Setelah meminum kopi pagi sambil melihat-lihat panorama blog Indonesia (tentu dari merdeka.or.id), saya pun dengan malas mengakhiri tulisan saya di blog, kemudian mencuci muka dan menggosok gigi.

Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang.

Setelah memakai jaket, saya bermaksud keluar dengan binatang peliharaan saya menuju taman.

Ternyata pagi ini cuaca cerah dan temperatur sangat menyenangkan, mungkin mencapai 15º C atau bahkan lebih, sehingga jaket pun berlebih untuk dipakai.

Saya melewati taman bagian pinggir, dengan lahan perbukitan dan mencapai satu lahan landai di mana terdapat sinar matahari, pepohonan dan rerumputan yang menghijau.

Yang membuat saya menetap lebih lama di daerah ini dikarenakan karena ramainya kicauan burung yang bersumber sekitar 10 meter dari mana saya berada.

Saya bukan termasuk pecinta satwa yang mempunyai ketertarikan/keingintahuan yang berlebih terhadap satwa liar, namun saya akui, akhir-akhir ini saya jatuh cinta kepada alam, walaupun proses itu terjadi sedikit demi sedikit.

Dimulai dari mengenai nama-nama jenis pohon, karateristiknya. Dan setelah dua minggu yang lalu saya mulai menikmati melihat Kijang yang berada 300 meter di depan saya. Kemudian juga kancil, burung elang, dan binatang-binatang lainnya.

Kembali kepada tempat saya bersemayam pagi ini, saya kembali ingat di masa sekolah dulu, ketika mendapat tugas mengamati ekosistem walaupun hanya pada lahan berukuran 6 meter persegi.

Maka kini, saya berada pada lahan ekosistem yang lebih besar dan lebih banyak variasi satwa dan tanamannya.

Kesimpulan saya, ketika temperatur udara cukup menyenangkan dikarenakan adanya sinar matahari yang masuk, burung-burung itu memanfaatkan waktu ini untuk “berkencan”.

Dari ributnya koar koar mereka, si jantan berusaha sekuat tenaga agar dirinya dilihat oleh para betina.

Koaran burungpun bermacam-macam, ada yang piu…panjang, piu piu piu, tersendat-sendat, ada yang koarannya seperti bebek, dan sebagainya.

Hanya saja mengamati unggas liar cukup sulit, mungkin seharusnya dengan kekeran. Ketika saya mencoba mendekati perlahan-lahan beberapa burung yang sibuk mematok-matok tanah, mereka pun terbang ketika saya berada 7 meteran dari mereka.

Pada saat itu saya menyadari betapa sulitnya untuk membuat dokumental tentang satwa liar.
Bayangkan! aktornya binatang-binatang…
Dibandingkan dengan membuat sinetron picisan, yang aktornya mudah untuk diatur. Dengan aktor binatang, si pembuat dokumen diwajibkan untuk mempelajari lebih lanjut kebiasan dari hewan-hewan tersebut.

Di rumah yang ketinggiannya melebihi taman tempat saya berada, di sanalah saya amati adanya komunitas burung tersebut. Rumah itu mempunyai banyak pepohonan dan sinar matahari yang cukup. Saya hampir berani mengatakan bahwa di sana terdapat sarang burung.

Saya berpindah tempat untuk lebih mendekatkan diri kepada tempat komunitas itu. Kebetulan terdapat meja-meja dan bangku, dan yang penting, sinar matahari yang menghangatkan tubuh.

Ada macam-macam burung, yang agak besar seperti huraca (berwarna hitam dan berdada putih), dan burung kecil (saya lupa namanya) berdada merah. Burung kecil berwarna hitam dan burung-burung kecil yang disebut oleh orang Indonesia sebagai burung gereja.

Saya mendapat ide untuk menulis di blog dan tentunya sambil mempelajari lebih dalam tentang jenis-jenis burung yang berada di sekitar lingkungan kita.

Karena di dalam jenis burung gereja yang gampang saja kita sebutkan, terdapat perbedaan jenis-jenis lainnya.

Dari hasil perjalanan saya ke Asturias, ada banyak foto dan pengamatan yang belum saya sempat tuliskan di blog sebagai dokumen pribadi.

Namun pagi ini, saya berterima kasih kepada burung-burung tersebut, atas nyanyiannya yang indah, juga kepada matahari, yang menghangatkan udara, selama saya mengamati burung-burung tersebut.

Jam di telpon genggam mengatakan waktu telah cukup siang, suara mesin mobil-mobil mulai mengganggu suasana taman. Saya pun memutuskan untuk pulang.

Saya harap, pada kesempatan yang akan datang, saya bisa menuliskan di sini berbagai jenis unggas dan satwa lainnya.