asem manis asinDecember 30, 2005 7:51 pm

MMh…akhir tahun saya habiskan di rumah karena kebetulan kantor ditutup selama seminggu. Dan kesempatan ini saya manfaatkan untuk tidak menulis di blog atau dengan kata lain mencoba meninggalkan “penyakit” blog addicted. Bueh..!

Tadi pagi saya sengaja pergi ke keluharan di daerah saya tinggal dengan alasan merenovasi data saya sebagai warga dan sensus. Sekitar jam sepuluh pagi saya sampai di sana dan sudah ada antrian panjang. Setelah setengah jam mengantri, tiba giliran saya. Setelah memberikan KTP saya pada pegawai kelurahan, dia melihat data saya di komputernya, lalu mengeleng-geleng kepala sambil berkata “sudah ada orang lain yang mendaftar dengan alamat yang sama dengan anda”.
Setelah saya lihat, ternyata yang mendaftar itu tetangga saya, ternyata memang kami mempunyai nomer yang sama hanya saja sebenernya bisa dibedakan, karena dia tinggal di apartemen dan rumah saya tepat di belakang apartemen itu, sama-sama lantai dasar (untuk masuk ke rumah saya, melalui gedung apartemen itu).
Saya diminta untuk kembali dengan membawa surat dari bank atau surat terakhir lainnya yang menunjukan bahwa saya memang tinggal di situ.
Gila!
“Señorita! apa ini tidak bisa dikoreksi melalui pos? apakah saya harus kembali ke sini dan mengantri lagi!?” sahut saya agak marah.
“Maaf….kalau anda kembali hari ini juga, bisa langsung membawa surat itu kepada saya”

Saya pun kembali ke rumah dengan tergesa, karena belum belanja dan melaksanakan ini itu lainnya yang sudah direncanakan.
Ketika saya kembali lagi ke kantor kelurahan dengan surat yang diminta, pegawai wanita yang melayani saya tidak berada di tempat, untung saja rekannya menyanggupi melayani saya.
“Surat ini untuk apa?” tanyannya
Dalam hati saya “Edan!! yang ini malah ngga tau gunanya surat ini setelah saya terbirit-birit ke rumah”.

Mau marah rasanya. Selesai dari kelurahan, saya mencoba untuk berbelanja, namun di setiap toko dan supermarket di sekitar dipenuhi orang-orang yang berbelanja untuk pesta tahun baru. Saya pun menyerah.
Saya pergi ke toko pakaian guna meninggalkan celana jeans suami yang harus dibetulkan, kemudian pergi ke pasar tradisional. Di situ tidak banyak pembeli. Saya pun dengan tenang melihat-lihat.

Dagangan mulai dari kelinci, burung, anak babi, perut sapi, ati, wah….banyak deh…saya senang melihatnya.

Setelah berbelanja buah-buahan saya pulang ke rumah, kemudian memasak daging kambing yang beberapa hari lalu saya beli.

Tahun baru ini, akan kami rayakan di rumah teman-tetangga, menunya:
-sop Tom Yam

-bebek a la orange

-Macedonia sebagai pencuci mulut (terdiri dari berbagai macam buah-buahan)

cukup sederhana…

SELAMAT TAHUN BARU 2006, SEMOGA TAHUN MENDATANG LEBIH BAIK DARI TAHUN INI…

resep/gastronomiDecember 24, 2005 1:25 pm

Setelah melihat-lihat melalui jendela toko tanpa membeli (window shopping, he he), akhirnya saya memutuskan untuk belanja di pasar untuk membuat makanan untuk siang ini.

Namun ketika saya mencoba mengambil uang di ATM, ternyata proses transaksi gagal, entah kenapa. Saya pun memutuskan untuk pergi ke ATM lain dengan melalui pasar.

Di dalam pasar aroma amis pun mulai mendominasi dan saya pun melintasi toko sayur dan buah-buahan. Saya pun nekat untuk membeli, setelah melihat isi dompet, saya hanya mempunyai 5 euro dan beberapa cent.

“Bang, tolong bungkus setengah kilo kentang”
“Kentang yang mana?” sahut si penjual, karena ada bermacam-macam kentang, untuk digoreng, dibakar maupun disayur.
“Kentang untuk gulai”
“Oh kalau begitu yang ini aja, lebih murah, dan hasilnya akan sama” sahut si penjual sambil menunjukkan kentang yang dipenuhi tanah.
“30 cent” sahutnya.

Saya pun membayar kentang itu. Kemudian melanjutkan perjalanan saya di sekitar pasar, melihat-lihat harga daging dan ikan, saya memutuskan untuk membeli daging di toko yang sudah saya kunjungi beberapa kali.

Seorang penjual perempuan yang sedang bebas - siap melayani saya.

“Pagi, saya sedang mencari daging untuk gulai, berapa perkilonya?”
“5 euro 90 cent” jawabnya (lupa saya harga pastinya).
“Hm…saya cuma punya 5 euro, kasih 3/4 deh…”
“Eh…tunggu sebentar, saya mendingan ambil uang dulu deh di ATM” kataku yang berubah pikiran.
“Di sini bisa kok bayar pake kartu” jawab si ibu.
“Oh..okelah” jawab saya.

“Ibu ada osobuko?”
“Ngga, kalau osobuko itu harus dipesan sebelumnya”
“Oh…”

Si ibu pun mulai memotong-motong daging buat saya. Kemudian saya katakan padanya, “Bu, mendingan kurang dari sekilo aja, jadi saya ga harus bayar pake kartu”.
“Terserah anda” sahut si ibu.

Timbangan pertama menunjukkan 4 Euro, “Saya tambahin ya?”
Saya pun menggangguk dan akhirnya timbangan mencapai x kilo dan harga menunjukkan 5.12 euro.

Setelah membayarnya, saya pun keluar dari pasar, he he…bisa juga belanja gaya orang miskin…cukup sukses!

Karena tidak ada osobuko (bagian dari kaki sapi, biasanya daging mengelilingi tulang), saya akan membuat resep osobuko dengan daging sapi biasa - untuk gulai.

Bahan-bahan:
1. 1 kilo osobuko/daging gulai
2. 3 wortel
3. 1/2 kilo kentang
4. kunyit (untuk indonesia), azafran untuk di sini
5. bawang merah (bawang bombay bisa)
6. bawang putih
7. daun seledri
8. 1 buah tomat segar
9. maggi/garam
10. anchovy (tidak harus)
12. perejil (bisa diganti dengan seledri)
13. daun salam (di sini mah laurel aja)
14. kulit jeruk nipis (di sini kulit lemon)
15. minyak goreng
16. anggur merah
17. sari tomat goreng (di supermarket Hero dijual tomat goreng untuk bikin spagheti di, ambil itu aja)

Panci itu loh (lupa gue namanya) express?
(yg kalo masak daging dll, cepet).

Caranya:
1. Irisi bawang, tumis dengan minyak goreng
2. masukkan irisan bawang putih, daun salam dan seledri yang sudah ditumbuk, maggi/garam
3. masukkan irisan tomat segar, biarkan sayuran melayu, masukkan sedikit sari tomat
4. masukkan potongan wortel
5. kemudian kentang
6. masukkan anggur merah (kira-kira 2 gelas kecil)
7. masukkan osobuko/daging
8. tutup panci express
9. Tunggu sampai cincin ke dua dari panci naik, kecilkan api
10. Biarkan 15 menit di api kecil
11. Setelah selesai, masukkan kulit jeruk nipis dan anchovy, godok lagi di api kecil
(sebenernya di sini selain perejil juga dipakai seledri, tp karena di Indonesia aku ga tau apakah perejil itu ada atau ngga, jadi ya apa adanya aja).
12. masukkan anchovy
13. Orang sini biasanya kuah gulai suka disaring dan tulang yang ada dibuang - mungkin soal penampilan aja kali…

Siap disantap dengan nasi.
Aku biasanya tambahin kecap manis (jadi serasa makan gulai di pinggir jalanan…padahal bukan, namanya juga nostalgia)….:)

asem manis asinDecember 22, 2005 12:15 pm

Sore ini saya akan diwawancarai oleh sebuah perusahaan untuk pertama kalinya setelah 4 tahun lamanya tidak melakukan hal ini.

Terus terang, sekarang ini perut saya mules dan pikiran melayang ke mana-mana.

Sudah empat tahun lamanya saya bekerja dan kini kembali harus mengarungi dunia melihat-lihat lowongan, mengirim curriculum, wawancara, etc.

Ada rasa malas, gugup, kosong. Kalau ngomong doang sih gampang, tapi prakteknya, perasaan semacam ini tidak bisa dihindari.

Kembali harus memulai sesuatu yang baru. Harus berpenampilan rapih dan yakin. Tangan tidak boleh berkeringat, bicara pun jangan sampai tergagap gagap. Yakin akan kemampuan sendiri dan menjual diri.

Ah….saya ngga bisa komentar banyak.

ngelmu ah..December 21, 2005 12:18 pm

Sebelumnya saya ingin meralat tulisan saya yang berjudul “Lolos dari hukuman”.

Hari ini ketika saya mengembalikan buku, si pegawai yang 2 hari lalu saya temui (tampaknya baru), mengatakan, “Sampai tanggal 26 ya?!”
“Tanggal 26 apa???” saya jawab
“Kamu tidak bisa meminjam buku dari sini sampai tanggal 26″.
“Saya???” jawab saya masih tidak percaya
“Ya karena kamu terlambat sekali mengembalikan buku”…
Glek…ternyata pikiran saya kemarin salah, saya diberi waktu lebih, tapi ternyata setelahnya diberi hukuman…

Sialan! padahal hari ini saya libur, dan lusa juga demikian, mau baca buku apa saya? buku-buku lama yang ada di rumah???

Sudahlah….sampai senin tidak parah amat kok!

Nah sekarang saya mau bicara tentang kantong plastik, karena ternyata pemikiran saya dengan Pipit kurang lebih sama. Di postingnya yang terakhir, beliau mempunyai ide tentang bagaimana pengolahan sampah di negara kita.

Kalau saya sih cuma inisiatif sendiri. Saya berhenti belanja dengan menggunakan kantong plastik baru dari supermarket.

Kalau kita lihat di Indonesia, kalau sedang jalan-jalan, bahkan saya temukan juga di pegunungan, orang-orang sembarangan saja membuang kantong plastik, sehingga kantong itu selama bertahun-tahun (bisa ditebak, beribu-ribu tahun) akan tetap berada di tanah dan tidak akan tiba-tiba berubah menjadi sampah organik!

Di mulai dari rumah, saya menyimpan berpuluh-puluh kantong plastik dari supermarket. Maka sekarang, kalau saya belanja, saya membawa tas dan kantong-kantong plastik dari rumah jika tas tidak cukup membawa belanjaan.

Selain tas, kadang, saya membawa juga troley (tas belanja dengan 2 roda).

Pikiran saya cukup tenang karena saya telah berbuat baik untuk alam, walaupun hanya sedikiiiiitttt…sekali.

Lainnya yang masih belum menjadi kenyataan adalah berhenti membeli makanan siap jadi yang bungkusannya terdiri dari plastik, kertas, aluminium foil, dan sebagainya.
Kini di supermarket, membeli sayuran saja, bungkusannya bermacam-macam.

Kira-kira 3 minggu yang lalu saya ke pasar kaget hari Minggu, membeli kaus kaki, topi, shal, dan sebagainya, dan saya pun membawa tas belanja.

Lucunya, tiap kali saya membeli, penjual dengan sedikit memaksa memberikan saya kantong plastik untuk membawa barang yang baru saya beli. Saya keu-keuh bilang, tidak. Lalu mereka menjadi heran melihat saya. Teman saya pun tertawa saja….

Setiap kali membeli dan mengambil barang belian, saya harus menunjukkan tas saya agar tidak diberi kantong plastik.

PD: Pisahkan sampah organik dengan sampah plastik/kaleng dan sampah kertas/karton.

Di sini, seorang pengumpul karton seharinya maksimal bisa menjual sampah karton itu sampai 50 euro. Coba deh rata-rata in aja, 30 euro per hari kali 24 hari (anggap saja minggu tidak bekerja), pemulung itu sudah bisa mendapatkan 720 euro perbulannya.
Lumayan kan?

asem manis asinDecember 20, 2005 12:48 pm

Sudah dari sebulan lamanya saya memegang sebuah buku perpustakaan.

Buku itu cukup tebal dan berdimensi besar, volumen pertama dari Alexandre Dumas, The Count of Monte Cristo.

Namun karena banyaknya pekerjaan, akhirnya buku itu hanya berhasil saya baca sepertiganya. Dan tanggal batas peminjaman sudah berakhir. Saya menelpon perpustakaan untuk meminta pertambahan waktu dan saya diberi waktu 2 minggu lagi. (more…)

resep/gastronomi 10:34 am

Saya akui akhir-akhir ini saya malas sekali untuk masak. Yang saya lakukan adalah makan siang jam lima sore, makan di macdonald atau beli kebab, kemudian tidak makan malam. (more…)

ngelmu ah..December 17, 2005 2:16 pm

Setelah meminum kopi pagi sambil melihat-lihat panorama blog Indonesia (tentu dari merdeka.or.id), saya pun dengan malas mengakhiri tulisan saya di blog, kemudian mencuci muka dan menggosok gigi. (more…)

yang patetic, all about blog 12:08 pm

Bingung hendak menaruh judul yang tepat atas tulisan yang mau saya buat.

Masih sekitar keributan kasus SMS fitnah, tuduhan penghinaan terhadap presiden, dan sekitarnya yang berhasil menaikkan angka pengunjung blog-blog yang bersangkutan maupun tidak. Heboh, kata orang awam.

Rasanya tidak afdol kalau tidak saya bahas, loh???

Terus terang, saya kurang mengikuti situasi di tanah air dan sumpah! saya tidak mengenal siapa itu Roy Suryo.

Jabatannya, kekuatannya dan lingkungan yang mengelilinginya.

Saya hanya ingin mengatakan seputar kasus ini, saya pikir kasus ini mungkin cuma satu permukaan tipis dari sekian banyak adanya kasus-kasus kebebasan berpikir, berkarya dan hak-hak hidup lainnya yang lebih berat yang terjadi negara kita.

Ini terjadi juga di negara-negara dunia ke tiga, pada penulis-penulis blog di negara itu, saya lupa, mungkin sudah setahun yang lalu, dari Pakistan kalau tidak salah. Yang terjadi adalah penulis itu sempat (atau mungkin) masih berada di penjara karena telah menghina (mengkritik maksudnya) autoritas negara tersebut.

Saya harap tidak akan terjadi di negara kita.

Namun melihat dari pasal-pasal yang disebutkan Priyadi di blognya, saya melihat pasal-pasal tersebut masih berbau rezim yang lalu, masih menyebarkan bau penindasan.

Dan fakta bahwa Herman Saksono sampai diperiksa oleh pihak kepolisian, menunjukkan bahwa ada oknum-oknum di negara kita yang ingin menutupi problem besar dengan problem kecil. Demi membubarkan konsentrasi sebagian rakyat, mereka berusaha menutupi masalah yang besar yang terjadi di negara ini.

Saya pikir, telah memanfaatkan kepolisian untuk menginterogasi seorang penulis blogger dengan juga memanfaatkan pasal-pasal penindasan adalah suatu….penghinaan terhadap rakyat. Baik karena kita telah membayar gaji pegawai negara dengan pajak dan kecilnya masalah yang dipertunjukkan pada kasus ini, membuat saya harus berkata: Patetik!!!!!

Mengingat beban kepolisian Indonesia yang masih mempunyai pending terhadap keamanan dan stabilitas negara, begitu juga wakil rakyat di parlemen yang seharusnya memodifikasi beberapa pasal penindasan yang tidak mencerminkan kebebasan di negara kita. Bukankah sampean baru minta kenaikan gaji dan kenaikan itu sudah disetujui??? paling tidak, coba merevisi kasus-kasus penindasan terhadap kebebasan rakyat!

Maka dengan itu saya tutup tulisan ini dan saya harap hal ini tidak menjadi bahasan lagi
, karena ide dan rencana mereka adalah membuat kita “meleng”, lupa dan terjerumus pada masalah kecil demi menutupi masalah yang ada dan jauh lebih besar dari hanya sekedar memodifikasi foto kepala negara tanpa bermaksud menghina beliau.

en españolDecember 15, 2005 4:13 pm

Resulta que en esta altura de…del tiempo, no he tomado ninguna decisión segura de lo que voy a hacer al llegar en la fecha de despido de esta empresa. Ni he empezado a mirar ofertas de trabajo, ni imprimo mi curriculum vitae o carta de presentación.

Pronto llega la navidad y después los reyes, y ya para después, empezaré echar mi curriculum sin saber lo que quiero.

Claro, lo ideal sería quedarme embarazada ahora y cobrar el paro. Pero si no me quedo embarazada hasta un año después? tampoco quiero perderme el paro haciendo el vago.

La otra alternativa sería buscar un trabajo con contrato temporal, una cosa de 4 o 6 meses.

Ya, sé que suena una locura o una estupidez. Pero de verdad estoy hecho un lio.

Y para que lo escribo aquí, tiene que ser un tema personal bastante gordo.

El tiempo pasa volando, tik tak tik tak…y todavía sigo aquí como un tonto.

travel/places 12:29 pm

La ruta de Arrudos situada en el parque natural Redes, es la ruta más hermosa que hemos conocido jamás. Desafortunadamente, lo conocimos tarde, el último día de nuestra estancia en Asturias después de una semana.

Eran ya las cuatro de la tarde, cuando por fin, cesó la lluvia y decidimos aprovechar el último día para ver los pueblos alrededor y una ruta corta que estába cerca del pueblo donde alquilamos la casa, en fin de poder sacar a los perros por la tarde como suele ser.
(more…)

Next Page »
online