Sex for the sake of having a baby…
Memang di dunia ini tidak ada satu mahluk pun yang sempurna dari segala sisi kehidupannya.
Di negara-negara miskin dan yang sedang membangun, pasangan yang baru saja menikah, biasanya langsung terjun dalam proyek mempunyai anak, karena memang itulah tujuan pernikahan bagi mereka, membentuk sebuah keluarga.
Di sisi lain, banyak anak-anak perempuan umur belasan tahun yang hamil akibat dari kelengahan mereka yang tidak menggunakan proteksi ketika berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Di mana pada kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak siap dengan kedatangan bayi tersebut.
Mereka akhirnya berakhir di klinik-klinik aborsi yang banyak direkomendasikan dari mulut ke mulut.
Dan yang lebih parah lagi, ada juga yang tega meninggalkan bayi-bayi itu di tempat sampah, di jalanan.
Sebagian bayi-bayi buangan beruntung ditemukan orang dan segera diselamatkan. Sebagian lain meninggal karena dehidrasi, kedinginan dan timbulnya komplikasi-komplikasi lainnya yang tak dapat dihindari ketika bayi itu ditinggal sendirian di jalanan.
Di sisi yang lain, di negara-negara maju, banyak pasangan yang setelah hidup bersama atau menikah, lebih memilih untuk menunggu dulu sampai akhirnya mereka merasa siap menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Walaupun sebagian besar tidak mempunyai anak karena alasan ekonomi dan atau prinsip-prinsip yang mereka pegang.
Namun ketika momen untuk mempunyai anak itu datang, ternyata penyakit moderen telah menghinggapi diri mereka. Entah karena steril dari salah satu pihak, tidak ada waktu, salah satu dari mereka harus dinas ke luar, etc. etc.
Ini seperti halnya melihat kenyataan bahwa di negara-negara maju kelebihan berat badan menjadi salah satu penyakit terbesar yang harus dilawan, sementara di negara-negara miskin, banyak orang-orang dan terutama anak-anak kelaparan dan kurang gizi.
Kembali lagi pada judul yang saya berikan di atas, ini bukan postingan porno, saya hanya membeberkan sebuah masalah yang muncul di masyarakat moderen.
Pasangan yang mengharapkan anak biasanya mempunyai waktu satu tahun untuk mencoba menjadi hamil. Lebih dari waktu itu, mereka harus kembali berkonsultasi pada dokter kandungan masing-masing.
Berhubungan intim yang seharusnya menjadi aktuasi alami, berubah menjadi, “Let’s get do it and finish the job” (Ayo kerjakan dan selesaikan pekerjaan ini).
Kenapa? karena perempuan-perempuan ini tidak mempunyai jalan lain yang lebih cepat selain menghitung-hitung hari di mana dia subur atau berovulasi, baik dengan menghitung siklus mereka (beruntung yang bersiklus regular), maupun dengan bantuan termometer basal, indikator ovulasi, etc.
Sehingga pada hari-hari tersebut, menjadi hari di mana mereka dan pasangannya mempunyai “pekerjaan” extra (walaupun saat mereka menjalani umroh- seperti yang terjadi pada seorang teman).
Sebagian dari pasangan tersebut berhasil, sebagian lain menyerah dan tak lagi menghitung-hitung hari fertil, sebagian lain memilih jalan lain seperti, inseminasi artifisial, treatment kesuburuan, and God knows what…
Harapan adalah hal yang paling akhir yang terlepas - artinya jangan pernah melepas harapan.
Posting ini saya dedikasikan kepada: E, D, dan perempuan-perempuan lainnya yang mendambakan seorang (atau dua orang) anak….
Please jangan sungkan untuk berbicara, saya pikir itu akan lebih menolong, daripada berdiam diri dalam keputusasaan.
Tiap-tiap orang mempuyai masalah yang berbeda-beda, namun kita tetap harus tegar dan menjalani hidup ini seperti seorang perwira di medan perang!
Yiha!!!

Ah..itulah masalah masyarakat maju. Excellent posting naga.
Saya hanya bisa menyemangati dari sini…ganbarre!!
Comment by Pipit — January 23, 2006 @ 12:35 pm
you said:
“di negara-negara maju kelebihan berat badan menjadi salah satu penyakit terbesar yang harus dilawan”
are you talking about US here?
hasn’t in vitro already existed for a long time? the activity of sex itself based on the ‘calculation’ isn’t really needed anymore
Comment by 'ka — January 23, 2006 @ 2:15 pm
-I think that problem is not emerged only in the US or do you think so?? hey I mean the US is not the only developed country in this planet.
-Who said that fertility calculation isn’t needed any more? things are not that simple, a lot of people would prefer to try a natural way before they get to the clinical treatment. Men would tried to avoid when they have to give their sperm in a bottle in a clinic room in front of those magazines. They too have heart and feeling.
Except he is a donor and get paid for doing this. Ha ha…
or…maybe I’m not an expert on this…???
;)
Comment by nagasundani — January 23, 2006 @ 4:09 pm
gw juga punya beberapa teman yg blum punya anak, padahal nikahnya lebih dulu dari gue. alhamdulillaah suaminya (dan keluarga suaminya) ga serta merta nyalahin si istri sebagai penyebab ketidaksuburan. as we all know, bisa aja suaminya yg bermasalah kan?
yg kadang gue gemes… kenapa sih, udah tau having sex itu selalu punya resiko hamil, kok ya ada yang ga mau pake kontrasepsi.. dan baru ribut saat mendapati si cewe hamil di luar keinginan
.
kondom ga nyaman? duh, katro banget deh alasannya..
Comment by yanti — January 25, 2006 @ 5:50 am
ah..alesan klasik!
Comment by Riky Kurniawan — February 5, 2006 @ 5:55 pm