Setelah sempat shock pulang dari liburan, hari selanjutnya dapat pengumuman diPHK, dua minggu negosiasi tunjangan/upah, di mana negosiasi pertama sempet hampir mandek dan gagal…namun Alhamdullilah, yang ke dua kali, bagian sumber daya manusia dari perusahaan mau mengalah dan membayar tunjangan kita dengan angka yang cukup memuaskan.

Mulai dari kemarin, hati sudah cukup lega, walaupun kini saya harus memutuskan mengambil tawaran kerja dari perusahaan lain yang masih satu grup, atau menunggu sampai kantor benar-benar ditutup dan mencari ke sana sini kerja yang lain.

Saya akui saya sempat mempunyai rasa takut menjadi pengangguran, bukan rasa takut akan masa depan. Rasa takut yang lain, yaitu tidak mendapatkan pekerjaan yang saya sukai.

Setidaknya angka tunjangan cukup untuk menenangkan dan menyenangkan hati ini. Dan kini waktunya untuk menormalisasi keadaan, baik jiwa maupun lingkungan.

Lucu ya? takut tidak mempunyai pekerjaan, takut terkucilkan dari masyarakat aktif, pekerja…seakan dosa jadi pengangguran. Saya sempat mengucilkan diri dan tidak mau bersuara, karena malas, malu dan sedih.

Kalau saya berada di Indonesia mungkin saya sudah depresi berat, karena saya tahu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di sana.

Seberat-beratnya menjadi calon pengangguran, kalau hidup di negara sosialis, kalau nantinya saya tidak mendapatkan pekerjaan, negara akan membayar hidup saya selama saya mencari kerja sana sini. Maka itu saya masih beruntung.

Dan mungkin mulut ini harus ditutup kalau mau coba berkeluh kesah, karena masih banyak orang di sana yang tak seberuntung saya.