heit….bukan, bukan saya yang mau bunuh diri…
Itu loh, khas seseorang yang bangun pagi ngga ada kerjaan, ngopi sambil merenung, merenung tentunya tentang diri sendiri (ngapain juga gua mikirin orang lain), tentang hidup yang bagi saya tidak artinya, absurd…
Untung aja saya sendirian, kalau ada orang lain yang melihat saya berbicara dengan “Tuhan”, mungkin saya sudah pindah tempat tinggal, ke rumah sakit jiwwww
Tiba-tiba aja mikir, tentang keputusan seseorang yang bunuh diri, bukan harakiri ala Nipon, tapi orang-orang yang memutuskan untuk tidak meneruskan hidup dia lagi, paling ngga, di dunia ini, di Bumi (jika memang ada kehidupan di dunia lain).
Mereka cukup bebas, merdeka dalam otak mereka yang gelap, untuk melakukan hal tersebut, dan memiliki keberanian (nekat), untuk bunuh diri.
Keputusan yang cepat dan tentu, tidak khawatir Tuhan, dosa, atau apalah, karena elemen-elemen tersebut mungkin tidak berarti apa-apa bagi dia.
Terus terang saya “salut” atas keberanian mereka diatas apapun alasan mereka utk melakukan itu.
Keputusan yang cepat dan ditemani oleh keputus-asa-an dan solusi nol dan lingkungan sepi.
Lain halnya dengan pasien yang dalam keadaan koma, cacat total, etc. yang menulis surat wasiat untuk dihentikan hidupnya oleh dokter. Mereka masih punya alasan yang kuat.
Gimana kalau yang mau bunuh diri ini, seorang pemikir- filsafat, yang alasannya cuma, mau berhenti hidup karena ngga mau hidup di kehidupan yang absurd. Boleh toh?
Apakah benar kehidupan di dunia ini diciptakan dengan niat oleh seseorang/sesuatu yang lebih kuasa daripada siapapun/yang diciptakannya? Waktu dia menciptakan semua ini, apa yang terlintas di pikirannya?
“I’m just having fun??????????????” “I’m tired to be alone”????????????????????
Atau apa semua ini tercipta secara tidak sengaja? tapi sulit untuk menjelaskan sesuatu yang tidak ada dan menjadi ada secara tiba-tiba….makanya lahir agama-agama, nabi-nabi, rasul-rasul, orang-orang suci…
Hm….
untuk coba menjelaskan kepada otak-otak kecil yang dimiliki orang-orang yang malang…bahwa dibalik semua itu ada seorang Pencipta dengan nama-namanya tersendiri.
Ngga kok, saya ga mencoba untuk ironis.
Just live and let live. What ever your reason to be here, maybe one day you know why you are created (jangan ngasih jawaban bahwa kamu diciptakan utk beribadah, dst. karena saya sudah belajar itu dari sekolah dasar…).
Dia pasti memberikan kamu kebebasan, karena otak dan kamu adalah ciptaanNya yang paling sempurna, ah masa?
Terus, terus berpikir….sampai sejauh mana otak kamu mencari-cari jawaban walaupun untuk itu kamu harus tetap HIDUP. Welcome to the club!
———————————————–
Sorry to write this people.

hola!
Comment by macchi — September 1, 2007 @ 12:33 pm
Ya itu, bukan bunuh dirinya yang jadi perhatian. Tapi kenapa keputusan itu yang diambil. Akan jauh lebih “berani” dan “hebat” kalo mereka (korban bunuh diri) bisa menghadapi realita, sepahit apapun. Ini memang soal pilihan sih.
Comment by Hedi — September 1, 2007 @ 3:23 pm
Hidup dan mati adalah hak Illahi dan diri, tapi bunuh diri.. wah itu mah dosa besar
, benar - carilah alasan sebanyak mungkin untuk mempertahankan hidup… bukan sebaliknya..
Seneng udh bisa mampir kesini lagi, kangen sekali blom denger khabarnya lagi nih..
Hugs and kisses from West Africa, neng geulis
Comment by Kampret Nyasar — September 5, 2007 @ 7:08 pm
gw jg pernah kepikiran moo bunuh diri tp ga jd coz gw tkt mati sedang gw tau gw masih banyak baget dosa dari pada gw menderita disana mendingan gw puasin dulu hidup di dunia…….he…he.,
Comment by bit2 — October 18, 2007 @ 10:02 am
maaf temaan..
gw gak setuju dengan pernyataan moo mengenai kesalatuan tentang keberanian untuk bunuh diri…
gw berpikir bahwa keberanian yang hakiki adlh dimana ketika kita dgn penuh kesadaran,baik kesadaran akal maupun nurani untuk melakukan sesuatu.
bunuh diri tidak memenuhi aspek kesadaran. tapi ketertundukan kita terhadap permaslahan dan bukan kepada sang hakikat.
tapi menarik jg kajian ketuhanan moo.yg menurt gw idealisme teologis yg d transformasikan ke tatnan realitas.kebangkitan manusia terhadap tatnan kesemrawutan sosial
Comment by fahru — October 29, 2007 @ 7:39 pm
maaf temaan..
gw gak setuju dengan pernyataan moo mengenai kesalatuan tentang keberanian untuk bunuh diri…
gw berpikir bahwa keberanian yang hakiki adlh dimana ketika kita dgn penuh kesadaran,baik kesadaran akal maupun nurani untuk melakukan sesuatu.
bunuh diri tidak memenuhi aspek kesadaran. tapi ketertundukan kita terhadap permaslahan dan bukan kepada sang hakikat.
tapi menarik jg kajian ketuhanan moo.yg menurt gw idealisme teologis yg d transformasikan ke tatnan realitas.kebangkitan manusia terhadap tatnan kesemrawutan sosial
Comment by fahru — October 29, 2007 @ 7:43 pm
setuju…
ak juga salut bgt amang orang yg berani bunuh diri..
ak prnah kepikiran…
tapi g pnya kebaranian..
pgnny sih cepat dan g menyakitkan…
dan pgnnya terlihat seperti pembunuhan
Comment by someone — October 11, 2008 @ 12:12 pm
klo belom pernah ngalamin sesuatu yg membuat pikiran tuk bunuh diri, memang keliatannnya apapun alasannya bunuh diri ga bisa dibenerin. tp guyz… gw sdg memikirkannya, pikiran gw kosong, n tujuan hidup gw dah bener2 ilang dr pikiran gw. dr kmrn gw sedang baca2 literatur ttg suicide, sampai masuk jg ke blog ini. sama kyk no.7, pengennya cpet, nggak sakit (klo mati jg mang msh ngalamin sakit ?), terkesan pembunuhan (biar keluarga gw ga malu).
Comment by Maxi — October 15, 2008 @ 10:46 am
صور ماسنجر
صور للتصميم
Comment by htof — February 24, 2009 @ 3:03 am
صور
ديكور
Comment by htof — February 24, 2009 @ 3:05 am