Aku…..
berdiri sendiri di muka pantai.
Di belakangku terdengar suara burung-burung gaviota. Di depanku pasir putih dan ombak yang menerjang pantai. Aku berjalan mendekati laut dan dapat mencium baunya yang semerbak.
Aku membasahi kakiku hingga air sampai di betisku, sesaat kutatap langit yang biru, bersih tanpa awan, kemudian aku kembali menjauhi laut.
Setelah beberapa langkah, aku menjatuhkan diri di pasir yang putih, terlentang, sekali lagi menatap langit yang biru. Kurasakan angin pantai melewati tubuhku, namun dalam waktu yang sama, kurasakan panasnya matahari yang terserap oleh tubuhku, kupejamkan mataku sesaat.
Kurasakan panas mentari yang merasuk sampai ke tulang-tulang tubuhku, ah….seperti makanan yang menenangkan perut yang lapar.
Aku dapat merasakan berat tubuhku dan dapat kurasakan pula pantai yang menolak berat badanku. Aku dapat mendengar nafasku yang perlahan dan bunyi yang menyerupai detak jantungku atau mungkin denging keheningan?
Masih terdengar suara burung-burung pantai yang bersahut-sahutan.
Sesekali suara ombak dan bau laut yang menghampiri wajahku karena dorongan angin. Pasir pantai melekat erat di lengan, kaki dan rambutku, seakan mereka kulit tubuhku.
Tiba-tiba aku tersadar dan berkata dalam hati, “rasanya aku pernah mengalami saat-saat seperti ini, sepertinya ini yang kedua kalinya”.
Kemudian aku membalikkan tubuhku, punggungku kini menghadap langit, tepat ketika itu kulihat rumah putih dibelakangku. Ia terbuat dari kayu, di depannya terdapat teras, dan dari sisi kiri sampai sisi kanan rumah itu ditutupi oleh jendela perancis yang kusennya di cat berwarana putih, tanpa kain, hingga cahaya masuk ke dalamnya dan menerangi seluruh isi rumah. Rumah idamanku.
Di samping kiri dan kanannya terdapat beberapa buah pohon kelapa. Di terasnya terdapat sebuah ayunan, sebuah kursi goyang dan satu meja di tengahnya. Semua di cat berwarna putih.
Aku tersenyum, lama, sambil memandangi rumah mungil itu. “Tentu sayangku, aku akan kembali kepadamu”
Aku mencoba bangkit dari pantai, namun badanku terasa amat berat. Aku mencoba menggerakkan ke dua tanganku, namun keduanya tampak tidak berhubungan dengan badanku. Aku mencoba menggapai rumah itu dengan tangan kananku, “tunggu aku, kumohon, aku akan sampai segera”…
Kepalaku mulai terasa pening dan pandangan mataku menguning dan…..oh, keningku terasa nyeri.
______________________________________
“Lapor kepada pos pusat, kami temukan sebuah perahu nelayan Krakatau jam 5 dari titik pusat, ganti”
“Ada tanda-tanda awak kapal selamat, kapten? Ganti”
“Tampaknya tidak ada satu orangpun. Kapal tampak tidak berpenghuni dan tiang utama layarnya hancur”
“Kapten, saya mohon hentikan pencarian. Badai akan menuju selat dalam waktu satu jam”
“Konfirmasi. Kami akan kembali ke pusat”
_____________________________________________-
Keesokan paginya di pulai Beturu, Majid bersiap berlayar dengan perahunya, ia berjanji menunggu kedatagan Barsofi di sekitar perahu.
Ketika ia sedang mempersiapkan jalanya, ia melihat sesuatu yang tak bergerak di terjang ombak. Dia berharap itu bukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh seorang nelayanpun.
Ia berlari tergesa-gesa menghampiri sesuatu itu sambil terus berdoa.
Ia berjongkok di samping tubuh yang tengkurap itu, rambutnya hitam dan panjang. Kemudian ia balikkan tubuh mayat itu, seorang wanita, kira-kira seumur dengannya 30 tahunan. Keadaan mayat masih tampak bagus. Hanya ada luka di jidatnya, tak ada darah, karena air lautpun telah membersihkannya.
Ia memakai kaos putih dan celana pendek berwarna kaqui. Di lehernya tergantung sebuah kalung, dengan lempengan bergambar naga, dibaliknya terdapat tulisan, “nagasundani, 1946″
Betul, kalau hari ini tepat tanggal 17 januari 1976, wanita ini berumur kurang lebih 30 tahun.
Majid menatap wanita itu. Menunggu kedatangan Barsofi, agar dia memberitahu kepolisian setempat.
Sampai sore hari, kepolisian setempat tidak mendapat kabar adanya perahu nelayan yang hilang maupun keluarga yang mencari-cari sanaknya yang hilang. Maka warga setempat memutuskan untuk menguburnya dengan pemakaman yang sederhana namun dihadiri oleh para keluarga nelayan.
“Paling tidak, ketahuan namanya – kalaupun betul itu namanya, bisa ditulis nanti dibatu nisannya, kalau-kalau ada keluarga yang menuntut”, bisik seorang warga.
“Tampaknya ia tidak mati tenggelam, ia mati karena kepalanya terbentur sesuatu, mungkin tiang perahu atau sebatang pohon? lalu ia tak sadarkan diri lagi, hingga gelombang pasang membawanya ke pulau ini” Majid menjelaskan kepada tetangga-tetangganya.
“Herannya, sedang apa wanita itu berlayar sendirian?”, sahut Barsofi.
Sementara itu 50 kilometer ke utara dari pulau Beturu, perahu yang bernama Krakatau itu berhasil diselamatkan dan dibawa ke daratan oleh pihak yang berwajib.
Di dalam kapal yang tergenang air laut, hanya terdapat jala, botol air minum dan sebuah tas kain.
“Inlander….” bisik seseorang dengan perawakan tinggi dan paras wajah yang asing. “Mansur, kowe orang tau milik siapa perahu ini?” tanya komendan Van Huissen yang masih menjadi juragan perkebunan di daerah itu.
“Milik Inlander tuan” jawab Mansur acuh tak acuh.
Van Huissen hanya menghela nafas panjang, “Kalau itu saya sudah tahu, dasar jongos”
“Sudah, pergi kau sana. Selesaikan saja urusan surat Tuan untuk bupati Karang Asem itu heh dan jangan kamu kembali sampai mendapat jawaban”.
Van Huissen menghisap pipanya, kemudian duduk di dalam perahu itu sambil memeriksa isi tas hitam itu. Diantara isinya terdapat sebuah buku tulis yang tintanya sebagian besar meluntur oleh air laut.
“Inlander ini menulis bisa hah?”….
Di awal lembar buku itu tertulis, “di tulis oleh nagasundani, di mulai tahun 1975….”
Belum banyak yang ditulis oleh orang ini sebelum badai menghempaskannya ke tengah lautan.
Van Huissen sampai pada halaman terakhir, ia tampak memfokuskan matanya pada judul catatan terakhir si inlander, “Kematianku” bisiknya sambil memincingkan matanya.
_______________________________
Entah berapa lama aku dalam keadaan tidak sadar, aku ingat terakhir kali menatap rumahku. Ingat merasakan berada di dalamnya, menatap ombak dari jendela-jendela perancis yang aku buat sendiri dengan bantuan temanku Ismail.
Ide memasang jendela-jendela perancis itu terima kasih atas deskripsi seorang teman yang pernah berkunjung ke Eropa untuk belajar dan melihat keindahan bangunan-bangunan di sana. Namun karena kaca sangat mahal, maka daripada menggunakan kaca, akhirnya jendela-jendela itu berubah menjadi pintu-pintu kecil yang senantiasa aku buka semenjak sang Surya menyongsong bumi.
Lalu, rumah yang kutatap sesaat yang lalu, rumah idamanku dengan jendela perancis yang menggunakan kaca! Kristal! Mungkin itu hanya mimpi…aku tak sanggup membeli kaca-kaca itu….
Tiba-tiba, ketika aku berhasil membuka mataku dan merasakan peningnya keningku, di depanku berdiri seseorang, tampak seperti laki-laki yang menggunakan jubah putih.
Matikah aku? Di mana aku?
Ia tersenyum melihatku.
“Ya Tuhan” ucapku untuk pertama kalinya.
“Kaukah…? kaukah yang disebut-sebut malaikat pencabut nyawa?”
(Terus terang saat itu aku tidak tahu namanya dan masih tidak peduli)
Ia tidak menjawab.
“Tuhan….jadi benar ada Tuhan? Ada surga dan ada neraka??? ada malaikat-malaikat dan syeitan?”
Oh mampuslah aku yang selama ini tidak percaya pada semua itu.
Laki laki berjanggut putih itu tetap tidak bersuara, entah mengapa. Mulutku juga tidak terbuka namun dia dapat membaca pikiranku. Tubuhku pun seperti yang hilang, ringan, dan kepeningan itu tidak lagi kurasakan.
Kemudian ia menunjukkan sebuah gambar yang nyata, seperti kehidupan di dunia yang lain, seorang keluarga yang melahirkan bayi keduanya, bayi perempuan, yang menangis meronta-ronta di gendongan ibunya.
“Apa maksudmu? Kau akan memberiku bayi itu?” pikirku, namun dia tetap tidak menjawab.
Pada saat itu, laki-laki yang aku panggil sebagai malaikat pencabut nyawa itu berbicara kepadaku tanpa membuka mulutnya.
“Karena kau tidak percaya akan kekuasaan Tuhan, kaupun tidak percaya akan adanya surga dan neraka, maka kami akan mengirimmu kembali ke bumi. Kau akan berinkarnasi di dalam tubuh bayi itu, usahakan untuk berbuat kebaikan dan senantiasalah berdoa kepada yang Maha Kuasa anakku supaya kau diberi petunjuk olehNya”….
Kala itu aku ingin menjerit dan menikam laki-laki itu….namun sekali lagi tangan-tanganku tidak berdaya dan tubuhku kosong. Aku hanya…spectrum? bayangan?
“Tuhan….ini sungguh tidak adil. Biarkanlah aku mati. Biarkanlah aku tidak ada. Tidak ada di manapun, di bumi maupun di langit! Aku mohon….”
Namun pada saat aku ingin berontak dan menangis menjerit, yang aku dengar hanyalah suara seorang perempuan yang menggendong tubuhku dan berupaya menenangkan diriku.
………………………………………………………………….
Pemberontak yang mereka katakan itu turun dengan dua sayapnya
Terhempas di muka bumi
Seorang diri
Sambil bertanya-tanya apa yang telah diperbuatnya
Hingga Tuhan dan seluruh armadanya murka kepada dirinya
Kata mereka dia sesat
Kata mereka dia tidak lain hanya seorang pembantu yang memberontak
Kata mereka dia telah menghasut malaikat-malaikat lainnya
Dia tidak merasa sesat, dia bukan pengkhianat
Namun yang lainnya tidak mengerti
Dia hanya mencari kebenaran
Dia merasa tanpa jiwa
Dia tidak ingin dikendalikan
Diperintah, disuruh-suruh maupun dimiliki
Dia ingin bebas dan lepas
Namun beratlah jalan yang dia ambil
Tak seorangpun yang ingin menolongnya
Kebebasan diri dan jiwa harus diraih dengan kesepian, tangis dan darah
Tanpa teman, tanpa belas kasihan
Kadang dengan hujatan dari berbagai penjuru
Maka kumulai jalan ini dengan langkah
Walaupun di akhir aku harus kembali padaMu