Ternyata apa yang aku tulis kemarin tentang dampak dari huracan Katrina, dikonfirmasi oleh sebuah kolom di koran (Ekspansion).

Menurut berita, dua pertiga dari penduduk New Orleans adalah afroamerika. AS memang negara yang paling kaya di dunia ini dalam definisi yang absolut, namun jika kita ikut sertakan 45 juta jiwa afroamerika, AS tidak akan masuk 30 negara terkaya di dunia.

Bahkan boleh dikatakan orang-orang yang berhasil hidup dari bencana Katrina mempunyai harapan dan kwalitas hidup yang sama dengan penduduk miskin di dunia ketiga (Qoute dari Barbara Bush: “Karena mereka itu pengemis, dan semua datang ke Texas, jadi kesempatan yang menguntungkan bagi mereka”).

(”Tega nian kau Barbara!”- kalimat pribadi).

Harapan hidup orang di Harlem, New York, lebih rendah daripada seorang yang tinggal di Bangladesh.
Bukan dikarenakan oleh narkotik dan kekerasan kota itu, tapi akibat penyakit mental dan stress menjadi miskin di negara kaya.

Seperti yang ditulis oleh epidemiólogo Dr. Richard Wilkinson (merk saingan Gillete?) di bukunya yang berjudul “The Impact of unequality” yang menggunakan statistik dunia, bahwa negara-negara yang keras dan paling sakit adalah negara-negara yang paling tidak seimbang kekayaan di antara penduduknya.

Secara rata-rata, pendapatan perkapita orang-orang spanyol (contoh saja) dibawah pendapatan perkapita orang-orang amerika, namun harapan hidup di Spanyol lebih panjang daripada di AS dikarenakan faktor yang penting, yaitu: ketidakseimbangan.

Menurut analisis dari Wilkinson, menjadi miskin dan hidup di dalam suatu masyarakat yang kaya mengakibatkan depresi dan stress dan kurangnya kepercayaan diri , yang akhirnya menyebabkan kematian lebih awal.

Dalam kasus AS, ketidakseimbangan tercampur oleh budaya ultraindividualistis dan kebebasan memiliki senjata (api) dan hasilnya sangat menghenyakkan seperti di New Orleans, termasuk sebelum terjadinya perampokan-perampokan post-huracan.

Penampakan suksesnya ekonomi dan rendahnya pajak di AS menjadi tema yang membuat iri para politikus dan ekonomis di Eropa. Namun Katrina membuka secara brutal ketidakseimbangan kekayaan di masyarakat yang mengakibatkan pengeluaran/anggaran sosial yang tinggi.