manusia/renungan, masalah sosialNovember 30, 2005 3:13 pm

Memboikot seseorang, negara, perusahaan, organisasi dengan tujuan menunjukkan ketidaksetujuan kita atas tindakan mereka ternyata berfungsi cukup efektif.

Baru-baru ini di Spanyol contohnya, ada satu provinsi yang hendak memisahkan diri. Reaksi penduduk adalah tidak setuju atas usaha mereka tersebut, kemudian warga negara yang tidak setuju mulai memboikot produk-produk yang diproduksi di provinsi tersebut.

Tujuan pertama adalah menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap pemisahan diri provinsi itu yang menyatakan dirinya “bangsa yang lain”, ke dua, menurunnya keuntungan penjualan produk dari provinsi tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa penduduk dari provinsi-provinsi lainnya.
Ketiga sebagai tekanan dan peringatan atas usaha pemisahan diri ini.

Contoh lain, boikot terhadap produk-produk Israel bagi para pendukung Palestina.

Kita sebagai pembeli mempunyai daya memilih yang bisa kita pergunakan untuk boikot seperti contoh di atas.

Kalau di blog tetangga sedang panas dengan berbagai program sampah di televisi, mungkin “boikot” (dengan cara tidak menonton program tak bermutu) bisa menjadi salah satu jawaban dalam rangka ketidaksetujuan masyarakat terhadap program-program yang tidak mendidik.

Jika jumlah penonton program itu tidak memenuhi quota, maka program itu akan dihentikan oleh stasiun televisi tersebut.

Kita punya daya memilih. Memilih untuk dibodohi atau mencari aktifitas/program lain yang lebih mendidik atau berkualitas???

Namun mungkin sayangnya bermutu tidaknya suatu acara masih relatif. Di negara majupun kadang program-program tak bermutu tentang gosip dan reality show masih saja diminati oleh para pemirsa.

Jadi siapa yang sadar dan tidak mau dibodohi televisi bisa memulai sendiri memilih apa yang dianggapnya baik (seperti halnya pembaca buku/novel, kadang harus selektif juga, karena membaca buku tak bermutu atau tidak menarik akan membuang-buang waktu saja).

perempuan 10:50 am

Berapa jenis krim yang diperlukan wanita? (dan pria metroseksual).

Saya mencoba untuk membuat daftarnya di sini. (more…)

all about blogNovember 29, 2005 12:57 pm

Sekedar rekomendasi, kalau teman-teman nge-link blog temen atau orang lain, misalnya blog itu punya judul: “no trash”, “corat coret”, atau seperti blog saya, “KIK”, sebaiknya ketika nge-link tertulis judul blognya bukan nama orangnya.

Karena pengalaman saya misalnya sedang iseng-iseng cari blog baru untuk dibaca, jika referensi yang diberikan hanya nama orang itu, misalnya: nagasundani, nama ini tidak dapat memberikan jejak apapun tentang isi blog ini.

Sedangkan misalnya tertulis KIK (kolom independen dan kebebasan), atau misalnya
blognya Luigi Pralangga, saya tuliskan di link sebagai blognya “UN Volunteer”, jadi orang-orang yang akan meng-klik mendapat gambaran dan ide sebelumnya dan lebih tertarik untuk mengklik.

manusia/renunganNovember 28, 2005 12:44 pm

Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? kebanyakan orang selalu menjawab mencari kebahagiaan dan kesehatan dalam hidup ini.

Kebahagiaan pada tiap-tiap orangpun berbeda. Dan kadang kebahagiaanpun bisa dibedakan dalam tingkatan-tingkatan tertentu.

Namun sebenarnya tak seorangpun tahu apakah arti sejati kebahagiaan itu dan apa yang membuat seseorang itu bahagia.

Saya pribadipun seringkali bertanya, “Apakah saya hidup bahagia sekarang ini?”.
Mungkin secara relatif iya - hanya dikarenakan pemikiran bahwa saya hidup sehat, punya rumah dan pekerjaan, punya keluarga dan stabilitas ekonomi.

Kebahagiaan bukan milik orang-orang kaya, bukan pula dimiliki para penguasa. “Katanya” orang-orang miskin pun bisa hidup bahagia.

Saya pikir kebahagiaan adalah suatu rasa senang dan puas yang didapat tepat setelah seseorang memenuhi tujuan yang diinginkannya.

Mungkin juga saya salah.

Apakah orang miskin bisa dikatakan bahagia (puas) jika sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Sedangkan orang kaya, akan bahagia (puas) jika baru membeli Porche terkini?
Tingkatan kebahagian berbeda-beda. Tentu, ada juga orang kaya yang bahagia hidup apa adanya.

Apakah harus kita bedakan kebahagiaan dengan kepuasaan? kebahagiaan merupakan kepuasan batin juga toh?

Seperti apa yang dikatakan Gustavo Bueno, kebahagian hanyalah suatu mitos.

Kita seringkali bertanya, apakah kebahagiaan itu diukur dari apa yang dimiliki seseorang? tidak.

Ataukah ide tentang kebahagiaan itu timbul dari rasa iri seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang sama atau lebih dengan apa yang dimiliki orang lain?

Apa yang membuat saya bahagia? (bahagia atau puas?)
- dapat menyelesaikan suatu buku (kepuasaan?)
- mondar-mandir di gang-gang perpustakaan mencari buku baru untuk dibaca
- mencicipi makanan baru
- melihat orang yang sakit, karena saya menyadari saya sehat?
- bertemu sahabat lama
- melihat anjing saya lari sebebas-bebasnya layaknya seekor kuda di padang yang luas

Apakah hanya sebatas itu?

Ada kebahagiaan abadi dan kebahagiaan instant - menurut saya.

Kebahagiaan isntant, rasa senang yang anda rasakan ketika baru saja memenuhi tujuan anda (lulus ujian, setelah membeli sesuatu yang diidam-idamkan, etc.)

Kebahagian abadi, mungkin, selalu menerima nasib baik dan buruk dengan lapang dada? (duh..susah ya?)

Kadang saya sedih belum mempunyai anak dan saya pikir saya akan bahagia jika saya mempunyai anak.

Namun, apakah kebahagiaan saya sekali lagi harus diukur dari apa yang saya miliki dan terpenuhinya tujuan dalam hidup saya?

Apa jadinya kalau saya bahagia jika tujuan saya tak lain hanya materi? saya akan berubah menjadi budak semata.

Kadang hanya melihat seseorang memiliki segalanya dalam hidup ini, saya pikir, tentu orang itu sangat bahagia….
namun belum tentu juga.

Tanpa merasakan kesedihan seseorang tidak dapat merasakan kebahagian.

Kebahagian hanyalah perasaan yang ada di dalam batin kita, yang tergantung kepada kondisi dan pemikiran kita.

Dan…tergantung kepada kondisi orang lain?

Mungkin kejam jikala kita berpikir, “wah..untung saya cuma panuan, daripada si anu yang sakit lepra”…

Apa namanya pemikiran seperti itu? yang kadang membuat seseorang lega dan tersenyum.

Kadang orang yang sehat jasmaninya pun sudah bisa dibilang bahagia, padahal belum tentu juga, karena secara batin/mental, bisa jadi dia tidak merasakan kebahagiaan.

Betapa misteriusnya kata-kata itu.

“Happy, happy birthday”.

Seakan secara etis kamu bahagia karena hari itu kamu berulang tahun, artinya kamu masih diberi umur, masih hidup, walaupun kamu tahu hidup itu keras dan kejam dan waktu tidak pernah memaafkan keterlambatan.

Dan dalam kekejaman itu, ada orang-orang yang tertawa ketika mereka menipu kamu, menjahati kamu, sementara kamu jatuh ke dalam lubang kesengsaraan.

Maka kadang kebahagiaan seseorang tergantung pada kesengsaraan yang lainnya?

Kebahagiaan dan kepuasaan.

Bisakah suatu kepuasaan disamakan dengan kebahagiaan?

Tentu, lagi-lagi kita harus mendefenisi apakah kebahagiaan itu dan apakah arti dari kepuasaan itu.

Merujuk kepada filosof yang saya sebutkan di atas, jika kebahagiaan dicari definisinya maka kebahagian tidak akan ada, ia hanyalah sebuah mitos.

“Kebahagiaan yang dipikirkan bukanlah kebahagiaan, namun hanya suatu ide pada kehidupan yang baik dan kenyamanan yang mana dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Kebahagiaan yang anda maksud adalah usaha dari segelintir orang untuk memperbudak banyak orang. Kebahagiaan tidak dapat didefinisi. Setiap orang mencari kebahagiaannya masing-masing”.

Kalau anda mau hidup optimis, mungkin ada baiknya percaya akan adanya kebahagiaan.

Seseorang ilmuwan yang misalkan menemukan vaksin HIV, dia akan merasa “bahagia” atau merasa “puas”?
mungkin bisa dua-duanya. Bahagia bisa menolong orang lain dan puas bisa menemukan sesuatu yang berguna bagi orang banyak.

Apakah membentuk suatu keluarga sesuatu yang natural yang membuat sebuah pasangan menjadi bahagia?

Bagi saya pribadi kebahagiaan ….misteri yang belum terpecahkan.

Mungkin di akhir hidup masing-masing orang, kebahagiaan didapatkan setelah kematiannya - bertemu Sang Pencipta.

Anak, istri atau suami hanyalah titipan, bukan begitu?

Apalagi rumah, mobil dan jabatan!

Lagi-lagi semua itu timbul pada diri perorangan. Kebahagiaan ideal-sejati, tidak dapat dikaitkan dengan munculnya orang lain/benda lain. Karena jika seorang yang kamu cintai meninggalkan kamu terlebih dahulu, maka biasanya orang akan mengalami kesedihan dan kesedihan adalah lawan dari kebahagiaan.

Tanpa adanya ide dari kebahagiaan orang-orang tidak dapat hidup terus di dunia ini. Apapun bentuknya, untuk dapat terus hidup tanpa membunuh diri sendiri karena kefrustasian, orang-orang rela mengejar kebahagiaan itu.

Saya akan bahagia jika sudah mempunyai rumah, mempunyai pasangan, mempunyai anak - mungkin.

Atau, dia akan bahagia jika dia bisa lepas dari nafsu dan mencapai nirwana.

Atau, dia bahagia jika bisa melawan Tuhan, autoritas….menjadi sekutu kejahatan dan kesetanan.

Atau, dia akan bahagia jika dapat mencapai keseimbangan spiritual dan duniawi.

Bla bla bla….

Mungkin kebahagiaan tidak ada - namun mencari kebahagiaan, mungkin bisa membuat orang mendapatkan ide tentang kebahagiaan itu sendiri.

Sepanjang-panjangnya saya menulis tentang arti dari kebahagiaan, tulisan ini tidak akan pernah menyentuh esensi yang paling dalam dari kebahagiaan (duniawi/spiritual?).

asem manis asinNovember 26, 2005 10:58 am

Dalam rangka penyerahan Gaza kepada Palestina, sebuah stasiun televisi baru dari Spanyol menyiarkan program beritanya dari Gaza.

Mereka mewancarai, menyorot kehidupan penduduk Palestina, dan sebagainya. Sayangnya aku tak ingat acara ini dan terlambat melihatnya. Hanya aku lihat sebuah cuplikan dari wawancara wartawan dengan seorang bapak-bapak - penduduk Palestina.

Wartawan: “Bapak, tolong ceritakan kepada pemirsa tentang anekdot situasi rakyat Palestina”

Ternyata si bapak ini berbahasa spanyol, canggih.

Bapak: Yah…ini ada seorang yahudi yang mempunyai seorang istri dan tiga orang anak, mereka hidup dalam satu rumah kecil yang hanya mempunyai satu kamar saja. Yahudi merasa sesak, kemudian ia berpikir untuk mendatangi seorang rabi (pendeta yahudi) yang ia pikir dapat menolongnya memecahkan masalah ini.

Ia berkata kepada rabi “Rabi, tolong saya, saya punya seorang istri dan 3 orang anak, kami hidup dalam rumah yg kecil dan satu kamar saja, saya merasa sesak rabi. Tolong saya”

Rabi pun menjawab: “Kamu beli seekor sapi di pasar dan bawalah pulang sapi itu ke rumahmu”.

Orang yahudi ini bingung dengan jawaban rabi, namun sebagai seorang penganut yang baik, ia pun menuruti nasihat rabi dengan membeli seekor sapi di pasar, kemudian ia bawa pulang ke rumah.

Tentu saja isi rumah semakin padat dan pengap dengan keberadaan si sapi. Setelah seminggu, ia kembali mendatangi rabi dan mengeluh. “Rabi, situasi saya tidak berubah setelah saya membeli sapi itu. Bagaimana rabi?”

Rabi pun menjawab, “Kalau begitu, belilah seekor keledai di pasar, bawa pulanglah keledai itu ke rumah”.

Si yahudi pun mengikuti perintah si rabi, ia membeli seekor keledai di pasar dan membawanya pulang.

Setelah seminggu, situasi di rumahnya semakin kacau balau, dengan temperamen panas ia kembali mendatangi rabi, “Ya rabi, bagaimana ini, rumah saya semakin padat dan sesak! Apa yang harus saya lakukan?”

Rabi menjawab, “Coba kau jual keledai itu.”

Ia pun menjualnya, kemudian ia bertemu rabi, dan rabi bertanya kepadanya, “Bagaimana situasimu sekarang?”.

Si yahudi menjawab, “aah….sekarang lumayan lebih baik Rabi”.

Nah itulah situasi rakyat Palestina sekarang, sama dengan situasi terakhir anekdot di atas. Dengan penyerahan Gaza kepada mereka, bukan berarti mereka hidup lebih baik dari dulu. Itu hanya permulaan saja, karena kerusakan dan kehilangan yang mereka alami jauh lebih besar dari Gaza.

Masih banyak yang harus diperjuangkan, baik intern maupun extern. Semoga mereka selalu tabah dan kuat dalam perjuangannya mendapatkan kembali teritorinya yang disabet Israel.

asem manis asinNovember 25, 2005 10:09 am

Betul, kini situasi pembeli sepertinya tidak sehebat dulu lagi. Loh kenapa sih? ya abis akhir-akhir saya sedang mencari servis pengepakan dan transportasi, pelayanannya cukup membuat frustasi.

“Sedang sibuk, tinggalkan nama dan nomer telpon anda” - ngga ada kelanjutannya.
“Ya nanti kami akan telpon” - sampai sekarang belum ada jawaban masuk
“Ngga melayani servis kayak gitu”…..
Belum lagi ada perusahaan2 yang satu-satunya cara menghubungi mereka lewat email, ini pun tanpa ada jawaban. Plus yang tidak mengangkat telpon.

Hebat ya mereka???

Pasti anda sekalian juga mempunyai pengalaman serupa dengan saya…

travel/placesNovember 24, 2005 3:39 pm

Gue pilih foto-foto yang paling gue suka dari Tenerife


Pto. de la Cruz, tempat kapal berlabuh, berenang dan mancing ikan


Melihat laut dan horizon berlama-lama memuaskan batin

Masih ada foto-foto lain, tapi malas up-load…

I love Tenerife, I’ll be back one day.

ngelmu ah..November 23, 2005 11:46 am

Sekilas momen-momen di musim gugur


sejuk, damai, sifat alam itu sendiri…


jalan menuju kedamaian….


Oak tree yang menguning, oak tree hasil lukisan

masalah sosialNovember 22, 2005 10:29 am

Sindrom Diogenes adalah kelakuan seseorang yang hidup di antara sampah-sampah.

Sindrom ini terjadi pada orang-orang lanjut usia yang hidup sendiri, tidak menjaga kebersihan dirinya dan mengumpulkan sampah-sampah yang diambilnya dari jalanan kemudian mengumpulkannya di rumah tempat ia tinggal.

Sindrom ini muncul dikarenakan adanya penyakit jiwa, bukan dikarenakan faktor-faktor sosial. Dan sindrom ini berhubungan dengan penyakit seperti, pikun.

travel/placesNovember 21, 2005 3:05 pm

Hari Minggu kemarin saya pergi menonton pacuan kuda.

Karena kebetulan saya suka dengan kuda, kesempatan bagi saya melihat mereka dan mengerti bagaimana sih sebenarnya pacuan kuda itu? saya hanya pernah melihatnya di layar lebar.


(more…)

Next Page »
online