Extremisme
Kalau saya berbincang-bincang dengan teman-teman muslim di Indonesia, sebagian besar tidak bisa menerima kata “Islam ekstremisme” maupun “Islam fundamentalis”.
Begitu juga kaitannya dengan aksi-aksi teroris yang melibatkan agama Islam di berbagai belahan dunia, menurut mereka adalah perbuatan konspirasi dari musuh-musuh Islam.
Tolong jika ada yang bisa menunjukkan kepada saya teori-teori konspirasi ini, bisa dikirim ke alamat ini:
nagasundani@yahoo.es
(jangan nyepam loh!)
Pemberian kata ekstrimis atau fundamentalis kepada Islam dalam berbagai masmedia terutama dari dunia barat, menurut teman-temanku hanyalah suatu metodo untuk memojokkan Islam. Benar adanya, karena Islam sendiri tidak ada kaitannya dengan aksi-aksi teroris yang terkutuk tersebut.
Kembali lagi pada kata-kata extremisme yang berarti tendesi yang mengadopsi ide-ide ekstrim atau yang berlebihan, terutama dalam politik.
Dan kata fundamentalis yang berarti pergerakan yang bersifat keagamaan dan politik yang melibatkan massa yang mencoba untuk menempatkan kemurnian Islam melalui penggunaan yang ketat dari hukum Al Quran pada suatu kehidupan sosial.
Ketika saya merubah kata “Islam extremisme” dengan “muslim extremis” atau “muslim fundamentalis”, kata ini tidak dapat juga diterima dengan alasan yang sama dan lagi lagi mereka merujuk pada teori konspirasi tersebut.
Bagi saya, perbedaan ini terlihat, bukan Islamnya yang bersifat fundamentalis atau ekstrimis melainkan penganutnya yang sebagian kecil menganut aliran yang keras.
Tentu saja dalam agama lainnya, terdapat juga aliran keras, seperti dalam agama kristen. Bukan dalam agama Islam saja.
Mungkin saya orang awam yang tidak tahu menahu tentang pergerakan ini, maupun bergerak di bidang intelejen yang dapat mengetahui secara pasti adanya konspirasi melawan Islam ini. Namun saya mengakui adanya orang-orang sesama muslim yang mempunyai ide yang berlebihan atau ekstrim - tanpa harus menjadi seorang teroris.
Ada dari mereka yang mengacu pada video-video kekejaman musuh Islam di Bosnia yang ditunjukkan pada anak-anak muda yang tak bersalah agar mereka nantinya berubah menjadi para pejuang di dalam Islam, dengan kata lain berjihad. Ada yang berlatih di kamp pelatihan untuk dilatih secara fisik dan militer dalam rangka memperjuangkan idenya itu.
Hal yang seperti itu nyata, tapi kebanyakan dari kita menutup mata karena menganggap mereka “saudara” kita, bahkan tak sedikit yang mendukung aliran yang “membenci” musuh Islam ini.
Bahkan lebih ironis lagi ketika terjadinya aksi teroris 11 september 2001, di negara kita, di satu daerah tertentu, ada dari saudara-saudara kita (sesama muslim, di dalam foto itu, kebetulan ada yang berjilbab) baik menjual maupun memakai kaos yang bergambar Bin Laden sebagai lambang dari perjuangan melawan Amerika sebagai musuh Islam. Bin Laden mengkonfirmasi bahwa 11 september memang hasil perbuatannya, taruhlah ini tipuan dari Amerika Serikat, Bin Laden hanyalah omong kosong belaka, tapi mayoritas orang-orang di dunia mengganggap Bin Laden lah biang keroknya, yang telah membunuh dua ribuan jiwa yang tak bersalah di “Twin Tower”, lalu kenapa mereka bangga menggunakan kaos bergambar orang ini?
Ini artinya mereka yang mendukung Bin Laden atau siapapun mereka itu, artinya memang mengakui hasil aktuasi teroris ini dan mendukungnya. Padahal di mana mereka yang mengatakan bahwa Islam tidak berkaitan dengan terorisme?
Baiklah. Nama Islam terus terang sudah tercemar di dunia barat, walaupun sebagian orang selalu berusaha mengatakan di masmedia bahwa agama kita tidak berhubungan dengan terorisme internasional.
Sulitnya lagi, dari pihak kitanya sendiri banyak orang yang tidak mengakui adanya aliran Islam yang berlebihan/keras ini.
Bagi saya, suatu masalah harus dilihat dari dalam dulu. Jangan asal melempar dan menyalahkan konspirasi barat yang mungkin ada benarnya juga.
Saya ingat ketika SMA, dalam lingkup anak-anak rohani Islam, mula-mula saya merasa nyaman dan tentram namun lama kelamaan ada suatu aturan untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Ketika para pengurus yang berbeda kelamin harus berbicara dengan dipisahkan oleh kain. Atau ketika saya harus berbicara dengan teman laki-laki dari rohis, dia tidak memandang saya, kepalanya tunduk ke bawah. Semua ini dengan alasan untuk menjaga mata kita dari wanita/pria yang bukan muhrimnya, begitu bukan?
Sebetulnya saya merasa aneh, tersinggung dan merasa terhina jika seseorang yang sedang berbicara dengan saya tidak bisa menatap sedikitpun muka saya dan berbicara dengan normal!
Saya pun juga sempat larut dengan ide-ide yang berlebihan ini, mungkin otak saya sudah setengah tercuci oleh ajaran-ajaran keras dan kadang absurd bagi saya.
Bahkan terus terang, ketika sahabat saya seorang kristen datang ke rumah, saya buru-buru menyembunyikan buku-buku saya yang berbau aliran keras ke dalam lemari agar dia tidak merasa tersinggung melihatnya.
Saya ingat juga seorang teman pria sempat “ditipu” membayar entah berapa untuk membangun “Negara Islam Indonesia” (yang merupakan kenyataan adanya grup-grup yang ingin merubah Indonesia menjadi negara Islam).
Kita ditekankan untuk tidak mengucapkan “selamat hari natal” kepada rekan-rekan nasrani karena dengan begitu kita menerima Yesus sebagai tuhannya, etc. etc. Padahal SAHABAT saya adalah orang kristen, bodohnya saya sempat beberapa tahun tidak mengirimkan kartu ucapan natal, atau menggantinya dengan kata-kata “Season’s greeting”.
Namun akhirnya lama kelamaan saya memutuskan bahwa ada “kesalahan” pada hal-hal kecil yang terjadi di dalam organisasi itu. Terserah saya mau dibilang kafir atau tidak. Saya merasa tidak menjadi diri saya sendiri dan merasa bersalah telah menjauhkan sahabat saya karena alasan agama.
Terutama lagi saya merasa sikap-sikap tertentu sebagai anti natural (contohnya tidak memandang lawan bicara anda yang berlainan jenis. Seumur-umur mental saya sehat dan tak terjerumus pada pikiran yang tak senonoh ketika saya berbicara dengan seorang rekan laki-laki!).
Atau seperti mengucapkan selamat natal dan mengirim kartu natal, niatnya bukan untuk mengakui Yesus itu tuhan, hanya saja sebagai manusia, mahluk sosial, toh tak ada salahnya membuat orang lain bahagia, apa lah artinya kata-kata “selamat natal”, apakah kalimat itu bisa merusak ideologi saya? saya semata-mata hanya menghormati apa yang dia peluk dan memberikan selamat pada hari di mana mereka bergembira.
(OOT, orang nasrani sendiri mengakui bahwa tanggal 25 desember bukanlah hari lahirnya Yesus, tanggal ini diambil dari perayaan dewa matahari, jadi inti hari natalpun hanyalah suatu perayaan yang asal usulnya tak berkaitan dengan kelahiran Yesus).
Bagi saya seperti yang telah diajarkan dalam Islam ada 2 hubungan: Hubungan vertikal (hubungan manusia dengan penciptanya) dan hubungan horizontal (hubungan antara sesama manusia, yang mencankup menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang berbeda agama, saling menghormati).
Balik lagi pada tema pembicaraan kita, saya hanya penasaran ingin mendengar pendapat dari teman-teman, pertanyaannya adalah:
Adakah aliran garis keras di kalangan muslim?
——————————————————–
Ide
Ok katakanlah bahwa aksi-aksi itu konspirasi melawan Islam, tapi dari orang-orang muslim sendiri saya belum melihat adanya pergerakan menghapus pencemaran nama Islam.
Pergerakan ini bukan untuk kepentingan ruang lingkup dalam Islam, melainkan untuk kepentingan diplomasi muslimin sedunia yang merasa tidak berkaitan dengan aksi-aksi teror tersebut.
Taruhlah membuat organisasi yang bertemakan: Persatuan Muslimin Melawan Terorisme Internasional
Kamu boleh tertawa. Mungkin gampang menjadi seorang muslim di negara yang mayoritasnya muslim, tapi sulit menjadi muslim di negri nonmuslim.
Di mana-mana di mass media, Al Qaeda dan cabang-cabangnya selalu, selalu melibatkan kaum muslimin.
Sekali lagi TIDAK! jangan libatkan orang-orang yang menganut ajaran DAMAI (Islam).
Bagi saya, agama yang mengajarkan kebencian otomatis agama itu null. Apalagi interpretasi jihad yang dikaitkan dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah kemudian si pembunuh masuk surga. Ini betul-betul suatu banyolan! Kenapa manusia tidak berpikir?

Itulah susahnya, Kalangan Muslim kalah perang dari segi media dgn dunia barat, jadi pembelaan dan apa yg diberitakan ttg muslim, hanya dari segelintir station tv yg dilansir jg station yg mendukung gerakkan Al-qaeda. jadi serba susah.
utk yg satu ini agak sulit berkomentar, soalnya butuh diskusi yg panjang dgn pemaparan bukti2.
Comment by Lili — July 29, 2005 @ 11:13 am
heeeebaaaaat…. ulasan yang sip,….
tentang conspiracy theory
anyway…
jadi inget kata-kata seseorang : “buah agama adalah kemanusiaan dan akarnya adalah tauhid (Ketuhanan, peng-esa-an Tuhan)”. Jadi jangan ngaku beragama kalo belum punya buahnya agama (kemanusiaan) dan punya akarnya….
Comment by doeljoni — July 30, 2005 @ 6:45 pm
Trims untuk Lili dan Doel. Saya masih menanti pendapat dari teman2 yang lain kalau ada. Mumpung lagi ribut2 juga soal fatwa2 MUI….kita bisa membahas kondisi umat Islam di Indonesia dan hubungannya dengan kebebasan beragama/berpikir.
Comment by Administrator — August 1, 2005 @ 8:51 am
waduh lumayan berat tuh… tapi gw ada sedikit bacaan yang menurut gw ok-ok aja untuk jadi bahan masukkan. salah satunya pls visit : http://www.aljazeera.com/cgi%2Dbin/conspiracy%5Ftheory/fullstory.asp?id=238
dear naga hope you get what you should have in ISLAM by Qur’an and Hadist.
Comment by jungkirbalik — August 3, 2005 @ 7:21 am
Terima kasih saudara Jungkir Balik atas opininya. Konspirasi Inggris, AS, Itali memang sudah diketahui org2 banyak, begitu juga kebohongan mereka. Teori konspirasi yang saya maksud di sini adalah mereka yg berpikiran bahwa aksi-aksi teroris “islam” (spt. yg dicap oleh barat) didalangi oleh AS dan sekutunya, bukan dari orang islam sendiri. tujuannya utk. memperburuk citra islam. Gitu…
Nah, sebenernya aku ga muter2, cuma ingin tanya, karena jawaban dari kebanyakan muslim, tidak mau mengakui adanya aliran keras/fundamentalis di agama kita. Padahal hal ini cukup logis dan normal, bukan dalam islam saja, tp dalam agama lain.
Kalau saya berpikiran lain dari saudara2 sekalian,bukan berarti saya “haram”, “murtad” dan kafir, spt. yg didengungkan fatwa MUI. Kafir tidaknya seseorang itu hanya Allah yang Maha Tahu, iman seseorang itu tidak harus berarti dia tunduk patuh pada fatwa MUI and the gang. Memiliki agama atau berkeyakinan harus dilandasi pemikiran. Dan perbedaan pemikiran itu adalah satu hal yg baik.
Comment by Administrator — August 3, 2005 @ 8:52 am
pada dasarnya Allah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan.. Jadi jika saya pribadi ditanya mengenai adanya vandalisme di kalangan tertentu terutama pada Islam jawaban saya pasti ada.
Hanya saja jangan men-judge hal tsb karena Islamnya, karena Islam sudah lengkap gak perlu ditambah ataupun dikurangi lagi.
Kemudian mengenai pemikiran-pemikiran yang berbeda : ya menurut saya wajar kok yang terpenting dikembalikan ke Alqur’an dan As-Sunnah, karena setiap perbedaan diantara kita adalah berkah.
Nah sekarang pertanyaannya menjadi apakah pemikiran-pemikiran tsb sudah dilandasi Alqur’an + As-Sunah?
kembali lagi ke soal Aksi teroris yang sebenarnya teroris itu siapakah?. Menurut saya sendiri memang perlu dicari buktinya… (mungkin ini yang dicari yah).
once sudah dapet saya kirim ke admin.
tunggu yak.
Comment by jungkirbalik — August 3, 2005 @ 9:33 am
secara ekonomi: Amerika diambang kehancuran.
liat : http://www.tamilnation.org/intframe/iraq/clarke.htm
Comment by jungkirbalik — August 3, 2005 @ 10:12 am
quote:Jadi jika saya pribadi ditanya mengenai adanya vandalisme di kalangan tertentu terutama pada Islam jawaban saya pasti ada.
Ya cuma itu saja kok jwaban yg saya cari. Tentu saja spt yg saya katakan, Islam TIDAK BERHUBUNGAN dengan kekerasan/aksi2 teroris, namun ADA penganutnya yg melakukan/menganut aliran keras tsb.
Comment by Administrator — August 3, 2005 @ 10:25 am
ikut ikut quote ah: namun ADA penganutnya yg melakukan/menganut aliran keras tsb
yang sebenarnya kekerasan itu bukan dari aliran islamnya tapi orangnya.
Aliran itu menurut saya sebenarnya buatan orang saja.
Islam itu TINGGI dan Tidak ada yang tinggi kecuali Islam.
Comment by jungkirbalik — August 4, 2005 @ 8:08 am
Jangan salah mas. Yang tinggi itu cuma Allah SWT. Kan ada agama2 sebelum Islam yang intinya mengajarkan keesaan Tuhan dan dari sumber yang sama.
Comment by Administrator — August 4, 2005 @ 9:09 am
hore… kali ini setuju…
tapi
mengenai “Islam itu TINGGI dan Tidak ada yang tinggi kecuali Islam” bukan kata2 saya lho. tapi saya ambil dari hadist.
have a nice day.
Comment by jungkirbalik — August 4, 2005 @ 9:13 am
Hadist itu dari manusia, bukan dari Allah, makanya hati2 kalau membaca hadist.
Comment by Administrator — August 4, 2005 @ 9:49 am
quote :” Hadist itu dari manusia, bukan dari Allah, makanya hati2 kalau membaca hadist”
benar dari manusia tapi yang jelas manusianya sudah bisa dipercaya dari sikap, tingkah laku dan sudah bisa dipastikan kebenarannya berasal dari Rosululloh SAW.
~no further comment~
Comment by jungkirbalik — August 5, 2005 @ 3:59 am
Hadist and Sunnah are satanic innovation
In Islam, Al Quran is the only source truly from God.
Comment by Administrator — August 5, 2005 @ 9:51 am
Astagfirullah…
hati-hati jadi ingkar sunnah ya rekan-rekan semua atas himbauan diatas.
————–
Rosululloh bersabda :
Aku tinggalkan kalian 2 wasiat dimana jika kalian memegang teguh keduanya kalian akan selamat didunia dan di akhirat.
2 Wasiat tsb adalah : Alqur’an & As-Sunnah.
~signing out~
May Allah SWT forgives us.
Comment by jungkirbalik — August 5, 2005 @ 10:13 am
Udah baca belum linknya? http://www.submission.org
Kebenaran kamu berbeda dengan kebenaran saya. Tapi apakah saya berpikir kamu org. yang sesat?
Comment by Administrator — August 5, 2005 @ 10:24 am
sorry link ketinggalan
.
buat yang ingin belajar syariah islam.
pls visit :
http://www.syariahonline.com
Comment by jungkirbalik — August 5, 2005 @ 10:34 am
oh iya baca jg bagian ini
http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=5729
Comment by jungkirbalik — August 5, 2005 @ 10:43 am
Ya silakan saja para pembaca melihat situs yg ditampilkan oleh saudara jungkirbalik.
Terima kasih atas partisipasinya.
Toh kebebasan berpikir seseorang tidak dapat ditekan oleh siapapun. Karena itulah manusia lebih tinggi derajatnya daripada mahluk Allah lainnya.
Comment by Administrator — August 5, 2005 @ 10:54 am
pertama-tama anda merujuk pada hadist: Islam itu TINGGI dan Tidak ada yang tinggi kecuali Islam
lalu anda membenarkan omongan saya: “yang paling tinggi itu cuma Allah swt.”
Namun kemudian anda balik lagi membenarkan hadist. Jika anda membenarkan hadist yang anda sebut, berarti yang paling tinggi itu menurut anda Islam, bukan Allah SWT. kan?
Bagaimana, masih jungkir balik?
Comment by admin — August 5, 2005 @ 6:51 pm
surah 6:38 “Tiadalah kami alpakan di dalam Al Kitab (Al Quran), kemudian kpd Tuhan mereka dihimpunkan”
Surah 6:114 “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yg telah menurunkan kitab (Al Quran) kpdmu dengan TERPERINCI”. Org2 yg telah Kami dtngkan kitab kpd mereka mengetahui bhw Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dgn sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk org yg ragu2.”
kalau saya pilih langsung sumbernya Alquran dan tidak ada sumber lain selain al kitab, krn. bahasanya terjaga juga keasliannya. Sedangkan ada byk hadist yang terkorup oleh manusia.
6:115 Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Quran sbg kalimat yg benar dan adil. Tidak ada yg dpt merobah-robah kalimat2Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
6:116 Dan jika kamu menuruti kebanyakan org2 yg di muka bumi ini, niscaya mreka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta thd. Allah.
Maka “kebenaran” yang kita anut memang berbeda. Sekarang terserah anda. Saya menghormati apa yang anda pahami dan saya mohon anda juga berbuat hal yg sama. Wassalam.
Comment by admin — August 6, 2005 @ 11:43 am
http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=974
May Allah SWT forgives us.
Comment by jungkirbalik — August 8, 2005 @ 5:38 am
Kayaknya ga usah heran deh kalo ada saudara yg berbeda aliran. Toh masing2 punya kebebasan untuk memilih apa yg dia anggap benar.
May Allah forgive us? masing2 punya kepercayaan sendiri dan Allah akan menghakimi kita nanti di hari akhir. Sementara itu, perbedaan kepercayaan harus dihormati oleh masing2 orng. Wassalam.
Comment by Administrator — August 8, 2005 @ 9:10 am
sekedar ingin meluruskan saja…
mungkin yang diinformasikan sodara jungkirbalik ada benarnya juga mba naga.
menurut saya kebenaran memang harus didasari dengan suatu landasan yang memang mutlak yang datangnya dari Allah SWT.
Allah SWT jg menurunkan Alqur’an tsb melalui manusia pilihan yang disebut Nabi.
Nabi-nabi ini yang memberikan semacam guidance atau contoh. Mungkin ini yang dimaksud oleh sdr jungkirbalik.
Mengenai kebebasan berfikir menurut saya hal ini jg suatu yang baik krn hal ini bisa dijadikan kita sbg wacana untuk kebaikan.
Comment by wongbener — August 9, 2005 @ 2:50 am
“Anything good that happens to you (O Muhammad) is from God. And anything bad that happens to you is from you. We have sent you as a messenger to the people, and God suffices as a witness. Whoever obeys the messenger is obeying God. As for those who turn away, we did not send you as their guardian.” (4:7980)
Thus, the personal opinion of Muhammad may be bad, or may cause bad things to happen. On the other hand, Muhammad the messenger utters THE WORDS OF GOD, i.e., the Quran, and must be obeyed absolutely. For whoever obeys the messenger is obeying God, and we are to obey the commandments of God, not the commandments of men.
The most authoritative books of Hadith, namely, Muslim & Ibn Hanbal, report that the Prophet ordered that no one shall take anything from him EXCEPT QURAN. Shown below is the Arabic text of this Hadith:
“Abi Saeed AlKhudry may God be pleased with him reported that the messenger of God may God exalt him & grant him peace had said, ‘Do not write anything from me EXCEPT QURAN. Anyone who wrote anything other than Quran shall erase it.’” !!!
Thus, according to their own teachings,
THEY DISOBEY THE PROPHET
INCREDIBLE FACT: THEY DO NOT FOLLOW THEIR OWN TEACHINGS
According to the most “authoritative” sources of Hadith, the Prophet never changed his mind about writing from him ONLY QURAN:
Zayd Ibn Thabit (the Prophet’s closest revelation writer) visited the Khalifa Mu’aawiya (more than 30 years after the Prophet’s death), and told him a story about the Prophet. Mu’aawiya liked the story and ordered someone to write it down. But Zayd said, “The messenger of God ordered us never to write anything of his Hadith.” (Reported by Ibn Hanbal)
sumber: submission.org
Tidak merujuk pada hadist bukan berarti saya tidak menghargai Nabi Muhammad SAW dan juga nabi/rasul lainnya yang diutus Allah SWT. Saya hanya berusaha patuh HANYA pada apa yg Allah katakan pada Muhammad - bukan lain2nya.
Comment by Administrator — August 9, 2005 @ 10:34 am
Manusia terbagi dalam empat golongan :
Orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, itulah orang pandai,maka ikutilah dia.
Orang yang mengerti tapi tidak mengerti bahwa ia mengerti,itulah orang yang lalai,maka peringatilah ia.
Orang yang tidak mengerti dan ia mengerti bahwa ia tidak mengerti,itulah orang yang sadar diri, maka ajarkanlah ia.
Orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti, itulah orang yang bodoh, maka tinggalkanlah ia.
source:www.pesantrenonline.com
Comment by jungkirbalik — August 12, 2005 @ 10:18 am
pesan buat jungkirbalik
Comment by Administrator — August 12, 2005 @ 10:50 am
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bi Abdul Azis yakni tahun 99 Hijriyah datanglah angin segar yang mendukung kelestarian hadits, Maka pada tahun 100 H Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkan kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadits-hadits Nabi yang terdapat pada para penghafal.
A. PENULISAN HADIS
Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam semuanya sependapat menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk menghapalkan AI-Quran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, di batu-batu, dan sebagainya.
Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadis-hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W.
Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadis Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang dinamai As-Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda
Yang Artinya:
“Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)
Dan mereka berkata kepadanya, “Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syariat umum.” Mendengar ucapan mereka itu, Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai hal tersebut. Rasulullah kemudian bersabda:
Yang Artinya:
“Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi Tuhan yang jiwaku di tangannya. tidak keluar dari mulutku. selain kebenaran “.
Menurut suatu riwayat, diterangkan bahwa Ali mempunyai sebuah sahifah dan Anas bin Malik mempunyai sebuah buku catatan. Abu Hurairah menyatakan: “Tidak ada dari seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis Rasulullah daripadaku, selain Abdullah bin Amr bin As. Dia menuliskan apa yang dia dengar, sedangkan aku tidak menulisnya”. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menulis hadis dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi izin yang datang kemudian.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para sahabat menulis hadis secara tidak resmi. Mereka memahami hadis Rasulullah SAW. di atas bahwa larangan Nabi menulis hadis adalah ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukan hadis dengan AI-Quran Sedangkan izin hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadis dengan Al-Quran. Oleh karena itu, setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunannya, maka tidak ada Jarangan untuk menulis hadis. Tegasnya antara dua hadis Rasulullah di atas tidak ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran dengan hadis, dan mereka yang mempunyai ingatan/kuat hapalannya. Dan izin menulis hadis diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri, dan mereka yang tidak kuat ingatan/hapalannya.
source : www.pesantrenonline.com
Comment by jungkirbalik — August 12, 2005 @ 10:57 am
lah situ sudah mengkonfirmasi sendiri di hadist yg mengatakan di atas:
“Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)
“We sent down to you THIS BOOK truthfully, confirming all previous scriptures, and superseding them. You shall judge among them according to what is sent down from God (this book), and do not follow their wishes if they deviate from the truth…. You shall judge among them according to what is send down from God (this book); do not follow their wishes, and BEWARE lest they divert you from that which is sent down to you from God (this book)…. Would they seek the laws of ignorance? WHO IS BETTER THAN GOD as a lawmaker, for those who sincerely believe?” (Quran 5:4850)
MUHAMMAD FORBIDDEN FROM UTTERING ANY RELIGIOUS INSTRUCTIONS OTHER THAN QURAN
“This (Quran) is the utterance of an honorable messenger. It is not the utterance of a poet; rarely do you believe. Nor is it the utterance of a soothsayer; rarely do you take heed. A revelation from the Lord of the universe. HAD HE EVER UTTERED ANY OTHER RELIGIOUS UTTERANCES (attributed to us), we would have punished him severely, then we would have stopped the revelation to him (fired him). None of you could have protected him against us.” (69:4047)
These very clear verses teach us that Muhammad was forbidden from uttering any religious teachings beside Quran. The strength of the Arabic text cannot be fully translated to English. But the powerful expressions leave no doubt whatsoever that the Prophet’s sole function was to “DELIVER” Quran, the whole Quran, and NOTHING but Quran.
MUHAMMAD ORDERED NEVER TO DEVIATE FROM QURAN. DEVIATION MEANT SEVERE PUNISHMENT
“They almost diverted you (O Muhammad) from our revelations to you; they wanted you to fabricate something else to consider you a friend. If it were not that we strengthened you, you almost leaned towards them a little bit. Had you done it, we would have doubled the punishment for you in this life, and after death; no one could have protected you against us.” (17:7375)
In setting the example for us, the Prophet was ordered to adhere strictly to God’s revelations to him, specifically identified in 5:4850 (Page 3) as Quran.
The slightest deviation from Quran (see verse 74 above) incurs severe retribution.
sumber: submission.org
Comment by Administrator — August 16, 2005 @ 9:16 am