Saya mengaku beragama Islam. Dan salah satu arti dari Islam tersebut adalah Damai. Jadi Islam adalah agama yang menyuarakan perdamaian - pemikiran untuk orang sederhana.

Sebenernya akhir-akhir ini saya males mengungkapkan perasaan dan opini saya di blog, mungkin istilahnya sedang sedikit “depre” (deprimida, beuh…)

Namun apa daya, di televisi tiap hari berita-berita dengan senang hati mempertontonkan kemarah muslimin di seluruh dunia atas keluarnya gambar kartun nabi kita Muhammad, yang disitu terlihat memakai sorban berbentuk bom!

Masya Allah. Dan Denmark sendiri bersikeras bahwa itu adalah kebebasan berekspresi. Bagi saya, provokasi, intoleransi dan penghinaan.
Opini saya pribadi sudah jelas.

Pertama, kalau kartun Muhammad sendiri - terus terang saya tidak marah walaupun hal itu dilarang keras di Islam karena bagi saya kartun adalah kartun, tidak bisa dihubungkan dengan sosok Nabi yang sebenernya. Yang membuat saya marah (sedih tepatnya) adalah penghubungan Muhammad dengan memakai sorban bom - yang sepertinya berniat menunjukkan bahwa Nabi dan umatnya adalah para terroris - bomber.

Yang amat saya sayangkan, reaksi dari saudara-saudara kita. Saya setuju protes di depan kedutaan, tapi protes, demo dengan tenang dan damai.

Sampai saat ini sudah ada beberapa kedutaan Denmark di beberapa negara yang dibakar maupun diserang. Apakah ini mengubah keburukan yang sudah ada menjadi lebih baik? bahkan di Syria (atau Lebanon yah?), ada gereja yang diserang pula.

Sikap kasar dan amukan itu hanya memberi kebenaran, mengkonfirmasi dari pihak yang ingin menjatuhkan Islam, sebagai umat yang kasar.

Ini opini pribadi, reaksi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Tapi reaksi saya pada hal-hal begini, cukup berpikir, “Toh kalau para penghujat itu berdosa, bukankah ada Tuhan yang nantinya menghukum mereka?”

Salah satu solusi tanpa kekerasan

Protes sih boleh aja, kalau mau protes keras, para pihak negara-negara yang merasa terhina bisa meminta Denmark untuk menutup kedutaan besarnya di negara tersebut, hengkang. Hubungan diplomasi bisa putus - tentu dengan cara baik-baik. Dan hubungan itu bisa kembali menyambung, dengan jalan diplomasi, berbicara.

Sekali lagi bersikap kasar dan keji, marah-marah, tidak akan merubah situasi.

Malahan kita harus menunjukkan bahwa negara-negara yang bermayoritas muslimin, adalah umat yang damai, umat yang maju dalam pendidikan dan kebudayaan, umat yang berhasil membangun ekonominya (tidak ada korupsi, KKN, etc.), umat yang bertoleransi terhadap agama-agama lain, umat yang menghormati pemikiran dan idealisme umat lain, etc.

Opini saya yang satu lagi, jangan sedih dengan cobaan-cobaan dari musuh - toh nanti di akhirat, Al Hakim akan menjalankan tugasnya.

Sekitar RUU pornografi dan pornoaksi

Saya tidak setuju, saya harap DPR meninjau ulang RUU ini, karena dasar hukumnya tidak jelas. Ini menyangkut moral.

Di lain pihak, saya akan setuju jika ada pihak pengedar pornografi yamg menyalurkan pada anak-anak di bawah umur- dihukum pidana. Ataupun jam siar televisi yang wajib memperhatikan program-program yang ditonton oleh anak-anak di bawah umur, yang tidak menunjukkan kekerasan maupun tayangan untuk dewasa.

RUU ini menyangkut nilai moral masing-masing orang dan penganut agama yang berbeda-beda di Indonesia.

Tidak suka apa yang kamu lihat di TV karena menaikkan birahi? cukup ganti channel, atau matikan TV, ganti aktifitasmu. Tidak suka melihat ada cewek pakai pakaian seksi? tundukkan pandanganmu, lihat ke arah lain, lihat produk2 yang sedang kamu cari di mall.

Salah satu isi dari RUU itu menyebutkan: dilarang berciuman di depan umum (baik berlawanan jenis maupun sesama jenis).

Saya ingat, ketika bapak saya harus bersekolah ke luar dan bertahun-tahun meninggalkan istri dan anak2nya. Di airport, bapak dan ibu saya berciuman, karena akan berpisah. Porno - kah ini????

Bah….mau ke mana sih Indonesia?
Apakah yang dimaksud semua perempuan harus menutup auratnya dengan memakai baju longgar dan jilbab?bagaimana dengan perempuan penganut agama lain? apa dengan cara ini tidak akan ada perkosaan dan penindasaan terhadap perempuan? wong kadang udah pakai jilbab aja masih digoda! lihat postingannya mbak Lita yang berjudul “Molested”

Seperti yang kamu lihat, ini tidak menyelesaikan permasalahan yang ada. Masalahnya kebanyakan laki-laki menjadikan (bukan berpikir lagi) wanita sebagai objek dan sebagian wanita itu sendiri juga rela dijadikan objek.

(ngga ada hubungannya dengan tema ini, tapi salah satu solusi dari masalah ini adalah pendidikan yang menghargai persamaan derajat laki-laki dan perempuan yang prakteknya masih tipis di negara-negara berkembang- mungkin ada yang mau nulis tentang ini?).

Maukah moralmu di atur oleh polisi-polisi agama yang akan menindak pidana karena kamu berjoget, memakai kaos seksi, dan berciuman dengan orang yang kamu cintai? (jangan lupa membawa buku nikah dikantong karena bisa kena denda:Pidana Penjara 1-5 tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
500.000.000 (lima ratus juta rupiah) (Pasal 81).

Common sense.

Di timur, berpakaianlah yang sopan, atau berpakaian pada tempatnya.

Gimana dengan mbok-mbok yang memakai kebaya, kemben nan seksi itu, yang terlihat kanal di dadanya? apa ini porno juga toh? perasaan saya dari jaman baheula, mereka memang berpakain seperti ini. Sayang toh kalau ini juga dihapuskan.
Ndak suka? ya jangan dilihat!

Gimana dengan tari Jaipong yang saya sukai itu? apakah itu pornoaksi???
Itu adalah seni, budaya, dari tanah yang saya cintai. Apakah ini salah satu cara menghapuskan nilai suatu seni/budaya dari daerah tertentu?

Menjadi muslim dengan moral Islam, bukan berarti kita harus mewajibkan orang lain bermoral seperti diri kita.

Okey, silahkan men”judge” saya sebagai muslim KTP, muslim yang liberal, bodoh dan asal-asalan. Namun saya tidak akan membiarkan diri saya dihakimi secara moral oleh manusia lainnya. Hakim saya ada di atas sana.

Jangan menghakimi saya karena pakaian yang saya pakai. Jangan mengkafiri saya karena saya punya pemikiran dan pendapat yang berbeda dari kalian.

Saya masih meyakini Islam sebagai agama yang sempurna, apapun yang akan dikatakan oleh musuh-musuh Islam.

Tapi kitanya juga sebagai muslim, harus menunjukkan peradaban,tingkat pendidikan dan kebudayaan yang bagus, toleransi dan sikap musyawarah dan diplomasi. Kita musti terlihat “keren” (protes damai dengan pamflet, berbicara menyampaikan pendapat kita), bukan terlihat marah-marah dan melempar tomat, merusak “rumah” (kedutaan) negara lain.

Saya pikir Nabi kan dulunya seorang diplomat yang lihai dan dihargai oleh musuh-musuhnya, karena Nabi tidak pernah bersikap kasar. Sekalinya bersikap kasar (bermuka masam) kepada seorang buta yang mendatangi dirinya (surat Abasa), dia langsung kena peringatan oleh Allah. Betul kan? nah jadi….pikir sendiri deh sebelum grasak grusuk..