Jawabannya harus. Namun kenyataannya tidak banyak yang berhasil.

Terkadang terlalu banyak hukum-hukum agama, syariah dan peraturan2 yang disepakati yang justru membutai orang-orang untuk berbuat kebaikan, orang-orang yang dikatakan mengabdi tersebut.

Contohnya, segolongan orang berpendapat bahwa kaum muslimin dilarang mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani, karena dengan begitu, kaum muslimin mengakui keberadaan Yesus Kristus. Padahal….teman baik saya beragama nasrani!!!

Contoh lainnya yaitu kenajisan anjing. Dan masih banyak contoh-contoh yang absurd dalam Islam bagi diri saya.

Yang tinggal pada diri saya, entahlah….bersyukur kalau saya selalu mengalami krisis kebatinan. Dimana dalam krisis itu selalu terdapat pencarian.

Cukup sudah mempelajari hal-hal yang absurd yang diputuskan oleh segolangan orang.

Kini pandangan saya hanya Tuhan dan manusia. Hapus saja dulu agama dan ritualnya, dengan pernyataan ini saya akan langsung dihujat.

Kenapa tidak langsung menelusuri keindahanNya, ciptanNya, kemurahanNya, dan seterusnya. Dengan begitu kita akan mengerti mengenai diriNya.

Kemarin, ketika pulang dari pegunungan, ada satu pohon yang kami lewati, ketika itu saya berada di dalam mobil. Pohon itu seperti berbicara pada saya “ini aku, pohon, aku hidup”. Tampaknya juga beliau sedang berjalan dan miring ke arah sang surya.
Bagus kan?

Pohon itu cuma mengingatkan akan kebesaranNya.

Yang harus kita lakukan mungkin berdiam untuk menyadari hal-hal yang ada di sekeliling kita, membuka hati dan mata kita terhadap manusia-manusia ciptanNya, tumbuhan dan binatang di sekitar kita, tanah, laut dan pegunugan milikNya.

Cukup sudah perang antara kristen dan islam, cukup sudah perang antara siapa yang paling benar.

Manusia dan masalahnya semakin kompleks, itulah tipu daya yang menghalangi kita melihat atau mencari kebenaran.

Tidak banyak teman yang mengerti jalan pikiran saya, terutama dari golongan yang mengabdi tersebut. Tersesat, mungkin itu diri saya bagi mereka.

Kontinyu…(mungkin…)

online