Agak sulit untuk memulai jurnal ini, pertama, sebetulnya belum waktunya saya masuk kerja, namun dikarenakan hal-hal di luar kekuasaan saya, saya harus kembali ke meja ini yang kemungkinan besar akan saya tinggalkan dalam jangka 4 bulan mendatang.

Entah saya akan terdampar di mana, apakah di perusahaan dalam grup yang sama, ataukah di perusahaan yang baru sama sekali atau malah harus ngantri di kantor INEM (singkatan dari: Instituto Nacional de Empleo, yang mengurus para pengangguran nasional, baik memberikan subsidi, penawaran kerja dan kursus-kursus yang berhubungan dengan profesionalitas-mu).

Yang penting, selama liburan yang waktunya agak terlambat, karena sudah memasuki musim semi, selama saya jauh dari komputer, saya banyak melihat sesuatu, berpikir tentang ini itu, namun tidak bisa saya tumpahkan pada waktu itu juga.

Kemarin hari pertama kerja, setengah hari, ada terlalu banyak informasi yang saya serap, sehingga sulit untuk ditumpahkan di sini. Hari kami kemarin diakhiri pukul 10 malam di kantornya G & A, sebuah kantor pengacara terkenal dan yang terbaik, setidaknya di sini. Sebuah kursus singkat guna menghadapi “lawan” kami Jumat depan.

Saya sendiri cukup tenang menghadapi alternasi yang datang secara tiba-tiba dan mungkin dalam sub-pikiran saya, sudah saya nanti-nantikan namun secara malu-malu.

Saya cukup setia memegang prinsip yang dianut oleh Omar Khayam.

Dan prinsip saya yang lainnya, yaitu: bagi siapa yang ingin bekerja, akan mendapat pekerjaan, bagi yang tidak, dia akan selalu berusaha menghindari pekerjaan itu.

Mengenai liburan yang minggu lalu baru saja saya tinggalkan, sangat memuaskan. Cuaca yang baik, pemandangan volcan di Teide yang sangat berbeda dengan pemandangan di Indonesia, seakan-akan melihat filmnya Arnold Schwazeneger yang menceritakan tentang planet Mars (lupa judulnya), lava merah, lava kehitaman, tumbuhan yang aneh-aneh dan cantik, batu-batuan yang tak tersentuh selama ribuan tahun.

Sementara di bagian pulau yang lain terdapat gunung yang dipenuhi pinus, awan yang mengalir seperti air terjun, lalu, lumba-lumba yang membiarkan dirinya dicintai turis-turis, ikan paus pilot (calderones) yang lucu dan pemalas, mengapung di laut, seakan tak peduli dengan waktu dan dunia. Air yang jernih dan biru turquesa, ikan-ikan kecil yang berupa-rupa dan berwarna warni, kolam renang yang berisikan air laut, dan banyak lagi.

Dalam hati:
(Terima kasih ya Tuhan yang telah memberikan saya kesempatan ini untuk sejenak melihat hasil karyaMu yang sempurna dan indah.)

Kini kembali lagi ke alam urban, rutinitas, bla bla bla plus menghadapi lawan besok, tanpa pengacara.

Berbekal kata-kata: “legal”, “sindikat buruh”, dan “kami tidak melihat parameter yang anda suguhkan” (supaya mereka terbengong-bengong memikirkan apa gerangan arti dari kalimat satanic tersebut?), atau “belum cukup jelas perbaikan yang anda tawarkan”, lalu keluar dari ruang rapat dan berharap mereka akan mengubah tawaran mereka dan bersikap lebih manis kepada kami.

“Va a ser que no”, adios, buenas tardes.

Kemarin saya belum bisa mengasimilasi apa yang terjadi, pulang liburan dari sebuah pulau untuk terdapampar di pulau sendiri yang penuh ketidakjelasan dan kejutan.