The beast

Aku belum menemukan kata yang cocok untuk menterjemahkan kata “beast” ke dalam bahasa indonesia.

Kamis yang lalu aku melihat seseorang yang bermuka amat jelek di subway, mungkin jelek bukan pula kata yang tepat. Seseorang dengan muka yang rusak, mata yang aneh dan juling, kulitnya hitam, rambutnya keriting, bajunya lusuh dan membawa 2 bungkusan besar.

Bukan sekali ini saja aku pernah melihat seseorang yang bermuka cacat atau bertubuh cacat di jalanan atau tempat umum.

Rasa pertama atau reaksi pertama dari dalam diri kita adalah rasa terkejut, kaget dan merinding.

Normal (seharusnya tidak?)

Lalu kemudian, rasa iba. Rasa empati, bagaimana jika diriku bermuka rusak dan aneh seperti dia? bagaimana nasibku? bagaimana perasaanku ketika orang banyak melihat mukaku dengan jijik, takut dan kaget???
Mungkin hati ini akan hancur, lalu melihat ke atas sambil menjerit “Tuhan, kenapa kau ciptakan aku seperti ini???”

Entahlah.

Kalian mungkin tidak akan percaya, aku pernah membaca di surat kabar, bahwa bayi-bayi lebih senang dengan orang-orang yang bermuka cantik/bagus.

Ada apa dengan dunia ini?

Kenapa orang-orang normal seperti kita terbiasa dengan muka, fisik yang bagus atau sempurna?

Kamu pernah kan liat film-film yang bertema angkasa luar, nah di sana digambarkan mahluk-mahluk sangat aneh yang sama sekali tidak mirip dengan manusia. Mereka berbincang-bincang dengan biasa, sepertinya tidak ada yang salah atau aneh.
Mungkin, orang-orang yang lahir cacat dan jelek bermimpi untuk berada di sana dan berharap bahwa dirinya akan diperlakukan sama seperti orang-orang lainnya. Tidak ada kerut di alis dan gerakan-gerakan aneh di muka orang yang melihat dirinya.

Kenapa sampai bayi pun lebih suka terhadap orang-orang bermuka bagus? mudah-mudahan penyelidikan ini tidak benar.

Entahlah. Lagi-lagi aku berbicara tentang diskriminasi. Kelebihan berat badan dicerca, kelebihan umur, tidak mendapat pekerjaan, kekurangan uang, tidak mendapat perlakuan yang sama.

Semua ini sudah menjadi sistem yang ada di dunia kita.

Jangan tanya saya. Apakah itu bisa berubah? mungkin tidak (jawaban dari seseorang yang pesimis).

Tulisan ini hanya ingin mengingatkan “dunia yang lain”, dunia di mana seseorang harus merasa biasa dilihat dengan muka terkejut atau takut, setiap hari, di tempat-tempat umum karena dia tidak sama dengan yang lain, karena dia adalah “beast” bagi manusia-manusia lainnya.