Kadang jadi perempuan dengan sifat-sifatnya malah jadi terperangkap dalam tuntutan dari sifat-sifat itu sendiri.
Kebanyakan perempuan tidak bisa melihat rumahnya kotor dan berantakan, biar badan rasanya udah bonyok dan capek, rumah harus bersih.
Hari Jumat kemarin padahal keluar dari kantor jam 2 siang, di dalam pikiran, rencana saya adalah, makan siang, lalu membaca novel di tempat tidur, syukur-syukur ketiduran.
Sampai saat keluar dari kantor dan makan siang di McDonald, semua berjalan lancar. Tetapi ketika sampai rumah, saya lihat halaman dipenuhi oleh daun-daun merah yang berguguran.
Setelah menaruh tas dan jaket, saya pun mulai menyapu halaman. Terus terang ini pekerjaan rumah yang paling saya suka, karena membuat pikiran saya relax, sambil melihat daun-daun di musim semi. Setelah saya bersihkan, dimasukkan ke dalam kantong plastik, siap untuk dibuang.
Di halaman saya liat juga karpet-karpet di mana hewan peliharaan saya tidur sudah menjerit untuk dicuci. Akhirnya sebelum saya masukkan ke mesin cuci, saya lewatkan dulu dengan vacumcleaner, kemudian saya rendam di dalam air panas dan deterjen.
Karena tanggung sudah mengeluarkan vacumcleaner, akhirnya saya pun membersihkan ruangan-ruangan di rumah, sambil tak lupa memasukkan baju-baju kotor berwarna ke mesin cuci. Setelah beres, mau memasukkan vacum itu ke lemari, ternyata lemari deposit makanan dipenuhi oleh kaleng-kaleng, botol, dan sebagainya yang berserakkan dan tidak teratur.
Akhirnya setelah menyimpan vacum, saya bereskan lemari itu dan membuang barang-barang yang sebenarnya tidak saya perlukan (entah kenapa manusia rajin mengumpulkan barang-barang tak berguna dan sayang untuk membuangnya).
Badan sudah terasa loyo, saya mencoba membersihkan make-up di muka kemudian menggosok gigi. Kemudian saya merasa haus, ingin minum, ketika saya mengambil air di dapur, saya lihat ada beberapa piring dan penggorengan kotor menanti….
Akhirnya saya pun mencuci piring. Karena sudah tanggung di dapur, saya lihat plastik sampah di dapur pun sudah penuh, maka saya tutup dan siap saya buang. Lalu saya buka satu laci tempat menyimpan kantong-kantong plastik. Saya pun melihat laci-laci putih itu ditutupi debu-debu hitam. Kemudian saya ingat, ketika pergi ke rumah seorang teman dan melihat dapurnya yang bersih mengkilau tanpa setitik noda, saya jadi malu.
Walhasil, saya pun yang memang berencana untuk membersihkan bagian laci-laci itu, membongkar isi laci satu persatu. Saya cuci dan keringkan, lumayan kini terlihat putih.
Sampai di situ, saya menarik nafas, untung saja saya tidak sempat membuka kulkas, karena saya yakin, si kulkas pun menyimpan sepuluh dua puluh pekerjaan, seperti membuang sayuran atau buah2an yang sudah membusuk, membersihkan noda-noda tumpahan susu atau kaldu, mengatur makanan-makanan supaya terlihat rapih, bla bla bla bla bla….
Tak terasa sudah pukul lima sore dan saya lihat langit mendung, saya pikir, ini waktu yang tepat untuk mengajak teman-teman saya ke taman (hewan peliharaan saya).
Tak lupa saya bawa kamera digital saya untuk menangkap pemandangan taman yang kini menguning karena musim semi, semua tampak hijau, asri dan sejuk. Namun ketika sampai di taman, kamera saya nyalakan, ternyata batrenya minta diganti. Ketika saya ganti dengan batre yang seharusnya baru, ternyata batre yang bisa dicharge ulang itupun kosong. Pengen nangis rasanya….
Pukul enam sore lebih sepuluh menit saya dan anjing-anjing saya pun pulang ke rumah. Ketika mengganti sepatu di kamar mandi, saya lihat di bath-up karpet-karpet yang saya cuci masih terendam dan harus diselesaikan.
Setelah menyimpan sepatu di lemari, saya pun bergegas membersihkan karpet-karpet itu. Ah! kebetulan baju-baju yang saya cuci di mesin sudah selesai. Saya buka dan saya masukkan baju-baju itu ke ember. Eh ternyata di tempat jemuran baju, masih ada baju-baju bersih yang menggantung. Walhasil, sebelum menjemur, saya harus melipat baju-baju bersih itu. Kemudian saya jemur baju-baju yang baru saya cuci. Setelah itu, karpet-karpet yang sudah saya rendam, gosok-gosok dan saya peras, saya masukkan mesin cuci untuk dikeringkan.
Saya beristirahat sejenak menonton tivi, namun perut ini terasa lapar. Akhirnya saya kembali lagi ke dapur untuk membuat supermi. Setelah makan malam, tubuh ini rasaya sudah seperti orang yang baru saja ditinju sana sini…
Kebetulan suami sedang berada di luar kota dan pulang malam itu. Sudah dapat dipastikan ketika dia pulang, dia pun membawa baju kotor, koper yang harus dibenahkan dan kalau saya tidak beri ultimatum, dia tidak akan mengurus urusan dia sendiri. Namun mulut ini sudah rombeng rasanya, besok saja ultimatumnya.
Jam 9 malam saya minta kepada yang di Atas jam istirahat. Selamat malam dan besok pekerjaan apa lagi?
PD:
(Ternyata hari Minggu saya dan tetangga2 saya janjian mau bikin jurnal gastronomi- alias makan-makan, masing2 membawa makanan khasnya, jadi bisa ditebak hari sabtu harus belanja dan masak-masak).

Same here. Tapi saya akhirnya kadang suka pasrah, habisnya badan sudah menyerah. Ambil hikmahnya aja, kan jadi berolah raga. Badan capek tapi sehat..:)
Comment by Pipit — November 13, 2005 @ 10:07 am
:))….ternyata senasib…
iya biar badan bonyok, tapi puas liat rumah bersih!
Comment by nagasundani — November 14, 2005 @ 10:04 am
Saya yakin, keadaan ini tidak berlangsung selamanya. Artinya, pada saat ini memang banyak tugas yang harus dibersihkan. Coba ingat-ingat, beberapa hari lalu Anda sudah menghabiskan sebagian waktu untuk “bersenang-senang”. Sehingga sekarang jadi menumpuk. Mencuci baju dan memberi makan anjing-anjing boleh jadi pekerjaan sehari-hari. Namun tidak untuk karpet dan membersikan lemari es.
Intinya adalah membagi waktu. Bukan malah mengelak seperti malas membuka lemari es yang nantinya memaksa untuk membersihkan lagi.
Gimana?
Cari pembantu dong mbak!
Comment by Imponk — November 14, 2005 @ 11:26 am
Ho ho ho….akhirnya ada seorang lelaki yg berpartisisapi.
Gua bukan kalangan borjuis yang bisa memakai jasa pembantu. Rumah kecil dan hanya hidup 4 mahluk. Tidak membuka lemari es dan melihat kotoran yang ada sudah sulit rasanya, kalau perasaan ini mo dituruti, bisa ambruk. Situ sendiri kos dan makan di warung…udah pernah nyoba hidup di rumah sendiri maupun barengan yg lain, dan bisa mempertahankan kebersihan dan ketertiban rumahmu itu?
Comment by nagasundani — November 14, 2005 @ 11:32 am
ha…
mirip dengan cerita di rumah.
karena rumah mungil yang isinya cuman 2 makhluk (saya dan istri), jadi pengennya perfect melulu…
Awal-awalnya begitu… Namun lama-kelamaan mulai belajar menjadwal… biar gak kehabisan tenaga
Comment by doeljoni — November 15, 2005 @ 2:26 am
bacanya aja dah cape mbak…, gimana ngerjainnya yakh??
…capeeeeeeeeeee dehhhhhhhh
lain kali kalo buka lemari, laci dapur, dll, merem aja, biar ngeberesinnya bisa 1-1, itung-itung jaga kesehatan getoo
Comment by maruchy — March 9, 2007 @ 10:32 am