Sebetulnya aku ingin bicara soal enak dan tidak enaknya tinggal jauh dari negri sendiri, orang-orang yang menikah dengan orang yang berbeda kebangsaan dan salah satu dari mereka harus mengikuti suami ataupun istri dan tinggal di negara asing.
Sebetulnya melihat contoh yang ada, tidak ada perbedaan, seorang suami yang mengikuti istrinya dan tinggal jauh dari negaranya akan merasakan kesusahan yang sama dengan seorang perempuan yang mengikuti suaminya dan tinggal di negri asing, jauh dari keluarga dan teman-temannya.
Ada pasangan-pasangan yang survive, ada juga yang tidak. Salah satu contoh ada satu pasangan yang dulu kami kenal, setelah mempunyai seorang anak, akhirnya mereka pun bercerai. Si istri dan anak tinggal di sini (Spanyol) dan si suami pulang ke Jakarta.
Kesulitan bagi seorang imigran, bukan saja ia harus beradaptasi dengan segalanya, mulai dari bahasa, budaya, iklim, sosialisasi, dan yang paling penting yaitu mendapatkan pekerjaan di negri asing, sebagai salah satu jalan untuk berintegrasi dan mencari nafkah tentunya yang paling penting.
Tabrakan kebudayaan yang dialami pasangan yang berbeda kebangsaan sering kali menjadi tema utama perkelahian sehari-hari. Sebagian bisa melewatinya dengan mulus, ada juga yang tidak.
Yang paling sedih nih, kalau pengalaman sendiri, kalau aku lagi bertengkar hebat dengan suami, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Kalau dipikir-pikir, kalau aku berada di Indonesia, misalnya sedang bertengkar hebat, aku masih bisa pulang ke rumah orang tua dan mengacuhkan dirinya untuk beberapa saat, atau aku bisa menangis dan pergi mengadu ke seorang sahabat.
Namun susahnya kalau di sini, aku mau lari ke mana? ke rumah teman-teman Indonesia pun aku tidak sanggup, mereka sendiri punya masalah masing-masing dan mereka bukanlah keluarga atau sahabatku.
Jadi satu-satunya jalan, kalau darah sudah naik, ya berbicara (dengan nada tinggi atau rendah) dan berusaha menyelesaikan masalah kita itu. Tak ada problem yang tak dapat dibicarakan dan yang terjadi adalah, aku tidak pernah menunda-nunda suatu pertengkaran. Walaupun kadang-kadang aku lelah untuk memulainya. Namun apa boleh buat, tidak ada jalan lain selain berbicara.
Sedangkan liatlah imigran-imigran yang lain yang hidup dalam perekonomian bawah tanah. Yang tinggal dalam satu rumah yang berisi lebih dari tiga pasangan atau keluarga. Entah seperti apa kehidupan mereka di sini? selain problem-problem dari luar, timbul pula problem dari dalam.
Mereka yang hidup tanpa surat-surat izin, baik untuk tinggal maupun untuk bekerja. Orang-orang ini lemah posisinya di hadapan pengusaha-pengusaha yang mengeksploitasi mereka dengan membayar upah semurah mungkin, tanpa membayar jaminan tunjangan sosial dan keselamatan mereka di dalam pekerjaan.
Namun kenyataannya imigran-imigran ini terus datang, baik mereka yang mampu datang dengan pesawat dengan menggunakan visa turis ataupun mereka yang datang dari daratan Afrika dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Dan sebagian dari mereka demi menyongsong mimpi akan kehidupan yang lebih baik harus mati tenggelam di tengah lautan. Kedua jenis imigran ini walaupun jalannya berbeda, sebelum datang ke negri yang menjanjikan ini, mereka membayar terlebih dahulu kepada mafia-mafia di negaranya, yang “membantu” menyelundupkan mereka sampai ke negri yang mereka tuju.
Banyak wanita-wanita Afrika yang datang dengan bayinya (kalau mereka datang dengan membawa bayi, biasanya mereka dibolehkan tinggal di sini, tidak dipulangkan ke negrinya), ketika mereka diselamatkan dari kapal, kondisi mereka (baik perempuan maupun laki-laki) sangat menyedihkan, mereka mengalami dehidrasi dan kedinginan.
Kebanyakan orang di negara kita menganggap tinggal di luar negri sangat nyaman dan lebih beruntung daripada mereka yang tinggal di negara kita. Tapi mereka tidak pernah mempertanyakan alasan kenapa kita bisa bertahan di negri orang lain, jauh dari sanak keluarga dan teman-teman, jauh dari orang yang kita cintai, tempat kita berlindung dan tempat segalanya bagi kita.
Alasan yang paling menyedihkan mungkin bertahan demi mengirim uang ke keluarga, hidup dengan harga diri-sesuatu yang tidak didapatkan di negaranya, dll.
Alasan yang mendekati masuk akal, tentunya untuk tinggal seumur hidup dengan orang yang kita cintai.
Namun kalau dipikir-pikir, tidak ada satupun alasan untuk tinggal seumur hidup di negri orang. Semua dari kita yang berada di luar, rindu kampung halaman….semua dari kita ingin menikmati kehidupan di hari tua di kampung halaman, menatap daun pisang yang dibasahi hujan dan mencium wanginya tanah indonesia….