Extremisme

Kalau saya berbincang-bincang dengan teman-teman muslim di Indonesia, sebagian besar tidak bisa menerima kata “Islam ekstremisme” maupun “Islam fundamentalis”.

Begitu juga kaitannya dengan aksi-aksi teroris yang melibatkan agama Islam di berbagai belahan dunia, menurut mereka adalah perbuatan konspirasi dari musuh-musuh Islam.

Tolong jika ada yang bisa menunjukkan kepada saya teori-teori konspirasi ini, bisa dikirim ke alamat ini:
nagasundani@yahoo.es
(jangan nyepam loh!)

Pemberian kata ekstrimis atau fundamentalis kepada Islam dalam berbagai masmedia terutama dari dunia barat, menurut teman-temanku hanyalah suatu metodo untuk memojokkan Islam. Benar adanya, karena Islam sendiri tidak ada kaitannya dengan aksi-aksi teroris yang terkutuk tersebut.

Kembali lagi pada kata-kata extremisme yang berarti tendesi yang mengadopsi ide-ide ekstrim atau yang berlebihan, terutama dalam politik.
Dan kata fundamentalis yang berarti pergerakan yang bersifat keagamaan dan politik yang melibatkan massa yang mencoba untuk menempatkan kemurnian Islam melalui penggunaan yang ketat dari hukum Al Quran pada suatu kehidupan sosial.

Ketika saya merubah kata “Islam extremisme” dengan “muslim extremis” atau “muslim fundamentalis”, kata ini tidak dapat juga diterima dengan alasan yang sama dan lagi lagi mereka merujuk pada teori konspirasi tersebut.
Bagi saya, perbedaan ini terlihat, bukan Islamnya yang bersifat fundamentalis atau ekstrimis melainkan penganutnya yang sebagian kecil menganut aliran yang keras.

Tentu saja dalam agama lainnya, terdapat juga aliran keras, seperti dalam agama kristen. Bukan dalam agama Islam saja.

Mungkin saya orang awam yang tidak tahu menahu tentang pergerakan ini, maupun bergerak di bidang intelejen yang dapat mengetahui secara pasti adanya konspirasi melawan Islam ini. Namun saya mengakui adanya orang-orang sesama muslim yang mempunyai ide yang berlebihan atau ekstrim - tanpa harus menjadi seorang teroris.

Ada dari mereka yang mengacu pada video-video kekejaman musuh Islam di Bosnia yang ditunjukkan pada anak-anak muda yang tak bersalah agar mereka nantinya berubah menjadi para pejuang di dalam Islam, dengan kata lain berjihad. Ada yang berlatih di kamp pelatihan untuk dilatih secara fisik dan militer dalam rangka memperjuangkan idenya itu.

Hal yang seperti itu nyata, tapi kebanyakan dari kita menutup mata karena menganggap mereka “saudara” kita, bahkan tak sedikit yang mendukung aliran yang “membenci” musuh Islam ini.

Bahkan lebih ironis lagi ketika terjadinya aksi teroris 11 september 2001, di negara kita, di satu daerah tertentu, ada dari saudara-saudara kita (sesama muslim, di dalam foto itu, kebetulan ada yang berjilbab) baik menjual maupun memakai kaos yang bergambar Bin Laden sebagai lambang dari perjuangan melawan Amerika sebagai musuh Islam. Bin Laden mengkonfirmasi bahwa 11 september memang hasil perbuatannya, taruhlah ini tipuan dari Amerika Serikat, Bin Laden hanyalah omong kosong belaka, tapi mayoritas orang-orang di dunia mengganggap Bin Laden lah biang keroknya, yang telah membunuh dua ribuan jiwa yang tak bersalah di “Twin Tower”, lalu kenapa mereka bangga menggunakan kaos bergambar orang ini?

Ini artinya mereka yang mendukung Bin Laden atau siapapun mereka itu, artinya memang mengakui hasil aktuasi teroris ini dan mendukungnya. Padahal di mana mereka yang mengatakan bahwa Islam tidak berkaitan dengan terorisme?

Baiklah. Nama Islam terus terang sudah tercemar di dunia barat, walaupun sebagian orang selalu berusaha mengatakan di masmedia bahwa agama kita tidak berhubungan dengan terorisme internasional.

Sulitnya lagi, dari pihak kitanya sendiri banyak orang yang tidak mengakui adanya aliran Islam yang berlebihan/keras ini.

Bagi saya, suatu masalah harus dilihat dari dalam dulu. Jangan asal melempar dan menyalahkan konspirasi barat yang mungkin ada benarnya juga.

Saya ingat ketika SMA, dalam lingkup anak-anak rohani Islam, mula-mula saya merasa nyaman dan tentram namun lama kelamaan ada suatu aturan untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Ketika para pengurus yang berbeda kelamin harus berbicara dengan dipisahkan oleh kain. Atau ketika saya harus berbicara dengan teman laki-laki dari rohis, dia tidak memandang saya, kepalanya tunduk ke bawah. Semua ini dengan alasan untuk menjaga mata kita dari wanita/pria yang bukan muhrimnya, begitu bukan?
Sebetulnya saya merasa aneh, tersinggung dan merasa terhina jika seseorang yang sedang berbicara dengan saya tidak bisa menatap sedikitpun muka saya dan berbicara dengan normal!

Saya pun juga sempat larut dengan ide-ide yang berlebihan ini, mungkin otak saya sudah setengah tercuci oleh ajaran-ajaran keras dan kadang absurd bagi saya.

Bahkan terus terang, ketika sahabat saya seorang kristen datang ke rumah, saya buru-buru menyembunyikan buku-buku saya yang berbau aliran keras ke dalam lemari agar dia tidak merasa tersinggung melihatnya.

Saya ingat juga seorang teman pria sempat “ditipu” membayar entah berapa untuk membangun “Negara Islam Indonesia” (yang merupakan kenyataan adanya grup-grup yang ingin merubah Indonesia menjadi negara Islam).

Kita ditekankan untuk tidak mengucapkan “selamat hari natal” kepada rekan-rekan nasrani karena dengan begitu kita menerima Yesus sebagai tuhannya, etc. etc. Padahal SAHABAT saya adalah orang kristen, bodohnya saya sempat beberapa tahun tidak mengirimkan kartu ucapan natal, atau menggantinya dengan kata-kata “Season’s greeting”.

Namun akhirnya lama kelamaan saya memutuskan bahwa ada “kesalahan” pada hal-hal kecil yang terjadi di dalam organisasi itu. Terserah saya mau dibilang kafir atau tidak. Saya merasa tidak menjadi diri saya sendiri dan merasa bersalah telah menjauhkan sahabat saya karena alasan agama.

Terutama lagi saya merasa sikap-sikap tertentu sebagai anti natural (contohnya tidak memandang lawan bicara anda yang berlainan jenis. Seumur-umur mental saya sehat dan tak terjerumus pada pikiran yang tak senonoh ketika saya berbicara dengan seorang rekan laki-laki!).

Atau seperti mengucapkan selamat natal dan mengirim kartu natal, niatnya bukan untuk mengakui Yesus itu tuhan, hanya saja sebagai manusia, mahluk sosial, toh tak ada salahnya membuat orang lain bahagia, apa lah artinya kata-kata “selamat natal”, apakah kalimat itu bisa merusak ideologi saya? saya semata-mata hanya menghormati apa yang dia peluk dan memberikan selamat pada hari di mana mereka bergembira.
(OOT, orang nasrani sendiri mengakui bahwa tanggal 25 desember bukanlah hari lahirnya Yesus, tanggal ini diambil dari perayaan dewa matahari, jadi inti hari natalpun hanyalah suatu perayaan yang asal usulnya tak berkaitan dengan kelahiran Yesus).

Bagi saya seperti yang telah diajarkan dalam Islam ada 2 hubungan: Hubungan vertikal (hubungan manusia dengan penciptanya) dan hubungan horizontal (hubungan antara sesama manusia, yang mencankup menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang berbeda agama, saling menghormati).

Balik lagi pada tema pembicaraan kita, saya hanya penasaran ingin mendengar pendapat dari teman-teman, pertanyaannya adalah:
Adakah aliran garis keras di kalangan muslim?
——————————————————–
Ide
Ok katakanlah bahwa aksi-aksi itu konspirasi melawan Islam, tapi dari orang-orang muslim sendiri saya belum melihat adanya pergerakan menghapus pencemaran nama Islam.

Pergerakan ini bukan untuk kepentingan ruang lingkup dalam Islam, melainkan untuk kepentingan diplomasi muslimin sedunia yang merasa tidak berkaitan dengan aksi-aksi teror tersebut.

Taruhlah membuat organisasi yang bertemakan: Persatuan Muslimin Melawan Terorisme Internasional

Kamu boleh tertawa. Mungkin gampang menjadi seorang muslim di negara yang mayoritasnya muslim, tapi sulit menjadi muslim di negri nonmuslim.

Di mana-mana di mass media, Al Qaeda dan cabang-cabangnya selalu, selalu melibatkan kaum muslimin.

Sekali lagi TIDAK! jangan libatkan orang-orang yang menganut ajaran DAMAI (Islam).

Bagi saya, agama yang mengajarkan kebencian otomatis agama itu null. Apalagi interpretasi jihad yang dikaitkan dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah kemudian si pembunuh masuk surga. Ini betul-betul suatu banyolan! Kenapa manusia tidak berpikir?