Pertama-tama aku juga mau ngaku, ingat di book baton aku sebut buku “El Rey David”, uh akhirnya setelah 3/4 buku, aku kembalikan saja ke perpustakaan. Loh?
Sebabnya, pertama, aku udah cukup “stagnan” dengan tema-tema berbau Yahudi (bukannya aku kesal dengan mereka loh). Ke dua, ngga sengaja, aku membaca resumen ceritanya di sampul buku, trus aku pikir, “lah jadi ceritanya gitu doang…?” di tambah alasan pertama itu, sudah 2 minggu buku itu aku biarkan, padahal di perpustakaan menunggu buku-buku menarik lainnya….
Akhirnya…aku ambil bukunya Arturo Perez Reverte, sayangnya buku pertamanya tidak ada pada saat itu, jadi aku ambil buku keduanya yang berjudul “La Limpieza de Sangre” yang artinya “Pembersihan darah”.
Pemeran utama dalam buku ini adalah Kapten Diego Alatriste dan pembantunya seorang bocah berumur 14 tahun, Inyigo Balboa. Dan tentu masih banyak lagi kompi-kompinya.
Buku kedua ini lebih banyak mengambil situasi perkelahian jalanan dan mengambil situasi Madrid di tahun 1600. Sedangkan buku ketiga, “El Sol de Breda” (Matahari di Breda), mengambil tema tentang pertarungan serdadu spanyol di Flandes (Belanda).
Bahasanyapun di sesuaikan dengan epoka tersebut, bahasa spanyol lama, sehingga buku ini sangat kaya dan menarik bagi saya pribadi. Penulisnya pun seringkali menyusupkan soneta-soneta dari para penulis lama jaman itu seperti Francisco Quevedo (sebagai pemeran kedua juga dalam buku ini), Calderon de la Barca, dst.
Hingga bagi kita yang membacanya diseret kembali ke jaman baheula, di mana pusat-pusat kota menjadi ajang pertarungan para jagoan ini, dan mengingatkan kita kembali profesional-profesional jaman itu yang jaman kini sudah lenyap di telan bumi.
Buku “Pembersihan darah” menceritakan tentang kekuasaan gereja dan doktrin-doktrin kejamnya untuk menumpas orang-orang kafir dan mengusir mereka dari wilayah katolik (dalam hal ini orang-orang yang tidak menganut kepercayaan katolik- ingat, katolik tok, jadi yang namanya protestan, angelican, ya dianggap kafir juga) dengan didukung oleh “Santa Inquisición” (badan gereja yang tugasnya menginterogasi orang-orang kafir ini, menyiksa dan kemudian membunuh mereka dengan cara membakarnya).
Alatriste dan co. ditugaskan (dibayar) untuk membebaskan seorang anak perempuan (yg bernama Elvira) dari keluarga Yahudi (yg telah menjadi katolik) dari sebuah monasteri di mana anak ini telah menjadi suster. Namun diberitakan bahwa dalam monasteri itu pemimpin dan buntut-buntutnya mempraktekkan hal yang tidak senonoh.
Begitu kuatnya pengaruh gereja dan santa inquisición, hingga akhirnya Alatriste dan bawahannya harus menyerusup monasteri walaupun mereka tahu hukumannya adalah mati jika tertangkap.
Pada momen tersebut ternyata rencana mereka telah bocor, hingga akhirnya pada saat menyerusup itu, terjadilah perkelahian di antara Alatriste dan cia melawan musuh-musuhnya.
Beberapa di antara kawanan Alatriste terbunuh (salah satu kakak dari Elvira) dan pembantu Alastriste, Inyigo pun yang masih bocah itu harus berduel dengan musuhnya Alatriste, seorang itali bernama Malatesta (juga seorang jagoan bayaran) yang ditugasi oleh musuh dibalik layar itu.
Sayangnya Inyigo tertangkap dan dibawa ke Toledo, di mana dia disiksa dan diinterogasi oleh Santa Inquisión itu.
Seru kan?
Bagaimana akhirnya? sekedar memuaskan rasa ingin tahu kalian, Alatriste dan Quevedo meminta bantuan bangsawan-bangsawan (Conde Guadalmedina dan Olivares) yang dekat dengan raja. Namun hasil dari bantuan itu benar-benar datang, tepat pada saat Inyigo akan dibakar di plaza Mayor…
Ternyata musuh yang membocorkan rencara mereka itu adalah sekretaris dari kerajaan yang bernama Luis de Alquézar. Quevedo setelah pergi ke Huesca atas petunjuk dari Olivares, berhasil mengetahui bahwa nenek moyang Alquezarpun ternyata bukan Katolik asli, namun juga berdarah yahudi.
Dari situlah Inyigo berhasil diselamatkan dari pembakaran dan kekejaman Santa Inquisición….
Tak sabar untuk mengambil buku ke tiga dari Arturo (penulis buku ini), aku menghabiskan sepertiga dari buku ini di perpustakaan, mengembalikannya kemudian mengambil buku selanjutnya, yang berjudul “Matahari di Breda”.
