Prolog: puisi-puisi ini karya saya sekitar tahun 1995-96, cinta ke dua, sekaligus cinta lokasi. Lokasinya ya dimana lagi kalau bukan seperti yang tertera di judul puisi.
Cinta ini ga pernah tercapai, karena ada orang ketiga bahkan keempat yang kala itu menghantui, maklum, ternyata orang ketiga dan keempat masih satu geng sejak jaman seragam putih biru. Alasan kedua juga jarak yang memisahkan kita. Jadi, cinta itu hanya bersemi di kala kami berdua kebetulan ada di Halimun, setelah itu, seminya terbang, terbawa angin yang ditiup orang-orang sekitar kita.
Rentetan puisi itu saya tulis dalam sebuah buku kecil yang kemudian saya persembahkan untuknya. Salinannya juga saya tulis dalam buku kecil yang saya titipkan pada sahabat saya, yang kebetulan hari ini berulang tahun.
Puisi-puisi ini berasal dari masa lalu yang telah sekian lama tersimpan aman, yang kini mungkin menuntut untuk dibuka dan dibaca kembali.
dedaunan teh tersiram hujan
basah dalam damai
mendung sejukkan jiwa
orang-orang yang berdiam
dalam kerinduan
gaibnya alam semesta
dan alam jiwa
membuat kita tak berdaya
tak ada tanya dan bicara
hanya ada seribu ungkapan cinta
yang tak beranjak
dari hati terdalam
Halimun kita selamanya
terselamatkan jamahan sang waktu
oleh cinta anugerah Ilahi
yang terasa singkat
namun terlampaui kasih ibu
Kini kuselami kalbumu
saat kau dilanda sepi
kutau kau ingin kembali
tetaplah dihatimu
mungkin aku ada disitu
bersama dirimu
dan Halimun
saksi kita yang terdahulu…..
Halimun II
Sungainya jernih airnya bersih
impian para bidadari
kilaunya hijaumu
harumnya tanahmu
adakah semua tau
dua insan yang termangu
tertakdir untuk bersatu
tanpa rasa malu
isi dunia tak cukup berkata
cinta yang ada di dalam dada
kala sang dewa menggapai dunia
langit merona merambah sukma
