Seringkali di dalam suatu milis ada beberapa anggota yang tidak sadar, yang menggunakan milis untuk berkomunikasi antara 2 orang, seperti halnya sebuah dialog, namun menggunakan milis, mungkin supaya anggota-anggota lainnya bisa berpartisipasi secara pasif dan mereka sebenarnya ingin berkata “ho ho…saya mendominasi milis ini, you see?”

Ada juga yang senang melempar/forward suatu dagelan berbau sara, diskrimansi gender, yang sudah dibahas di blog sebelah, juga foto-foto yang bermuatan besar sehingga menyulitkan anggota-anggota yang tidak mempunyai kapasitas internet yang besar untuk melihat foto tersebut maupun dokumen tersebut.

Yang lebih parah lagi, adanya politisasi di dalam suatu milis yang bertemakan non-politik. Karena salah satu atau beberapa anggota milis tersebut adalah anggota suatu partai tertentu, mereka mulai memberondongi milis itu dengan email-email yang berbau partisan yang isinya sama sekali tidak berhubungan dengan milis itu. Apalagi jika sudah mulai masa kampanye.

Terus terang bagi saya adalah pelanggaran hak orang lain yang terdaftar dalam milis tersebut.

Salah siapa? salah moderator milis yang ternyata saya curigai juga terlibat dalam partai tersebut.

Semisal sebuah partai sudah masuk dalam suatu milis non-politik, maka partai-partai yang lain juga akan segera mengkontaminasi milis tersebut, hingga tema utama (dalam kasus saya: agama) dari milis terhapuskan atau terkontaminasi.

Saya sudah menghubungi moderator dan menyarankan agar milis jangan sampai terpolitisasi. Moderator pun sudah mengumumkan terhadap anggota milis agar jangan mengirim informasi yang berbau politik atau partisan. Namun tetap saja ada anggota yang bandel.

Mungkin, seharusnya saya patut test dan mengirim email dari partai Golkar atau partai “menyebalkan” lainnya (maaf- ini opini pribadi) dan melihat bagaimana reaksi mereka terhadap email tersebut…

Di Indonesia hal ini sudah biasa, menghubungkan agama dengan politik, tidak bedanya dengan Likud dan lobbying dengan senator-senator Partai Republik di AS.

Lucunya jika partai itu berbau agama seakan-akan mereka merasa lebih berhak dari partai-partai lainnya karena mereka membawa “kebenaran”.

Saya yang tadinya simpatisan dari partai tersebut, akhirnya berubah pikiran.

Jika anggota partai tersebut tidak sadar akan hak-hak orang lain, bagaimana jika ia terpilih nanti dan menjadi pemimpin kita?