Sebelumnya saya ingin meralat tulisan saya yang berjudul “Lolos dari hukuman”.
Hari ini ketika saya mengembalikan buku, si pegawai yang 2 hari lalu saya temui (tampaknya baru), mengatakan, “Sampai tanggal 26 ya?!”
“Tanggal 26 apa???” saya jawab
“Kamu tidak bisa meminjam buku dari sini sampai tanggal 26″.
“Saya???” jawab saya masih tidak percaya
“Ya karena kamu terlambat sekali mengembalikan buku”…
Glek…ternyata pikiran saya kemarin salah, saya diberi waktu lebih, tapi ternyata setelahnya diberi hukuman…
Sialan! padahal hari ini saya libur, dan lusa juga demikian, mau baca buku apa saya? buku-buku lama yang ada di rumah???
Sudahlah….sampai senin tidak parah amat kok!
Nah sekarang saya mau bicara tentang kantong plastik, karena ternyata pemikiran saya dengan Pipit kurang lebih sama. Di postingnya yang terakhir, beliau mempunyai ide tentang bagaimana pengolahan sampah di negara kita.
Kalau saya sih cuma inisiatif sendiri. Saya berhenti belanja dengan menggunakan kantong plastik baru dari supermarket.
Kalau kita lihat di Indonesia, kalau sedang jalan-jalan, bahkan saya temukan juga di pegunungan, orang-orang sembarangan saja membuang kantong plastik, sehingga kantong itu selama bertahun-tahun (bisa ditebak, beribu-ribu tahun) akan tetap berada di tanah dan tidak akan tiba-tiba berubah menjadi sampah organik!
Di mulai dari rumah, saya menyimpan berpuluh-puluh kantong plastik dari supermarket. Maka sekarang, kalau saya belanja, saya membawa tas dan kantong-kantong plastik dari rumah jika tas tidak cukup membawa belanjaan.
Selain tas, kadang, saya membawa juga troley (tas belanja dengan 2 roda).
Pikiran saya cukup tenang karena saya telah berbuat baik untuk alam, walaupun hanya sedikiiiiitttt…sekali.
Lainnya yang masih belum menjadi kenyataan adalah berhenti membeli makanan siap jadi yang bungkusannya terdiri dari plastik, kertas, aluminium foil, dan sebagainya.
Kini di supermarket, membeli sayuran saja, bungkusannya bermacam-macam.
Kira-kira 3 minggu yang lalu saya ke pasar kaget hari Minggu, membeli kaus kaki, topi, shal, dan sebagainya, dan saya pun membawa tas belanja.
Lucunya, tiap kali saya membeli, penjual dengan sedikit memaksa memberikan saya kantong plastik untuk membawa barang yang baru saya beli. Saya keu-keuh bilang, tidak. Lalu mereka menjadi heran melihat saya. Teman saya pun tertawa saja….
Setiap kali membeli dan mengambil barang belian, saya harus menunjukkan tas saya agar tidak diberi kantong plastik.
PD: Pisahkan sampah organik dengan sampah plastik/kaleng dan sampah kertas/karton.
Di sini, seorang pengumpul karton seharinya maksimal bisa menjual sampah karton itu sampai 50 euro. Coba deh rata-rata in aja, 30 euro per hari kali 24 hari (anggap saja minggu tidak bekerja), pemulung itu sudah bisa mendapatkan 720 euro perbulannya.
Lumayan kan?





