BahasaOctober 18, 2005 8:41 am

“Kasus DBD belum mencapai KLB”.

Kalau orang Indonesia yang baca judul di atas (diambil dari detik.com) pasti dia mengerti apa maksudnya, tapi coba bayangkan orang asing yang berada di Indonesia, yang kebetulan sedang belajar bahasa Indonesia, bisakah dia membuka kunci rahasia singkatan tersebut? Kalau tidak bertanya pada orang asli, tentu tidak.

Saya sendiri sempat terperangah membaca judul berita di atas, namun karena saya orang asli, kata-kata DBD paling tidak sudah saya ketahui, yaitu singkatan dari Demam berdarah (mudah-mudahan belum ada plesetannya!), lalu singkatan yang kedua juga saya terka-terka (sebelum membaca berita itu sepenuhnya), yaitu singkatan dari kasus luar biasa.

Jadi ketika membacanya saja, kedengarannya sangat aneh, “”Kasus DBD belum mencapai KLB” - sama sekali tidak mempunyai arti (have no sense), apalagi kalau yang membaca tidak tahu singkatannya.

Yang saya ingin tahu, sudah separah itukah wartawan di negara kita dalam penulisan suatu berita. Malas atau kebiasaan? atau kebiasaan malas bangsa ini?

Bahasa, xtremely forbiddenOctober 17, 2005 12:11 pm

Tiba-tiba pengen aja ngomongin tentang ngerampok bank.

Kenapa ngga? berapa banyak film yang bercerita tentang perampokan bank? Bruce Willis, Woody Allen, The Heat (film favorit saya), dan banyak lagi.

Seorang teman yang bekerja di sebuah bank kecil di suatu desa, pernah menawarkan diri untuk merampok bank tempatnya bekerja.

Ho ho….slurrrp….

Yang paling saya suka, ada satu perampokan Bank di Brazil, caranya betul-betul intelejen!
Ngga jauh dari tempat sebuah bank penting berada, ada sebuah kios penjual tanaman dan tanah. Setiap hari terlihat mobil truk mengangkut berkarung-karung tanah dari kios itu. Semua tampak normal.
Sampai suatu hari, bank tersebut dibobol dan ratusan juta lenyap. Setelah ditelusuri lubang bobolan itu, ternyata akhir dari lubang itu adalah kios penjual tanaman dan tanah itu!
ha ha ha…ide yang cemerlang!

Namanya membuat “butrón” (bahasa spanyol), artinya lubang yang dibuat di ubin, tembok atau langit-langit yang fungsinya untuk merampok.

Arti lainnya yaitu: lubang dari suatu gua terbuka di bawah tanah yang berguna untuk ventiliasi dari penyimpan minuman anggur.

Pernah cara ini dipakai juga di Barcelona, untuk merampok sebuah toko perhiasan terkenal. Kebetulan tak jauh dari toko itu ada sebuah rumah atau gedung tua yang tak dihuni atau dipakai.

Di sini ada pula perampok yang bekerja sendirian, tampangnya selalu berubah-ubah, dan wilayah perampokan biasanya bank di desa-desa. Setelah tujuh kali merampok, akhirnya dia tertangkap juga.

Nasib sial lainnya seorang pemuda merampok bank setelah menyandera beberapa orang pelanggan di bank itu, kemudian dia meminta motor untuk kabur.
Ketika dia kabur dengan motor itu, di persimpangan jalan, mobil polisi sudah siap, tepat saat dia lewat, motornya diseruduk mobil polisi, dia pun terlempar beberapa meter, dia malah jadi cacat dan masuk penjara.

Yang jelas, kalau saya mau merampok, sudah tidak bisa lagi, karena sudah saya bahas di sini, terlalu mencurigakan.

Tapi, kalo ngebayangin doang ga ada salahnya (antara obsesi dan cita-cita, huah!!!)

Cara favorit saya, ya pake butrón itu.

Kecuali kalo saya direkrut oleh grupnya De Niro seperti di film The Heat. He he…
Kapan? kapan?
ah!

Pd. Lupa nambahin, selain merampok bank, ada juga jenis perampokan pada mobil-mobil baja pengangkut uang yang tugasnya mentransportasi uang dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pernah ada..
Ups, sebaiknya aku ga menulis metode2 perampokan, takut nanti disalahgunakan.

Eh, film lainnya tentang perampokan yang saya suka: The Italian Job.

PENULIS TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS AKSI-AKSI PERAMPOKAN DENGAN METODE-METODE DI ATAS. PENULIS HANYA MENGULAS METODE PERAMPOKAN YANG SUDAH TERJADI DI BEBERAPA NEGARA DAN BERITANYA SUDAH TERCETAK DI MASS MEDIA.(just in case!)

asem manis asin 11:44 am

Apa jadinya kalau saya menerima tawaran pindah ke perusahaan lain dalam satu grup pada pertengahan atau akhir bulan ini, padahal sampai saat ini surat pemecatan belum ditandatangani.

Yang terjadi bisa jadi:

1. Saya tidak akan menerima uang pesangon dengan alasan mereka:
“Elu ga gua pecat kok, lu yang pergi sendiri ke perusahaan itu”…

2. Ok, surat pemecatan yang sudah ditandatangani adalah persetujuan pertama yang kondisinya jauh lebih buruk daripada persetujuan yang ketiga yang sekarang ini dinanti-nanti untuk ditandatangani

Alhamdullilah, pilihan saya adalah tetap menetap pada perusahaan aktual, sampai pada tanggal penutupan. Menuruti kata hati, karena saya pikir waktu perpindahan terlalu cepat, belum lagi posisi yang ditawarkan tidak tepat sama dengan posisi aktual.

Percaya atau tidak, surat pemecatan dan kondisinya masih belum ditandatangani oleh kedua belah pihak (Dept. Sumber daya Manusia dan Wakil dari Pegawai). Sejak pengumuman pemecatan, pertengahan september sampai saat ini.

Adakah rencana licik di balik keterlambatan ini?

manusia/renunganOctober 14, 2005 1:07 pm

-Kalau yang mau ditolong tidak punya kriteria tentang pertolongan, atau dia tidak tahu harus ditolong apa, bagaimana orang yang mau menolong bisa menolong dia?
(Ketika hendak mencoba menolong seseorang, saya sadar, si subjek sendiri tak tahu maunya apa, jadi saya sendiri tidak diperlukan)

- Jangan minta tolong kalau belum kepepet

- Walaupun miskin, jaga harga diri
(ini gara-gara seseorang minta pekerjaan dan dia rela dibayar oleh uang makan dan transport saja. Mula-mula ini mungkin akan menimbulkan rasa iba terhadap orang itu dan pasti saja ada banyak orang yang secara suka hati memanfaatkan kondisinya untuk dijadikan budak.

Namun di mata sebagian orang lain, ini hanya menunjukkan bahwa calon pegawainya tak punya harga diri, gampang dibeli oleh apa saja dan berbahaya bagi persaingan pekerja lainnya.

Contoh lainnya, si A yang merasa tidak seberuntung B dalam hal keuangan, selalu menunggu B untuk membayar makanannya jika ia makan bersama B.

Dalam kesempatan lain, B sudah sering menolong si A, dan A berjanji akan mentraktir makan B, namun janji itu tidak pernah terealisasi.
B sebenernya ikhlas karena tahu kondisi A, namun B juga sakit hati, pertama karena A tak tepat janji. Ke dua karena A selalu merasa miskin dan tidak punya kekuatan moral untuk mengembalikan kebaikan B sekedarnya, B ingin A juga punya harga diri sebagai teman).

-jangan minta direkomendasikan oleh seseorang jika kamu tahu kamu akan mengecewakan

Jadi please deh…

manusia/renungan 10:17 am

Aku sedang mengungsikan seorang sebangsa di rumahku, dia “pacar” temanku. Kebetulan sedang mencari kamar dan pekerjaan.

Aku sendiri tidak begitu kenal dengan dia. Pertama-tama aku dan suami mengatakan ya boleh dia tinggal sementara (dua minggu) di rumah kami, sampai dia mendapatkan sewaan kamar.

Tentu kami merasa punya kewajiban menolongnya. Tapi terus terang, kebebasan kami menjadi terbatas sejak ada tamu itu. Mungkin karena kami tidak begitu mengenalnya, dan tamu ini termasuk “problematik”, dokumen izin tinggal dan kerjanya sedang diproses, dan dia sedang menunggu jawaban diluluskan atau ditolak.

Tidak hanya itu, dia sebenernya terikat kontrak dengan sebuah perusahaan di Cordoba (jauh di luar Madrid), namun si pengusaha tidak memberi dia pekerjaan, aneh kan? menurutnya itu dikarenakan, di luar jam kerja dia pergi ke café, dan si pengusaha menelpon, kemudian marah-marah, kenapa dia berada di diskotik? bla bla bla…sehingga si pengusaha itu tidak percaya lagi dan tidak mau memberinya pekerjaan.

Aneh dan aneh.

Kemudian ketika dia sedang mencari pekerjaan di sini, dia ragu-ragu dan takut jika si pengusaha di Cordoba itu memanggilnya tiba-tiba. Sehingga tentu pengusaha yang baru yang akan memperkerjakannya menjadi ragu-ragu.

Dia juga tidak mau dideportasi, karena kalau izinnya ditolak di sini, dia akan pergi mencari pekerjaan di negara lain.

Begini, saya dan suami sudah berkali-kali menasihati dia tentang hukum yang ada, solusi alternatif, dsb. namun demikian dia sepertinya tidak peduli, tetap pada targetnya sendiri tanpa punya pengetahuan.

Terlepas dari kerelaan saya dan suami, dia tinggal di rumah kami, entahlah, saya punya perasaan tidak nyaman. Apakah karena dia itu laki-laki dan aku tidak mengenalnya secara dekat?

Yang saya lihat, dia tidak mempunyai tujuan yang jelas, logis, mungkin karena statusnya tidak jelas.

Sebenernya masih banyak lagi kekacauan ceritanya yang tak dapat saya ceritakan di sini, karena panjang. Salah satu dari situ sudah pernah saya ceritakan. Coba cari di “search” dengan kata Urip dan ada post yang berjudul: “Menembus tembok nasib”, cerita tentang seorang pelaut yang kabur dari sebuah kapal.

Jadi sebenernya, saya merasa pertolongan saya ke dia sebagai suatu kewajiban belaka. Dan mungkin saya tidak harus merasa bersalah kalau hati saya tidak sepenuhnya “rela” dan saya tidak bisa menjelaskan kenapa.

Mungkin karena keadaan rumah tangga dan pribadi juga baru mengalami banyak fase perubahan dan ketidakstabilan. Dan kalau mau tahu, rumah saya agak sering mendapatkan kunjungan orang-orang yang perlu menginap. Jadi tau deh…saya mungkin agak sensi atau apa ya?

asem manis asinOctober 11, 2005 3:25 pm

It’s curious that these years natural big disasters happened in poor countries/provinces (Aceh, Bangladesh, Pakistan, Afganistan, New Orleans, Guatemala, Chiapas…).

Is it just a casuality?

No, no…I’m not trying to point out Him, well, a bit.

But no body got the answer.

(my posible answer: there are much more poor people and countries than rich people/country, so the posibility that one disaster happens, happens in a poor country, hah!).

Starting from zero, loosing your family, could be your child, your husband or wife or the entire family. Lossing your home- house, loosing everthing, included the entire city, means job, activities, salary, important papers, primary things such clothes, etc.

bad joke: “if you were rich, you would lost much more…”

There is always a question at the end of this suffering moment, “where are You?”, “why us?”

And I don’t blame them. If I were them, I would ask the same question. Just to release some pain.

asem manis asin 12:20 pm

Acabo de ver una oferta de trabajo que ofrece un contrato temporal de duración estable. Flipa colega.

¡A estos hay que denunciarles!

asem manis asin 10:12 am

Masih inget kliping jaman SD dulu? gunting-gunting berita di koran dan mengkategorikan berita, tema, dan sebagainya.

Sekarang saya juga suka gunting-gunting koran, terutama gambar-gambar berita dari Indonesia yang masuk di koran sini.

Tujuannya? mungkin sekedar mengkoleksi gambar-gambar unik tersebut, suatu hari bisa ditunjukkan pada generasi mendatang, tentang apa yang terjadi pada masa lalu - walaupun kini kita sudah memasuki jaman digitalisasi, ngga pa pa…yang ini kan cukup unik dan dikoleksi dengan rasa sayang.

manusia/renungan 9:06 am

Mungkin semua orang juga udah pada tau, sepanjang hidup kita selalu dipertemukan oleh pilihan-pilihan di mana kita harus memutuskan dan memilih.

Masing-masing manusia harus terus berjuang, walaupun di Pakistan, Afganistan dan India terjadi gempa 7 skala Richter, di Mexico, Guatemala diserang banjir bandang oleh Stan, sehari jatuh 30.000 jiwa korban gempa, dan seterusnya.

Sebenernya kalau dipikir-pikir dunia ini bukan LAGI tempat yang aman dan nyaman untuk hidup. (more…)

asem manis asinOctober 10, 2005 9:16 am

ternyata….berpuasa di antara orang-orang yang TIDAK berpuasa, cukup berat.

Kalau di Indonesia, kebanyakan orang berpuasa di bulan Ramadhan, sehingga ada rasa solidaritas dan kenyamanan. Sebelah kiri kanan puasa, sama kayak gue.

Tapi kalau di sini…seperti tadi pagi, teman kantor malah dengan enaknya ngajak minum kopi, dia lupa kalau aku puasa.

Ngga bisa minum kopi, makan siang bareng, akibatnya agak ketinggalan berita-berita dan gossip.

Bagi saya berita dan gossip yang beredar adalah bagian dari aktualisasi diri, bukan berarti ngomongin kejelekan orang, tapi sekedar tahu apa yang terjadi, kapan, di mana, kenapa, dan seterusnya.

Makanya selama puasa ini saya agak…uggh….harus menahan banyak nafsu, nafsu yang mungkin tidak jelek, tapi dari situ, kita belajar bersabar (kebetulan saya orangnya tidak sabaran).

Saya pernah coba, kalau saya mikirin makan terus, akhirnya perut terasa lapar dan gila kepengen makan, padahal belum waktunya buka.
Tapi ketika saya tidak memikirkan makanan, kok perut saya tidak terasa lapar ya? padahal ketika buka, saya minum air putih doang, tapi perut santai-santai aja…jadi kayaknya tergantung mental kita.

Kayaknya puasa ini mencoba kelemahan kita masing-masing. Ada yang lemah di perut, yang lemah di emosi, yang lemah di mulut, di hati, dst.

Semoga puasa ini kita bisa menguji coba diri kita sendiri dan semoga nilai raport kita bagus di akhir bulan.

LINK TEXTNext Page »
online