Banyak novel-novel populer yang direalisasikan ke layar lebar. Dan tidak sebaliknya, dari layar lebar ke buku.

Sekarang masalahnya ada dua macam.

-Jika kamu pertama membaca novel itu kemudian menonton filmnya, terkadang kamu bisa keluar bioskop dengan kecewa. Karena perkembangan dari karakter yang kamu baca di novel, kamulah yang membangun karakter itu, membayangkannya sesuai dengan imajinasi kamu, sesuai dengan apa yang kamu inginkan dari karakter dan situasi yang tertulis.

Dan juga tergantung kepada aktor yang memerankan karakter tersebut. Kalau kamu kebetulan bersimpati dan fan dari aktor tersebut, kamu masih bisa memaafkannya. Namun apa jadinya jika karater yang kamu idolakan diperankan oleh seorang aktor yang jauh dari kategori karakter tersebut.
Misalnya Collin Farrel ketika memerankan Alexander the Great. Atau Brad Pitt memerankan Aquiles. (tanpa bermaksud merendahkan kedua aktor tersebut, namun sangat susah mencari seseorang yang mampu menandingi setidaknya karakter dari Alexander Magno). Lain halnya ketika Vigo Mortensen memerankan Aragorn, karena Aragorn bukan karakter ril, maka ia tak bisa dibandingkan, sehingga Vigo-pun aman dalam memerankan karakter ini.

-Yang kedua, jika kamu pertama menonton filmnya terlebih dahulu baru setelah itu membaca novelnya.
Di sini keuntungannya kamu bisa dibantu saat membaca novel, bayangan yang kamu ingat tentang film, pemandangan, karakter di film tersebut, sehingga membaca pun terasa lebih menghibur, terutama jika isi novelnya cukup berat.
Pada kenyataan lainnya, seringkali penggambaran dalam novel lebih jauh menditel daripada di layar lebar, sehingga pengembangan cerita dan karakter pun menjadi lebih menarik.

Lagi-lagi di sini layar lebar mempunyai sisi2 kekurangannya daripada sebuah novel. Belum lagi terkadang karena minimnya biaya produksi, ada bagian-bagian yang dipotong sana sini, dan naskahpun bisa dirubah sedemikian rupa agar pengembangan cerita di layar lebar menjadi lebih singkat.

Bagi saya pribadi, saya selalu ingin melihat keduanya, baik membaca novelnya dahulu maupun filmnya. Lebih baik tentu membaca novelnya sebelum menonton. Tapi membandingkan keduanya memberi kepuasan tersendiri bagi pecinta novel dan film.

Sebagai “lebih” pembaca daripada “penonton”, tentu saya akan berpihak pada novel/buku, karena membaca adalah cara terdekat antara sumber cerita (penulis) dan pembacanya, sehingga dengan demikian transformasi cerita adalah murni.

Saya jadi ingat jaman ketika belum ada percetakan, betapa dihargainya seorang penjual cerita yang menjajakan dongengnya di pasar-pasar maupun di pelosok pedesaan. Selain menghasilkan pendapatan, si pendongeng disayangi oleh orang banyak, karena memang dialah yang menjadi salah satu dari sedikit hiburan orang-orang jaman dahulu.

Seseorang yang berpetualang keliling dunia pun menjadi orang penting karena cerita-ceritanya. Kini dengan gampang orang bercerita tentang suatu negara tanpa perlu pergi ke negara tersebut. “Oh..saya sudah liat itu tembok cina di tipi”….
“Oh ya, di kutub itu kan rumahnya dari es kan? tau saya…” (lihat di tivi).

Bah…!

Saya tidak akan berbicara lebih lanjut mengenai kekurangan layar lebar maupun program-program televisi. Saya yakin para pembaca mempunyai kapasitas dalam memilih.

Sepanjang masa, sebuah bukulah yang dibawa ke layar lebar dan tidak sebaliknya (mungkin The Simpson, dari tivi kemudian diproduksi buku, komiknya, demi mendapat lebih banyak uang).

Saran saya, tetaplah menyempatkan diri membaca buku, baik cetak maupun dari internet.

Kalau televisi sudah penuh dengan fantasi dan progam tak mendidik, matikan dan ambilah sebuah buku.

(kenapa buku? kenapa ga Play station, kenapa ga film bajakan dari internet? dst. Well mungkin karena buku adalah sumber pengetahuan, dan pengetahuan tidak pernah menyempitkan tempat).

PD. Kitab2 suci juga termasuk buku loh! :)
————————————-

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri.
Mengingat pertama kalinya ketika ibu saya pulang ke rumah malam hari-sepulang kerja, membelikan majalah Kuncung (jaman baheula…). Saya merasa sayang dengan majalah yang ketika itu hampir punah diantara majalah anak-anak yang lebih modern.
Saya tak pernah melupakan saat membaca majalah yang berbau kertas cetak, diiringi derasnya hujan di luar sana, dan bau tanah semerbak yang muncul dari halaman, masuk ke dalam rumah dihantarkan oleh angin. Sejuknya membaca….