Cara bicara seseorang, logatnya, gayanya bisa memberikan sedikit gambaran tentang orang tersebut secara permukaan.
Saya perhatikan, biasanya orang-orang daerah kalau berbicara menggunakan bahasa indonesia, penggunaannya cukup baik dan sopan, karena bagi mereka, bahasa indonesia merupakan bahasa keduanya. Indah pula, karena selagi menggunakan bahasa indonesia, logatnya tetap logat dari daerahnya (orang-orang batak dan Timor, misalnya).
Sedangkan dengarkanlah orang-orang Jakarta asli (seperti saya yang terlahir di ibukota, walaupun orangtua bukan berasal dari Jakarta), berbicara seenaknya, menyingkat-nyingkat sana sini, membaur bahasa indonesia dengan bahasa preman, gaya betawi dan belum lagi kata-kata baru yang diciptakan oleh kawula muda.
Tentu saja masih tetap dimengerti oleh lingkungan sekitar saya.
Namun beberapa tahun yang lalu di televisi (di Madrid), saya sedang menonton acara, semacam gossip, di sore hari. Mereka sedang menampilkan seseorang cowok yang telah berhasil memenangkan kontes entah cowok musim panas, cowok tahun ini, atau apalah…
Pemuda itu sangat amat tampan, senyumnya cemerlang, wajahnya sempurna dan tubuhnya pun tidak sembarangan, terlihat otot-ototnya terlatih.
Saya pun sampai terkesima melihatnya, makanya saya berhenti untuk menonton program yang sebelumnya tak pernah saya tonton.
Ketika itu, pemuda tersebut belum membuka mulutnya, karena masih ada peserta-peserta lainnya di kontes tersebut. Namun setelah adanya pengumuman pemenang kontes itu, pemuda itulah yang keluar sebagai pemenangnya.
Tibalah saatnya dia berbicara. Namun tak disangka, kekaguman saya meleleh, ketika rentetan kalimat keluar dari mulut yang sexy itu, dia dengan polosnya berbicara dengan logat pinggiran, agak kepreman-premanan….
Duss…….layulah mata saya yang tadinya melotot-melotot melihat ketampanan manusia itu, setelah dia “berani” berbicara.
Ternyata ketampanan yang tak ada duanya itu tak berarti apa-apa bagi saya pribadi, ketika seseorang berbicara dengan tata atau gaya bahasa yang “rendah” atau terdengar “buruk”.
Mau sok-sok borjuis? berpendidikan atau apa nih maksudnya? jelas tiap-tiap orang dipengaruhi oleh lingkungan dari mana dia berasal. Tapi kejadian ini membuat saya sadar, betapa pentingnya kita menjaga tata bahasa kita, terlebih pada orang yang baru kita kenal, apalagi pada wawancara penting dalam bidang profesional.
Mungkin saya perlu juga memaksakan diri untuk tidak bicara sembarangan ketika sedang kesal atau terkesima dengan sesuatu, karena kata-kata “jxxxx” selalu keluar dari mulut saya.
Saya bertekad untuk menjaga tata bahasa saya, saya akan coba. Karena manusia cepat larut pada satu kebiasaan hingga susah untuk merubah kebiasaan itu.
Sekali lagi bukannya saya mau sok-sokan berbahasa tinggi, namun pengalaman di atas tadi yang saya alami, merubah persepsi saya pada penggunaan bahasa.

Setuju banget Mbak. Tata bahasa memang harus diperhatikan. Salah satu sebab kenapa banyak orang di sini yang tidak senang dengan orang asing, karena mereka menganggap orang asing itu kalau ngomong kasar. Sebenernya bukan kasar, tapi ya ngomongnya nggak dipoles dengan berbagai grammar kesopanan. Wong bukan bahasa ibu, bagaimana mereka bisa sensitif sama dengan bahasa halus.
Beruntung saya punya mertua yang selalu mengajarkan saya berbagai rangkaian kata yang memperhalus kalimat. Dia juga selalu mengingatkan saya untuk menggunakan kata kerja yang sopan bila berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Selamatlah saya…
Comment by Pipit — September 8, 2005 @ 10:01 am
konon, dulu di negeri arabia dan tiongkok, ukuran prestise seseorang di ukur dari kefasihannya dalam bersastra…
lah kalo sekarang kayaknya udah berubah ya…
Comment by doeljoni — September 9, 2005 @ 3:40 am
setuju!!! Bahasa itu menunjukkan kepribadian seseorang.
Comment by rumi — September 26, 2005 @ 9:40 am