manusia/renunganMarch 25, 2006 3:25 pm

Negara kita belum lama ini sedang giat berbicara, mengangkat polemik tentang moral, seperti halnya bagi para wanita dilarang memamerkan bagian-bagian tubuh, sampai pada bergoyang sensual.

Memang gampang kok melarang hal-hal macam itu. Karena pemerintah sendiri tidak dan belum mampu melihat moral buruk yang lain, seperti korupsi.

Pernah mikir, lebih kejam mana, menjadi perek (prostitusi)- yang dosanya adalah menjual tubuhnya (di sisi lain- menyenangkan pelanggannya) atau seorang koruptor kelas kakap yang daftar akibat perbuatannya panjang, seperti: mengantongi duit negara, menebas ilusi rakyat, menghapus kemajuan suatu negara, menghabisi hutan dan sekitarnya akibat duit sogokan yang diterimanya dari perusahaan swasta tertentu, dan akibatnya adalah banjir dan kerugian bagi warga setempat, etc. etc…Seperti efek kartu domino yang berderet rapih, kemudian setelah satu disentuh di salah satu ujungnya, yang lain secara beruntun berjatuhan…

Korupsi akibatnya bisa panjang karena itu menyangkut hak banyak orang/sumber daya alam. Misalnya saja korupsi dalam pembangunan sebuah jembatan. Bikin jembatan murahan yang baru setahun sudah ambruk, menimbulkan korban jiwa, merusak kelancaran pemakai jalan dan infrastruktrur suatu desa…Mengkorupsi dana bantuan untuk masyarakat miskin, dana pensiun, dana ini itu yang kegunaannya untuk rakyat banyak.

Bukannya saya mau berkata, “mendingan jadi perek daripada koruptor”…ini cuma sekedar membandingkan kebiasaan/perbuatan yang dianggap tidak senonoh oleh pemerintah dengan menuliskan RUU dengan “konsep yang kabur” bagi sebagian besar orang - namun melupakan kejahatan yang lain…

Perbuatan yang kini dikejar-kejar adalah perbuatan yang menyangkut diri kita masing-masing, seperti cara berpakaian, kebebasan berkarya seniman-seniman, kebebasan orang biasa untuk sekedar mengoyang-goyangkan tubuhnya, dst.

Karena mereka yang di atas tidak bisa mengurusi dosa besar, kini yang dikejar-kejar adalah dosa kecil (bagi yang lain bukan dosa) yang tidak merugikan orang lain.

Terserah bapak-bapak pemimpin, mau masih terus jadi bangsa ke tiga? dan orang-orang yang sok-sok demo dengan kekerasan di depan kedutaan besar negara tertentu - tapi nanti kalau ada musibah besar seperti tsunami, apa ga malu nerima bantuan dari negara-negara lain??? atau memang sudah sanggup menanggulangi bencana besar dengan kekuatan ekonomi dan militer negara kita? (hah..ekonomi?? seberapa besar dana bebas yang kita miliki untuk hal-hal seperti ini? ups!)

Memang susah hidup berdemokrasi dan menghirup udara kebebasan. Bangsa kita terlalu beragam budaya dan agama.

Kalau situ mau pakaian ditutup sampai alis ya silahkan, sudah kepercayaan sampean seperti itu. Lalu ada perempuan yang memakai rok sedengkul tidak merasa memamerkan apapun dan tidak berlaga menjual tubuh.

Di luar negri, kalau di tempat-tempat umum, banyak pasangan muda yang berciuman. Tepat di depan kita, ya silahkan, kita alihkan saja pandangan kita ke tempat lain kalau kita merasa risih. Itulah kebebasan yang ada.

Selama tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum pidana.

Di blog ini sebenernya aku juga belajar demokrasi. Kadang ada aja komentar-komentar keras dan “cunihin”. Tapi tidak aku hapus, aku biarkan saja- selama tidak ada kata-kata kotor atau menghina- walaupun dalam hati dongkol. It’s okey, that’s the freedom.

Apakah dengan melarang ini itu yang menyangkut hak pribadi bisa merubah moral bangsa ini yang sudah hanyut dalam moral bejat yang lebih besar yang merugikan orang banyak?

Saya pikir tidak.

Urusi dulu perekonomian dan stabilitas negara ini, hapus KKN dan urusi juga alam yang sudah banyak dirusak (ingat banjir, kekeringan, gagal panen, dsb.)

Daripada nanti muncul polisi moral yang menyetop mbok-mbok di pasar karena dadanya kelihatan dan kebayanya terlalu ketat…

Weissss!

Sudah dari dulu toh…”tradisi”…

Bayangkan, kalau kamu tidak suka si A, tinggal fitnah, “weh..si A goyang2 pinggul sensual di jalanan“…walah…sopo toh polisi yang ngurusin kayak gini? belum lagi kalau si A didenda 100 juta, si polisi minta disogok biar si A ga kena denda…

negara amburadul!

asem manis asinMarch 18, 2006 1:31 pm

“Kemarin itu mamih masa ga diundang pengajian sama ibu X”…kata si mamih ditelpon.

“Loh…kok gitu ya?” sahutku.

“Tau tuh, kalo ibu A, B dan C akhirnya ikutan pengajian karena merasa ga enak udah diomongin”.
(hah??)

“Kalo mamih sih…gimana ya, males, soalnya ibu-ibu itu kalo dateng ke pengajian bajunya show off”.
“Mamih sih belajar ngaji di rumah aja…males ikutan sama ibu-ibu itu, biarin deh diomongin”.

—————————————

Aku tuh suka heran kalau di Indonesia, masa ada ibu-ibu belajar ngaji yang maksudnya baik, tapi terus ngomongin orang juga?
Masa ada mentri agama yang korupsi?

manusia/renunganMarch 10, 2006 4:47 pm

“Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi banyak”…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.

Ternyata ada benarnya. Beberapa hari yang lalu di subway ada seorang bapak-bapak tua yang meminta belas kasih orang lain untuk memberinya uang dikarenakan ia mengalami kesulitan ekonomi dan istrinya berpenyakit parah. Pensiunnya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup mereka. Ia pun menuturkan, “pensiun saya hanya bersisa sepuluh euro setelah membayar listrik, gas, dan ini itu”. Tidak cukup untuk makan sebulan tentunya.

Saya sebenarnya sudah niat memberi, namun tepat ketika itu saya harus keluar gerbong karena tujuan saya sudah sampai dan ada rasa “gimana”…gitu mau ngasih. Saya pikir, toh ada ibu-ibu yang sudah memberi dia…

Sorenya, saya kena musibah. Saya kehilangan uang (tentu jumlahnya lebih besar dari uang yang akan saya berikan pada bapak itu). Saya pikir, apa ini mungkin karena pepatah di atas tadi? (dan rasa bersalah yang membebani pikiran saya).

Semestinya saya memberi uang kepada bapak itu tadi karena sudah ada niat.

Pagi ini, saya melihat seorang bapak tua duduk di jalan dengan karton bertuliskan, “Tolong saya, saya tidak punya rumah”.

(Kita bisa membedakan mana pengemis yang diorganisasi mana yang tidak).

Saya langsung memberinya uang sekadarnya. Saya pikir, saya masih lebih mempunyai peluang lebih banyak untuk memperbaiki ekonomi saya daripada bapak tadi dan suatu kewajiban bagi kita untuk menolong orang yang membutuhkan.

(ini tulisan saya terusin, tadinya sempat nongkrong di draft, dan kebetulan saya lihat Pipit juga udah nulis tentang sumbangan, sekarang aku mau terusin lagi ceritanya).

Nah tadi itu aku sedang menuju tempat untuk wawaranca (btw I got a job, I’ll start on Monday), dan untung aja supir bisnya baik, pas aku tinggal sendirian di dalam bis, taunya itu halte terakhir dan dia nunjukin tempat yang akan aku tuju.

Selesai dari interview, ternyata si bis dan supirnya masih ada di situ (atau mungkin sudah pergi dan balik lagi ke halte tersebut).

Pas aku naik, dia sedang berbincang-bincang dengan seorang suster tua. Supir itu menyapaku.

“Ini masih 8 menit lagi baru jalan” katanya
“Oya, ngga pa-pa, saya tunggu di sini” kataku sembari memilih tempat duduk.

“Suster tadi itu misionaris. Dia akan pergi ke sebuah perusahaan asuransi untuk meminta sumbangan, supaya bisa membantu anak-anak di Afrika” kata si bapak supir memulai perbincangan.

“Wah hebat yah…”, kataku dan benar-benar kagum dengan ibu tua tadi karena masih berjuang demi membantu orang-orang yang butuh pertolongan.

“Ibu itu minta saya berdoa, supaya dia sukses minta sumbangan”
“Saya sendiri bilang ke dia kalau saya menjadi orang tua asuh dari 3 orang anak di Guatemala”
kata bapak sopir - saya tertegun.
“Dan suster tadi sangat bangga dan berterima kasih akan usaha saya membantu anak-anak tersebut”.

Aku makin terbengong-bengong, betapa mulianya orang-orang sederhana, dan orang-orang seperti kitalah yang bisa merubah dunia jika kita mau!
——————————

Gimana yah? berarti aku itu masih kurang banget dalam hal membantu….jadi malu…..sekali!

GOD thank for this lesson, I should feel ashamed.

yang pateticMarch 8, 2006 9:02 pm

each day I try to avoid hearing bad news, news in general.

It makes me crazy, paranoia, and scared.

Soon oil is running out (China demanded more and more each time).
Oil price rocketed, means every thing will rise too.
Iran with their nuclear project.
Economy will slow down.
War for water, oil, and any resources.
Birds Flu.
……
…..

ANY GOOD NEWS, PLEASE???

asem manis asin 7:57 pm

Will we be seing Michael Vartan going out with Sydney Bristow???

Imperio/sejarahMarch 3, 2006 8:45 pm

Would it be possible to achieve peace between Palestinian and Israels if US Government stand off from their peace negotiation?

So many things to be unlocked.

If Bush cannot control his own mess in US, how he pretends to solve other’s problem?

resep/gastronomi 4:17 pm

Tortilla de patata atau dalam bahasa inggrisnya omlet. Kalau omlet perancis, ya telur dadar. Kalau omlet spanish ya terkenal dengan tortilla de patata (kombinasi telur dengan kentang- kalau di Indonesia, mungkin ada perkedel daging dan jagung).


(taken from cookcollege.nl)
(more…)

buku/film/celebMarch 2, 2006 1:48 pm

I’m trying to make a list of boxing movies coz I like it

Here are some of them I’ve already watched:

1. Million Dollar Baby - Hillary Swank, Clint Eastwood, Morgan Freeman(*****)
2. ALI - Will Smith (***)
3. Cinderella Man - Russel Crow (*****)
4. Againts the rope - Meg Ryan (*****)

Do you know any other boxing movies?? (don’t mention any from Van Dam or Steven Seagel!)
—————————-
Added by KIK’s readers:

5. Rocky - Stallone (added by Fahmi)
6. Raging Bull - De Niro (added by Budibadabu)
7. The Hurricane - Denzel Washington (added by Rifie)
8. The Champ (added by Silverlines)
9. Kramer vs Kramer (added by Hedi)

online