“Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi banyak”…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.
Ternyata ada benarnya. Beberapa hari yang lalu di subway ada seorang bapak-bapak tua yang meminta belas kasih orang lain untuk memberinya uang dikarenakan ia mengalami kesulitan ekonomi dan istrinya berpenyakit parah. Pensiunnya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup mereka. Ia pun menuturkan, “pensiun saya hanya bersisa sepuluh euro setelah membayar listrik, gas, dan ini itu”. Tidak cukup untuk makan sebulan tentunya.
Saya sebenarnya sudah niat memberi, namun tepat ketika itu saya harus keluar gerbong karena tujuan saya sudah sampai dan ada rasa “gimana”…gitu mau ngasih. Saya pikir, toh ada ibu-ibu yang sudah memberi dia…
Sorenya, saya kena musibah. Saya kehilangan uang (tentu jumlahnya lebih besar dari uang yang akan saya berikan pada bapak itu). Saya pikir, apa ini mungkin karena pepatah di atas tadi? (dan rasa bersalah yang membebani pikiran saya).
Semestinya saya memberi uang kepada bapak itu tadi karena sudah ada niat.
Pagi ini, saya melihat seorang bapak tua duduk di jalan dengan karton bertuliskan, “Tolong saya, saya tidak punya rumah”.
(Kita bisa membedakan mana pengemis yang diorganisasi mana yang tidak).
Saya langsung memberinya uang sekadarnya. Saya pikir, saya masih lebih mempunyai peluang lebih banyak untuk memperbaiki ekonomi saya daripada bapak tadi dan suatu kewajiban bagi kita untuk menolong orang yang membutuhkan.
(ini tulisan saya terusin, tadinya sempat nongkrong di draft, dan kebetulan saya lihat Pipit juga udah nulis tentang sumbangan, sekarang aku mau terusin lagi ceritanya).
Nah tadi itu aku sedang menuju tempat untuk wawaranca (btw I got a job, I’ll start on Monday), dan untung aja supir bisnya baik, pas aku tinggal sendirian di dalam bis, taunya itu halte terakhir dan dia nunjukin tempat yang akan aku tuju.
Selesai dari interview, ternyata si bis dan supirnya masih ada di situ (atau mungkin sudah pergi dan balik lagi ke halte tersebut).
Pas aku naik, dia sedang berbincang-bincang dengan seorang suster tua. Supir itu menyapaku.
“Ini masih 8 menit lagi baru jalan” katanya
“Oya, ngga pa-pa, saya tunggu di sini” kataku sembari memilih tempat duduk.
“Suster tadi itu misionaris. Dia akan pergi ke sebuah perusahaan asuransi untuk meminta sumbangan, supaya bisa membantu anak-anak di Afrika” kata si bapak supir memulai perbincangan.
“Wah hebat yah…”, kataku dan benar-benar kagum dengan ibu tua tadi karena masih berjuang demi membantu orang-orang yang butuh pertolongan.
“Ibu itu minta saya berdoa, supaya dia sukses minta sumbangan”
“Saya sendiri bilang ke dia kalau saya menjadi orang tua asuh dari 3 orang anak di Guatemala”kata bapak sopir - saya tertegun.
“Dan suster tadi sangat bangga dan berterima kasih akan usaha saya membantu anak-anak tersebut”.
Aku makin terbengong-bengong, betapa mulianya orang-orang sederhana, dan orang-orang seperti kitalah yang bisa merubah dunia jika kita mau!
——————————
Gimana yah? berarti aku itu masih kurang banget dalam hal membantu….jadi malu…..sekali!
GOD thank for this lesson, I should feel ashamed.
