Begitulah lontaran dari seorang teman di sebuah milis.

Sebelumnya dikarenakan seorang teman yang lain (sepertinya dari komunitas utan kayu- saya tidak pasti) mengirim untuk ke dua kalinya acara-acara yang berbau homoseksual, seperti bedah buku “indahnya menikah sesama jenis kelamin”, pameran fotografi bertema gay dan AIDS, etc.

Sehingga, seorang teman yang cukup..keras (aku tidak taruh kata “fanatik” nanti pasti diprotes), melontarkan kata-kata seperti,
“Eh..xxx(sambil menyebut namanya), elo tuh apa sih maksudnya ngirim2 email yang berhubungan dengan kaum itu. Jijik gue! bodo mo dibilang apa, ketinggalan jaman kek, bodoh kek…tapi gua masih waras!”

Saya agak terkejut, namun saya juga sudah tahu ide yang dimilik teman saya itu. Kali ini saya tidak protes karena sudah cukup sering, kelihatannya tak satupun yang ingin “nimbrung” tema tersebut.

Sekarang pemikirannya begini, “bagaimana jika (bukan saya mendoakan), anak orang itu nanti, menjadi seorang homoseks atau pun biseks?”

Saya pikir perkataannya pada milis itu, sungguh diskriminatif dan menyakiti kaum tersebut.

Mungkin kolom ini salah satu kolom yang selalu membela kaum ini? ada apa sebenernya? ngga ada apa-apa kok. Saya perempuan dan heteroseksual.

Sebagian orang terkadang rancu untuk memperlakukan orang lain sesuai dengan moral yang ditegaskan pada agamanya. Islam dan sebagian aliran kristen melarang homoseksualitas, jelas.
Islam melarang perzinahan.

Sekarang bedanya, kamu jijik sama gay karena mereka terlihat dari cara bicaranya, gerak-geriknya, etc. etc., tapi bagaimana dengan teman kantormu yang berzinah- dan tak terlihat kedoknya? adil? jawab sendiri.

Begini. Saya mendukung kebebasan untuk percaya pada sesuatu apapun itu selama tidak melanggar hukum.

Misal, ada sekte memuja setan. Silahkan berkumpul di suatu tempat tanpa mengganggu aktifitas orang lain.
Sekarang, kalau sekte itu mengorbankan manusia untuk disembahkan pada setan, nah ini barulah terjadi pelanggaran hukum pidana, mereka harus diproses dan diadili oleh hukum yang berlaku di negara tersebut.

Intinya cukup kata kebebasan, toleransi dan hukum.

Begitu juga gay. Bisa jadi saya tidak suka, jijik dengan aktifitas mereka, tapi itu hak mereka, apakah mereka mengganggu kehidupan saya? tidak.
Apakah saya sebagai penganut kepercayaan Islam harus membenci mereka karena Islam melarang keras perbuatan mereka?
Yang hanya saya bisa lakukan secara maksimal adalah memberi nasihat kepada mereka untuk kembali kepada jalan yang benar. Dari situ, they take it or leave it.

Misalnya saya benci dan jijik pada mereka, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan saya pun tak perlu menyerang mereka dengan mengatakan kata jijik, benci, dst. di depan mereka, pertama karena itu membuat permusuhan dan tanpa alasan, kedua, mereka tidak menyerang kamu, mereka ada di sana, di lingkungan mereka, biarkanlah mereka, dan biarkanlah saya. Begitu juga pada kasus ras, agama, dst.

Benih kebencian itu harus dihilangkan, diganti dengan benih “biarkan”, toleransi.

Lain halnya kalau mereka melakukan pelanggaran hukum, siapa pun akan diproses secara hukum - kata kata “jijik dan benci” tak diperlukan.

Sekali lagi saya tegaskan untuk menghindari kesalahpahaman, saya bukan gay, tidak juga membenci kaum tersebut.