Diskriminasi terhadap laki-laki
Mungkin diskriminasi terhadap laki-laki tidak terlalu ditonjolkan beritanya di mass media dan di masyarakat.
Kenapa kok saya jadi ngomongin ini?
Masih ingat tamu saya itu? hm…saya tidak merasa nyaman dia ada di rumah itu hanya karena dia adalah seorang laki-laki tak terlalu di kenal. Atau mungkin juga karena persepsi saya tentang dia setelah berbincang-bincang merangkumkan bahwa dia bukanlah orang yang “tepat” untuk menjalin hubungan teman.
Apakah kalau dia perempuan, mungkin perasaan saya jadi beda?
Kemudian ketika saya mencari-cari kamar untuk orang ini, kebanyakan iklan di surat kabar selalu menambahkan, “ditawarkan sebuah kamar untuk perempuan“.
Kenapa? bisa jadi karena yang tinggal di rumah itu seorang perempuan juga, atau bisa jadi karena si pemilik rumah memilih perempuan karena tahu perempuan biasanya lebih rapih, tidak jorok, dan tidak akan banyak membawa masalah. Entah masalah apa?
Perempuan dan laki-laki jika bernaluri jahat, ya sama.
Apakah perempuan terselamatkan oleh rupa mereka? suara mereka yang lebih tenang dan halus? Apakah kita masih dikelabui oleh hal-hal semacam ini?
Di barat, laki-laki yang sudah berumah tangga ketika bercerai juga banyak terkena diskriminasi oleh para hakim.
Mereka harus membayar pesangon terhadap istri dan anaknya, lebih dari itu biasanya rumah yang tadinya milik bersama harus diberikan kepada sang istri dan anak.
Laki-laki itu tiba-tiba menjadi miskin dan tanpa rumah, banyak dari mereka yang jatuh di penampungan untuk para gembel.
Begitu juga hak-hak untuk merawat anaknya, seringkali hak ini diberikan kepada sang ibu. Padahal menjadi laki-laki tidak berarti tak becus mengurus anak, bukan begitu?
Baru-baru ini di Spanyol telah keluar juga cuti untuk para laki-laki yang baru mempunyai anak (bayi), jadi bukan wanita saja yang berhak mendapatkan cuti hamil, laki-laki juga, walaupun tentu saja jangkanya jauh lebih pendek daripada cuti hamil.
Laki-laki juga berhak mengurus bayinya, bukankah anak milik berdua? bukan dari ibunya saja?
Balik lagi ke rasa bersalah saya pada tamu itu. Setelah saya bicara pada pacarnya (teman saya), ternyata ada banyak kesalahpahaman di antara kami.
Komunikasi yang tidak lancar.
Mungkin dia sebagai tamu, tidak mau bercerita panjang lebar kepadaku. Namun karena ceritanya yang “disingkat” itu, aku tidak mendapat informasi yang selengkapnya sehingga menimbulkan rasa curiga dan tak nyaman.
Dan mungkin selain itu, waktu dia berkunjung kurang tepat dan alasannya pun bukan prioritas. Bukan karena aku tidak adil terhadap kaum lelaki - untuk itu aku menyelidiki semua ini. Karena merasa bersalah kalau perlakuanku tidak adil terhadapnya.

KOmen ttg kalau bercerai.
Hukum Islam sangat adil. Jika terjadi perceraian tidak ada harta gono gini yg sangat merugikan kaum laki2.
Comment by Lili — October 19, 2005 @ 10:16 am
Tapi inget lho, kalau iklan ‘mobil bekas wanita’ jangan anggap itu mobilnya bagus. itu biasanya gak dirawat, mesinnya ancur..
hihihi, itu kata majalah otomotip sih
Comment by hericz — October 19, 2005 @ 1:53 pm
perbedaan latar belakang budaya memang dapat menjadi faktor yang mempengaruhi bagaimana cara pandang dan perlakuan pada gendeer berbeda.
tentunya ini akan menemui pergesekan dengan pandangan-pandangan baru.
ya, sependapat dengan mbak naga, kalo pria atau wanita pada hakikatnya sama. penampilan fisik boleh berbeda tapi jangan tertipu. keadilan emang gak pandang bulu…
(**doeljoni sok tahu, hehehehehe… **)
Comment by doeljoni — October 20, 2005 @ 2:06 am