Udah pada nonton blom? film yang satu ini?
Yang main Vigo Mortensen (si Aragorn) dan bintang veteran, Omar Sharif.
Film ini sebenernya udah lama aku tonton, cuma mungkin waktu itu belum punya blog atau mungkin lupa memberi komentar.
Berbicara tentang kuda berdarah spanyol yang dulunya bekerja sebagai kurir Pony Express yang dibawa dari Amerika untuk ikut kompetisi acuan di tanah arab, di padang pasir (syutingnya di Morroco).
Sudah bisa ditebak, pengendara kuda yang bernama Hidalgo itu adalah Vigo Mortensen.
Di balik syuting film ini, diperlukan ratusan kuda, yang masing-masing harus di cet/cat supaya mirip dengan kuda pemeran “Hidalgo”.
Orang-orang gurun berpikir kuda ini tidak mampu bersaing dengan kuda-kuda gurun yang sudah terbiasa dengan alam yang kering itu, tapi sebaiknya kamu sekalian menonton langsung aksi Hidalgo dalam kompetisi ini.
Tentunya film ini dibumbui oleh petualangan si penunggang kuda dengan seorang gadis (anak dari raja/bangsawan arab yang diperankan oleh Omar Sharif) dan berantem-beranteman seperti biasanya, he he…
Nonton aja deh, kebetulan aku suka sih sama binantang. Film tentang kuda yang lainnya yang berkesan bagiku diantaranya: Spirit (dalam hal ini kartun), sampe nangis nontonnya.
met nonton - bagi yg belum…
Nun jauh di sana ada orang yang penasaran dengan gambar rumahku.
Dalam foto di bawah ini hanya terlihat halaman rumah si miskin dan anjingnya yang sedang bermalas-malasan dan berjemur di terik matahari
Mudah-mudahan ga penasaran lagi ya? rumahnya kecil kok. Home sweet home.

Aquaducto ini sudah menjadi “simbol” dari kota Segovia, dibangun pada akhir abad 1 Masehi oleh orang-orang Romawi. Panjang aslinya 14.965 meter, tinggi maksimumnya 28.10 meter.
Asal muasal kota Segovia sendiri tidak jelas, namun diketahui sudah ada sejak sebelum era romawi. Segovia mulai dihuni lagi sejak tahun 1088 dan sejak itu kerap mengumpulkan sejarah yang gemilang.
Industri textil dan wol membuat kota ini menjadi kaya, siap dengan 2 proyek yang berbeda, secara fisik dan sosial: kota yang dikelilingi benteng, dihuni oleh kaum bangsawan, agamawan, kampung-kampung di luar benteng yang dilalui sungai Eresma dan Clamores di mana terkumpulnya aktivitas produksi.
Selama abad XII hingga XVII, kekayaan kota ini membuat dibangunnya banyak gereja, kuil, rumah-rumah kuat dan besar, istana dan monumen-monumen yang bisa kita saksikan sampai sekarang ini.

Foto: Catedral de Nuestra Señora de la Asunción

Foto: Anak panah menunjukkan kuburan orang-orang yahudi yang cukup jauh letaknya dari kampung mereka yang berada di dalam kota.
Sebelum nonton film ini, sebenernya hati dag dig dug takut menyaksikan gambar-gambar pembunuhan sadis oleh sebagian kaum Hutu terhadap rakyat Tutsi. Tapi ternyata di film itu, adegan-adegan yang mengerikan untungnya tidak muncul seperti yang aku bayangkan.
Film ini bagus, menurutku. Berani mengangkat kembali cerita di balik keacuhan badan internasional dan negara-negara besar di dunia terhadap pembunuhan lebih dari satu setengah juta penduduk yang tak berdosa.
Film ini mengingatkan kembali kepada kepanikan masyarakat kita pada tahun 1998, ketika banyak kerusuhan-kerusuhan muncul dalam rangka penumbangan rezim Soeharto. Namun mungkin, kedahsyatan pembunuhan paramiliter Hutu lebih kejam dan tragis dibandingkan apa yang terjadi di negara kita, tidak terkendali dan penuh kegilaan.
Film ini menceritakan tentang seorang manager sebuah hotel berbintang yang tadinya selalu menjaga kelas dan suasana hotel kelas atas, namun akhirnya kerusuhan di Rwanda membuat sifat profesionalnya agak mengendur. Dia menjadi pahlawan bagi orang-orang di sekitarnya, keluarga dan para tetangganya, dia telah menyelamatkan mereka dari pembunuhan yang kejam.
Dia juga menyadari bahwa jiwa orang-orang di negaranya tidak penting bagi para petinggi dunia yang membiarkan pembunuhan masal terjadi di negrinya. Bahkan penduduk berpikir bantuan militer yang datang akan menolong mereka, ternyata tidak, bantuan itu didatangkan untuk menolong mengungsikan “warga kulit putih” saja.
Diceritakan bahwa ada sampai lebih dari 1000 orang yang mengungsi di hotel Rwanda.
Di kehidupan nyata, manager hotel ini dan keluarganya berhasil keluar dari Rwanda dan menjadi pengungsi di Belgi sampai sekarang.
Ternyata kota kecil ini cukup menarik, di sekelilingnya kamu bisa menyusuri sebuah “taman” besar, mungkin lebih cocok disebut hutan kecil, yang dikelilingi oleh sungai Eresma. Sungguh indah dan sejuk. Penuh dengan berbagai macam pepohonan, seperti: Arce, sauce, castaños, acacia, alamo, chopo, majuelo, dan berbagai jenis tumbuhan lainnya.

Sedangkan untuk jalan-jalan di dalam kotanya, terdapat puluhan monumen, di antaranya Acuaducto yang dibangun oleh bangsa Romawi pada akhir abad ke 1 masehi (fotonya besok), yang mendistribusi air ke seluruh penduduk kota dan juga ke benteng “Alcázar”.

(Benteng Alcazar dilihat dari depan).
Ada sebuah katedral besar yang dibangun dengan gaya gotik dekat dengan plaza mayor.

Foto menara Catedral diambil dari jalan San Millan, disekitarnya dikelilingi rumah-rumah tradisional.
Jalan menuju benteng dari tempat kita menginap, bisa melalui 2 cara, dengan menyusuri taman atau mengambil jalan di atas di mana kita akan menemui pintu masuk kampung Yahudi.
Benteng Alcázar yang dulunya istana raja-raja Castilla (raja-raja katolik) dapat kita kunjungi untuk melihat ruangan-ruangannya, senjata-senjata jaman baheula yang meriamnya sepanjang empat meter, sangat menarik.

Dari atas benteng, kita bisa menikmati indahnya taman yang mengelilingi kota ini, dan tentu dibangun di tempat yang tinggi, untuk mengobservasi keadaan kota jikalau datang musuh-musuh dari luar. Dari tempat yang sama, sebagai prajurit, kamu bisa melihat seseorang “kurir” datang cepat-cepat dengan kudanya, sambil memberitahukan kedatangannya pada ajudan raja, “Mang mang, Si Udin tah udah sampai! sok pintu gerbangnya dibuka!”

Alcázar dulunya sempat menjadi sebuah sekolah militer dan disebelahnya terdapat laboratorium khusus untuk penyelidikan di bidang persenjataan, amunisi, meriam. Ahli kimia Proust termasuk yang bekerja di sini.
Alcázar sempat terbakar karena kecelakaan pada percobaan amunisi.
Banyak bagian dari Alcázar yang tak bisa dikunjungi oleh umum, di antaranya penjaranya, di mana dulu musuh-musuh raja disiksa.
Dari Madrid bisa dicapai dengan mobil dengan waktu kira-kira 1 jam, dan dengan kereta, 2 jam, tiket kereta, 5.20 euro per orang satu kali balik.
Jalan-jalan di Segovia malam hari juga menyenangkan, ada banyak café dan restaurant dengan terasnya, romantis dan makanannya pun berbeda, tergantung kocek masing-masing pengunjung, ada pula yang menyajikan “live music”. Menu mulai dari 13 sampai 25 euro perorang, termasuk pencuci mulut dan minuman.
Makanan khas dari kota ini adalah anak babi panggang, yang sanking halusnya jika sudah matang, bisa dipotong dengan sebuah piring. Kebetulan saya tidak makan babi, jadi tidak mencicipi, pasti enak ya? alternatif lainnya makanan khas di sini adalah, “judiones”, yaitu kacang-kacangan, sebesar jempol, porsinya juga besar dan enak bila dimakan pada musim dingin, berkalori tinggi dan menghangatkan tubuh.
Tak jauh dari katredal (Nuestra Señora de la Asunción), terdapat pemukiman yahudi (jaman dahulunya), dekat dengan Paseo del Salón.
Seperti layaknya kota-kota kuno, ada banyak jalan-jalan kecil atau gang, rumah-rumah yang temboknya berasal dari abad ke belakang, unik .

Foto di atas, salah satu tembok rumah di pusat kota.
Ketika aku berada di benteng Alcázar, sambil membayangkan dulunya transportasi hanyalah kuda atau keledai.

Juga baju-baju perang yang terbuat dari besi, sungguh tidak nyaman dan bayangkan jika sedang musim panas harus berperang dengan menggunakan baju besi itu….bisa mati kepanasan…

Ada juga musium yang bertemakan sihir, sungguh menarik! Bukan berarti bertemakan “magic”, disitu ditampilkan berbagai jenis tumbuhan yang bersifat racun. Leyanda-leyenda tentang mahluk-mahluk aneh seperti “vampire”, kurcaci-kurcaci dan berbagai alat sadis untuk menyiksa orang-orang yang dianggap menjalankan sihir. Musium ini koleksi dari seorang lelaki itali yang mengumpulkan benda-benda sejarah koleksinya dari berbagai penjuru Eropa.
Kebetulan ketika kita ke sana hari Rabu, tiket masuknya lebih murah- setengah harga. Juga beruntung kemarinnya ketika kita megunjungi Alcázar, tidak bayar tiket kalau kita punya KTP Eropa. Alhamdullilah, ngirit dikit.
Hotel tempat kami tinggal juga bagus dan Alhamdullilah gratis juga, karena hadiah dari kantor.

Untuk foto-foto lengkapnya, Insya Allah mulai besok sudah ada di link Photo.
Jika seseorang yang kemungkinan menganut Islam memasang bom dan membunuh, namanya Al qaeda, terroris…
jika orang barat, kaya, berpendidikan seperti Bush, memutuskan untuk menyerang negara lain yang berdaulat, di mana “nama” itu terpasang untuk mereka?
Kesalahan itu cuma satu kali saja
namun penyesalannya tak terkira
manusia tak luput dari kekeliruan
mungkin dari situ kita belajar
untuk memaafkan kesalahan orang lain
Terima kasih kepada waktu yang berjalan
yang memberikanku kesempatan untuk berpikir
dan menjernihkan pikiran
Namun sayang kesalahan itu tak bisa dihapus
dia selalu ada di situ membayangiku
kesalahanku adalah
bertemu dirimu
Makan serangga menangkis lapar
Belum lama ini di koran aku baca atau mungkin aku dengar di tv, bahwa PBB akan memasukkan ke dalam programnya bantuan pangan, menu serangga (mungkin dalam hal ini belalang, yaitu yang sering “namu” dalam jumlah banyak dan menghabisi panen para petani).
Entah kapan program ini akan dijalankan, karena cuma mendengar sekilas beritanya, yang jelas memang makanan ini mengandung protein yang tinggi.
Setelah berita itu muncul, di majalah korannya “Expansión”, aku liat juga artikel makanan-makanan yang aneh, semacam serangga, cacing, yang dibuat makanan berselera tinggi - “alt quizine” (itu loh, biasanya makanannya sedikit tapi piringnya dihiasi bunga, atau di hias macam-macam…he he…dasar udik nih orang).
Memang semakin bertumbuhnya populasi dunia, bertambahnya kemiskinan dan jarangnya bahan pangan akibat panen gagal, maka mungkin manusia diwajibkan mencari sumber makanan yang berbeda, contohnya ya itu tadi, beberapa jenis serangga….Mungkin ini salah satu jalan keluar untuk memberantas busung lapar.
Tapi ternyata makanan aneh ini tidak saja dimakan oleh orang-orang kampung (pertanian) di mana si serangga sering berkunjung, namun sudah masuk juga ke dalam dapur koki-koki internasional.
Ada yang punya resep pengolahannya?
