The State of Fear, by Michael Crichton

Novel ini mungkin salah satu novel yang paling lugas menceritakan keadaan aktual planet Bumi kita, salah satu buku terbagus yang pernah saya baca.
Yang kemudian menyebabkan saya ragu akan pengetahuan saya tentang pemanasan global yang ribut dibicarakan oleh kaum ilmuwan sampai orang-orang awam.
Entahlah, membaca buku setebal 600 halaman ini seperti melahap pengetahuan yang mengejutkan, bukan saja menambah ilmu pengetahuan kita, namun juga kita dihibur oleh cerita yang menegangkan, seru dan penuh (sekali lagi) kejutan.
Bagaimana politikus menguasai para ilmuwan agar memanipulasi data-data yang mereka temukan, apa yang terjadi di balik pemanasan global yang kita ketahui sekarang ini, apakah Protokol Kyoto benar-benar dapat menjawab persoalan pemanasan global yang disebabkan oleh efek rumah kaca (akumulasi karbondioxida)? apakah gerakan-gerakan perbaikan untuk mengurangi efek gas rumah kaca adil terhadap negara-negara berkembang? apakah benar glacier di Antardida meleleh lebih cepat dari biasanya? apakah benar adanya kenaikan permukaan laut di bumi ini? dan pertanyaan2 lainnya tentang konflik pemanasan global.
Jangan takut! buku ini mudah dicerna disebabkan keahlian Michael Crichton yang membungkus buku yang penuh dengan data-data “ril” ini ke dalam cerita petualangan yang diperanutamakan oleh Peter Evans (pengacara) dan George Morton (milyuner yang sibuk membantu NGO demi kebaikan lingkungan alam).
Bermula dari kematian seorang ilmuwan di Paris yang kala itu menyelidiki tentang gelombang tsunami, lalu seseorang yang tertarik untuk membeli mesin yang dapat menyebabkan gempa di dasar lautan, sampai terlibatnya kedua peran utama di buku ini hampir mengorbankan jiwanya lebih dari sekali.
Indonesia juga muncul di sini, namun dalam sisi yang cukup menakutkan….(terutama Sumatra dan Kalimantan).
Saya pun takjub akan puluhan (mungkin juga ratusan?) referensi yang disuguhkan oleh penulis di akhir novelnya (membuktikan bahwa untuk menjadi seorang penulis berkaliber dunia, dibutuhkan kerja keras dan pengumpulan data yang amat ampuh). Ia tak lupa menyuguhkan pendapatnya yang sebenarnya tentang alam dan hal-hal yang terkait.
Oke deh, selamat membaca! saya jamin anda akan melek sampai subuh demi memuaskan rasa keingintahuan anda tentang seribu hal yang menyelimuti konflik pemanasan global (jika memang terbukti!).
PD: pesan saya, apapun yang terjadi, menjadi kewajiban kita semua menjaga lingkungan dan memelihara alam!

wah kayaknya menarik nih
minta url pdf-nya sekalian donk hehe :p
Comment by fahmi jelek — September 4, 2006 @ 5:21 am
novel ini harus dibaca sambil menaikkan level kekritisan kita sampe pol!
memang cuma fiksi.. sayangnya Crichton sungguh piawai memelintir definisi non-fiksi* dan memilih kutipan (citation) usang agar mendukung argumen dlm novelnya.
coba baca2 http://realclimate.org deh..
* misal: suhu di suatu tempat menurun (alih2 naik) dianggap sebagai bukti pemanasan global tidak terjadi. padahal.. definisinya adalah perubahan rerata suhu global
Comment by obot — September 5, 2006 @ 12:33 pm
gue ga tau deh harus percaya ke yg mana, tp setau gue ada banyak scientist maupun org2 awam yg belum berani mengkonfirmasi adanya pemanasan global dikarenakan sulitnya simulasi iklim yg banyak berkaitan dgn kondisi2 spt. arus, siklus karbon, hujan, debu, etc.
tp, trims atas referensinya yah, ntar aku liat. Ngomong2 udah lama ya…kita baru ngobrol2 lagi..
kemarin itu gua baca di bbc adanya pernyataan scientis amrik tentang lelehnya glacier di antartida, namun data2nya tidak cukup untuk membuat aku percaya…(gara2 baca bukunya crichton)…
it doesn’t mean I don’t care about Earth…
:)
Comment by naga — September 5, 2006 @ 7:30 pm
Masalah pemanasan global memang masih diperdebatkan sampai sekarang. Karena biaya kebijakan untuk mengatasi masalah ini, kalau memang diakui sebagai suatu kenyataan, sangat besar. Makanya Kyoto Protocol sempet hampir bubar..
Satu buku non-fiksi tenar tentang perdebatan ini adalah The Skeptical Environmentalist, oleh Bjorn Lomborg. Di kelas masalah lingkungan di kampus, sampai dibahas dua session.
Apa kabar Naga? Sudah lama nggak kedengeran kabarnya.
Comment by Pipit — September 5, 2006 @ 8:00 pm
Apakah ada yang tahu, novel ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia belum ya?
Comment by mikail — May 22, 2007 @ 7:00 am