Ketika seorang teman, seorang pelindung dan seorang penjaga pergi meninggalkanmu, kembali pada sang Pencipta, hari-hari berikutnya, kamu bertanya-tanya, “Ada di mana ia gerangan? akankah Allah melindungimu? memberikanmu tempat tinggal yang menyenangkan?”

Seperti seorang anak kecil yang tidak tahu menahu, ada apa setelah kematian?

Setelah konsultasi, tentu konsultasi pada kitab suci, saya mengerti- ia sama seperti halnya kita.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan” (6:38)

Saya akui, amat menyedihkan jika Allah memberi pelajaran pada saya dengan mengambil seseorang yang saya sayangi. Namun dengan begitu, saya harus belajar ikhlas merelakan kepergian seorang sahabat, mi guardian, mi protector, mi mejor amigo - que en paz descanse.

Setelah tiga hari kepergiannya, badan ini selalu menggigil ketika hendak tidur. Tidur bukan karena ingin, saya tidur karena lelah dan sakit. Jika badan saya sehat, pikiran saya akan melayang memikirkannya.

Mengapa saya harus menghargai keberadaannya setelah kepergiannya?!

Amigo, we’ll meet again someday, I’m sure. No body’s like you. Please wait for us, for we will be together again , playing in God’s field. Rest in peace. Be free and happy, no more suffering. I love you, we love you so much. Take care my friend. Adios amigo.