Ada beberapa blog yang bercerita betapa sedihnya melihat penjual terompet yang dagangannya tidak laku di malam tahun baru.
Bukannya aku sok tahu, sombong, dan sebagainya. Pertama yang terpikir olehku, pada dasarnya memulai suatu bisnis itu kan harus dimulai dengan suatu strategi dan “kebutuhan” pembeli.
Di tahun baru akan banyak bermunculan penjual terompet kagetan, mustinya sih mikir, kalau ada puluhan penjual terompet yang menjual barang yang sama dan berdekatan, bagaimana mau laku????
Apakah modal yang sudah dipakai itu akan kembali? apakah tradisi pembelian trompet itu akan masih berlaku tahun ini setelah resesi ekonomi yang berkelanjutan di negara kita?
Biasanya memang, di suatu desa, jika muncul satu pengrajin keju misalnya, kemudian penjualan kejunya laku, mulailah puluhan tetangga ikut-ikutan membuat keju….akhirnya karena kejunya sama dan harganya sama, bersaing ketat dan angka penjualan bagi semua penjual keju juga biasa-biasa aja….
Kenapa atuh ikut-ikutan menjual produk tetangga?
Yah namanya juga jualan yah - harus ambil resiko untung rugi. Sayangnya mungkin para pengusaha kecil ini tidak diikuti oleh pendidikan bisnis yang memadai.
Ada satu pertanyaan, di luar waktu tahun baru, berprofesi apakah si penjual trompet itu?
Berapa modal mereka? dari mana modal itu mereka dapat? berapa keuntungan yang diraih? apakah mereka akan mengulangi penjualan trompet ini di akhir tahun 2006? apakah trompet itu mereka buat sendiri atau mereka hanya sebagai pengecer? etc. etc.
Saya kasihan kalau dagangannya tidak laku, namun mungkin ada baiknya merefleksi aktifitas kita - apakah patut menunggui dagangan seharian, semalaman dan hanya meraih sedikit uang? patutkah saya berjualan kagetan seperti ini lagi? barang alternatif apa lainnya yang bisa saya dagangkan yang berbeda dari terompet? bagaimana suasana/mood masyarakat untuk merayakan tahun baru? etc. etc.

well well … mungkin pikiran mereka ngalab berkah setahun sekali, Pak. Laku gak laku … toh mereka bakal balik ke daily job mrk once the new year’s gone. Ini baru mungkin loh ya …
Comment by .:nien:. — January 3, 2006 @ 5:14 am
bener banget. tapi hrs diingat, masalah utama di masyarakat indo adalah rendahnya tingkat pendidikan. kalau pendidikan mrk tinggi, pasti para penjual itu jg mikir spt yg dikau pikir. tp yah, krn SD aja mrk blm tentu lulus, jd bisanya mikir pendek seperti ini. satu jual trompet, semua ikutan jual. jatuh-jatuhnya, yg miskin tambah miskin, yg kaya tambah kaya. duh, jd inget John Perkins.
Nice posting!
Comment by bril — January 3, 2006 @ 5:26 am
Alternatif? di sini itu berbeda dari keumuman tidak dianjurkan. Orang nyeleneh dianggap.. mm.. aneh
Orang jujur dianggap lugu.. Jujur tapi tidak bernuansa agama dianggap sesat(?) dst..
Comment by obot — January 3, 2006 @ 5:51 am
itu yang dinamakan ‘matinya kreatifitas’.
Kalo jalan2 ke bali, atau ke borobudur, coba aja lihat, patung kayu ya gitu2 aja bentuknya.
Comment by hericz — January 6, 2006 @ 6:19 pm