manusia/renunganApril 11, 2008 12:32 pm

Ada saatnya ketika saya merenungkan makna kehidupan manusia di bumi, seringkali dipengaruhi oleh apa yang saya dengar setiap hari dari media masa: perang, kelaparan, kejahatan, kekeringan, bencana alam dan seterusnya.

Dan saatnya aku atau kalian berbicara: “dunia sudah gila, manusia sudah menjadi gila”.

Lalu ada juga rasa takut menghadapi masa depan yang tidak menentu. Terkadang masa depan itu tidak lagi berada di tangan kita, melainkan di tangan alam. Pemanasan Global yang membawa berbagai bencana seperti naiknya permukaan laut, iklim yang lebih ganas yang mengakibatkan berbagai bencana alam, bergantinya iklim di berbagai pelosok dunia yang mengakibatkan problem pangan; problem energi, dst.

Walaupun sebagian kelompok menentang teori pemanasan global, kita tidak dapat menyembunyikan kenyataan, dari hari ke hari, selalu kita denger berita bencana alam di berbagai tempat di dunia, baik dipengaruhi oleh pemanasan global maupun tidak.

Lalu muncul rasa takut. Takut menghadapi masa depan yang tak menentu. Takut hidup di hari tua tanpa tabungan yang cukup. Takut ini dan itu…

Namun setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk pertama menghapus rasa takut.

Rasa takut menghadang diri kita dari berbagai macam kesempatan dan terutama menghadang dari pemikiran positif dan optimis seseorang.

Takut membuat seseorang berhenti, berhenti berpikir, berkreasi, beraktifitas…

Setelah rasa takut hilang, barulah kita bisa berpikir, bagaimana persiapan kita menghadapi masa depan? Apakah kita masih bermalas-malasan? Apakah kita masih menggunakan kata “mumpung masih”?, apakah kita sudah segera bertindak? Mengambil keputusan? antisipasi?

Apakah selain dari itu kamu sudah mencoba merubah sesuatu untuk memperbaikinya? Apakah selain itu kamu sudah membuang rasa egois kamu dan menolong saudara kamu?

Saat bencana datang, kekayaan yang kamu miliki tidak bernilai, yang bernilai adalah, kelakuan kamu untuk keluar dari bencana dan rasa kasihan orang lain yang saat itu berada di posisi untuk menolong kamu.

Saya pikir, setiap orang memiliki bencananya masing-masing dalam hidupnya, namun jangan pernah tunduk terhadap rasa takut.

Bencana akan/bisa datang, kapan saja (dari mulai hutang, cerai, kebanjiran, kehilangan seseorang yang kamu cintai, kecelakaan, sakit, dll.).

Sekali lagi, siapkan diri kita, hadapi dengan berani, pikiran positif dan bantuan pasti akan datang.

manusia/renunganMarch 5, 2008 5:36 pm

Pernah ga ingin merevisi atau mengubah tulisan yang sudah kamu publikasikan di blog? Terus terang saya ingin dan merasa agak malu sudah menulis bahkan mempublikasikannya di blog.

Masalahnya semakin kita banyak tahu, semakin banyak hal-hal yang perlu kita ketahui lebih jauh lagi.

Tentu dengan proses belajar tersebut kamu sadar pemikiran kamu, salah satu teori yang kamu yakini kini pudar oleh teori dan keyakinan lain/baru?

Apakah saya bisa dibilang inkonsisten dengan pemikiran dan ide2 saya? Ya saya pikir ga sih….Manusia tentu bisa berubah pikiran dan ide setelah mengalami proses belajar. Rektifikasi itu bukan sesuatu yang memalukan.
Cuma mungkin saya menyesal telah mempublikasikan tulisan yang sekarang ini saya anggap salah itu.

Mungkin saya perlu waktu banyak untuk kembali menulis di blog ini, waktu untuk belajar. Terus terang saya ibarat sedang bersemedi, mempersiapkan diri dengan berbagai buku, planning, etc. bukan mempersiapkan diri untuk menulis lagi, tapi mempersiapkan diri “in the real life

Ada tulisan2 di blog ini yang bisa membuat saya merenung, tertawa, marah, sedih, ada pula yang saya sesalkan telah menulisnya. Tapi, saya tidak malu kok mengakui kalau saya telah menulis sesuatu yang bodoh dan berbuat kebodohan. Ada rasa ingin menghapus tulisan tersebut dari blog, tapi saya pikir, “jangan!…suatu hari nanti, ketika saya kembali membaca tulisan tersebut, akan membuat saya sadar, bahwa dulu saya masih “hijau” dan bodoh…lain dari sekarang ini, saya dengan lebih banyak pengetahuan dan pengalaman.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah menuaikan pendapatnya yang panjang maupun pendek di berbagai tulisan di blog ini. Walaupun blog ini sudah tidak seaktif dulu, tapi saat aku login dan menemukan berbagai pendapat yang berbeda-beda dari pembaca dan sambil melihat-lihat tulisanku yang dulu, kembali lagi ingatan saya, ide2 saya yang dulu….Blog ternyata sangat berguna loh…

Jadi ya gitulah…keep learning and time is knowledge.

manusia/renunganFebruary 1, 2008 2:06 pm

Terima kasih atas adanya teknologi seperti Internet, telpon genggam, messenger, skype, etc. saya menjalin lagi hubungan dengan teman-teman yang sudah lebih dari 10 tahun tidak ketemu.

Cuih. Ya, ngaku aja, saya bukan anak jaman. Beruntung jaman saya dikenali internet dan email, punya blog segala lagi…

Akhir-akhir ini memang saya sibuk, belum lagi karena egoisme saya yang tinggi, mungkin hubungan persahabatan dan soal –soal pribadi terlantar.

Entah saya ini budaknya siapa? Kok perkara pribadi sampai tidak punya waktu?

Namun, untungnya, ada saja teman-teman lama yang menjaring lagi persahabatan yang sudah lama ditinggalkan karena kesibukan masing-masing.

Tukar menukar lagu, tukar menukar cerita, balik lagi ke jaman sekolah dulu.

Cerita ini basi? Ngga sih bagi saya. Malah hal-hal seperti ini membuat saya sadar, siapa saya, harga saya, keadaan diri saya. Saya masih sangat jauh dari menjadi manusia yang sempurna. (Sempurna di mata siapa? ngga penting di mata siapa).

Saya akui, akhir-akhir ini saya banyak berubah, baik berubah ke baik dan keburuk. Pengalaman membuat saya tahu kualitas, begitu juga kekurangan diri saya.

Namun semua itu kadang tidak penting, toh, tiap manusia akhirnya menjadi tua, dan seorang tua hanya ingin mati dikelilingi oleh sanak saudara dan teman-teman terbaiknya.

Ada baiknya saat muda kita mengingat pikiran seperti ini, ada baiknya berhenti dan menauruh perhatian kita kepada orang-orang yang kita cintai di sekeliling kita, sahabat lama, teman lama, teman jauh, teman dekat, teman internet, dst.

Sebelum terlambat, jalinlah sarang laba-labamu, kumpulkan lagi teman-teman kamu, manjakan mereka dengan salammu, dengan senyummu, ceritamu dan kemurahan hatimu. Ketika tua nanti, ketika anak dan cucu sudah dewasa dan egois, kamu sudah punya jaringan laba-laba di mana kamu bisa merasakan hangatnya persahabatan.

manusia/renunganMarch 25, 2006 3:25 pm

Negara kita belum lama ini sedang giat berbicara, mengangkat polemik tentang moral, seperti halnya bagi para wanita dilarang memamerkan bagian-bagian tubuh, sampai pada bergoyang sensual.

Memang gampang kok melarang hal-hal macam itu. Karena pemerintah sendiri tidak dan belum mampu melihat moral buruk yang lain, seperti korupsi.

Pernah mikir, lebih kejam mana, menjadi perek (prostitusi)- yang dosanya adalah menjual tubuhnya (di sisi lain- menyenangkan pelanggannya) atau seorang koruptor kelas kakap yang daftar akibat perbuatannya panjang, seperti: mengantongi duit negara, menebas ilusi rakyat, menghapus kemajuan suatu negara, menghabisi hutan dan sekitarnya akibat duit sogokan yang diterimanya dari perusahaan swasta tertentu, dan akibatnya adalah banjir dan kerugian bagi warga setempat, etc. etc…Seperti efek kartu domino yang berderet rapih, kemudian setelah satu disentuh di salah satu ujungnya, yang lain secara beruntun berjatuhan…

Korupsi akibatnya bisa panjang karena itu menyangkut hak banyak orang/sumber daya alam. Misalnya saja korupsi dalam pembangunan sebuah jembatan. Bikin jembatan murahan yang baru setahun sudah ambruk, menimbulkan korban jiwa, merusak kelancaran pemakai jalan dan infrastruktrur suatu desa…Mengkorupsi dana bantuan untuk masyarakat miskin, dana pensiun, dana ini itu yang kegunaannya untuk rakyat banyak.

Bukannya saya mau berkata, “mendingan jadi perek daripada koruptor”…ini cuma sekedar membandingkan kebiasaan/perbuatan yang dianggap tidak senonoh oleh pemerintah dengan menuliskan RUU dengan “konsep yang kabur” bagi sebagian besar orang - namun melupakan kejahatan yang lain…

Perbuatan yang kini dikejar-kejar adalah perbuatan yang menyangkut diri kita masing-masing, seperti cara berpakaian, kebebasan berkarya seniman-seniman, kebebasan orang biasa untuk sekedar mengoyang-goyangkan tubuhnya, dst.

Karena mereka yang di atas tidak bisa mengurusi dosa besar, kini yang dikejar-kejar adalah dosa kecil (bagi yang lain bukan dosa) yang tidak merugikan orang lain.

Terserah bapak-bapak pemimpin, mau masih terus jadi bangsa ke tiga? dan orang-orang yang sok-sok demo dengan kekerasan di depan kedutaan besar negara tertentu - tapi nanti kalau ada musibah besar seperti tsunami, apa ga malu nerima bantuan dari negara-negara lain??? atau memang sudah sanggup menanggulangi bencana besar dengan kekuatan ekonomi dan militer negara kita? (hah..ekonomi?? seberapa besar dana bebas yang kita miliki untuk hal-hal seperti ini? ups!)

Memang susah hidup berdemokrasi dan menghirup udara kebebasan. Bangsa kita terlalu beragam budaya dan agama.

Kalau situ mau pakaian ditutup sampai alis ya silahkan, sudah kepercayaan sampean seperti itu. Lalu ada perempuan yang memakai rok sedengkul tidak merasa memamerkan apapun dan tidak berlaga menjual tubuh.

Di luar negri, kalau di tempat-tempat umum, banyak pasangan muda yang berciuman. Tepat di depan kita, ya silahkan, kita alihkan saja pandangan kita ke tempat lain kalau kita merasa risih. Itulah kebebasan yang ada.

Selama tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum pidana.

Di blog ini sebenernya aku juga belajar demokrasi. Kadang ada aja komentar-komentar keras dan “cunihin”. Tapi tidak aku hapus, aku biarkan saja- selama tidak ada kata-kata kotor atau menghina- walaupun dalam hati dongkol. It’s okey, that’s the freedom.

Apakah dengan melarang ini itu yang menyangkut hak pribadi bisa merubah moral bangsa ini yang sudah hanyut dalam moral bejat yang lebih besar yang merugikan orang banyak?

Saya pikir tidak.

Urusi dulu perekonomian dan stabilitas negara ini, hapus KKN dan urusi juga alam yang sudah banyak dirusak (ingat banjir, kekeringan, gagal panen, dsb.)

Daripada nanti muncul polisi moral yang menyetop mbok-mbok di pasar karena dadanya kelihatan dan kebayanya terlalu ketat…

Weissss!

Sudah dari dulu toh…”tradisi”…

Bayangkan, kalau kamu tidak suka si A, tinggal fitnah, “weh..si A goyang2 pinggul sensual di jalanan“…walah…sopo toh polisi yang ngurusin kayak gini? belum lagi kalau si A didenda 100 juta, si polisi minta disogok biar si A ga kena denda…

negara amburadul!

manusia/renunganMarch 10, 2006 4:47 pm

“Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi banyak”…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.

Ternyata ada benarnya. Beberapa hari yang lalu di subway ada seorang bapak-bapak tua yang meminta belas kasih orang lain untuk memberinya uang dikarenakan ia mengalami kesulitan ekonomi dan istrinya berpenyakit parah. Pensiunnya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup mereka. Ia pun menuturkan, “pensiun saya hanya bersisa sepuluh euro setelah membayar listrik, gas, dan ini itu”. Tidak cukup untuk makan sebulan tentunya.

Saya sebenarnya sudah niat memberi, namun tepat ketika itu saya harus keluar gerbong karena tujuan saya sudah sampai dan ada rasa “gimana”…gitu mau ngasih. Saya pikir, toh ada ibu-ibu yang sudah memberi dia…

Sorenya, saya kena musibah. Saya kehilangan uang (tentu jumlahnya lebih besar dari uang yang akan saya berikan pada bapak itu). Saya pikir, apa ini mungkin karena pepatah di atas tadi? (dan rasa bersalah yang membebani pikiran saya).

Semestinya saya memberi uang kepada bapak itu tadi karena sudah ada niat.

Pagi ini, saya melihat seorang bapak tua duduk di jalan dengan karton bertuliskan, “Tolong saya, saya tidak punya rumah”.

(Kita bisa membedakan mana pengemis yang diorganisasi mana yang tidak).

Saya langsung memberinya uang sekadarnya. Saya pikir, saya masih lebih mempunyai peluang lebih banyak untuk memperbaiki ekonomi saya daripada bapak tadi dan suatu kewajiban bagi kita untuk menolong orang yang membutuhkan.

(ini tulisan saya terusin, tadinya sempat nongkrong di draft, dan kebetulan saya lihat Pipit juga udah nulis tentang sumbangan, sekarang aku mau terusin lagi ceritanya).

Nah tadi itu aku sedang menuju tempat untuk wawaranca (btw I got a job, I’ll start on Monday), dan untung aja supir bisnya baik, pas aku tinggal sendirian di dalam bis, taunya itu halte terakhir dan dia nunjukin tempat yang akan aku tuju.

Selesai dari interview, ternyata si bis dan supirnya masih ada di situ (atau mungkin sudah pergi dan balik lagi ke halte tersebut).

Pas aku naik, dia sedang berbincang-bincang dengan seorang suster tua. Supir itu menyapaku.

“Ini masih 8 menit lagi baru jalan” katanya
“Oya, ngga pa-pa, saya tunggu di sini” kataku sembari memilih tempat duduk.

“Suster tadi itu misionaris. Dia akan pergi ke sebuah perusahaan asuransi untuk meminta sumbangan, supaya bisa membantu anak-anak di Afrika” kata si bapak supir memulai perbincangan.

“Wah hebat yah…”, kataku dan benar-benar kagum dengan ibu tua tadi karena masih berjuang demi membantu orang-orang yang butuh pertolongan.

“Ibu itu minta saya berdoa, supaya dia sukses minta sumbangan”
“Saya sendiri bilang ke dia kalau saya menjadi orang tua asuh dari 3 orang anak di Guatemala”
kata bapak sopir - saya tertegun.
“Dan suster tadi sangat bangga dan berterima kasih akan usaha saya membantu anak-anak tersebut”.

Aku makin terbengong-bengong, betapa mulianya orang-orang sederhana, dan orang-orang seperti kitalah yang bisa merubah dunia jika kita mau!
——————————

Gimana yah? berarti aku itu masih kurang banget dalam hal membantu….jadi malu…..sekali!

GOD thank for this lesson, I should feel ashamed.

manusia/renunganFebruary 14, 2006 1:50 pm

Keseimbangan itu tidak selalu bagus, yang saya maksud keseimbangan dalam kebaikan dan keburukan.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat, orang yang rajin olah raga, bahkan berprofesi guru olahraga, monitor gym maupun dokter yang lebih mengetahui seluk beluk kesehatan, menyeimbangi kegiatannya sehari-hari dengan merokok.

Atau seorang yang mengaku peduli terhadap lingkungan, yang sehari-hari memisahkan sampahnya untuk di daur ulang, ternyata saat memerlukan roti, ia pergi membeli roti yang tokonya cukup dekat dengan menggunakan mobil.

Orang yang sedang berdiet, mengkonsumsi makanan yang dianggapnya sehat, sedikit minyak dan lemak, tau-tau selama akhir minggu, dia kenyang makan pizza dan hamburger.

Lebih gondok lagi, orang-orang yang sok ngasih nasihat, jangan berbuat ini itu, eh taunya di belakang kita dia berbuat sebaliknya…

Mm..tiap orang memang punya kelemahan. Saya sedang mencoba untuk menjadi orang yang tidak seimbang dalam kebaikan dan keburukan.

Terutama dalam soal konsumsi makanan dan peduli lingkungan (ngga! saya ga naik mobil untuk beli roti). Niat baik harus diikuti oleh usaha yang keras dan kekukuhan pikiran.

Peduli dengan orang-orang sekitar yang tetap merokok, tidak memisahkan sampahnya, membuang-buang enerji untuk hal-hal kecil…kadang kalau melihat contoh-contoh begini, kita jadi merasa, lemah?
Apakah berharga usaha kecil dari kita melawan seribu orang yang melakukan keburukan?

(I’ve just realized that I wrote this meaning completely erroneous! - I think I was in limbo when I wrote it…suddenly I said, Oh my God…what have I done?) sorry readers, I made you confuse!

manusia/renunganFebruary 8, 2006 1:50 pm

Menulis tentang kebebasan pers Eropa tidak berarti saya mempunyai pengetahuan luas tentang tema ini, saya hanya mencoba memenuhi permintaan bapak Huzain - koordinator Merdeka, untuk menulis tema ini sebagai lanjutan dari tulisan saya yang berjudul: “Islam, masih bermakna damai?” dan mencoba mengambil analisis tentang salah satu insiden besar di jaman ini.

Mungkin saya dan rekan lainnya yang kebetulan tinggal di sini (yang akan segera bergabung dengan Merdeka, masih dirahasiakan) mencoba menjadi koresponsal Merdeka dan memberikan pandangan berbeda bagi media berita di Indonesia- khususnya di Internet, melalui blog pribadi ini.

Pertanyaannya kenapa sebagian surat kabar-surat kabar di benua ini berani mempublikasikan gambar kartun Muhammad yang kontroversial itu setelah tahu reaksi keras umat Islam sedunia?
Sedangkan di Amerika Serikat, kebanyakan media massa memilih untuk tidak mempublikasikan karikatur tersebut. Sebagian mempublikasikan untuk memberi penjelasan pada masyarakat kenapa insiden ini bisa terjadi.

Ada beberapa jawaban yang saya akan coba tampilkan di sini:

1. Ketidaktahuan tentang Islam, adanya larangan menggambar nabi dan Tuhan kita supaya pengidolaan terhadap gambar, patung dan sebagainya oleh umat Islam dihindari.

2. Sikap bersikeras sebagian pers Eropa dalam pernyataan mereka tentang kebebasan pers dan pers yang independen.

3. Situasi politik, situasi dunia yang masih dipengaruhi oleh terrorisme internasional, situasi kekerasan di berbagai negara bermayoritas muslim seperti di Irak, Palestina dan Afghanistan.

4. Tidak adanya antisipasi terhadap reaksi keras umat Islam.

________________________________________________________

Beberapa partai politik di Uni Eropa pernah mengeluarkan pernyataan bahwa akar dari Eropa adalah Kristianisme. Untuk itu tidak mudah bagi Turki masuk ke dalam Uni Eropa dikarenakan beberapa pendapat yang menentang masuknya “Islam” ke badan pemerintahan ini.

Yang menganggap bahwa akar dari Eropa adalah kristianisme mencoba untuk memurnikan Eropa dengan menghalau masuknya pengaruh-pengaruh dari Islam.

Mengapa? mungkin dikarenakan observasi mereka terhadap apa yang terjadi di negara-negara bermayoritas Islam. Seperti di Afghanistan misalnya, di mana para perempuan dilarang keluar rumah tanpa kawalan suami atau laki-laki dari pihak keluarga, pakaian yang wajib dipakai yang menutupi seluruh tubuhnya (burka, cadar), hukuman rajam, dan seterusnya.

Dan lagi, yang terjadi di negara-negara ini adalah pencampuradukkan norma-norma agama dengan budaya setempat yang makin membuat gambaran Islam sebagai agama yang represif.

Hal-hal yang disebutkan di atas, bagi mereka adalah keterbelakangan, perendahan terhadap perempuan; hak asasi manusia - yang sudah jelas tidak dapat dibenarkan keberadaannya.

Eropa sebagai negara-negara yang mengaku telah beradab dan maju, tidak ingin pengaruh-pengaruh walaupun sekecil apapun dari (gambaran salah) Islam masuk ke negaranya terutama jika Turki berhasil bersatu ke dalam UE.

Selain dari rasa eropanisme yang mereka bangga-banggakan, ketidaktahuan mereka tentang Islam, di mana ada larangan keras menggambar Nabi dan Tuhan.

Sedangkan dalam agama Katolik sendiri, kebiasaan menggambar dan membuat patung sendiri sudah berlangsung beradab-abad lamanya. Jadi, kenapa kok kartun (bukan gambar hasil dari kenyataan, hanya imajinasi penggambar) Nabi Muhammad bisa sampai membuat kerusuhan pada umat Islam di seluruh penjuru dunia?

Bagi saya pribadi, gambar kartun itu sendiri tidak penting. Di sini sudah biasa mentertawakan Jesus, politikus, Tuhan, dalam karikatur. Tidak ada yang merasa terhina, karena itu hanya merupakan gambar kartun semata.

Namun tentu yang paling berbahaya dari kartun ini adalah gambar dari sorban nabi tersebut yang berbentuk bom.

Saya tidak tahu jelasnya bagaimana pendapat dari saudara-saudara kita yang berada di Libanon, Syria, Palestina, Indonesia, Iran, Pakistan dan Afghanistan, disebabkan apa kemarahan mereka? penggambaran kartun nabi itu sendiri atau penghubungan nabi dengan terroris? atau keduanya?

Sepanjang keberadaan kedua agama terpenting di dunia ini, Islam dan Kristen, selalu ada sentimen, rasa benci di antara ke dua pemeluk agama tersebut. Ini kenyataan yang ada.

Di dalam debat-debat pun ketika masing-masing pihak sudah mentok yang kristen akan mengambil frase “Muhammad banyak istrinya, istrinya Muhammad anak kecil”, dan yang Islam mengambil frase macam “Tuhanmu dibunuh kok diem aja? ngga bisa menyelamatkan diri?”, dan seterusnya…akhirnya debat pun berakhir dengan dihapusnya anggota-anggota tersebut oleh moderator, tanpa bisa mencapai kebenaran sebagai tujuan utama perdebatan.

Kembali pada tema ini lagi. Saya pikir, orang-orang Eropa yang memeluk agama Kristen (sebagian tidak mempraktekkannya) dan sebagian besar lain atheis, tidak merasa bahwa gambar kartun bisa sampai menyulut kemarahan umat Islam. Mungkin karena kebiasaan mereka yang kadang mentertawakan diri sendiri, ironisme, dan kultur keterbukaan.

Selain bisa saja hari ini menggambar Muhammad, di kesempatan lain mereka bisa menggambar Bhuda, Yesus - untuk lucu-lucuan…

Salah satu kesalahan si kartunis bagi saya pribadi adalah menghubungkan umat Islam (nabi Muhammad) dengan bom dan terrorisme.

Kesalahan pemimpin surat kabar itu sendiri, menerbitkan kartun yang hanya akan memprovokasi dan menghina penganut suatu agama, dan ia “lupa” menggunakan “common sense” (pikiran sehat) dalam pekerjaannya sebagai penjual berita.

Ke dua, reaksi surat kabar-surat kabar lainnya di berbagai negara selain Denmark (Spanyol, Italy, Perancis, Bulgaria,etc.) sebagai konfirmasi dari pemikiran mereka tentang “kebebasan berekspresi, kebebasan pers” tidak pada tempatnya.

Entah ini sebagai pernyataan rasa tidak takut terhadap kemarahan umat Islam, provokasi, rasa antipati terhadap Islam, entahlah…saya sendiri tidak mengerti.

Hanya Inggris yang kali ini membela umat Islam dengan menyatakan bahwa karikatur tersebut telah menghina kita.

Ketiga situasi politik di negara-negara bermayoritas muslim.

Yang terakhir tantangan Iran yang bersikeras dengan program energi nuklir di negaranya yang telah ditentang oleh, AS dan sekutunya. Juga pernyataan presiden Iran tentang Holocaust Yahudi yang katanya hanya sebuah mitos, pernyataannya bahwa Iran siap untuk menghancurkan Israel.

Situasi di Palestina dengan menangnya Hamas dalam pemilihan umum pertama yang di selenggarakan di wilayah Palestina. Ini membuat UE memberi ultimatum penghentian bantuan ekonominya terhadap Palestina karena Hamas dianggap sebagai grup terroris internasional.

Situasi di Irak, penculikan bahkan kadang pembunuhan terhadap warga-warga asing oleh grup terroris.

Pembakaran mobil-mobil oleh imigran dari Afrika utara di Paris.
Dan masih banyak lainnya.

Kejadian, peristiwa dan pernyataan-pernyaatan dari negara-negara bermayoritas muslim ini telah membentuk opini, bukan saja bagi para pemerintah Eropa, namun juga pada masyarakatnya - terhadap “image” Islam yang seringkali terlihat keras, kasar dan kejam.

Dan, dan saya tekankan….dari pihak kita sendiri, belum ada unjuk gigi dengan beraktuasi dengan cara sebaliknya.

Saya tidak tahu kenapa, misalnya di Palestina, Libanon, merayakan kemenangan misalnya suatu partai politik, kok malah menembakkan peluru ke udara? Bahkan perayaan pernikahan kerap dibumbui oleh penembakkan peluru ke udara (di mana suatu hari di Irak, karena hal ini, tentara AS mengira bahwa mereka adalah musuh, sehingga bom dijatuhkan di rumah orang yang sedang merayakan pesta tersebut, Masya Allah).

Saya masih tidak bisa mengkaitkan “perdamaian dan kegembiraan” dengan “peluru2 dan senapan”.

Oh ya, opini masyarakat Eropa, juga terjadi di Australia (saya lupa di mana saya membaca, seorang wartawati Australia yang memakai jilbab untuk melihat reaksi masyarakat sekitar. Hasilnya ia mendapat rekriminasi, diskriminasi, dan dipandang sebelah mata).

Ada satu hal lagi yang sering saya ingatkan pada kawan-kawan di Indonesia, “memang gampang menjadi muslim di negara yang bermayoritas muslim, kamu tidak peduli image Islam di luar. Mereka sering bersikukuh bahwa apapun yang terjadi, Islam adalah agama yang paling benar dan hal ini hanya mengarah pada intoleransi”.

Saya pikir, sebagai umat yang dewasa, kita juga harus berani melihat borok dan kekurangan diri kita sendiri.

Keempat, tidak ada bayangan dari pers Eropa bahwa gambar kartun tersebut akan menyulut kemarahan umat Islam.

Terlintas di pikiran saya, apakah mereka mengharapkan reaksi kita reaksi umat yang dewasa dan beradab?

Jika kita memang marah, pemerintah suatu negara tetap mempunyai KEWAJIBAN melindungi kedutaan besar (dalam hal ini) Denmark dari kekerasan dan kerusakan yang diperbuat oleh para demonstran.

Bahkan polisi harus bisa mencegah masuknya para demonstran itu ke dalam wilayah kedutaan (yang bukan wilayah Indonesia - i.e.). Sehingga masuk secara paksa ke dalam kedutaan asing berarti memasuki wilayah negara lain tanpa izin dan ini bisa berakibat fatal pada hubungan kedua negara tersebut.

Orang-orang barat biasanya berdemonstrasi secara damai. Dengan pamflet, boleh berteriak-teriak, boleh berdiam diri, maupun berjalan kaki, tidak merusak.
Jadi mungkin inikah yang diharapkan orang-orang yang telah mempublikasikan gambar tsb.? atau memang mereka memang tidak menyangka sebegitu besarnya kemarahan yang meletup di kalangan umat Islam?

Dalam salah satu pamflet di Surabaya, ada yang bertuliskan “vonis hukuman mati bagi yang menghina Muhammad”.

Atau gambar PM Denmark yang lehernya sedang digorok oleh pisau di Jakarta.

Mungkin juga reaksi marah yang kolektif ini telah dipicu oleh seseorang atau suatu kelompok. Dan reaksi marah pada tiap orang pun berbeda-beda. Dan juga, apakah reaksi yang bagi saya “berlebihan” ini merupakan akumulasi dari kemarahan umat terhadap penyerangan terhadap Islam oleh barat?

I have no further comment.

——————————————————–

Yang terjadi telah terjadi. Perang antara barat dan timur. Akibat dari:

-Rasa benci yang tertanam turun temurun, maupun yang timbulkan oleh beberapa kelompok
-Ketidaktahuan kepercayaan dan norma2 dari agama lain
-Aksi dan reaksi yang tidak memakai pikiran sehat (penerbit dan pendemonstran)
-Situasi politik dan ekonomi dunia yang secara paralel mempengaruhi fase peperangan ini
-Idealisme keras yang menyingkirkan toleransi dan sikap berdialog, ketidakdewasaan sebagian kelompok - baik dari barat maupun timur

Di penghujung tulisan ini, saya tetap menyayangkan insensibilitas dan intoleransi dari sebagian pers Eropa.
Dan saya sebagai orang Islam juga menyayangkan reaksi keras dan kasar dari sebagian umat Islam yang berdemonstrasi di kedutaan-kedutaan Denmark.

Semoga kejadian ini dapat diambil hikmahnya di masa mendatang.

Dunia sudah cukup rusak dengan peperangan dan polusi, maka cobalah kita selesaikan masalah dengan bermusyawarah, berdialog, diplomasi - daripada memilih jalan kekerasan yang membawa kesengsaraan bagi masyarakat itu sendiri.

——————————–
Penulis bukan ahli politik. Hanya seorang individu pengamat dunia dan pecinta perdamaian.

manusia/renunganFebruary 6, 2006 10:34 am

Saya mengaku beragama Islam. Dan salah satu arti dari Islam tersebut adalah Damai. Jadi Islam adalah agama yang menyuarakan perdamaian - pemikiran untuk orang sederhana.

Sebenernya akhir-akhir ini saya males mengungkapkan perasaan dan opini saya di blog, mungkin istilahnya sedang sedikit “depre” (deprimida, beuh…)

Namun apa daya, di televisi tiap hari berita-berita dengan senang hati mempertontonkan kemarah muslimin di seluruh dunia atas keluarnya gambar kartun nabi kita Muhammad, yang disitu terlihat memakai sorban berbentuk bom!

Masya Allah. Dan Denmark sendiri bersikeras bahwa itu adalah kebebasan berekspresi. Bagi saya, provokasi, intoleransi dan penghinaan.
Opini saya pribadi sudah jelas.

Pertama, kalau kartun Muhammad sendiri - terus terang saya tidak marah walaupun hal itu dilarang keras di Islam karena bagi saya kartun adalah kartun, tidak bisa dihubungkan dengan sosok Nabi yang sebenernya. Yang membuat saya marah (sedih tepatnya) adalah penghubungan Muhammad dengan memakai sorban bom - yang sepertinya berniat menunjukkan bahwa Nabi dan umatnya adalah para terroris - bomber.

Yang amat saya sayangkan, reaksi dari saudara-saudara kita. Saya setuju protes di depan kedutaan, tapi protes, demo dengan tenang dan damai.

Sampai saat ini sudah ada beberapa kedutaan Denmark di beberapa negara yang dibakar maupun diserang. Apakah ini mengubah keburukan yang sudah ada menjadi lebih baik? bahkan di Syria (atau Lebanon yah?), ada gereja yang diserang pula.

Sikap kasar dan amukan itu hanya memberi kebenaran, mengkonfirmasi dari pihak yang ingin menjatuhkan Islam, sebagai umat yang kasar.

Ini opini pribadi, reaksi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Tapi reaksi saya pada hal-hal begini, cukup berpikir, “Toh kalau para penghujat itu berdosa, bukankah ada Tuhan yang nantinya menghukum mereka?”

Salah satu solusi tanpa kekerasan

Protes sih boleh aja, kalau mau protes keras, para pihak negara-negara yang merasa terhina bisa meminta Denmark untuk menutup kedutaan besarnya di negara tersebut, hengkang. Hubungan diplomasi bisa putus - tentu dengan cara baik-baik. Dan hubungan itu bisa kembali menyambung, dengan jalan diplomasi, berbicara.

Sekali lagi bersikap kasar dan keji, marah-marah, tidak akan merubah situasi.

Malahan kita harus menunjukkan bahwa negara-negara yang bermayoritas muslimin, adalah umat yang damai, umat yang maju dalam pendidikan dan kebudayaan, umat yang berhasil membangun ekonominya (tidak ada korupsi, KKN, etc.), umat yang bertoleransi terhadap agama-agama lain, umat yang menghormati pemikiran dan idealisme umat lain, etc.

Opini saya yang satu lagi, jangan sedih dengan cobaan-cobaan dari musuh - toh nanti di akhirat, Al Hakim akan menjalankan tugasnya.

Sekitar RUU pornografi dan pornoaksi

Saya tidak setuju, saya harap DPR meninjau ulang RUU ini, karena dasar hukumnya tidak jelas. Ini menyangkut moral.

Di lain pihak, saya akan setuju jika ada pihak pengedar pornografi yamg menyalurkan pada anak-anak di bawah umur- dihukum pidana. Ataupun jam siar televisi yang wajib memperhatikan program-program yang ditonton oleh anak-anak di bawah umur, yang tidak menunjukkan kekerasan maupun tayangan untuk dewasa.

RUU ini menyangkut nilai moral masing-masing orang dan penganut agama yang berbeda-beda di Indonesia.

Tidak suka apa yang kamu lihat di TV karena menaikkan birahi? cukup ganti channel, atau matikan TV, ganti aktifitasmu. Tidak suka melihat ada cewek pakai pakaian seksi? tundukkan pandanganmu, lihat ke arah lain, lihat produk2 yang sedang kamu cari di mall.

Salah satu isi dari RUU itu menyebutkan: dilarang berciuman di depan umum (baik berlawanan jenis maupun sesama jenis).

Saya ingat, ketika bapak saya harus bersekolah ke luar dan bertahun-tahun meninggalkan istri dan anak2nya. Di airport, bapak dan ibu saya berciuman, karena akan berpisah. Porno - kah ini????

Bah….mau ke mana sih Indonesia?
Apakah yang dimaksud semua perempuan harus menutup auratnya dengan memakai baju longgar dan jilbab?bagaimana dengan perempuan penganut agama lain? apa dengan cara ini tidak akan ada perkosaan dan penindasaan terhadap perempuan? wong kadang udah pakai jilbab aja masih digoda! lihat postingannya mbak Lita yang berjudul “Molested”

Seperti yang kamu lihat, ini tidak menyelesaikan permasalahan yang ada. Masalahnya kebanyakan laki-laki menjadikan (bukan berpikir lagi) wanita sebagai objek dan sebagian wanita itu sendiri juga rela dijadikan objek.

(ngga ada hubungannya dengan tema ini, tapi salah satu solusi dari masalah ini adalah pendidikan yang menghargai persamaan derajat laki-laki dan perempuan yang prakteknya masih tipis di negara-negara berkembang- mungkin ada yang mau nulis tentang ini?).

Maukah moralmu di atur oleh polisi-polisi agama yang akan menindak pidana karena kamu berjoget, memakai kaos seksi, dan berciuman dengan orang yang kamu cintai? (jangan lupa membawa buku nikah dikantong karena bisa kena denda:Pidana Penjara 1-5 tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
500.000.000 (lima ratus juta rupiah) (Pasal 81).

Common sense.

Di timur, berpakaianlah yang sopan, atau berpakaian pada tempatnya.

Gimana dengan mbok-mbok yang memakai kebaya, kemben nan seksi itu, yang terlihat kanal di dadanya? apa ini porno juga toh? perasaan saya dari jaman baheula, mereka memang berpakain seperti ini. Sayang toh kalau ini juga dihapuskan.
Ndak suka? ya jangan dilihat!

Gimana dengan tari Jaipong yang saya sukai itu? apakah itu pornoaksi???
Itu adalah seni, budaya, dari tanah yang saya cintai. Apakah ini salah satu cara menghapuskan nilai suatu seni/budaya dari daerah tertentu?

Menjadi muslim dengan moral Islam, bukan berarti kita harus mewajibkan orang lain bermoral seperti diri kita.

Okey, silahkan men”judge” saya sebagai muslim KTP, muslim yang liberal, bodoh dan asal-asalan. Namun saya tidak akan membiarkan diri saya dihakimi secara moral oleh manusia lainnya. Hakim saya ada di atas sana.

Jangan menghakimi saya karena pakaian yang saya pakai. Jangan mengkafiri saya karena saya punya pemikiran dan pendapat yang berbeda dari kalian.

Saya masih meyakini Islam sebagai agama yang sempurna, apapun yang akan dikatakan oleh musuh-musuh Islam.

Tapi kitanya juga sebagai muslim, harus menunjukkan peradaban,tingkat pendidikan dan kebudayaan yang bagus, toleransi dan sikap musyawarah dan diplomasi. Kita musti terlihat “keren” (protes damai dengan pamflet, berbicara menyampaikan pendapat kita), bukan terlihat marah-marah dan melempar tomat, merusak “rumah” (kedutaan) negara lain.

Saya pikir Nabi kan dulunya seorang diplomat yang lihai dan dihargai oleh musuh-musuhnya, karena Nabi tidak pernah bersikap kasar. Sekalinya bersikap kasar (bermuka masam) kepada seorang buta yang mendatangi dirinya (surat Abasa), dia langsung kena peringatan oleh Allah. Betul kan? nah jadi….pikir sendiri deh sebelum grasak grusuk..

manusia/renunganFebruary 1, 2006 11:43 am

Ketika seorang teman, seorang pelindung dan seorang penjaga pergi meninggalkanmu, kembali pada sang Pencipta, hari-hari berikutnya, kamu bertanya-tanya, “Ada di mana ia gerangan? akankah Allah melindungimu? memberikanmu tempat tinggal yang menyenangkan?”

Seperti seorang anak kecil yang tidak tahu menahu, ada apa setelah kematian?

Setelah konsultasi, tentu konsultasi pada kitab suci, saya mengerti- ia sama seperti halnya kita.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” (6:38)

Saya akui, amat menyedihkan jika Allah memberi pelajaran pada saya dengan mengambil seseorang yang saya sayangi. Namun dengan begitu, saya harus belajar ikhlas merelakan kepergian seorang sahabat, mi guardian, mi protector, mi mejor amigo - que en paz descanse.

Setelah tiga hari kepergiannya, badan ini selalu menggigil ketika hendak tidur. Tidur bukan karena ingin, saya tidur karena lelah dan sakit. Jika badan saya sehat, pikiran saya akan melayang memikirkannya.

Mengapa saya harus menghargai keberadaannya setelah kepergiannya?!

Amigo, we’ll meet again someday, I’m sure. No body’s like you. Please wait for us, for we will be together again , playing in God’s field. Rest in peace. Be free and happy, no more suffering. I love you, we love you so much. Take care my friend. Adios amigo.

asem manis asin, manusia/renunganJanuary 2, 2006 4:46 pm

Ada beberapa blog yang bercerita betapa sedihnya melihat penjual terompet yang dagangannya tidak laku di malam tahun baru. (more…)

Next Page »
online