perempuan, masalah sosialApril 15, 2005 1:21 pm

Ibuku dan ibu ibu wanita karir lainnya berhasil membesarkan anak-anaknya terima kasih atas bantuan dari para Pembantu Rumah Tangga.

Siapakah sebenarnya atau bagaimana profil para Pembantu Rumah Tangga? (mari kita singkat menjadi: PRT). Sebagian besar dari mereka adalah: Wanita, dari berbagai usia, berasal dari desa-desa kecil di Jawa, dari kalangan sosial menengah ke bawah, kebanyakan berpendidikan hanya sampai sekolah dasar.

Kondisi bekerja sebagai PRT di negara kita sangat buruk: tanpa kontrak, tanpa jam kerja yang jelas, tanpa adanya limitasi pekerjaan, gaji yang rata-rata kecil, hari libur yang tidak jelas, dst.
(more…)

masalah sosialMarch 31, 2005 11:13 am

Diskriminasi bukan saja terjadi pada ras-ras atau minoritas tertentu, diskriminasi yang tak terlihat adalah diskriminasi terhadap orang-orang miskin/kelas menengah ke bawah.

Kebutaan seseorang terhadap kemajuan teknologi juga merupakan diskriminasi.

Fisik yang tidak memenuhi standar (dengan kata lain, orang-orang bermuka jelek dan bertubuh gajah), juga didiskriminasi.

Dalam dunia ini menang orang-orang: Kaya, dengan uang - kamu tidak buta teknologi dan informasi dan dengan uang, kamu bisa mempermak muka dan tubuh kamu.

Diskriminasi akhirnya mengarah kepada isolasi pada grup-grup penderita.

Isolasi terhadap kemajuan teknologi, isolasi terhadap pencapaian informasi-informasi penting, isolasi untuk mendapatkan pendidikan yang sepadan, isolasi dalam bermasyarakat karena jelek, miskin dan bau.

Grup-grup penderita akhirnya menciptakan dunianya sendiri, “dunia bawah tanah”.

Untuk orang-orang gendut, kini mereka menciptakan butik-butik untuk orang gendut karena tidak bisa menemukan pakaian yang seukuran dengannya di mal-mal atau pasar.

Orang-orang tua yang dianggap ketinggalan jaman, menjadi sungkan menggunakan komputer, sarana internet dan email bahkan telpon genggam. Orang-orang miskin juga tidak sanggup membeli telpon genggam dan tidak pernah mendengar apa itu Internet dan globalisasi.

Semua itu bagi saya adalah isolasi.

Mungkin hal itu tidak terlalu terlihat jelas di negara-negara maju, dimana pemerintahnya punya politik “sosial” yang pintar.

Indonesia yang dari sejak jaman kuda berpedoman “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sesudah lebih 50 tahun lebih merdeka dari belanda masih berada paling bawah dibandingkan negara-negara tetangganya.

Ya segitu aja ulasannya, ada dunia bawah tanah di sekitar kita yang kadang tidak kita sadari.

masalah sosialMarch 22, 2005 10:07 am

Di Amerika Serikat sekarang lagi ribut-ributnya polemik tentang hidup-matinya Terri Schiavo. Pasien wanita yang sejak 15 tahun yang lalu jatuh dalam kondisi koma. Ketika Kejaksaan Wilayah sudah memutuskan untuk menghentikan alat artificial yang mempertahankan Terri untuk hidup, George Bush datang untuk menghalangi keputusan legal itu.

Ada dua pihak yang terkait dalam kasus ini, suami Terri, yang memegang argumen bahwa Terri seharusnya berhenti hidup atas keinginannya dan hak civil nya dipenuhi. Pihak ke dua, orang tua atau keluarga dari pihak Terri yang menginginkan Terri untuk bertahan hidup.

Di balik ke dua pihak itu, tentu ada masyarakat yang mendukung anestesia- hak seseorang untuk mati secara hormat dan masyarakat religus yang anti anestesia (dalam hal ini tepatnya grup Kristen Conservativ).

Saya akui polemik ini memang hal yang sangat sensitif, apalagi jika pemeran utamanya (si pasien yang menderita) tidak meninggalkan berkas-berkas yang mengatakan keinginannya untuk mati sedangkan dalam keadaan koma, dia tidak bisa mengkomunikasikan kemauannya.

Pertanyaan akhir selalu menyangkut moral yang berbeda.

Patutkah sebuah hidup dipertahankan jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan hidup sebagaimana mustinya? jika yang bersangkutan dalam keadaan “vegetatif”? apakah itu bisa disebut “hidup” atau kehidupan? Patutkah seorang yang tidak bisa makan dan minum untuk dirinya sendiri disebut mahluk hidup? (bahkan tanaman dan binatang masih bisa melakukan itu untuk diri mereka sendiri), patutkah seseorang disebut hidup jika otaknya tidak berfungsi ataupun jantungnya dibantu untuk berfungsi?

Siapa yang patut menilai dan memutuskan nasib si pasien? haruskah ia menunggu keputusan Yang di Atas untuk terus “hidup” sampai ia dipanggil?

Belum selesai polemik tentang hidup dan mati di atas, muncul polemik “usual” lainnya yaitu tentang penembakan di sekolah-sekolah di Amerika serikat oleh pelajar. Baru-baru ini di Minnesota seorang pelajar telah menembak 9 orang di sekolahnya kemudian dia membunuh dirinya sendiri.

Dalam hal ini George Bush sebagai anggota National Riffle Asociation tidak terburu-buru untuk memutuskan pelarangan pemilikan senjata api oleh masyarakat Amerika Serikat.

Yang saya herankan, Bush yang sudah menandatangani ratusan dictamen hukuman mati bagi para tawanan penjara, kini berjuang demi kelangsungan hidup seseorang yang tidak ingin terus hidup.

Saya sendiri tidak akan berkomentar tentang kontradiksi ini, hanya tersenyum saja melihat keanehan negara ini yang semakin lama semakin kacau. Apa pendapat anda?

PD: Di Provinsi Andalucia (Spanyol Selatan) pemerintahnya memutuskan untuk membuka pendaftaran bagi masyarakat yang menginginkan haknya untuk dianestesia jika mereka suatu ketika menderita penyakit yang mana tidak bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya. Sementara ini sudah ada 1200 orang yang mendaftarkan dirinya.

masalah sosialMarch 8, 2005 2:00 pm

Memang tidak adil kalau aku yang tidak tinggal di Indonesia menulis tentang kenaikan BBM yang hari senin lalu diberlakukan oleh pemerintah SBY.

Tapi yang jelas aku lihat:

-Wajar kalau harga BBM naik, dikarenakan terbatasnya jumlah minyak bumi dan di pasaran internasional harganya memang sudah semakin mahal

-Indonesia bukan lagi penghasil utama minyak bumi di dunia

-Anggota-anggota DPR yang memanfaatkan kesempatan untuk ribut dengan pemerintah, seakan-akan mereka membela kepentingan rakyat kecil, padahal masih banyak urusan rakyat selain kenaikan BBM ini, namun apa mereka pernah peduli sebelumnya?

-Kebanyakan angkutan umum seperti angkot, tidak dikelola secara langsung oleh pemerintah, maka semisalnya diberlakukan subsidi BBM untuk angkutan umum, maka yang terjadi adalah beberapa pihak akan menuai keuntungan dari subsidi tersebut

-Kalau mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan untuk protes, berarti DPR belum berfungsi sebagaimana harusnya

-Benar jika pemerintah tidak harus minta pendapat siapapun jika BBM dinaikkan, kalau memang di pasaran luar harganya naik, orang-orang Indonesia kenapa bisa menikmati BBM dengan murah? keputusan itu berdasarkan pertimbangan makro ekonomi, bukan keputusan asal bunyi (bukannya aku pro-pemerintah, tapi kali ini mereka aku anggap benar)

-Mungkin dengan kenaikan BBM, sirkulasi kendaraan bermotor akan berkurang dan secara langsung akan mengurangi emisi CO2

-Mungkin dengan kenaikan BBM, ada pihak-pihak yang ingin mengembangkan sumber energi lainnya yang bebas polusi/lebih bersih

Yang jelas, permasalahan utama dari negara kita adalah belum meratanya kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa.

Kalo lagi mau ngomong ngawur: bubarkan DPR, MPR dan DPA.
Tidak ada gunanya, hanya buang2 uang negara.
—————————————————————————
Omongan ngawur lagi: kalo DPR sudah bubar, mobil-mobil dan rumah-rumah dinas para “wakil rakyat” itu dijual saja dan uangnya di gunakan untuk memperbaiki sarana transportasi publik dan penghijauan hutan.

pasangan, masalah sosial 1:59 pm

Belum lama ini aku ngobrol-ngobrol sama temenku yang di Amrik, dia nikah sama orang sono. Nah gara-garanya kita lagi ngobrolin kelakuannya orang-orang jakarta (sorry ya…..), yah begitu deh.

Katanya tendesi yang ada sekarang tuh, cewek-cewek muda maunya nyari pasangan bule, bule udeh tue juga ga pa-pe…berabe ken? eh kan?
Pas kemaren-kemaren ini gue di Jkt yang gue liat juga begitu, artis-artis kawin cerai (udah biasa) dan pada kawin sama bule.

Alasan mereka (wanita-wanita muda jakarta dan sekitarnya) kawin sama bule yang pasti duitnya dong….yah…antara kecakepan si bule (kalo emang cakep) dan duitnya deh. Kalau di bawa ke luar negri, lebih bagus lagi,…kan gitu?

Ini kebetulan gue juga hari ini nemuin artikel yang berhubungan di kompas, baca aja kalau mau:
http://www.kompas.com/otomotif/news/0502/19/014844.htm

Tapi, bule-bule juga pada pinter, ada yang ga mau ngawinin si cewek, maunya “make”nya aja (sadis ya bahasaku? sorry…..). Tapi si cewek ya gimana…..soalnya udah dibeliin berlian segala, masa nolak?

Yang jelas kalo mereka yang ngedapetin bule tua, yang seumur bapak atau kakeknya, biasanya sih mereka ga peduli, mo kawin apa ngga, udah terlanjur…

Gue pikir, itu sama ngga sih sama perek? alias wanita penjaja seks?
Tidak ada perbedaan yang jauh, wanita penjaja S itu kan sebenernya melawan kerelaan dirinya yang dipakai. Nah wanita-wanita muda yang pergi sama bule tua juga sebenernya kan karena duit bukan karena emang suka daun tua! hah!

Terkadang, kami-kami yang sudah menikah dengan “bule”, jadi turut prihatin, dan ada aja juga orang-orang yang memandang kami sejenis dengan wanita-wanita muda di atas.

Padahal sebagian besar dari kami, ketemunya aja kebetulan dan ngga sengaja nyari2 bule.

Well terlepas dari semua itu, uang dan materi memang sudah di atas segalanya. Yang penting mereka mau kehidupan yang layak dan tidak susah.

Awas, ada juga yang memang cinta dengan orang yang jauh lebih tua dan menikah bukan karena embel2 bule.

Gue sendiri pernah naksir sama laki-laki tue, penulis favorit gue, Valerio Massimo Manfredi.

Waktu itu ngga sengaja ketemu di pameran buku, orangnya cakep, rambutnya putih, dan mukanya seperti Sean Connery. Langsung gue samperin (sebelumnya mikir2 sambil ga percaya bahwa dia ada di depan mata gue), trus gue beli buku terakhirnya dan minta tanda tangan.

Gua bilang dengan noraknya “Saya fan kamu, saya sedang membaca buku terakhir Alexander” (sanking grogi, salah lagi nyebut judulnya…hu hu).

Ternyata….umurnya sama dengan umur nyokap bokap gue…60 tahunan.
Ya udah….gitu doang, terpesona aja sama lawan jenis yang umurnya lebih tua dari gue (sambil terus mengulang-ulang frase ini: “gua suka dia karena karyanya, gue suka dia karena karyanya”). Doi arkeolog dan jadi dosen di salah satu universitas di Milan, keren ga sih?

Balik lagi ke tema yang lagi kita ngomongin. Kalo moto gue sih, don’t have sex for money, it’s just the same as being a slave!!!
Gua sering bilang, aduh sesusah-susahnya cari kerjaan…mendingan jadi tukang sapu jalanan deh…daripada menjual tubuh….amit-amit!!!!

masalah sosial 11:58 am

Entah siapa walikota terkejam di dunia ini? mungkin Sutiyoso (Jakarta), mungkin Gallardon (Madrid), walikotanya Barcelona atau walikotanya London?

Yang jelas, Gallardon terpilih karena simpatinya dan karena ke-kiri2-annya. Namun setelah terpilih, ternyata doi langsung ganti kulit! Ngga tanggung-tanggung, menaikkan hampir 30% (malah lebih menurut laporan orang-orang) Pajak Bumi dan Bangunan di Madrid. Kok semena-mena sih?

Setelah itu, tempat parkir bebas di daerah-daerah tertentu di rubah menjadi “blue zone” alias kalo parkir di situ harus bayar perjam-nya. Orang-orang yang tinggal di daerah situpun diwajibkan membayar parkir per-tahun, yang pembayarannya diantisipasi sebelum zone itu berlaku….ini walikota atau preman??

Di balik semua itu, Gallardon sedang menggarap ring-road2 baru di dalam dan di luar Madrid. Daerah mana yang tidak terkena galian, mesin-mesin yang membuat terowongan bawah tanah,
baik itu untuk jalan, subway, kereta api cepat, dan parkiran kendaraan bermotor.

Kalau masalah di Jakarta banjir dan macet, di sini masalahnya galian. Betul….

Di Madrid dan Barcelona, pemerintah daerah rajin menggali-gali, sehingga struktur tanah di sekitar bangunan terpengaruh, dan terjadilah apa yang terjadi di Madrid dan Barcelona, tanah bergerak dan tiba-tiba jatuh hingga tercipta sebuah lubang yang amat besar dan dalam yang di sini biasa disebut “socavon”

Tetangga-tetangga ketakutan, bangunan rumah mereka mulai muncul retakan, pintu dan jendela tidak bisa ditutup, sewaktu-waktu bangunan bisa rubuh.

Di Barcelona, di daerah Carmel, dua bangunan terpaksa dihancurkan, karena tidak aman lagi, akibat galian yang dilakukan oleh pemda untuk perluasan jaringan subway. Pemilik rumah bahkan hampir tidak sempat menyelematkan barang-barangnya. Mereka hanya diberi waktu tiga puluh menit untuk masuk ke dalam rumah dan mengambil barang-barang seperlunya dengan ditemani oleh petugas pemadam kebakaran.

Menyedihkan. Ada foto-foto kenangan yang tertinggal, bahkan ada penghuni yang meninggalkan burung-burung peliharaannya di rumah itu.

Di Madrid, ada banyak lagi galian, mulai dari ring road M30, M40, M50, subway (metro), tunel “ketawa” (dinamakan tunel ketawa, karena tidak selesai-selesai dari jaman kuda)- tunel ini dibuat dari stasiun kereta Atocha di selatan yang akan menghubungkan jalur kereta api cepat dengan stasiun Chamartin, di utara Madrid.

Kalo aku sih ngga ngebayangin gimana mereka akan melaksanakan hal itu. Yang jelas yang terkena imbasnya ya orang macam aku ini yang menggunakan transport umum. Harus menghindari kemacetan dengan merubah rute, jalan kaki lebih panjang lagi demi datang tepat waktu di tempat kerja. Begitu juga orang-orang yang menggunakan mobil pribadi, karena ada banyak galian dan pekerjaan umum di jalan-jalan, semua itu menyebabkan kemacetan di jam-jam sibuk. Belum lagi di pusat kota, banyak toko-toko yang merasa dirugikan ketika jalan di depannya digali, hingga turis malas melewati jalan itu.

Taruhan yuk? empat tahun mendatang, apakah dia akan terpilih lagi?

Aku pikir pendukung Gallardon pun kini membencinya, apalagi orang-orang sosialis. Namanya dikutuk di mana-mana.
____________________________________________________
Sekedar menambah data-data, ada tiga cara pembuatan tunel:

1. Cara Austria, dengan menggali tanah perlahan-lahan, cara termurah. Yaitu dengan menggali secara transversal.
2. Dengan menggunakan eksplosi bom (tidak bisa digunakan di zona yang telah dihuni)
3. Dengan mesin tunel yang segede gajah (paling aman dan paling mahal), nah ini susah cara ngejelasinnya…maklum bukan orang teknik…

masalah sosial 11:50 am

Sebetulnya aku ingin bicara soal enak dan tidak enaknya tinggal jauh dari negri sendiri, orang-orang yang menikah dengan orang yang berbeda kebangsaan dan salah satu dari mereka harus mengikuti suami ataupun istri dan tinggal di negara asing.
Sebetulnya melihat contoh yang ada, tidak ada perbedaan, seorang suami yang mengikuti istrinya dan tinggal jauh dari negaranya akan merasakan kesusahan yang sama dengan seorang perempuan yang mengikuti suaminya dan tinggal di negri asing, jauh dari keluarga dan teman-temannya.

Ada pasangan-pasangan yang survive, ada juga yang tidak. Salah satu contoh ada satu pasangan yang dulu kami kenal, setelah mempunyai seorang anak, akhirnya mereka pun bercerai. Si istri dan anak tinggal di sini (Spanyol) dan si suami pulang ke Jakarta.

Kesulitan bagi seorang imigran, bukan saja ia harus beradaptasi dengan segalanya, mulai dari bahasa, budaya, iklim, sosialisasi, dan yang paling penting yaitu mendapatkan pekerjaan di negri asing, sebagai salah satu jalan untuk berintegrasi dan mencari nafkah tentunya yang paling penting.

Tabrakan kebudayaan yang dialami pasangan yang berbeda kebangsaan sering kali menjadi tema utama perkelahian sehari-hari. Sebagian bisa melewatinya dengan mulus, ada juga yang tidak.

Yang paling sedih nih, kalau pengalaman sendiri, kalau aku lagi bertengkar hebat dengan suami, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Kalau dipikir-pikir, kalau aku berada di Indonesia, misalnya sedang bertengkar hebat, aku masih bisa pulang ke rumah orang tua dan mengacuhkan dirinya untuk beberapa saat, atau aku bisa menangis dan pergi mengadu ke seorang sahabat.

Namun susahnya kalau di sini, aku mau lari ke mana? ke rumah teman-teman Indonesia pun aku tidak sanggup, mereka sendiri punya masalah masing-masing dan mereka bukanlah keluarga atau sahabatku.

Jadi satu-satunya jalan, kalau darah sudah naik, ya berbicara (dengan nada tinggi atau rendah) dan berusaha menyelesaikan masalah kita itu. Tak ada problem yang tak dapat dibicarakan dan yang terjadi adalah, aku tidak pernah menunda-nunda suatu pertengkaran. Walaupun kadang-kadang aku lelah untuk memulainya. Namun apa boleh buat, tidak ada jalan lain selain berbicara.

Sedangkan liatlah imigran-imigran yang lain yang hidup dalam perekonomian bawah tanah. Yang tinggal dalam satu rumah yang berisi lebih dari tiga pasangan atau keluarga. Entah seperti apa kehidupan mereka di sini? selain problem-problem dari luar, timbul pula problem dari dalam.

Mereka yang hidup tanpa surat-surat izin, baik untuk tinggal maupun untuk bekerja. Orang-orang ini lemah posisinya di hadapan pengusaha-pengusaha yang mengeksploitasi mereka dengan membayar upah semurah mungkin, tanpa membayar jaminan tunjangan sosial dan keselamatan mereka di dalam pekerjaan.

Namun kenyataannya imigran-imigran ini terus datang, baik mereka yang mampu datang dengan pesawat dengan menggunakan visa turis ataupun mereka yang datang dari daratan Afrika dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Dan sebagian dari mereka demi menyongsong mimpi akan kehidupan yang lebih baik harus mati tenggelam di tengah lautan. Kedua jenis imigran ini walaupun jalannya berbeda, sebelum datang ke negri yang menjanjikan ini, mereka membayar terlebih dahulu kepada mafia-mafia di negaranya, yang “membantu” menyelundupkan mereka sampai ke negri yang mereka tuju.

Banyak wanita-wanita Afrika yang datang dengan bayinya (kalau mereka datang dengan membawa bayi, biasanya mereka dibolehkan tinggal di sini, tidak dipulangkan ke negrinya), ketika mereka diselamatkan dari kapal, kondisi mereka (baik perempuan maupun laki-laki) sangat menyedihkan, mereka mengalami dehidrasi dan kedinginan.

Kebanyakan orang di negara kita menganggap tinggal di luar negri sangat nyaman dan lebih beruntung daripada mereka yang tinggal di negara kita. Tapi mereka tidak pernah mempertanyakan alasan kenapa kita bisa bertahan di negri orang lain, jauh dari sanak keluarga dan teman-teman, jauh dari orang yang kita cintai, tempat kita berlindung dan tempat segalanya bagi kita.

Alasan yang paling menyedihkan mungkin bertahan demi mengirim uang ke keluarga, hidup dengan harga diri-sesuatu yang tidak didapatkan di negaranya, dll.

Alasan yang mendekati masuk akal, tentunya untuk tinggal seumur hidup dengan orang yang kita cintai.

Namun kalau dipikir-pikir, tidak ada satupun alasan untuk tinggal seumur hidup di negri orang. Semua dari kita yang berada di luar, rindu kampung halaman….semua dari kita ingin menikmati kehidupan di hari tua di kampung halaman, menatap daun pisang yang dibasahi hujan dan mencium wanginya tanah indonesia….

masalah sosial 11:25 am

I copied my answer for an email with the same issue.

“Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks> yang luarbiasa, tetapi isterinya hanya dingin saja> atau sakit, atau masa haidhnya (atau kehamilan > penulis) itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si> laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak> seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti> itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan> perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan> tidur?”

Just a thougth:
So one gets married with another woman (”KAWAN TIDUR”) for having sexual relationships because her wife can not sometimes give him what he wants?I thought married is a sacred unification between man and woman, they must become one in every situation, dealing and strugling together.

Have you ever heard about a study that many young women don’t have appetite or desire because of their multifunction roles in this modern way of life? and most DAMN men do not even help her with the house working? WHO’S TO BLAMED?

So if they don’t have any desire to have a relation with her husband, then she’s to be blamed and he is free to marry another woman even if he doesn’t love her?

I don’t think you can practice this hadist/custom nowaday and personally the reading below sounds “macho”.
Men should brake his “enormous” sexual appetite by: fasting, zikir, sholat, reading quran, etc. And stick together to his marriage.
If all men could do this, then prostitution would be disappeared.

In case we went back to Rasulallah SAW era where there were wars and there were way to convert kafir women to muslim, generate more muslim generation, etc, then polygami is an alternative way.

“Inilah sistem poligami yang banyak ditentang oleh> orang-orang Kristen Barat yang dijadikan alat untuk> menyerang kaum Muslimin, di mana mereka sendiri> membenarkan laki-lakinya untuk bermain dengan> perempuan-perempuan cabul, tanpa suatu ikatan dan> perhitungan, betapapun tidak dibenarkan oleh”

Never heard that occidental women tolerate their husband having sex with prostitute, it’s a fallacy. NO dignified WOMEN would let her dignity fall as that low.

“Pada poligami, seorang pria harus adil kepada semua> istrinya. Adil ini tentu dalam batas kemampuan> manusia, seperti jatah hari, atau pun pemberian> materi. Bukan sesuatu hal yang di luar jangkauan> kemampuan manusia.”

WHY THE WRITER SO SURE THAT HUMAN CAN BE FAIR?
Can you imagine a man like Ariel Sharon do polygamy and generate little
Ariel Sharons to succeed him???

Why don’t we look our self and criticise Islam. Polygamy nowaday tend to create injustice treatment for OLDER wife (women), create more children -> more population -> WORLD destruction.

LINK TEXT
online