Ah gila…ternyata kamu sudah memasuki konvoy itu, seperti halnya penumpang yang menunggu kereta api di stasiun, namun sayangnya penumpang itu telat datang dan ketinggalan kereta api yang sudah berangkat itu.
Penumpang itu mencoba mengejar gerbong demi gerbong berlari di samping rel, namun tenaga tidak seperti dulu, dan jeritan “tunggu”, “berhenti”, “stop” tak ada gunanya. Masinis seperti halnya waktu, selalu menepati jadwalnya. Tinggal lambaian tangan dan sesaknya dada dan tenggorokan setelah berlari-lari dan menjerit. Mata tetap menatap jauh kereta yang berjalan cepat dan suaranya yang perlahan-lahan ditelan udara.
hiks
Penumpang itu setelah diam sebentar seratus meter dari stasiun, kembali berjalan menuju stasiun dan menghempaskan diri di sebuah bangku kosong.
Namun si penumpang bukan orang yang cepat putus harapan, ia berdiri dan mendekati sebuah papan pengumuman jadwal kereta api dan mencari jadwal kereta yang akan dinaikinya. Ternyata kereta berikutnya akan datang tiga jam lagi. Ia pun ke loket membeli tiket, kemudian ia pergi ke sebuah kios koran dan majalah, setelah lama melihat-lihat ia mengambil satu novel, membayarnya dan keluar dari kios itu.
Karena hampir datang waktu makan, si penumpang celingak celinguk di sekitar stasiun mencari warung atau restaurant. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat sebuah restaurant yang cukup bersih dan sederhana.
Ia masuk , duduk, melihat menu dan memesan kepada seorang pelayan. Sambil menunggu, ia pun membaca buku yang baru dibelinya.
Ketika dihidangkan makanan yang dipesannya, ia berhenti membaca dan mulai menyantap makanannya, sambil sedikit menyesali keterlambatannya saat kereta tiba.
Yang lalu sudah berlalu, pikirnya.
Karena keterlambatannya itu ia kini berada di konvoy plus 30. Konvoy di mana terdapat orang-orang yang terlambat melengkapi kehidupannya. Baik karena tidak punya waktu, tidak punya uang, tidak ada kesempatan, karena penyakit, karena nasib sial yang menimpanya, ada juga yang bilang karena kehendak Tuhan. Ada bermacam-macam alasan, tentu, karena di dunia ini tak ada yang serupa. Namun seperti layaknya sebuah dadu yang terlempar, kamu tidak pernah tahu angka berapa yang akan keluar.
Tidak semua orang masuk ke dalam konvoy plus 30, hanya segelintir orang yang kebetulan terjerumus dalam situasi khas konvoy ini. Ada yang secara sengaja dan ada yang tidak. Ada yang lupa akan waktu yang terus berjalan, tanpa sadar dirinya memasuki konvoy plus 30.
Namun orang-orang di konvoy ini terus menjalani hidupnya dengan tabah. Sama halnya dengan orang-orang di konvoy lain, konvoy kemiskinan, konvoy penderita penyakit, konvoy cacat, dan konvoy-konvoy serupa yang lainnya.
Seperti halnya penumpang ketinggalan keretanya, ia akan menaiki kereta selanjutnya dengan menunggu dan sambil menunggu dia akan memanfaatkan waktu itu dengan hal-hal yang berguna.
Ada beberapa orang yang setelah berusaha semaksimal mungkin, berhasil keluar dari konvoy keparat itu. Ada juga yang beradaptasi, berbahagia dan puas berada di konvoy itu.
Biasanya di konvoy itu, orang-orang akan saling membantu, menyemangati dan kadang pula saling memberikan harapan, impian, ide-ide positif, bahkan kadang saling melemparkan bualan agar mereka bisa terus hidup tanpa harus merasa bersalah, merasa bodoh, merasa dikutuk, dan lain-lainnya.
Walaupun dalam kesendiriannya, masing-masing bisa menangis di dalam awal tidurnya. Ada pula yang mencoba berbicara kepada Sang Pencipta tentang angan-angannya. Katanya sih Dia - lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi hambanya dan Dia tidak akan memberikan cobaan yang melewati batas bagi masing-masing hambanya itu.
Konvoy plus 30 adalah konvoy situasi yang tercipta akibat dari kebiasaan dan pikiran yang katanya “moderen” atau maju. Seperti layaknya kanker, yang jaman dahulu tidak banyak diketahui keberadaannya.
Konvoy ini bukan konvoy dengan situasi terburuk. Masih banyak konvoy-konvoy lainnya yang bernasib jauh lebih gelap. Hanya saja, terkadang, orang-orang di konvoy plus 30 sering kali menyalahkan dirinya sendiri yang telat. Pertanyaan-pertanyaan semacam, kenapa tidak dari dulu? kenapa aku mementingkan A sehingga tidak bisa memiliki B? kenapa dulu aku cuek? dan seterusnya.
Di dalam gerbong-gerbong plus 30, masih bisa ada pesta. Tidak pernah kurang makanan, minuman. Malah berlebihan. Mereka berpesta setelah lama menyimpan pedih di dada. Karena saat berpesta mereka bertemu dengan yang senasib. Dan di pesta itulah mereka bertukar cerita.
Karena cerita-cerita mereka hanya bisa dimengerti oleh orang-orang di konvoy itu. Lainnya sulit untuk mengerti bahkan pikiran mereka dipenuhi sangkaan buruk.
Konvoy plus 30 terus melaju, sebagian berhasil keluar dari konvoy itu dan berganti ke konvoy lainnya, sebagian lainnya menetap dan masuk ke dalam konvoy plus 40.
———————————————-

whuuaaahhh… keren tulisannya!
Comment by fahmi jelek — December 13, 2005 @ 9:11 am