Apa sih sebenarnya kebahagiaan itu? kebanyakan orang selalu menjawab mencari kebahagiaan dan kesehatan dalam hidup ini.
Kebahagiaan pada tiap-tiap orangpun berbeda. Dan kadang kebahagiaanpun bisa dibedakan dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Namun sebenarnya tak seorangpun tahu apakah arti sejati kebahagiaan itu dan apa yang membuat seseorang itu bahagia.
Saya pribadipun seringkali bertanya, “Apakah saya hidup bahagia sekarang ini?”.
Mungkin secara relatif iya - hanya dikarenakan pemikiran bahwa saya hidup sehat, punya rumah dan pekerjaan, punya keluarga dan stabilitas ekonomi.
Kebahagiaan bukan milik orang-orang kaya, bukan pula dimiliki para penguasa. “Katanya” orang-orang miskin pun bisa hidup bahagia.
Saya pikir kebahagiaan adalah suatu rasa senang dan puas yang didapat tepat setelah seseorang memenuhi tujuan yang diinginkannya.
Mungkin juga saya salah.
Apakah orang miskin bisa dikatakan bahagia (puas) jika sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Sedangkan orang kaya, akan bahagia (puas) jika baru membeli Porche terkini?
Tingkatan kebahagian berbeda-beda. Tentu, ada juga orang kaya yang bahagia hidup apa adanya.
Apakah harus kita bedakan kebahagiaan dengan kepuasaan? kebahagiaan merupakan kepuasan batin juga toh?
Seperti apa yang dikatakan Gustavo Bueno, kebahagian hanyalah suatu mitos.
Kita seringkali bertanya, apakah kebahagiaan itu diukur dari apa yang dimiliki seseorang? tidak.
Ataukah ide tentang kebahagiaan itu timbul dari rasa iri seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang sama atau lebih dengan apa yang dimiliki orang lain?
Apa yang membuat saya bahagia? (bahagia atau puas?)
- dapat menyelesaikan suatu buku (kepuasaan?)
- mondar-mandir di gang-gang perpustakaan mencari buku baru untuk dibaca
- mencicipi makanan baru
- melihat orang yang sakit, karena saya menyadari saya sehat?
- bertemu sahabat lama
- melihat anjing saya lari sebebas-bebasnya layaknya seekor kuda di padang yang luas
Apakah hanya sebatas itu?
Ada kebahagiaan abadi dan kebahagiaan instant - menurut saya.
Kebahagiaan isntant, rasa senang yang anda rasakan ketika baru saja memenuhi tujuan anda (lulus ujian, setelah membeli sesuatu yang diidam-idamkan, etc.)
Kebahagian abadi, mungkin, selalu menerima nasib baik dan buruk dengan lapang dada? (duh..susah ya?)
Kadang saya sedih belum mempunyai anak dan saya pikir saya akan bahagia jika saya mempunyai anak.
Namun, apakah kebahagiaan saya sekali lagi harus diukur dari apa yang saya miliki dan terpenuhinya tujuan dalam hidup saya?
Apa jadinya kalau saya bahagia jika tujuan saya tak lain hanya materi? saya akan berubah menjadi budak semata.
Kadang hanya melihat seseorang memiliki segalanya dalam hidup ini, saya pikir, tentu orang itu sangat bahagia….
namun belum tentu juga.
Tanpa merasakan kesedihan seseorang tidak dapat merasakan kebahagian.
Kebahagian hanyalah perasaan yang ada di dalam batin kita, yang tergantung kepada kondisi dan pemikiran kita.
Dan…tergantung kepada kondisi orang lain?
Mungkin kejam jikala kita berpikir, “wah..untung saya cuma panuan, daripada si anu yang sakit lepra”…
Apa namanya pemikiran seperti itu? yang kadang membuat seseorang lega dan tersenyum.
Kadang orang yang sehat jasmaninya pun sudah bisa dibilang bahagia, padahal belum tentu juga, karena secara batin/mental, bisa jadi dia tidak merasakan kebahagiaan.
Betapa misteriusnya kata-kata itu.
“Happy, happy birthday”.
Seakan secara etis kamu bahagia karena hari itu kamu berulang tahun, artinya kamu masih diberi umur, masih hidup, walaupun kamu tahu hidup itu keras dan kejam dan waktu tidak pernah memaafkan keterlambatan.
Dan dalam kekejaman itu, ada orang-orang yang tertawa ketika mereka menipu kamu, menjahati kamu, sementara kamu jatuh ke dalam lubang kesengsaraan.
Maka kadang kebahagiaan seseorang tergantung pada kesengsaraan yang lainnya?
Kebahagiaan dan kepuasaan.
Bisakah suatu kepuasaan disamakan dengan kebahagiaan?
Tentu, lagi-lagi kita harus mendefenisi apakah kebahagiaan itu dan apakah arti dari kepuasaan itu.
Merujuk kepada filosof yang saya sebutkan di atas, jika kebahagiaan dicari definisinya maka kebahagian tidak akan ada, ia hanyalah sebuah mitos.
“Kebahagiaan yang dipikirkan bukanlah kebahagiaan, namun hanya suatu ide pada kehidupan yang baik dan kenyamanan yang mana dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Kebahagiaan yang anda maksud adalah usaha dari segelintir orang untuk memperbudak banyak orang. Kebahagiaan tidak dapat didefinisi. Setiap orang mencari kebahagiaannya masing-masing”.
Kalau anda mau hidup optimis, mungkin ada baiknya percaya akan adanya kebahagiaan.
Seseorang ilmuwan yang misalkan menemukan vaksin HIV, dia akan merasa “bahagia” atau merasa “puas”?
mungkin bisa dua-duanya. Bahagia bisa menolong orang lain dan puas bisa menemukan sesuatu yang berguna bagi orang banyak.
Apakah membentuk suatu keluarga sesuatu yang natural yang membuat sebuah pasangan menjadi bahagia?
Bagi saya pribadi kebahagiaan ….misteri yang belum terpecahkan.
Mungkin di akhir hidup masing-masing orang, kebahagiaan didapatkan setelah kematiannya - bertemu Sang Pencipta.
Anak, istri atau suami hanyalah titipan, bukan begitu?
Apalagi rumah, mobil dan jabatan!
Lagi-lagi semua itu timbul pada diri perorangan. Kebahagiaan ideal-sejati, tidak dapat dikaitkan dengan munculnya orang lain/benda lain. Karena jika seorang yang kamu cintai meninggalkan kamu terlebih dahulu, maka biasanya orang akan mengalami kesedihan dan kesedihan adalah lawan dari kebahagiaan.
Tanpa adanya ide dari kebahagiaan orang-orang tidak dapat hidup terus di dunia ini. Apapun bentuknya, untuk dapat terus hidup tanpa membunuh diri sendiri karena kefrustasian, orang-orang rela mengejar kebahagiaan itu.
Saya akan bahagia jika sudah mempunyai rumah, mempunyai pasangan, mempunyai anak - mungkin.
Atau, dia akan bahagia jika dia bisa lepas dari nafsu dan mencapai nirwana.
Atau, dia bahagia jika bisa melawan Tuhan, autoritas….menjadi sekutu kejahatan dan kesetanan.
Atau, dia akan bahagia jika dapat mencapai keseimbangan spiritual dan duniawi.
Bla bla bla….
Mungkin kebahagiaan tidak ada - namun mencari kebahagiaan, mungkin bisa membuat orang mendapatkan ide tentang kebahagiaan itu sendiri.
Sepanjang-panjangnya saya menulis tentang arti dari kebahagiaan, tulisan ini tidak akan pernah menyentuh esensi yang paling dalam dari kebahagiaan (duniawi/spiritual?).