Kalau bukunya yang ketiga ini dari penulis Arturo Pérez Reverte:

Isinya tentang perang antara spanyol melawan belanda dan sekutunya, Inggris. Terus terang aku lebih suka buku sebelumnya, soalnya “scene”nya lebih seru…layaknya “gangs in new york” (sebenernya judul film ini jauh dari isi filmnya, kedengerannya seru tapi isinya..walah…bikin ngantuk).

Dalam perang ini diceritakan kala itu wilayah jajahan Spanyol sudah mencapai Flandes (Belanda, tahun 1625 - kebayang ngga, sementara itu si londo sedang menjajah negri kita?).

Kala itu Alatriste bersama Inyigo berada di kota Oudkerk, di mana terjadi peperangan amat ganas dan seru melawan resistensi Belanda yang ingin membantu melepaskan Breda dari cengkraman Spanyol.

Aku kutip sebagian dari apa yang diceritakan si kecil Inyigo yang pemberani pada peperangan ini saat sebelum kuda-kuda belanda datang di atas mereka (yang nantinya berguna bagi seorang pelukis terkenal spanyol - Diego Velazquez, untuk menumpahkan peperangan ini di atas kanvasnya)

“Yang saya maksud adalah hal lain yang saya pelajari dari kapten Alatriste, kewajiban berperang ketika harus melakukannya, dengan mengesampingkan bangsa dan bendera, yang, akhirnya, siapapun orang yang terlahir, tidak memilih apa yang dilakukannya, melainkan nasib. Saya bicara tentang menusuk baja, memperkuat berdirinya kaki dan mencocokkan harga kulit dengan cara melawan dengan pisau daripada menyerahkan diri seperti layaknya seekor domba di tukang jagal. Saya bicara tentang mengenal dan mempergunakan, kesempatan, yang sangat jarang dalam hidup ini, untuk meninggalkannya dengan kehormatan dan harga diri”.

Dalam buku ini dijelaskan pula kualitas pasukan spanyol melebihi dari pasukan musuh, menurut Maquiavelo disebabkan oleh, pertama, mereka tidak punya tempat untuk berlindung (jauh dari teritori bersahabat), ke dua karena kemiskinan mereka, mereka pergi perang karena tuntutan perut. Di mana setelah mereka menundukkan suatu kota/wilayah, mereka bisa memperkaya diri dengan merampas hak milik penduduk kota.

Diceritakan pula tentang adanya pertentangan dalam kubu spanyol, serdadu-serdadu yang bernafsu merampas dikarenakan diundurnya gaji mereka, dan serdadu-serdadu yang patuh dan masih menjaga kehormatan mereka - yang dipergunakan musuh untuk menyerang mereka.
——————–
“kapten, saya menemukan seorang musuh di rumah itu, tampaknya dia masih hidup. Saya pikir, kita bisa menolongnya” ujar Inyigo.

“Kamu pikir?” sahut Alatriste.

Maka pergilah ketiganya dengan Sebastian Copons ke rumah yang hancur itu. Namun bukan pertolongan yang ditemukan musuh yang terluka itu seperti yang diharapkan Inyigo namun kematian yang ditentukan oleh Copons dengan pisaunya di leher sang musuh, membuat Inyigo membisu.

Ada banyak adegan-adengan dalam buku itu yang menarik, diantaranya gerilya pasukan spanyol yang disebut, “encamisada”. Mereka berpakaian kemeja putih yang membedakan mereka dari musuh-musuh, menyerang pada malam hari dan membunuh musuh2nya dengan senjata tajam.

Ada pula duel antara petinggi-petinggi militer, baik dengan senjata api maupun senjata tajam. Dalam hal ini Alatriste yang tadinya dipanggil untuk berpartisipasi dalam duel tidak setuju dengan acara ini, karena merasa, acara ini hanya untuk sombong-sombongan para petinggi tersebut. Sedangkan dia sebagai serdadu ingin menjalankan tugasnya, bahwa kehormatannya tidak dinilai dari duel tak berarti tersebut.