Yup.

Mungkin seorang muslim kini harus bertanya di antara mereka sebelum berbincang-bincang dalam sebuah diskusi yang berbau keagamaan, “Kamu Islam apa?”
Ahmadiyah, JIL, fundamentalis, MUI, NU, tradisional, etc. etc…..

Soalnya nanti takut tersinggung begitu udah ngomong2 panjang lebar, eh taunya ga sealiran.

Seperti biasa, pasti ada seseorang yang memonopoli “kebenaran” dan selalu mendengungkan, “Semoga Allah memaafkan kita” - maksudnya mungkin memaafkan kamu…

Begitulah. Sebetulnya saya sedih melihat ini, namun tidak terkejut.

Seringkali para pendekar dogma dan kebenaran tidak mampu melihat perbedaan yang ada di luar dari kebenaran yang mereka dengungkan. Mereka akan tetap memaksakan apa yang mereka anggap benar dan parahnya lagi mengecap bahwa mereka yang berbeda adalah murtad.

Sampai mana mereka akan bertindak?
Kalau mereka sudah berani mendatangi suatu tempat peribadahan dari golongan lain kemudian merusaknya, yang selanjutnya mereka akan lakukan adalah membunuh saudaranya sendiri karena perbedaan itu.

Selanjutnya badan dogma kebenaran di atas kebenaran akan menghakimi saudara-saudaranya itu, menyiksanya sampai nafas terakhir, berharap saudaranya itu akan berubah pikiran dan menyetujui dogma yang ia dengungkan.