Apa sih yang bisa disebut tradisi? kebiasaan ataupun cara berpikir, metode, elemen dari suatu kebudayaan yang tercipta pada masa lampau dan dibawa ke jaman kini melalui proses turun temurun.

“Ini sudah tradisi Pak!” begitu kata banyak orang

Tentu tidak ada harga yang tradisional, harga selalu berubah, naik terus dan jarang ada harga yang turun (terutama di negara kita).

Pasar bisa disebut tradisional karena ada supermarket yang lebih modern.

Baju daerah disebut tradisional karena model baju ini dipakai turun temurun dan pada saat perayaan hari-hari resmi negara dan pesta-pesta adat.

Begitu juga bangunan rumah (Rumah Toraja, Rumah adat Minang), metode pembuatan sesuatu - bisa disebut tradisional (kain tenun misalnya).

Sedangkan ada desain: etnik, kontemporer, 60-an, etc.

Yang dicap tradisional tentu tidak bisa disamakan dengan yang antik.

Ada banyak toko yang disebut toko barang antik, padahal meubel-meubel yang dijual di sana bukan berarti semuanya antik, melainkan desainnya itu diambil dari meubel-meubel kuno, antik.

Barang antik atau kuno adalah barang yang mempunyai umur panjang dan sejarah.

Saya punya tas kulit yang saya beli di Yogya, desainnya kuno, kolonial, namun mungkin umurnya tidak setua desainnya. Hanya saja kancing tas itu memang sudah karatan. Tas ini belum pernah saya pakai keluar, saya belum berani melihat reaksi orang-orang sekitar, jangan-jangan mereka berpikir saya adalah orang yang baru keluar dari mesin waktu.

Makanan tidak bisa disebut makanan tradisional, namun proses pengolahannya bisa jadi.

Kebiasaan menyirih- adalah tradisional.

Sambal ulek adalah sambal yang dibuat dengan proses mengulek yang memang menjadi tradisi di beberapa daerah di negara kita secara turun temurun. Namun ada sambal yang dibuat dengan mixer, tidak diulek, bahan-bahan dimasukkan ke dalam mesin itu kemudian mixer itu akan menghaluskan dan mengaduk bahan-bahan tersebut, hasilnya menjadi sambal.

Karena dibandingkan dengan Spaghetti, gado-gado tidak bisa disebut tradisional. Karena di negara asalnya, spaghetti sendiri adalah makanan yang biasa dimakan sehari-hari, sama dengan gado-gado di Jakarta.
Namun gado-gado bisa disebut makanan khas dari Jakarta dan spaghetti atau pizza - makanan khas dari Itali.

Gado-gado bisa disebut gado-gado tradisional jika memang ada metode pembuatan lainnya yang lebih modern.

Namun saya pikir ada juga makanan kuno, yang mungkin hampir punah keberadaannya, seperti “kerak telur” (yang saya makan sekalinya di Jakarta Fair tahun 80-an).
Bisa dikatakan tradisi orang-orang Betawi mengkonsumsi kerak telur lama kelamaan telah pudar.

Orang-orang di kota besar terkadang terbawa arus modernisasi dan sering melupakan hal-hal yang tradisional ataupun kuno.

Sesuatu yang berbau tradisional bisa tersingkir karena perubahan jaman, namun ada juga orang-orang yang menjual barang dengan cap tradisional untuk mengambil segi positif, keuntungan dari tradisional, dengan maksud bahwa pembuatan barang itu, metode itu sudah mengalami kurun waktu yang lama, sehingga lebih kuat posisinya dan metode pembuatannya: asli, turun temurun, maupun tradisional (tidak memakai metode modern). Misalnya Kecap Cap Bango, Jamu Nyonya Meneer, etc. yang selalu menyebutkan di lebelnya, kata-kata, “sejak tahun….”

Tradisional terkadang menjadi saru juga dengan sifat “etnik”, “eksotis”, “rural” -walaupun kata-kata tsb. berhubugan erat dengan kata tradisi.

Bagi orang-orang bule, wajah Indonesia adalah wajah yang eksotis (ketimuran), dan kain jumputan adalah kain yang bermotif etnik dan kain tradisional, karena metode pembuatannya dari jaman ke jaman tidak berubah.

Wingko babat tidak bisa disebut kue tradisional, namun bisa disebut khas dari Semarang (eh bener ga ini? nanti ada daerah lain yang klaim aku bisa digugat?!).

Khas, sifat unik yang membedakan dari benda lain, asli dari…

Kopi di starbuck, bagi saya sih, kopi amerikanisme, baru, modern (dan lebih mahal daripada kopi tradisional yang ada di café-café lainnya yang hanya menyediakan kopi susu, kopi tubruk, kopi dengan susu kental manis, kopi ireland, etc.).

Jadi mungkin, di masa jauh mendatang, nge-blog pun akan menjadi tradisi.

Sekarang menulis kejadian sehari-hari di sebuah buku adalah metode lama, dan menulisnya di blog adalah metode modern. Semakin banyak orang yang menulis di blog- dan sedikit (semakin sedikit) orang yang menulis di buku catatan harian.

Karena semakin banyak orang yang mempunyai blog dan menulis di dalamnya, media menyebutnya sebagai suatu fenomena. Dan muncul budaya “blogging“.

Dan tahun 2100 kalau blog masih ada, nge-blog akan menjadi sebuah tradisi dari kebudayaan modern.

Jadi dengan kebiasaan kita ngeblog (blogging), kita bagian dari tradisi yang akan kita turunkan pada anak cucu kita, mungkinkah?

——————————————————–
Sementara nulis postingan ini, saya lupa sedang membuat kopi di poci, di kompor. Kopi pun terbakar dan saya kehilangan poci itu. Saya ngga bisa hidup tanpa kopi!
Ngga tau kenapa tiba-tiba tema ini muncul setelah selesai nonton “Elizabeth Town” yang memperlihatkan sisi Amerika yang rural (pedesaan).
Oya, kalau ada yang salah dalam tulisan ini, mohon dikoreksi dan terima kasih. Maklum saya memang hobi menulis dan menulis….