puisi & fiksi, My FavoriteFebruary 11, 2006 8:42 pm

El invierno te ha devorado
No llegaste al verano
Como dice la profecía

(Musim dingin telah menghabisi dirimu
Kau tidak sampai pada musim panas
Seperti yang dikatakan ramalan)

Nos despedimos en una sala fría
En tan poco tiempo
como tu muerte sin agonía

(Kita berpisah di ruangan yang dingin
dalam waktu yang sebegitu singkat
seperti kematianmu yang tanpa penderitaan)

Una dosis letal
te llevó a un dulce y largo sueño

Sebuah dosis yang mematikan
yang membawamu ke dalam mimpi yang indah dan panjang

Añoranza nunca tiene respuesta
Sólo me imagino
estás en el horizonte
al anochecer
en el fondo del cielo
rojizo fuego como tu pelo

Kerinduan tidak pernah mempunyai jawaban
Hanya kubayangkan dirimu berada di horizon
saat malam menjelang
di langit yang paling dalam
Merah berapi seperti rambutmu

Porque no pienso pensar que hayas empezado otra vida
en otro cuerpo

Karena saya tak kan pernah mau berpikir kau telah memulai kehidupan yang lain
di raga yang lain

¡No!
Los muertos descansan en paz
tal vez esperando a sus seres queridos
todavía viven malamente en la tierra

Tidak!
Mereka yang mati beristirahat dengan tenang
Mungkin menunggu yang mereka cintai
Yang masih hidup menderita di dunia

Lloro
y te pido perdón

Saya menangis
dan saya meminta maaf padamu

Eres como un sol para mí
cálido como tu cuerpo
caliente como tu corazón

Kau seperti matahari bagiku
hangat seperti tubuhmu
panas seperti hatimu

Salúdame por las mañanas
Báñame con tu rayo
Sintiendo tú

Sapalah diriku tiap pagi
Mandikan aku dengan sinarmu
merasakan dirimu

Y cuando desciendas
sigues tan hermoso como un rey en el cielo

Dan ketika kau terbenam
kau tetap sebegitu tampan seperti seorang raja di langit

Para un amigo, que siempre nos acompañaba, disfrutaba del cálido luz del sol, dormía para despertar una vez más con nosotros.

naga.

asem manis asin 2:55 pm

Kemarin saya iseng-iseng nelpon teman ke Indonesia dengan Skype. Seperti yang anda ketahui, teman-teman perempuan yang sebaya dengan saya ternyata kebanyakan sudah menjadi ibu rumah tangga (RT) murni.

Berhenti kerja di luar rumah, baik untuk mengatur rumah maupun untuk mengasuh anak.

Ternyata membangun komunikasi dengan teman lama apalagi yang sudah menjadi ibu RT- susah juga ya? ngga nyambung! Ya aku kebanyakan nanya: gimana kabarmu? ngapain aja di rumah? suamimu masih sering dinas? kamu masih sering kontak dengan teman-teman kita? Kamu tau kabarnya si N ngga sih? bla bla bla…

Akhirnya tidak sampai sepuluh menit aku pun memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan, karena sepertinya tidak tahu lagi harus menanyakan apa kepadanya. Dia pun tidak punya cerita apa-apa untuk diceritakan kepadaku.

Huh!

Mungkin harus dimaklumi komunikasi dengan telpon, apalagi dengan teman lama, pembicaraan tidak selancar yang diharapkan. Namun yang lebih sulit lagi, saya tidak tahu dunia dia, saya tahu kerjaannya membersihkan rumah dan membaca majalah, juga shopping

Namun lain dari itu…dia sudah tidak lagi naik gunung atau menjelajah alam, dia tidak mengikuti apa yang terjadi di dunia- dia tidak punya internet di rumah, walhasil, kemungkinan tidak tahu apa itu blog.

Rasa egois saya yang tinggi, terkadang membuat saya cerewet, “Loe pasang internet napah di rumah?!”, “Loe jalan aja keluar, banyak kan warnet?!”.

Ay ay ay…sahabatku. Sayang sekali jika karena jarak, persahabatan kita kendur dan basi. Saya cuma pengen kamu punya koneksi internet!!!

online