Mungkin masa depan yang paling harus kita khawatirkan, adalah masa depan sesudahnya kita mati.
Karena masa depan dalam masa kita hidup, penuh ketidakjelasan, perubahan-perubahan drastis, baik perubahan menjadi baik ataupun buruk. Hingga memikirkan masa depan dalam masa hidup seringkali tanpa hasil dan membuat frustasi, galau dan ragu.
Sedangkan masa depan setelah kematian, adalah masa depan yang jelas bagi orang yang mempercayainya.
Mungkin sebaiknya, lebih baik daripada memikirkan masa depan, adalah cara kita berhati-hati dalam menjalani hidup di masa sekarang.
Berbaik-baiklah pada orang-orang di sekitar kita, mana tau di masa depan nanti dia menjadi atasan kita….
Rajinlah menimba ilmu, siapa tau nanti, anak kita membutuhkannya…
Berhemat-hematlah sekarang, siapa tau nanti, kau dipecat dan tak punya tabungan…
Dengan senang hati saya kutip salah satu “rubaiyat” dari Omar Khayyam:
“janganlah kau khawatir dengan yang kemarin, karena sudah lewat..
janganlah kau risau dengan yang akan datang besok, karena belum sampai…
Hiduplah, tanpa nostalgia dan harapan: satu-satunya milikmu adalah waktu sekarang”

If I only I could just do that, all of my worries would be gone.
Comment by Pipit — August 29, 2005 @ 4:44 pm
bener juga, karena masa depan adalah buah dari apa yang kita tanam sekarang
Comment by gani — August 29, 2005 @ 7:30 pm
wadoh.. ini post kok “berat” amat.
bagi saya yang penting saat run-time. saat program dijalankan. hehe..
perkara besok mau error, ya dibenahi besok
Comment by andry — August 29, 2005 @ 11:26 pm
iya nih … berat banget dech…
Waktu,… satu-satunya modal manusia yang gak bisa di daur ulang. Benar seperti yang mbak naga tulis, waktu harus dimanage. Paling gak 5 hal harus dimanage sebelum 5 hal lain datang. (Ngutib dari Rayhan)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ((103:1-3))
Sayangnya, saya pribadi sering lupa… “tertidur di kereta waktu…(ngutib dari : Emha Ainun Najib)”
Comment by doeljoni — August 30, 2005 @ 5:17 am