Hari pertama kami berada di Provinsi Asturias, kebetulan cuaca cukup bagus, langit cerah, walaupun cuaca tetap dingin. Untungnya hari itu kami memutuskan untuk mencoba satu rute yang kami dapatkan informasinya dari pemilik rumah yang kami sewa, karena hari-hari berikutnya cuaca buruk dikarenakan hujan dan kabut.

Rute Vega de Brañagallones dimulai dari desa Bezanes. Rute ini berjarak 11 km sampai di suatu puncak, dan untuk kembali, pejalan kaki mengambil rute yang sama ketika naik.

Sebenarnya dari puncak gunung itu terdapat 2 rute lagi yang berbeda, namun karena kami lupa membawa korek api untuk membuat pemanasan di rumah perlindungan (refuge), kami pun kembali sore harinya ke desa Bezanes.

Satu lagi kesialan yang kami dapatkan hari itu adalah, “ngambek”nya batre kamera digital, untung saja dengan motorola V3 kami bisa mengambil beberapa foto saat kami tiba di puncak.

Desa Bezanes
Tempat parkiran mobil di pintu masuk desa dipenuhi lumpur dan tentu sebagaimana halnya desa-desa ternak, dipenuhi heses kerbau, sapi dan kuda.

Dari tempat parkiran kami melewati desa dengan arah ke atas menuju pegunungan. Awalnya kami mengikat anjing-anjing kami setelah membaca peraturan di papan, di tempat parkiran, dikarenakan mereka bisa mengganggu ternak. Maka itu anjing pejalan harus diikat. Namun setelah melihat di kiri kanan perjalanan tidak terlihat ternak, maka anjing-anjing itu pun akhirnya kami lepas.

Setelah berjalan sepuluh menit di jalanan berkerikil dan bertanah merah, kamipun mulai merasakan panas, maka kamipun mulai melepas baju penghangat yang kami pakai dan kami masukkan ke dalam ransel.

Perjalanan naik ke atas sangat menyenangkan, pemandangan pegunungan dan bukit amat indah dan ketenangan alam sekitar yang terkadang membuat kami masih terheran-heran.

Di kiri kanan jalan banyak ditumbuhi pepohonan semacam: Oak, Hazel dan chestnut.

Pada waktu naik, tidak terdapat pejalan lainnya, hanya kami berdua dan anjing-anjing kami. Hanya kami temukan sebuah mobil dari peternak madu tak jauh dari sisi jalan.

Istirahat
Setelah tiga jam berjalan, pukul satu siang, kami memutuskan untuk memakan perbekalan kami, yang hanya terdiri dari sosis kering kalkun dan roti tawar, juga air putih dan mandarin (jeruk kecil).

Di sebuah tikungan berpagar, kami pun menyiapkan makanan kami. Aku terpaksa melepas sarung tanganku agar bisa memegang makanan dengan baik. Anjing-anjing kami duduk di sekitar, menunggu jatuhnya sosis atau roti.

Salju
Setelah berisitirahat sambil makan sekitar setengah jam, kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Setelah sepuluh menit berjalan, kami mulai menemukan jalanan bersalju. Awalnya tipis dan tidak seberapa banyak, namun semakin ke atas, salju semakin menebal, menyebabkan perjalanan menjadi lambat.

Entah lebih parah mana, menginjak es yang licin, atau menginjak salju yang menyebabkan langkahmu menjadi berat.

Di tengah perjalanan kami di dahulukan oleh satu pasangan.

Dalam beberapa titik, jalan dipenuhi oleh runtuhan salju, sehingga kami pun harus melalui titik itu dengan berhati-hati.

Di titik ke tiga, kami sendiri pun melihat bagaimana bola-bola salju yang berukuran sebesar bola tenis itu menggelinding dari atas. Hal itu cukup membuat kami khawatir dan melangkah lebih berhati-hati.

Desa tanpa penduduk
Sekitar pukul 14.30 kami pun mencapai akhir perjalanan. Sekitar sepuluh meter dari awal pedesaan, kami bertemu lagi dengan pasangan yang telah mendahulukan kami, mereka hendak kembali turun. Kami berbincang sebentar dengan mereka, kemudian kami menyebrang sungai kecil dan memasuki desa itu.

Desa dipenuhi salju dan rumah-rumah kecil terbuat dari bebatuan. Foto-foto yang kami ambil tidak begitu bagus, hasil dari kamera telpon genggam.

Desa ini tidak berpenduduk, maka ketika kami sampai, yang ada hanyalah lahan yang dipenuhi setumpuk salju dan keheningan.

Ke mana pun kami memandang, hanya ada warna putih yang menguasai pemandangan.

Sayangnya kami tidak membawa korek api untuk menyalakan tungku agar bisa melewatkan malam di desa itu tanpa kedinginan, karena dari titik itu masih ada 2 rute yang cukup menarik dan indah.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun kembali pulang ke arah desa di mana perjalanan kami dimulai.

Kami khawatir saat perjalanan pulang malam akan mendatangi kami, namun pukul enam kurang lima belas menit, kami sudah sampai di desa. Dalam perjalanan pulang, kami pun sempat berisitirahat di perjalanan pulang.

Sayangnya dalam rute ini kami tidak melihat dan menemukan hewan apapun kecuali beberapa burung yang hinggap dan terbang. Hanya kami lihat beberapa jejak hewan di bukit yang dipenuhi salju.

Resumen
Perjalanan cukup berat dikarenakan medan bersalju, namun pemandangan alam sekitar dapat membalas kerja keras perjalanan.