manusia/renunganDecember 1, 2005 1:15 pm

Baru terlintas di pikiranku, ternyata hidup adalah guru yang paling bijak.

Hanya mikir-mikir, keluar dari kantor ini dan jikalau dapat kerjaan baru, saya akan menemukan lingkungan macam apa? orang-orang macam apa? etc.

Tapi sebenernya sih segala sesuatu akan tetap sama, akan tetap ada orang yang snob, yang baik, yang cunihin, yang lucu, dst. Hanya saja saya-nya yang sudah terbiasa dengan orang-orang tersebut setelah bekerja bersama mereka bertahun-tahun.

Jadi sebenernya kalau saya pindah tempat kerja, toh…mungkin hanya beda tempatnya, gajinya, jenis pekerjaannya, dst. tapi sifat-sifat orang akan selalu sama di mana pun kamu berada dan kamunyalah yang nantinya harus membiasakan diri dengan orang-orang itu.

Aku lagi sibuk nih banyak kerjaan dan besok ambil cuti lagi seminggu, jadi blog aku tutup dulu seminggu.

Sekian dulu deh….

manusia/renungan, masalah sosialNovember 30, 2005 3:13 pm

Memboikot seseorang, negara, perusahaan, organisasi dengan tujuan menunjukkan ketidaksetujuan kita atas tindakan mereka ternyata berfungsi cukup efektif.

Baru-baru ini di Spanyol contohnya, ada satu provinsi yang hendak memisahkan diri. Reaksi penduduk adalah tidak setuju atas usaha mereka tersebut, kemudian warga negara yang tidak setuju mulai memboikot produk-produk yang diproduksi di provinsi tersebut.

Tujuan pertama adalah menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap pemisahan diri provinsi itu yang menyatakan dirinya “bangsa yang lain”, ke dua, menurunnya keuntungan penjualan produk dari provinsi tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa penduduk dari provinsi-provinsi lainnya.
Ketiga sebagai tekanan dan peringatan atas usaha pemisahan diri ini.

Contoh lain, boikot terhadap produk-produk Israel bagi para pendukung Palestina.

Kita sebagai pembeli mempunyai daya memilih yang bisa kita pergunakan untuk boikot seperti contoh di atas.

Kalau di blog tetangga sedang panas dengan berbagai program sampah di televisi, mungkin “boikot” (dengan cara tidak menonton program tak bermutu) bisa menjadi salah satu jawaban dalam rangka ketidaksetujuan masyarakat terhadap program-program yang tidak mendidik.

Jika jumlah penonton program itu tidak memenuhi quota, maka program itu akan dihentikan oleh stasiun televisi tersebut.

Kita punya daya memilih. Memilih untuk dibodohi atau mencari aktifitas/program lain yang lebih mendidik atau berkualitas???

Namun mungkin sayangnya bermutu tidaknya suatu acara masih relatif. Di negara majupun kadang program-program tak bermutu tentang gosip dan reality show masih saja diminati oleh para pemirsa.

Jadi siapa yang sadar dan tidak mau dibodohi televisi bisa memulai sendiri memilih apa yang dianggapnya baik (seperti halnya pembaca buku/novel, kadang harus selektif juga, karena membaca buku tak bermutu atau tidak menarik akan membuang-buang waktu saja).

manusia/renunganNovember 28, 2005 12:44 pm

Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? kebanyakan orang selalu menjawab mencari kebahagiaan dan kesehatan dalam hidup ini.

Kebahagiaan pada tiap-tiap orangpun berbeda. Dan kadang kebahagiaanpun bisa dibedakan dalam tingkatan-tingkatan tertentu.

Namun sebenarnya tak seorangpun tahu apakah arti sejati kebahagiaan itu dan apa yang membuat seseorang itu bahagia.

Saya pribadipun seringkali bertanya, “Apakah saya hidup bahagia sekarang ini?”.
Mungkin secara relatif iya - hanya dikarenakan pemikiran bahwa saya hidup sehat, punya rumah dan pekerjaan, punya keluarga dan stabilitas ekonomi.

Kebahagiaan bukan milik orang-orang kaya, bukan pula dimiliki para penguasa. “Katanya” orang-orang miskin pun bisa hidup bahagia.

Saya pikir kebahagiaan adalah suatu rasa senang dan puas yang didapat tepat setelah seseorang memenuhi tujuan yang diinginkannya.

Mungkin juga saya salah.

Apakah orang miskin bisa dikatakan bahagia (puas) jika sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Sedangkan orang kaya, akan bahagia (puas) jika baru membeli Porche terkini?
Tingkatan kebahagian berbeda-beda. Tentu, ada juga orang kaya yang bahagia hidup apa adanya.

Apakah harus kita bedakan kebahagiaan dengan kepuasaan? kebahagiaan merupakan kepuasan batin juga toh?

Seperti apa yang dikatakan Gustavo Bueno, kebahagian hanyalah suatu mitos.

Kita seringkali bertanya, apakah kebahagiaan itu diukur dari apa yang dimiliki seseorang? tidak.

Ataukah ide tentang kebahagiaan itu timbul dari rasa iri seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang sama atau lebih dengan apa yang dimiliki orang lain?

Apa yang membuat saya bahagia? (bahagia atau puas?)
- dapat menyelesaikan suatu buku (kepuasaan?)
- mondar-mandir di gang-gang perpustakaan mencari buku baru untuk dibaca
- mencicipi makanan baru
- melihat orang yang sakit, karena saya menyadari saya sehat?
- bertemu sahabat lama
- melihat anjing saya lari sebebas-bebasnya layaknya seekor kuda di padang yang luas

Apakah hanya sebatas itu?

Ada kebahagiaan abadi dan kebahagiaan instant - menurut saya.

Kebahagiaan isntant, rasa senang yang anda rasakan ketika baru saja memenuhi tujuan anda (lulus ujian, setelah membeli sesuatu yang diidam-idamkan, etc.)

Kebahagian abadi, mungkin, selalu menerima nasib baik dan buruk dengan lapang dada? (duh..susah ya?)

Kadang saya sedih belum mempunyai anak dan saya pikir saya akan bahagia jika saya mempunyai anak.

Namun, apakah kebahagiaan saya sekali lagi harus diukur dari apa yang saya miliki dan terpenuhinya tujuan dalam hidup saya?

Apa jadinya kalau saya bahagia jika tujuan saya tak lain hanya materi? saya akan berubah menjadi budak semata.

Kadang hanya melihat seseorang memiliki segalanya dalam hidup ini, saya pikir, tentu orang itu sangat bahagia….
namun belum tentu juga.

Tanpa merasakan kesedihan seseorang tidak dapat merasakan kebahagian.

Kebahagian hanyalah perasaan yang ada di dalam batin kita, yang tergantung kepada kondisi dan pemikiran kita.

Dan…tergantung kepada kondisi orang lain?

Mungkin kejam jikala kita berpikir, “wah..untung saya cuma panuan, daripada si anu yang sakit lepra”…

Apa namanya pemikiran seperti itu? yang kadang membuat seseorang lega dan tersenyum.

Kadang orang yang sehat jasmaninya pun sudah bisa dibilang bahagia, padahal belum tentu juga, karena secara batin/mental, bisa jadi dia tidak merasakan kebahagiaan.

Betapa misteriusnya kata-kata itu.

“Happy, happy birthday”.

Seakan secara etis kamu bahagia karena hari itu kamu berulang tahun, artinya kamu masih diberi umur, masih hidup, walaupun kamu tahu hidup itu keras dan kejam dan waktu tidak pernah memaafkan keterlambatan.

Dan dalam kekejaman itu, ada orang-orang yang tertawa ketika mereka menipu kamu, menjahati kamu, sementara kamu jatuh ke dalam lubang kesengsaraan.

Maka kadang kebahagiaan seseorang tergantung pada kesengsaraan yang lainnya?

Kebahagiaan dan kepuasaan.

Bisakah suatu kepuasaan disamakan dengan kebahagiaan?

Tentu, lagi-lagi kita harus mendefenisi apakah kebahagiaan itu dan apakah arti dari kepuasaan itu.

Merujuk kepada filosof yang saya sebutkan di atas, jika kebahagiaan dicari definisinya maka kebahagian tidak akan ada, ia hanyalah sebuah mitos.

“Kebahagiaan yang dipikirkan bukanlah kebahagiaan, namun hanya suatu ide pada kehidupan yang baik dan kenyamanan yang mana dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Kebahagiaan yang anda maksud adalah usaha dari segelintir orang untuk memperbudak banyak orang. Kebahagiaan tidak dapat didefinisi. Setiap orang mencari kebahagiaannya masing-masing”.

Kalau anda mau hidup optimis, mungkin ada baiknya percaya akan adanya kebahagiaan.

Seseorang ilmuwan yang misalkan menemukan vaksin HIV, dia akan merasa “bahagia” atau merasa “puas”?
mungkin bisa dua-duanya. Bahagia bisa menolong orang lain dan puas bisa menemukan sesuatu yang berguna bagi orang banyak.

Apakah membentuk suatu keluarga sesuatu yang natural yang membuat sebuah pasangan menjadi bahagia?

Bagi saya pribadi kebahagiaan ….misteri yang belum terpecahkan.

Mungkin di akhir hidup masing-masing orang, kebahagiaan didapatkan setelah kematiannya - bertemu Sang Pencipta.

Anak, istri atau suami hanyalah titipan, bukan begitu?

Apalagi rumah, mobil dan jabatan!

Lagi-lagi semua itu timbul pada diri perorangan. Kebahagiaan ideal-sejati, tidak dapat dikaitkan dengan munculnya orang lain/benda lain. Karena jika seorang yang kamu cintai meninggalkan kamu terlebih dahulu, maka biasanya orang akan mengalami kesedihan dan kesedihan adalah lawan dari kebahagiaan.

Tanpa adanya ide dari kebahagiaan orang-orang tidak dapat hidup terus di dunia ini. Apapun bentuknya, untuk dapat terus hidup tanpa membunuh diri sendiri karena kefrustasian, orang-orang rela mengejar kebahagiaan itu.

Saya akan bahagia jika sudah mempunyai rumah, mempunyai pasangan, mempunyai anak - mungkin.

Atau, dia akan bahagia jika dia bisa lepas dari nafsu dan mencapai nirwana.

Atau, dia bahagia jika bisa melawan Tuhan, autoritas….menjadi sekutu kejahatan dan kesetanan.

Atau, dia akan bahagia jika dapat mencapai keseimbangan spiritual dan duniawi.

Bla bla bla….

Mungkin kebahagiaan tidak ada - namun mencari kebahagiaan, mungkin bisa membuat orang mendapatkan ide tentang kebahagiaan itu sendiri.

Sepanjang-panjangnya saya menulis tentang arti dari kebahagiaan, tulisan ini tidak akan pernah menyentuh esensi yang paling dalam dari kebahagiaan (duniawi/spiritual?).

manusia/renunganNovember 17, 2005 5:18 pm

Kenapa warna hitam dan merah darah selalu diasosiasikan kepada: kegelapan, kejahatan, sesuatu yang berbau setan, kekejaman, etc.

Selain juga merefleksikan: elegansi, sexy dan kenakalan.

Seakan warna hitam menjadi warna “jahat” dan warna putih mencerminkan kesucian.

Saya memang sedang ingin berbicara tentang header terakhir saya. Header baru yang gelap ini mempunyai ketepatan tanpa cacat dalam mencerminkan pemikiran, keadaan dan sifat saya yang terdalam.

Solitary.
Black.
Maquiavélico.
(tadinya malicious, lantas saya ubah menjadi maquiavélico - lebih jauh daripada sekedar malicious).
see: maquiavelo

Hitam bagi saya bukan warna yang jahat, gelap, sedih, setan, seperti sebagian (mungkin kebanyakan) orang mengasosiasikannya.

Bagi saya warna hitam mencerminkan kekuatan tanpa akhir seperti blackhole, autoritas, keseriusan dan elegansia. Seperti sebuah banteng yang berdiam saat melihat musuhnya.

Solitary, karena saya sesungguhnya mahluk yang benar-benar sendiri, larut dalam pemikiran saya, bertendensi untuk independen dari lingkungan sekitar, egois.

Maquiavélico, suatu karakter yang perlu dikembangkan lebih lanjut ke depan dalam survival . Suatu karakter yang perlu dimiliki oleh setiap individu dan suatu karakter yang tak dapat dimiliki tanpa pengalaman dan pengetahuan yang mendalam.

manusia/renunganNovember 14, 2005 11:21 am

“terkesan mengagungkan yahudi! Ingat, Sebaik-baiknya orang yahudi adalh serendah-rendahnya binatang. Anda perlu mempelajari lebih lanjut ttg yahudi. Apapun akan yahudi lakukan untuk menarik simpati non-yahudi”.

Paragraf di atas merupakan komentar dari pembaca blog ini di tulisan saya tentang “Restauran Yahudi di Madrid”.

Saya dianggap mengagungkan Yahudi…
Padahal tulisan saya berisi tentang suatu restoran yahudi yang baru dibuka di kota saya, dan saya berusaha menjelaskan ritual atau kebiasaan mereka yang unik. Sama sekali tidak ada nada-nada memuja dan meng-agungkan umat Yahudi. Hanya sekedar cuplikan tentang suatu budaya asing yang baru saya kenal.

Namun saya juga terkesima mendengar kata-kata “sebaik-baiknya orang Yahudi adalah serendah-rendahnya binatang”.

Siapa sih pencipta manusia di dunia ini? saya tidak berani merendahkan suatu kaum dengan mudah dan gampangnya, karena kaum itu punya Penciptanya yang kebetulan sama dengan pencipta kaum-kaum lainnya.

Saya membela Yahudi? saya benci dengan Ariel Sharon karena kekejaman dan keputusan2 politiknya, ngga lebih dari itu- perasaan kesal yang tak dapat dihindari oleh mahluk hidup. Melihat kekejaman yang tak dapat dihentikan.

Saya membela rakyat Palestina- yang sebagian juga tidak luput dari dosa dan kesalahan, namanya juga manusia. Dan saya tahu, ada sebagian orang Yahudi yang menginginkan perdamaian dan bagi saya mereka tidak lebih rendah atau tinggi dari binatang, mereka sama seperti kita, mahluk Tuhan.

Membenci, berbuat kekejaman dan kekerasan tidak akan membuat dunia ini lebih aman dan damai.

Kalau anda membenci Yahudi silahkan, tapi jangan coba-coba mengajarkan saya bahwa dengan kebencian anda merasa lebih baik.

Saya tidak akan menjadi orang Islam yang lebih terhormat dan lebih berpahala kalau saya membenci Yahudi dan sekutunya.

Saya yakin kedamaian di dunia ini tercapai jika masing-masing diri telah mencapai kedamaian dalam hati dan pemikirannya.
Keadilan di dunia ini tidak akan tercapai oleh bom dan kebencian. Karena itu Tuhan Maha Abadi, karena setelah kita semua mati, Dialah yang akan menghukum yang berdosa.

manusia/renunganOctober 19, 2005 10:17 am

Jika saja semua semudah yang saya ucapkan

Kenapa di satu benua kebanjiran, namun di benua lain kekeringan?!
Kenapa air yang berlebihan itu tidak bisa dimanfaatkan? malah berlebihan dan akhirnya terbuang? (more…)

manusia/renunganOctober 14, 2005 1:07 pm

-Kalau yang mau ditolong tidak punya kriteria tentang pertolongan, atau dia tidak tahu harus ditolong apa, bagaimana orang yang mau menolong bisa menolong dia?
(Ketika hendak mencoba menolong seseorang, saya sadar, si subjek sendiri tak tahu maunya apa, jadi saya sendiri tidak diperlukan)

- Jangan minta tolong kalau belum kepepet

- Walaupun miskin, jaga harga diri
(ini gara-gara seseorang minta pekerjaan dan dia rela dibayar oleh uang makan dan transport saja. Mula-mula ini mungkin akan menimbulkan rasa iba terhadap orang itu dan pasti saja ada banyak orang yang secara suka hati memanfaatkan kondisinya untuk dijadikan budak.

Namun di mata sebagian orang lain, ini hanya menunjukkan bahwa calon pegawainya tak punya harga diri, gampang dibeli oleh apa saja dan berbahaya bagi persaingan pekerja lainnya.

Contoh lainnya, si A yang merasa tidak seberuntung B dalam hal keuangan, selalu menunggu B untuk membayar makanannya jika ia makan bersama B.

Dalam kesempatan lain, B sudah sering menolong si A, dan A berjanji akan mentraktir makan B, namun janji itu tidak pernah terealisasi.
B sebenernya ikhlas karena tahu kondisi A, namun B juga sakit hati, pertama karena A tak tepat janji. Ke dua karena A selalu merasa miskin dan tidak punya kekuatan moral untuk mengembalikan kebaikan B sekedarnya, B ingin A juga punya harga diri sebagai teman).

-jangan minta direkomendasikan oleh seseorang jika kamu tahu kamu akan mengecewakan

Jadi please deh…

manusia/renungan 10:17 am

Aku sedang mengungsikan seorang sebangsa di rumahku, dia “pacar” temanku. Kebetulan sedang mencari kamar dan pekerjaan.

Aku sendiri tidak begitu kenal dengan dia. Pertama-tama aku dan suami mengatakan ya boleh dia tinggal sementara (dua minggu) di rumah kami, sampai dia mendapatkan sewaan kamar.

Tentu kami merasa punya kewajiban menolongnya. Tapi terus terang, kebebasan kami menjadi terbatas sejak ada tamu itu. Mungkin karena kami tidak begitu mengenalnya, dan tamu ini termasuk “problematik”, dokumen izin tinggal dan kerjanya sedang diproses, dan dia sedang menunggu jawaban diluluskan atau ditolak.

Tidak hanya itu, dia sebenernya terikat kontrak dengan sebuah perusahaan di Cordoba (jauh di luar Madrid), namun si pengusaha tidak memberi dia pekerjaan, aneh kan? menurutnya itu dikarenakan, di luar jam kerja dia pergi ke café, dan si pengusaha menelpon, kemudian marah-marah, kenapa dia berada di diskotik? bla bla bla…sehingga si pengusaha itu tidak percaya lagi dan tidak mau memberinya pekerjaan.

Aneh dan aneh.

Kemudian ketika dia sedang mencari pekerjaan di sini, dia ragu-ragu dan takut jika si pengusaha di Cordoba itu memanggilnya tiba-tiba. Sehingga tentu pengusaha yang baru yang akan memperkerjakannya menjadi ragu-ragu.

Dia juga tidak mau dideportasi, karena kalau izinnya ditolak di sini, dia akan pergi mencari pekerjaan di negara lain.

Begini, saya dan suami sudah berkali-kali menasihati dia tentang hukum yang ada, solusi alternatif, dsb. namun demikian dia sepertinya tidak peduli, tetap pada targetnya sendiri tanpa punya pengetahuan.

Terlepas dari kerelaan saya dan suami, dia tinggal di rumah kami, entahlah, saya punya perasaan tidak nyaman. Apakah karena dia itu laki-laki dan aku tidak mengenalnya secara dekat?

Yang saya lihat, dia tidak mempunyai tujuan yang jelas, logis, mungkin karena statusnya tidak jelas.

Sebenernya masih banyak lagi kekacauan ceritanya yang tak dapat saya ceritakan di sini, karena panjang. Salah satu dari situ sudah pernah saya ceritakan. Coba cari di “search” dengan kata Urip dan ada post yang berjudul: “Menembus tembok nasib”, cerita tentang seorang pelaut yang kabur dari sebuah kapal.

Jadi sebenernya, saya merasa pertolongan saya ke dia sebagai suatu kewajiban belaka. Dan mungkin saya tidak harus merasa bersalah kalau hati saya tidak sepenuhnya “rela” dan saya tidak bisa menjelaskan kenapa.

Mungkin karena keadaan rumah tangga dan pribadi juga baru mengalami banyak fase perubahan dan ketidakstabilan. Dan kalau mau tahu, rumah saya agak sering mendapatkan kunjungan orang-orang yang perlu menginap. Jadi tau deh…saya mungkin agak sensi atau apa ya?

manusia/renunganOctober 11, 2005 9:06 am

Mungkin semua orang juga udah pada tau, sepanjang hidup kita selalu dipertemukan oleh pilihan-pilihan di mana kita harus memutuskan dan memilih.

Masing-masing manusia harus terus berjuang, walaupun di Pakistan, Afganistan dan India terjadi gempa 7 skala Richter, di Mexico, Guatemala diserang banjir bandang oleh Stan, sehari jatuh 30.000 jiwa korban gempa, dan seterusnya.

Sebenernya kalau dipikir-pikir dunia ini bukan LAGI tempat yang aman dan nyaman untuk hidup. (more…)

manusia/renunganSeptember 5, 2005 9:03 am

Terenyuh hati ini atas bencana yang melanda di New Orleans, AS, setelah lewatnya huracan Katrina.

Sekitar 3 - 4 hari yang lalu ketika saya baca di koran bahwa ada anggota PBB yang mengatakan bahwa bencana ini lebih besar dari Tsunami tahun lalu atau ini merupakan Tsunaminya Amerika Serikat, aku agak tersinggung dan berpikir, “walah…kok disama-samain dengan Tsunami”. Tsunami masih bagi saya, bencana yang paling dahsyat dalam dekade ini. (more…)

LINK TEXTNext Page »
online