Terima kasih atas adanya teknologi seperti Internet, telpon genggam, messenger, skype, etc. saya menjalin lagi hubungan dengan teman-teman yang sudah lebih dari 10 tahun tidak ketemu.

Cuih. Ya, ngaku aja, saya bukan anak jaman. Beruntung jaman saya dikenali internet dan email, punya blog segala lagi…

Akhir-akhir ini memang saya sibuk, belum lagi karena egoisme saya yang tinggi, mungkin hubungan persahabatan dan soal –soal pribadi terlantar.

Entah saya ini budaknya siapa? Kok perkara pribadi sampai tidak punya waktu?

Namun, untungnya, ada saja teman-teman lama yang menjaring lagi persahabatan yang sudah lama ditinggalkan karena kesibukan masing-masing.

Tukar menukar lagu, tukar menukar cerita, balik lagi ke jaman sekolah dulu.

Cerita ini basi? Ngga sih bagi saya. Malah hal-hal seperti ini membuat saya sadar, siapa saya, harga saya, keadaan diri saya. Saya masih sangat jauh dari menjadi manusia yang sempurna. (Sempurna di mata siapa? ngga penting di mata siapa).

Saya akui, akhir-akhir ini saya banyak berubah, baik berubah ke baik dan keburuk. Pengalaman membuat saya tahu kualitas, begitu juga kekurangan diri saya.

Namun semua itu kadang tidak penting, toh, tiap manusia akhirnya menjadi tua, dan seorang tua hanya ingin mati dikelilingi oleh sanak saudara dan teman-teman terbaiknya.

Ada baiknya saat muda kita mengingat pikiran seperti ini, ada baiknya berhenti dan menauruh perhatian kita kepada orang-orang yang kita cintai di sekeliling kita, sahabat lama, teman lama, teman jauh, teman dekat, teman internet, dst.

Sebelum terlambat, jalinlah sarang laba-labamu, kumpulkan lagi teman-teman kamu, manjakan mereka dengan salammu, dengan senyummu, ceritamu dan kemurahan hatimu. Ketika tua nanti, ketika anak dan cucu sudah dewasa dan egois, kamu sudah punya jaringan laba-laba di mana kamu bisa merasakan hangatnya persahabatan.