Adalah kebiasaan orang-orang Indonesia kepada orang yang belum kenal, mereka sering memanggil “mbak” untuk perempuan umur sebaya (mulai dari perempuan kecil kira-kira seumur 12 tahunan sampai perempuan berumur 30 ke atas) dan “mas” untuk laki-laki, dengan batasan umur yang sama.
Kita pun sudah biasa saja mendapat sebutan tersebut.
Atau anak-anak kecil di jalan yang tidak kita kenal, ketika menanyakan sesuatu, “oom/tante…jam berapa sekarang?”
Kamu keberatan ga dengan sebutan mbak, mas, oom, tante? kamu merasa menjadi lebih tua jika seseorang sebayamu memanggil dengan sebutan mbak/mas? dan tak jarang pula kita bisa saja dipanggil ibu atau bapak, padahal kulit masih sehalus pisang (no comment).
Saya tahu kalau maksud orang itu adalah sopan santun, tapi kadang, aku menjadi merasa lebih “tua” dan “dituakan” dari dan oleh si pemanggil jika ia menggunakan kata mbak dan ibu.
Lain halnya dengan sebutan nona, tuan, nyonya, justru jarang dipakai di negri kita. Mungkin karena pemakaiannya tidak membudaya, lebih dipakai istilah ibu dan bapak. Fungsinya lebih mengarah pada stasus sipil kita. Nona, untuk wanita single, tuan, untuk laki-laki dan nyonya, untuk perempuan yang sudah menikah.
Lebih dari itu kata ibu dan bapak pun mempunyai fungsi ganda.
Ibu=bunda dan juga berarti nyonya.
Contoh, Alin yang menikah dengan Handoko, berubah sebutannya menjadi Ibu Handoko. Atau dipanggil juga dengan ibunya si Kiki, karena anak perempuannya bernama Kiki.
Sama halnya dengan seorang laki-laki. Bapak, yaitu ayah dan juga “tuan”.
Padahal ada alternatif lain yang agak kurang dipakai, untuk perempuan - seperti misalnya kata “jeng” dan “ses” (bener ga ini tulisannya?) untuk perempuan dewasa.
Dan untuk laki-laki “bung”. Bung Hendro, misalnya.
Karena bisa saja seorang perempuan berumur 30 tahun, masih single, keberatan jika dipanggil ibu A, jadi alternatifnya Jeng A, Ses A atau nona A.
Sebenernya kebiasaan memanggil dengan sebutan jawa, belanda, etc. bukan untuk dewasa saja, di rumah anak kecil sering disebut “dik/dek” oleh orang tuanya. Dan bila kamu kebetulan seorang kakak, ibu atau bapakmu juga memanggil selayaknya adikmu memanggil dirimu: mas, mba, teteh, ceu-ceu, aa, abang dan dalam berbagai bahasa daerah lainnya.
Satu lagi sebutan yang “merisihkan” diriku pribadi adalah “nduk”.
Trus terang saya merasa sedikit, entahlah…mungkin kata yang tepat, di”kecil”kan.
Di negara lain, mungkin ada juga sebutan yang merisihkan diriku, seperti misalnya “babe” (dari baby), nena (baby feminin dalam bahasa spanyol), dan niña (baca: ninya, yang artinya kurang lebih seperti nduk), apalagi kalau yang memanggilku itu tidak kenal sama sekali.
Kenapa sih ga manggil namaku aja kalau memang sudah tau.
Lalu panggilanpun terasa jelek atau tidak relatif dalam pemakaiannya. Misalnya jika di jalanan ada anak kecil bertanya kepada saya dengan memanggil saya “señora” (nyonya), alis saya jadi meruncing, merasa “dituakan” sekali. Namun, jika saya berada di ruang tunggu klinik misalnya, lalu saya dipanggil giliran dan perawat menyebut saya dengan “señora xxxxx”, saya merasa biasa saja.
Saya sendiri tidak pernah memanggil dengan “mbak” atau “mas” pada bloger atau orang lain yang belum saya kenal. Entah mungkin karena sifat saya yang suka bicara “langsung”, loe-gue, situ, anda, atau kamu. Dan “abang” atau “bang” untuk menyapa tukang ojek, becak dan tukang-tukang lainnya yang saya tidak kenal secara pribadi.
Kamu sendiri gimana?

Saya seh biasa dipanggil Sheva (over Andry Shevchenko, no kidding).
Dirumah, ponakan2 panggil Pak Po. Artinya Bapak Sepuh (Bapak Tua). Setara dengan Pak Dhe (Bapak Gedhe)
Atao simple : “Pa”. Papa.
Ada anak-anak panggil “Om”. Saya paling jengkel dipanggil Om. Emang gw udah om-om apa ?
(no comment)
Meski begitu, panggilan yang paling saya sukai adalah.. ehm.. “Kakak” (ga usah ketawa)
Udah deh, saya pikir ini komen ter-narcist yang pernah saya buat. Bukan begitu Jeng Ria ?
Comment by andry — October 20, 2005 @ 4:19 pm
Loh kok jeng Ria? perangkap lagi…:P
Kalo naga itu ngga cocok jeng Naga, yg cocok: Naga. udah aja, ngga pake embel2.
Situ narcis? ya maklum, wong situ sudah Pak Po…(bapak sepuh).
Kabur…!!!!
Comment by nagasundani — October 20, 2005 @ 4:22 pm
kadang juga karena posisi dikantor jeng, lha saya yang muda dan berkulit seperti kulit pisang [sic] juga dipanggil ibu. duh.
Comment by nana — October 20, 2005 @ 9:49 pm
enaknya manggil naga dengan awalan ‘mbak’ aja ..
sekalian ngedoain saya sendiri biar awet muda …
** kabur **
Comment by doeljoni — October 21, 2005 @ 2:14 am
mba.. mba… salam kenal..
*kabur*
Comment by didats — October 21, 2005 @ 4:15 am
Oalah, mbak naga nggak seneng dipanggil mbak toh..jadi selama ini salah dong ya..sorry..sorry..*minta ampun*
Saya sih lebih seneng dipanggil nama aja. Tapi emang suka risih kalo dipanggil Madame..kesannya tua dan besar. Nggak cocok banget. Tapi kalo dipanggil Mademoisselle, jadi cekikikan sendiri..*kesenengan*
Comment by pipit — October 21, 2005 @ 8:57 am
Kalau saya manggil semua orang yang perempuan “Ibu”, pukul rata deh: mulai dari teman sebaya sampai yang lebih tua. Yang lebih muda juga. Jadi “Ibu A, Ibu B, Ibu C”.
Kalau yang laki-laki, semuanya Bapak (bukan “Pak” ). Kalau tidak Ibu dan Bapak, ya langsung nama, atau ya… Anda/Kamu/Loe. Atau yang lain-lainnya juga. Biasanya sih, apa saja yang keluar waktu nyeletuk. Sebisa mungkin sih menghindari “eh”, karena… ya… setiap orang kan punya panggilan. Kalau sampai lupa nama orang itu ya manggil dengan predikat itu tadi. Jadi sekarang semua sudah biasa kalau dipanggil “Ibu!!!” dari jauh, itu pasti yang manggil saya!
Kalau saya dipanggilnya Mbak, atau Hendro (padahal cewek gitu lho!), atau… Ibu juga… hehehe..
Comment by Henny — January 26, 2006 @ 10:33 am